Nikah Siri dalam Sorotan


M3-I4-S2-Z4-A4

Beberapa hari terakhir media nasional mem-blow up berita pernikahan yang dilakukan seorang tokoh masyarakat, pejabat publik di daerah Jawa Barat. Berbagai pihak kemudian memandang hal ini dari berbagai sisi berbeda, mulai dari kacamata agama hingga kacamata politik. Tidak cukup pada adu argumen melalui media massa, sebagian masyarakat menyikapinya dengan menggelar demo menuntut agar si tokoh mundur dari jabatannya. Sepertinya kasus ini akan panjang ceritanya dan masih akan jadi trending topic di berbagai media. Kita tunggu saja.

Terkait nikah siri, istilah ini muncul begitu santer dan mulai dikaitkan dengan poligami padahal boleh jadi keduanya tidak berhubungan sama sekali. Nikah siri menurut bahasa berarti nikah diam-diam atau nikah yang tersembunyi. Nikah siri berbeda dengan nikah kontrak meski praktiknya kurang lebih serupa. Nikah siri disebut begitu karena selain tidak diumumkan juga tidak dicatat oleh petugas berwenang: KUA atau catatan sipil. Sedangkan nikah kontrak adalah nikah yang disepakati untuk kurun waktu tertentu, bisa siri atau resmi. Meski begitu nikah kontrak lebih banyak adalah nikah siri. Lalu apakah nikah siri itu?

Menurut Undang-undang Perkawinan no. 1/74 disebutkan bahwa nikah dinyatakan sah bila memenuhi ketentuan agama dan dicatat oleh petugas berwenang. Nah nikah siri umumnya adalah nikah yang tidak memenuhi satu atau bahkan kedua syarat itu. Bisa saja nikahnya memenuhi syarat sah nikah menurut syariat agama tetapi tidak dicatat atau keduanya tidak dilakukan. Sebagian orang melakukan nikah siri tanpa menghiraukan syarat sahnya seperti ketiadaan wali sah mempelai perempuan, ketiadaan 2 orang saksi, atau ketiadaan mahar. Nikah dilakukan oleh ulama sebagai wali hakim tidak sah, karena mesti wali asli masih ada, dan tidak dihadiri saksi nikah. Hal ini menyebabkan batalnya pernikahan yang dilangsungkan.

Tidak berhenti sampai di situ, nikah siri mengandung banyak sekali risiko. Selain status masing-masing mempelai yang tidak jelas, hak dan kewajiban mereka juga tidak disampaikan sehingga boleh jadi tidak dimengerti, yang terakhir status anak yang tidak terlindungi baik secara syariat agama maupun di mata hukum. Yang gawat adalah nikah siri yang diidentikkan poligami. Memang sih kebanyakan laki-laki pelaku nikah siri sudah punya istri artinya memoligami istrinya tetapi tidak semua nikah poligami dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Karena sebagian dari nikah siri itu tidak sah maka mengidentikkannya dengan poligami sama saja pembunuhan karakter terhadap poligami yang dibolehkan dalam syariat Islam dan ini bisa berbahaya untuk akidah kita. So, mulai sekarang kita mesti lebih berhati-hati menilai kasus nikah siri. Harap maklum🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s