Saat Pelayanan Kantor Kita Payah


Pernahkah Anda merasakan layanan publik yang tidak memuaskan? Bila ya, apa yang Anda lakukan? Menggerutu, hal yang paling umum dilakukan. Marah atau bahkan mengamuk, mungkin saja ketika layanan yang Anda butuhkan berhubungan dengan keselamatan. Nah sekarang pertanyaan saya, bagaimana jika layanan yang payah itu dari kantor kita sendiri?

Paradigma Pelayanan Publik
Istilah pelayanan publik mungkin baru dekade terakhir mulai marak digunakan, dulu istilah yang paling umum digunakan adalah birokrasi. Memang pelayanan publik kini bukan lagi menjadi monopoli pemerintah melainkan sudah menjadi fungsi sektor swasta. Meski begitu fungsi pelayanan publik memang masih tetap tanggung jawab pemerintah meski pelaksanaannya berbagi di antara dua sektor itu. Bahkan sekarang sektor pemerintah yang melayani publik bersaing secara bisnis dengan sektor swasta, jadi orientasi profit sudah menjadi hal yang tidak asing lagi.

Bagaimana dengan instansi pemerintah yang tidak menghasilkan layanan publik, apakah berbeda? Tentu ada perbedaan, satu sisi berhubungan langsung dengan hajat orang banyak sedang yang terakhir tidak berhubungan langsung meskipun boleh jadi tetap berpengaruh pada kepentingan masyarakat. Sebagai contoh yang pertama adalah Ditjen Pajak. Instansi di bawah Kementerian Keuangan ini melaksanakan pelayanan publik bidang perpajakan baik untuk pribadi maupun badan. Sedangkan contoh keduanya yang juga di lingkup Kemkeu adalah Ditjen Anggaran. Instansi ini hanya melakukan pelayanan untuk pemerintah, meski begitu banyak instansi lain yang bergerak di bidang layanan publik bergantung pada ditjen ini.

Sekarang sebagian besar instansi pemerintah melakukan fungsi pelayanan meski memang tidak semuanya pelayanan publik. Sebagian menyebutnya sebagai pelayanan privat, sedang yang disebut privat di sini adalah sesama instansi pemerintah. Mungkin Anda punya pendapat berbeda? 

Standar Pelayan | Publik vs Privat
Masalah yang muncul adalah kualitas/mutu pelayanan privat yang berbeda dengan pelayanan publik. Bila layanan publik yang dilakukan sektor swasta berorientasi profit yang memacu peningkatan mutu layanan, maka menjadi berbeda dengan layanan privat yang dilakukan instansi pemerintah tanpa orientasi profit. Jangan layanan privat. Bahkan layanan publik yang dilakukan pemerintah masih kalah bersaing dari sisi kualitas di banding yang diberikan oleh sektor swasta. Bukankah umumnya begitu? Ya, mungkin saja.

Kemarin saya berdiskusi dengan rekan kantor tentang kinerja pemerintah yang maju di Asia. Muncul info darinya tentang kinerja di instansi pemerintah salah satu negara tetangga kita yang bahkan lebih baik dari sektor swasta sedemikian sehingga gaji pegawainya lebih tinggi daripada gaji pegawai swasta. Menarik sekali meski sekilas langsung saya simpulkan pastilah instansi itu melakukan pelayanan publik. Tadi siang saya berdiskusi dengan sohib-sohib saya tentang pelayanan privat, sungguh jauh bila dibandingkan dengan pelayanan publik. Padahal untuk melakukannya instansi itu mendapatkan dukungan penuh sumberdaya dari pemerintah. Sungguh memrihatinkan bukan? Kalo saja ada penelitian terkait hubungan biaya dan mutu pelayanan publik vs pelayanan privat kira-kira apa ya kesimpulannya? Saya jadi teringat tentang pengelolaan sumberdaya alam oleh sektor pemerintah dibandingkan sektor swasta, yang menurut saya merupakan contoh lain pelayanan privat. Mungkin di Indonesia belum banyak BUMN yang kinerja dan efisiensinya sebaik perusahaan swasta asing.

Singkat kata, saya pikir meski orientasi atau tujuannya berbeda standar pelayanan privat mesti bersaing dengan pelayanan publik. Hal ini selain sebagai pertanggung-jawaban atas sumberdaya yang didukung oleh pemerintah juga menjadi indikator kinerja yang semakin meningkat sebagai wujud kontribusi setiap instansi pemerintah dalam rangka melayani kepentingan masyarakat secara luas. Nah lho, trus kondisi di atas (judul -red) bagaimana solusinya? Itu masih menjadi PR buat kita semua. Jangan lama-lama deh, jangan tunggu sampe kiamat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s