Orang Hilang (3)


M3-I4-2.S2-Td4-D4-Z4.4-A4

image

Foto poster di atas saya ambil depan kios Martabak Aidolai dan Pegadaian Beji. Bagi Anda yang mengetahui silakan hubungi nomor telpon yang tercantum di situ.

Risiko menjadi Pegawai
Berbahagialah Anda yang mandiri dalam berusaha karena tidak ada yang mengatur cara Anda bekerja dan apa yang harus Anda capai. Saya tidak bilang yang berusaha sebagai pegawai (atau pekerja) tidak bisa bahagia lho, cuma mungkin tidak sebebas Anda yang mandiri. Berpenghasilan tetap, berstatus sosial menengah bahkan atas, dan berhak atas pensiun atau pesangon kiranya tidak selalu menjadi jaminan atas kebahagiaan dalam bekerja. Banyak orang yang bahagia saat harus bekerja keras untuk mempertahankan bisnis atau saat memulai bisnis baru ketika bisnis lama kolaps. Meski begitu ternyata pilihan untuk menjadi pegawai masih favorit di kalangan masyarakat kita, terbukti dari jumlah peserta seleksi masuk PNS yang membludak setiap tahunnya.

Pegawai umumnya berkarir dari bawah (staf) trus naik ke jenjang pimpinan rendah, menengah dan akhirnya pimpinan tinggi. Meski tidak semua pegawai bisa menempuh jalur karir itu karena syarat dan ketentuan berlaku tapi sudah semestinya setiap pegawai dapat mengetahui jalur karir yang mungkin ditempuhnya. Kejelasan pola karir ini akan mendorong setiap pegawai untuk berusaha memenuhi syarat-syarat agar bisa naik ke jenjang karir berikutnya. Bila tidak jelas dan terbuka maka selain menyebabkan demotivasi bisa membuka peluang terjadinya persaingan yang tidak sehat di antara para pegawai selevel. Sayangnya belum semua instansi (atau perusahaan) memiliki sistem pola karir yang jelas dan terbuka.

Pegawai tentu senang bila mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan kompetensi dan wawasannya baik melalui kursus, seminar, maupun studi banding. Terkadang kegiatan seperti itu dilakukan di dalam kota, kadang di luar kota bahkan di luar negeri. So, buat sebagian orang ini menjadi kesempatan untuk sekedar refreshing sambil mengikuti kegiatan intinya. Kita tentu ingat yang begini ini sensitif bagi publik terutama saat pegawai yang dimaksud adalah pegawai negeri bahkan pejabat negeri. Kasus studi banding anggota dewan sering menjadi headline di media-media massa nasional. Meski pro-kontra semestinya kegiatan yang benar-benar substantif tetap dilakukan mengingat kepentingan organisasi bukan kesenangan pribadi.

Nah, bagaimana bila ternyata sebagian pejabat menggunakan perjalanan dinas untuk memberi kesejahteraan untuk anak buah? Anda boleh tidak setuju, sayapun demikian. Bila tidak setuju lalu apa yang bisa dilakukan? Saya punya beberapa alternatif:
1. Menerima perintah kegiatan dengan perjalanan dinas dengan segala fasilitasnya secara penuh
2. Idem dengan fasilitas seperlunya dan mengembalikan sisanya
3. Menolak dengan alasan pribadi, keluarga atau kesibukan dinas
4. Menolak tanpa alasan.
Setiap pilihan mengandung risiko yang berbeda. Risiko yang secara fair harus ditanggung karena boleh jadi itulah ujian pejabat untuk anak buahnya. Dari situ mungkin ia mengukur keloyalan anak buahnya atau mungkin juga kejujuran atau integritas. Dalamnya hati siapa yang tau, kecuali diungkapkan secara jujur dan terbuka. Semoga hati-hati kita bersih dari prasangka, dengki dan keserakahan. Inilah salah satu risiko menjadi pegawai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s