Ide vs. Metodologi


image

Tiga kali saya menjadi mahasiswa dan tiga kali pula saya kesulitan dalam menyusun tugas akhir. Saya pikir semua mahasiswa akan mengalami hal serupa, tapi mungkin beberapa orang melewatinya dengan mudah. Kesulitan saya bukan pada ide, tetapi pada metodologi. Mungkin saya tidak memahaminya saat mengikuti mata kuliah ini dulu,atau saya tidak suka mengikuti dan menerapkan, masih jadi PR buat saya. Pastinya karena dulu (mungkin sekarang juga) saya pemalu (atau penakut???), maka saya tidak menanyakan detilnya pada dosen pembimbing saya dan hanya menyampaikan alur pikir dalam bentuk proposal. Karena ketika disampaikan proposal itu diterima dan tidak ada koreksi maka saya anggap metodologi saya benar, padahal ternyata saya jadi kesulitan menuntaskan tugas akhir saya. Meski kesulitan saya bisa juga merampungkan tugas akhir dan lulus dalam ujian. Akhirnya saya sering berpikir kalau saya lulus karena beruntung saja bukan karena tugas yang saya buat benar-benar bagus. Wallahu a’lam.

Pisang vs. Bolu
Membicarakan tentang ide dan metodologi buat saya ibarat membandingkan pisang dan bolu. Anda tentu tau pisang bisa diolah menjadi bolu. Ya, mungkin analoginya bisa diubah menjadi apapun: kedelai vs. susu, air vs. es teh, atau buah vs. asinan. Intinya membicarakan substansi dan kemasannya. Kemasan di sini bukan bungkus lho ya tapi tampilan alias performa.

Menulis tugas akhir atau karya ilmiah apapun ibarat menyajikan bahan dengan resep yang terbaik untuk dijual. Jadi secara prinsip tidak ada bedanya seorang peneliti dengan koki, hasil yang diharapkan adalah konsumen menikmati karya mereka dan puas. Dulu orang memilih pisang segar untuk dijadikan oleh-oleh, sekarang bermcam penganan olahan dari pisang bisa jadi pilihan termasuk bolu pisang. Yang pertama tentu lebih murah dari yang kedua, artinya ada penambahan harga jual barang ketika bahan diolah menjadi barang lain. Meski demikian masih banyak orang yang memilih pisang untuk dibawa pulang karena menilai kandungan gizinya utuh tidak hilang seperti ketika diolah. 

Orang yang doyan pisang “mungkin” akan suka bolu pisang, sedangkan penggemar bolu pisang “tentu” menyukai pisang. Asumsi saya mungkin saja keliru karena butuh pembuktian kuantitatif statistik untuk menunjukkan kebenarannya. Tapi saya telah membuktikan bahwa tidak semua barang olahan disuka, contohnya Faqih lebih suka martabak manis ketimbang pizza. He he he … contoh yang tidak terlalu bagus.

Metodologi, seperti halnya resep memasak, diterapkan untuk menghasilkan output terbaik. Bagi orang yang awam ada 2 kemungkinan ketika bertemu dengan metodologi. Yang pertama akan semakin memahami isi tulisan berikutnya sedangkan yang terakhir boleh jadi menjadi bingung meski belum sampe pada inti permasalahannya. Dosen saya pernah bilang anggap pembaca adalah orang yang awam terhadap tema tulisan karenanya tulisan mesti dibuat sejelas dan selengkap mungkin. Mesti ada penjelasan atas suatu nilai atau pernyataan, analisis juga mesti berdasar data dan fakta sedemikian sehingga ketika orang mencobanya sendiri maka hasilnya akan sama persis seperti yang kita tuliskan. Saya pikir karya tulis terbaik mestinya memang seperti itu.

