33 atau 34? Reborn Time!


M3-I4.2-T2.2-2.S2-D0-Z4.4-A4

image
Sunrise menandai datangnya hari baru

Hari ini 22 Muharram 1434H, bertepatan dengan 6 Desember 2012. Dengan aplikasi kupluk yang saya unduh di Google Market dan saya install di hp, saya dapati fitur konversi kalender hijriyah-masehi. Iseng-iseng saya coba masukkan 6 Desember 1979 atau 33 tahun lalu maka konversinya 22 Muharram 1400H. Berarti 33 tahun masehi sama dengan 34 tahun hijriyah lewat 6 hari. Tanpa menghitung detilnya saya simpulkan selisih jumlah hari dari tahun hijriyah dan masehi sekitar 11 hari. Yang berarti selisih lebih setahun hijriyah untuk setiap 33 tahun masehi. Subhanallah …

Guru, Dulu dan Kini
Siang tadi sambil menyantap mie rebus spesial pake telor saya ngobrol dengan teman kantor. Dia menanyakan tentang kapan tunjangan kinerja  diberikan, maka saya jawab tinggal menunggu surat persetujuan pengalihan anggaran BUN ke DIPA kantor kita. Semoga tidak terlalu lama lagi, insya’Allah. Perbincangan berlanjut ke masalah transportasi dari rumah ke kantor pp. Dia naik KRL dengan biaya kurang lebih 26 ribu/hari sehingga total sebulan maksimal 570-an ribu atau setara dengan uang makan, kurang lebih. Adanya tunjangan kinerja sedikit banyak meringankan bebannya sehingga ada lebihan anggaran untuk kebutuhan yang lain.

Saya dan teman kantor ini ternyata punya kesamaan, sama-sama ganteng beristri pengajar. Bedanya istri saya mengajar bimbel sedangkan istrinya guru SD. Perbincangan pun mengalir ke prospek bisnis masing-masing. Guru sekarang beda dengan guru dahulu, yang jelas sekarang lebih terjamin dari sisi penghasilan. Bila sudah sertifikasi baik guru negeri maupun swasta mendapat tunjangan guru dari pemerintah yang besarnya cukup. Istilah guru Umar Bakri mestinya sekarang tidak ada kecuali dari sisi semangat pengabdian. Sayangnya ketika kesejahteraan guru sudah mulai ditingkatkan kualitas mendidiknya justru cenderung menurun, banyak orangtua yang hasil belajar anak mereka tidak maksimal dan menyalahkan guru yang tidak sungguh-sungguh mendidik. Akhirnya mereka membawa anak mereka ke bimbel agar nilai-nilai pelajaran bisa diperbaiki.

Meski saya dan istri sependapat kalo semestinya prestasi belajar anak merupakan bagian tanggung jawab sekolah termasuk guru-guru pengajar, tapi membuka bimbel adalah salah satu solusi menggenjot prestasi belajar anak yang kurang. Alasannya simpel, perhatian guru pada setiap murid sekarang cenderung kurang tidak seperti zaman kami sekolah dulu. Saya mungkin salah ketika menggeneralisasi kondisi ini pada semua sekolah mengingat ada sekolah-sekolah yang sudah atau masih berorientasi pada kebutuhan siswa model sekolah internasional dan sekolah terpadu yang biayanya sangat mahal, tapi di sekolah lain kondisi di atas memang sungguh terjadi. Semoga ada perhatian dari pemerintah khususnya Kemdikbud terkait masalah ini, karena dari pendidikanlah kemajuan suatu bangsa berawal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s