3 1/4 Hari bersama ACT-ESQ 165


Lebih dari 3 hari pekan lalu saya dan rekan-rekan PMO mengikuti capacity building terkait RB yang sedang berjalan di kantor kami. Kegiatannya di-handle oleh tim motivator dari ACT Consulting yang merupakan bagian dari ESQ Corporation. Saya sendiri belum pernah mengikuti kegiatan seperti ini sehingga saya tidak punya gambaran akan mendapatkan apa di situ. Sebelum cerita detilnya saya rasa ini adalah pengalaman inspiratif yang terlalu berharga untuk tidak saya share.

Awal yang “Haru”

image

Seperti posting yang saya tulis kemarin lusa, kegiatan yang mestinya dimulai jam 10 mesti ditunda untuk memberikan do’a penghormatan untuk alm. Ojdikramus. Pemakaman di TMP Kalibata itu selesai lewat jam 12, dan perjalanan ke Pasar Baru pun ditempuh dalam waktu 2 jam. Otomatis pembukaan kegiatan dilaksanakan setelah kami sholat dan makan siang.

Saya yakin semua yang ikut kegiatan capacity building merasakan kesedihan atas kehilangan ini, tapi tentu hal ini tidak menyurutkan langkah kami karena tujuan kami sejalan dengan perjuangan almarhum. Komitmen tak pernah pudar yang dicontohkan adalah semangat bagi kami semua. Semoga kami bisa mengambil semua kebaikan yang beliau tinggalkan untuk lembaga, bangsa dan negara tercinta ini.

Agent of Change
Istilah yang konotasinya konstruktif tapi mungkin bisa menimbulkan alergi untuk beberapa orang. Meskipun sudah menjadi program nasional yang bertujuan menjadikan birokrasi kita berkelas internasional di 2025 tapi patut disadari masih ada yang tidak suka dengan perubahan. Alasannya bermacam-macam, mulai dari semakin ribetnya pola kerja dan pola karir, tunjangan yang berbanding lurus dengan kinerja atau tak selalu sebanding dengan jabatan. Penggerak RB di setiap instansi pemerintah disebut PMO atau Program Management Officer. Program yang dimenej adalah program perubahan, karenanya PMO bisa disebut sebagai agen perubahan atau agent of change.

PMO diatur dengan Peraturan Menteri Negara PAN dan RB Nomor 10 Tahun 2011. Dalam proses RB, PMO bertindak sebagai pengelola perubahan di instansinya. PMO menjadi inisiator, perancang, katalisator dan evaluator atas proses RB yang berlangsung. Tim ini tidak hanya menyentuh sisi struktur dan sistem melainkan juga karakter dan budaya kerja yang mendukung tercapainya tujuan organisasi.

ACT – ESQ
Konsultan dalam workshop PMO kantor saya adalah ACT Consulting, yang telah berpengalaman belasan tahun mendampingi berbagai institusi dalam pengembangan corporate culture dan karakter bangsa dengan metode ESQ 165. Meskipun dalam tujuannya pengembangan budaya kerja di sektor publik dan privat berbeda namun pendekatan yang ditempuh melalui metode ESQ 165 tidak berbeda, semua dimulai dari perubahan pola pikir (mindset).

Saya secara pribadi menerima inputan positif berupa penguatan bahwa bekerja di kantor saya tidak semata-mata mencari nafkah untuk keluarga tetapi yang terutama adalah ibadah kepada Allah, Sangpencipta. Tidaklah semua aktifitas yang dilakukan manusia termasuk bekerja kecuali perwujudan pengabdian kepada Sangkholik. Motivasi ini mungkin tidak ditemui kecuali dalam nilai agama khususnya Islam namun belakangan para pemikir manajemen akhirnya menemukan bahwa kualitas kerja meningkat ketika kepuasan hati, yang bersumber pada nilai-nilai ketuhanan, menjadi dominan dalam motivasi pekerja. Dalam terminologi Islam hal ini dikenal sebagai niat, karena setiap amal tergantung pada niatnya dan motivasi tertinggi dalam Islam adalah menggapai ridho Allah (baca: ikhlas).

Nilai-nilai Lemsaneg
Proses perubahan mindset yang PMO jalani selama dua hari berujung pada motivasi baru: menularkan mindset terbaik kepada sebanyak-banyak rekan di kantor. Meski nantinya akan ada sistem dan struktur yang bekerja untuk mendukungnya PMO diajak berangkat dari value yang telah dirumuskan sepaket dengan visi-misi kelembagaan. Hal ini dikenal sebagai Sistem Nilai Lemsameg yaitu:
1. Profesional
2. Pelayanan prima
3. Terpercaya
4. Tanggung jawab
5. Jiwa korsa
6. Netral
7. Mandiri
8. Visioner

Nilai-nilai ini mayoritas telah ada dalam sistem nilai lama yang telah mengakar di kantor kami. Dulu nilai-nilai itu disebut Etos Sandi, satu dari banyak warisan para pendahulu persandian termasuk Ojdikramus. Semoga perubahan nama dan sedikit isi tidak mengubah cita-cita dan budaya luhur founding fathers. Dan inilah tampilan sistem nilai kami dalam bentuk visual.

Akhirnya, meski masih banyak yang ingin saya tuliskan saya harus mencukupkan dulu postingan ini sampai di sini. Semoga menjadi catatan penting saya bersama-sama tim PMO untuk menyukseskan RB di Lemsaneg. Ya Allah mudahkan urusan kami … Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s