Pengalaman Traumatis


MI3.2-S2-ZA2.2

image
Laut berbeda dengan kolam renang

Seorang perempuan muda usia 30-an sudah bersiap dengan baju renang, kacamata dan masker snorkling. Perahu motor yang membawa rombongan ke lokasi snorkling pun melaju, tidak sampai 30 menit sudah sampai di tujuan. Segera saja beberapa orang yang juga sudah siap untuk snorkling menceburkan diri ke laut dan mulai sibuk dengan kacamata juga masker mereka. Sementara itu si perempuan tadi tampak ragu-ragu meskipun beberapa perempuan lain juga sudah siap untuk ikut turun ke air.

Sang guide sudah lebih dulu berenang menyusul mereka yang tampak sudah mulai menjauh dari perahu. Orang yang ditugasi sang guide menurunkan tangga kayu lalu mengikatnya di perahu untuk naik turun. Perempuan tadi memilih sisi perahu lain yang tidak dipasangi tangga lalu menceburkan diri ke laut … byur. Si perempuan buru-buru berpegangan sisi perahu seraya berkata kalo dia lupa melepas jam tangannya. Seorang yang ada di atas perahu lalu memegangi tangan perempuan tadi lalu melepas jam tangannya.

Sejenak perempuan muda itu berusaha menguasai keadaan dan melepaskan tangannya dari sisi perahu, tapi tidak sampai 5 menit dia lalu berkata dengan cemas ingin naik ke atas perahu saja. Seorang perempuan lain yang turun ke air berbarengan dengannya berusaha membantu, ia meminta tolong orang-orang yang di atas perahu untuk menarik si perempuan ke atas. Ternyata meski badannya tidak gemuk dan juga tidak tinggi si perempuan tidak bisa ditarik hanya oleh 1 orang, dan ketika seorang yang lain membantu perempuan itu akhirnya bisa juga naik ke atas perahu.

Perempuan muda itu tampak ketakutan, pengalaman tadi sepertinya membuat dia trauma. Laut ternyata sangat berbeda dibanding kolam renang. Meski memakai pelampung, air yang bergelombang membuat badan naik turun seperti akan tenggelam padahal tidak. Saat pelampung dipakai dengan benar maka badan akan mengapung di air dengan posisi 2/3 di dalam air, dada ke atas di atas air. Kecuali pelampung kendur sehingga ia naik ke badan atas sehingga badan agak lebih tenggelam tapi tidak lebih dari leher. Sayang sekali, kesempatan untuk snorkling di laut lepas kandas karena kesalahan pemakaian pelampung dan ketiadaan guide sebagai instruktur di saat dibutuhkan. Keingintahuan yang menggebu berganti trauma yang tentu akan butuh waktu dan proses untuk menghilangkannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s