Masalah yang saya (dan mungkin mahasiswa pada umumnya) hadapi ketika menerapkan metodologi adalah:
1. Perangkat penunjang tidak tersedia
Seringkali untuk mendapatkan data perlu menggunakan perangkat pendukung. Untuk teknik eksperimen biasanya peralatan uji atau pengolah data. Untuk statistika biasanya tabel data dan kuesioner. Perangkat ini kadang tidak tersedia secara bebas sehingga harus dibuat sendiri.
2. Obyek penelitian tidak terjangkau
Sumber data olahan terkadang tidak dapat diproses langsung karena secara teknis tidak kompatibel dengan perangkat pendukung. Untuk penelitian teknik biasanya berhubungan dengan keterbatasan kapasitas atau sumberdaya. Untuk penelitian sosial seringkali terkait dengan jenis sampel, waktu dan kesempatan responden.
3. Benchmarking yang rumit
Proses dan tolok ukur serupa digunakan untuk tema yang sama, tetapi hal itu tidak mudah. Beberapa peneliti yang dijadikan referensi tidak dengan mudah memberikan keduanya saat kita meminta.
4. Manajemen waktu salah
Meski sudah berkali-kali menyusun karya tulis ternyata hal manajemen waktu selalu menjadi masalah. Penjadwalan yang ketat sering tidak diikuti dengan komitmen kuat dan konsistensi dalam pelaksanaan. Inilah gunanya pembimbing, selalu mengingatkan untuk menepati jadwal yang disusun.

Saya tidak menuliskan solusi tetapi semoga Anda tidak menemui masalah-masalah yang sama dan kalopun ada semoga Anda bisa mengatasinya lebih baik daripada saya. Saya bisa lulus, maka Andapun bisa. Buat saya mempertahankan ide adalah motivasi terbesar dalam menempuhi proses apapun. Bagaimana dengan Anda?

9 thoughts on “Ide vs. Metodologi

  1. Terima kasih atas sharingnya, ya, Kak.🙂
    hmm.. menurut saya, Kak, membuat bolu tdk sama dgn meneliti. Seorang dapat bebas melakukan cara yg ia suka u/ membuat bolu, hasilnya pun bisa jadi enak bisa juga tidak, sekalipun tdk enak maka tdk akan berdampak ‘menyulitkan’ orang lain.. sedangkan meneliti..
    Pak guru saya pernah bilang bahwa mengapa meneliti itu butuh metodologi yg tepat? karena metodologi itu akan mpengaruhi kevalidan hasil penelitian. Dan hasil penelitian yg tdk valid itu akan ‘menyusahkan’ orang lain.., contohnya:
    1. Suatu kebijakan yg dikeluarkan bdasarkan penelitian tsb, bisa saja salah dan banyak dampak yg tdk sesuai harapan, atau
    2. Orang lain yg melanjutkan penelitian tsb akan berpotensi u/ mdapat hasil penelitian yg tdk valid juga.
    Ada satu kalimat yg sy suka dr Pak Guru saya, “Peneliti boleh salah, tapi tdk boleh berbohong”.🙂 Tapi tentunya tetap akan ada konsekuensi moral pd peneliti yg ‘salah’, salah satunya yaitu.. orang lain akan meragukan penelitian ia yg lainnya..
    Wallahu a’lam..
    Smoga Allahmeridhoi qt u/ mjd insan yg slalu bermanfaat bagi orang lain.
    So, sdh siap, kan, Kak u/ riset qt selanjutnya?😉

    1. Satu paper boleh beda pendapat dong🙂

      Membuat bolu dengan menulis paper bisa sama berbahayanya lho. Misal komposisi bolunya ngasal, yg mestinya gak masuk dicampur juga boleh jadi yang makan bisa sakit perut bahkan keracunan. Seseorang yang alergi bahan tertentu bisa mati tercekat kalo salah makan, seram ya tapi ini kenyataan. Makanya pekerjaan apapun memang mesti dilakukan dengan tanggung jawab.

      Menjual ide menarik dengan metodologi yang salah tidak lebih berbahaya daripada menjual ide salah dengan metodologi yang menarik. Gimana?

      Nice to work with you😀

      1. of course I agree with you..🙂
        and.. The great thing is..
        The good idea with a right method.., isn’t it?😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s