Road to Makassar (Day 1)


image
Bandara Sultan Hasanuddin

5 Menit yang Berarti
Jon cemas menunggu KRL commuter line yang tak kunjung tiba. Adzan Dzuhur terdengar sayup-sayup, jam 12 kurang 15 menit. 2 jam lagi pesawat take-off dan Jon masih di Depok, pikirannya mulai galau. Satu grup musik jalanan hadir seperti mencoba menghibur Jon tapi tetap saja rasa khawatir itu tidak hilang. Jam 12 kurang 5 menit, KRL yang ditunggu Jon akhirnya masuk stasiun Depok dan Jon pun langsung naik untuk mengejar bis DAMRI yang akan membawanya ke Bandara Soetta. 15 menit berlalu dan KRL masuk stasiun Pasar Minggu, Jon turun dan bergegas menuju terminal bis. Untunglah tidak lama setelah duduk dalam bis, sopir segera melaju ke tujuan.

Malang tidak dapat ditolak, untung tak dapat dikejar. Jalan Raya Pasar Minggu macet, perjalanan bis DAMRI pun terhambat. Jon berusaha menenangkan diri, dibukanya aplikasi Qur-an di hape Androidnya. Meski demikian rasa was-was seperti terus menempel di hatinya saat lantunan ayat-ayat suci itu berkumandang di telinga. Sesekali Jon memandangi jam di hapenya, waktu seperti berlari sedangkan ia masih duduk di bis itu di tengah kemacetan. Hampir setengah jam berlalu dari saat Jon meninggalkan terminal Pasar Minggu. Jam 13 kurang 10, 65 menit sebelum take-off. Jon makin cemas, tangannya mulai memainkan hape mencari info waktu terakhir check-in pesawat. Dari google didapatinya secara cepat, selambatnya adalah 1 jam sebelum take-off. Ia pun mencari tau tentang check-in melalui telpon, dalam fikirannya sekarang adalah seseorang yang telah menunggunya di terminal 2F sedari jam 12-an. Tidak mengapa kalo ia harus menyusul, rekannya Jay setidaknya bisa berangkat. Tapi Jay yang dihubunginya untuk pilihan itu mencoba menenangkan dan meminta Jon bersabar.

Syukurlah jam 13 lewat sedikit bis DAMRI Jon masuk jalan tol dan meluncur ke Soetta. Butuh 45 menit untuk sampe terminal 2F, setelah sebelumnya transit di terminal 3 dan 1. Jam 13.45-an saat Jon bertemu Jay yang seperti sudah mulai tertular virus cemas, mereka pun berlari kecil menuju loket check-in express untuk menyingkat waktu. Dalam hati Jon tak lepas beristighfar, berharap mereka belum terlambat. Saat petugas mengecek tiket terlontar kalimat surgawi dari wajah manisnya, pesawatnya delay 20 menit jadi berangkat jam 2.20. Sontak saja terucap kalimat syukur dari mulut Jon, meski sejurus kemudian si petugas berujar bahwa kalo tidak delay pastilah mereka terlambat. Bagi Jon 5 menit terakhir tadi adalah 5 menit yang sangat berarti.

Amazing Spiderman
Di pesawat Jon merasa jauh lebih tenang, serasa malaikat telah berbaik hati menunda keberangkatan sehingga ia pun bisa terangkut ke Makassar. Meski duduk di depan jalur pintu darurat dan di posisi tengah, Jon berusaha senyaman mungkin. Dibacanya katalog entertainmen yang ada sehingga ketika display hiburan siap beberapa menit sesudah take-off Jon langsung saja memainkan film yang baru rilis di 2012: The Amazing Spiderman. Ada waktu kurang dari 2 jam penerbangan Soetta-Hasanuddin, satu kali nonton film baru tentu tidak akan dilewatkan.

Kebetulan pesawat menyediakan makan siang, Jon yang sedari tadi menahan lapar pun akhirnya bisa bernafas lega. Akhirnya ia bisa mendapatkan dua hiburan dalam perjalanannya menuju Makassar: tontonan menarik dan makan siang nikmat. Beberapa saat kemudian menu makan siang pun habis tak bersisa dan setengah film action itu menjadi teman di sisa perjalanan.

Hampir 3/4 bagian film berlalu ketika sesuatu terjadi dan display kembali ke menu awal. Wah ada apa ya, pikir Jon, apa mungkin film terpotong sampai di sini. Ia lalu mencoba kembali memainkan film manusia laba-laba itu dan mempercepat playernya dengan fast-forwarding hingga 16x. Waktu penerbangan yang tinggal setengah jam lagi tidak menyurutkan keinginan Jon untuk menuntaskan tontonan yang terputus. Jon hitung cukup 5 menit untuk sampai pada posisi terakhir ia menonton tadi dan benar saja. Perhitungannya adalah 16x 5 menit = 80 menit = 1 jam 20 menit.

Jon ingat scene terakhir yaitu saat peneliti yang adalah teman ayahnya mengalami transformasi di tangannya yang cacat setelah menyuntikkan serum untuk regenerasi sel. Sayang sekali saat sampai di scene saat Parker makan malam di rumah Gwen lagi-lagi filmnya error dan display kembali ke menu utama. Akhirnya Jon memutuskan untuk sekedar menengok film lain dan baru kembali memainkan film Spiderman meski penerbangan tinggal 5 menit. Saat pesawat berada dalam posisi siap landing dan display entertainmen benar-benar mati barulah Jon menyerah dan berharap saat pulang nanti ia akan lebih beruntung dengan film Amazing Spiderman.

image
Sumber: wikipedia.org

5 thoughts on “Road to Makassar (Day 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s