Aku hanya Seorang OB


M3-I4-S2-T4-Z4.2-A4

Aku kerja di kantor pemerintah sejak 5 tahun lalu. Tiga tahun pertama status masih honorer, dua tahun terakhir baru jadi CPNS. Tahun depan insya’Allah aku diangkat jadi PNS penuh. Sehari-hari aku membantu pegawai di sini keperluan mereka mulai dari membuatkan air minum di pagi hari, membuang sampah dan membersihkan ruang kantor, sampai membelikan makan siang atau cemilan sesuai pesanan. Selama 5 tahun ini aku berpindah-pindah tempat, pernah mengurusi pegawai biasa pernah juga pejabat eselon.

Jadi office boy (OB) memang ada enak dan gak enaknya. Enaknya pasti pas terima gaji, uang makan, rapelan kenaikan gaji/tunjangan, atau pas dikasih lebihan setelah membelikan makanan/minuman. Terkadang juga ditraktir makan atau dikasih oleh-oleh pegawai lain yang dinas ke luar kota. Gak enaknya pas kerjaan numpuk dan masih disuruh-suruh, jadinya kerjaan gak beres-beres. Pernah satu hari sedang bersih-bersih ruangan belum kelar sudah disuruh beli snack rapat, lanjut bersih-bersih belum kelar sudah disuruh angkut-angkut sembako pesanan bazaar koperasi ke setiap ruangan, mana pegawai gak ada yang membantu padahal itu belanjaan mereka.

Yang kutunggu-tunggu setiap tahun adalah bulan puasa, karena selain kerjaan tidak banyak kami biasa mendapatkan paket sembako dari kantor dan juga THR di akhir bulan menjelang lebaran. Aku senang karena itu semua diberikan cuma-cuma sehingga di hari lebaran hampir semua kebutuhan bisa terpenuhi. Cuma belakangan aku terpikir juga dengan semua itu, apakah memang semestinya kami mendapatkannya.

Aku mulai mencari informasi dari teman-teman kantor dan menanyakan pada ustadz yang biasa ceramah di masjid kantor kami perihal itu semua. Walhasil aku mendapati bahwa semestinya PNS seperti aku tidak berhak atas paket THR kecuali bila kami menabung untuk itu dan apa yang kami terima adalah kebijakan dari pimpinan kantor kami. Meski ternyata tidak cuma kantorku saja yang punya kebijakan serupa tetapi keraguan di hatiku semakin kuat setiap tahunnya. Hingga akhirnya aku bertemu dengan teman-teman jama’ah masjid kantor yang punya keraguan sama terkait apa yang belakangan aku pikirkan. