Road to Makassar (Day 2)


image
Berjama'ah di masjid Gubernuran

Sholat di Perjalanan
Setiap kali melakukan perjalanan jauh Jon pasti berusaha untuk tidak meninggalkan kewajibannya sholat lima waktu. Jon sadar betul bahwa sholat itu adalah kewajiban yang tidak tergantikan, meskipun begitu ia tidak merasa berat karena dalam syariat Islam ada keringanan dalam setiap kondisi darurat termasuk sholat (rukhshoh). Hal ini sejalan dengan prinsip kemudahan dalam Islam khususnya bagi yang sedang berhalangan.

Sejak belia saat Jon masih kuliah setahun sekali ia selalu pulang kampung dengan menempuh perjalanan lebih dari 10-an jam jalan darat. Jon sudah terbiasa menggabungkan dua sholat dalam satu waktu. Kebiasaan itu pula yang terbawa hingga ia dewasa. Dalam perjalanan ke Makassar, Jon sholat jama’ qoshor Dzuhur-Asar sebelum naik pesawat kemudian sholat jama’ qashar Maghrib-Isya’ sesudah sampe hotel, sebelum tidur. Sholat Subuh seperti biasa dan di siang harinya sholat jama’ qoshor Dzuhur-Asar meskipun beraktifitas seperti biasa.

SBU dan Hunting Hotel
Sore itu pesawat mendarat di Bandara Sulhas, Jon dan Jay yang baru pertama kali ke Makassar tidak khawatir karena ada mitra kerja yang bersedia menjemput. Sesaat turun dari pesawat, pak Yul yang sedari siang standby langsung saja menelpon mereka. Jon pun berujar bahwa mereka barusan sampe. Pak Yul menyuruh Jon dan Jay menunggu di area kedatangan bawah, 15 menit kemudian Jon dan Jay sudah berada di mobil Pak Yul. Beruntung betul Jon hari ini, pesawat delay seolah menunggu kedatangannya dan Pak Yul pun siaga menjemput di bandara. Lebih beruntung lagi karena Pak Yul membawa mereka singgah di Sop Saudara untuk menjajal Coto Makassar dan ikan Bandeng panggang khas Sulsel.

Sampe di hotel Jon dan Jay tidak langsung tidur. Selain mendiskusikan rencana kegiatan esok hari mereka juga membicarakan tentang pilihan tempat mereka menginap beberapa hari ke depan. Hal ini dipicu oleh pertanggungjawaban perjalanan yang dibiayai oleh kantor mereka. Standarnya untuk perjalanan luar kota pegawai mendapatkan penginapan sesuai golongan per orang satu kamar, kenyataannya tak jarang dua pegawai menginap di hanya satu kamar. Masalahnya sebagai pertanggungjawaban pegawai mesti memberikan bukti masing-masing. Hal ini bisa menjadikan kesulitan ketika biaya per kamar tidak semurah yang ada di standar sedangkan ketika join kamar maka otomatis anggaran sisanya mesti dikembalikan dan harus menutupi kekurangan biaya kamar itu.

Walhasil sebagian pegawai akan berusaha mendapatkan bukti penginapan untuk masing-masing meski kenyataannya join kamar. Ada hotel yang mau memfasilitasi dengan fee tertentu tetapi tidak sedikit yang menolak karena telah menjalankan disiplin administrasi. Untuk yang bisa join kamar dan bisa membuat bukti masing-masing inilah sering ditemui pegawai yang memanfaatkan anggaran menginap yang cukup besar untuk memilih kelas yang lebih tinggi.

image
Hotel Jakarta di Panakkukang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s