Kisah Tahu (atau Tempe?) dan Cabe


image
Gorengan dan Cabe

Suatu saat Jon naik kereta api dari kampung menuju ibukota. Belum sarapan sewaktu berangkat tadi membuatnya lapar. Sayang uangnya yang tersisa tinggal gopek. Clingak-clinguk dia mencari penjaja makanan yang biasa mondar-mandir di atas kereta api. Untunglah tidak sampai setengah jam penjual gorengan lewat di lorong gerbong tempat Jon duduk. Dengan uang gopek dia cuma mendapatkan satu buah gorengan saja. Tidak lupa Jon meminta cabe rawit karena dia memang penyuka pedas.

Jon duduk lagi di kursinya, berhimpitan dengan penumpang lain sekursi. Maklumlah, kereta api ekonomi memang sering begitu. Tapi Jon sudah biasa dengan kondisi itu. Sekarang dua tangannya memegang gorengan dan cabe. Bukannya berdo’a trus memakannya, Jon malah bingung. Dia ingat tidak membawa minum, dia khawatir ketika makan nanti akan keloloden atau kepedasan. Jadi pikirannya beradu antara makan gorengan dulu atau cabe dulu.

Hampir 15 menit dia berpikir, gorengan dan cabe masih ada di kedua tangannya. Jon akhirnya memutuskan untuk memakan cabe duluan karena dalam pikirannya dia tidak akan kepedasan karena setelahnya dia akan makan gorengan. Baru saja cabe masuk mulut dan Jon mulai mengunyahnya, tiba-tiba 2 orang anak berlarian di lorong gerbongnya. Anak yang di depan menyenggol tangan kanan Jon hingga gorengannya jatuh ke lantai, anak kedua menginjak gorengannya hingga gepeng dan kotor. Sebegitu cepatnya kejadian itu sehingga Jon tidak bisa berbuat apa-apa. Hampir lupa kalau mulutnya sedang mengunyah cabe rawit sampai ketika seluruh cabe ditelan dan rasa pedas panas mulai menyebar di mulut hingga perutnya.

“Aduh pedaaaas … panas …. Awas  … awas …” Jon berteriak-teriak kepedasan. Tanpa pikir panjang dia berlari. Bukan untuk mengejar 2 bocah nakal yang telah menyebabkannya menderita tapi menuju ke toilet kereta api untuk minum air mentah dan menghilangkan rasa pedas di mulutnya. Sungguh kasihan Jon. Maksud hati mengganjal perut dengan gorengan nikmat, apa daya cabe pedas membakar mulut dan perutnya.

Disarikan dari cerita kaum urban

Makna kata
gopek: Rp 500,-
clingak-clinguk: melihat ke kanan dan ke kiri karena bingung
keloloden: jalan nafas di tenggorokan tersumbat makanan (tersedak)
menyenggol (senggol): menyentuh sebagian kecil bagian tubuh orang/benda lain tanpa sengaja.

4 thoughts on “Kisah Tahu (atau Tempe?) dan Cabe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s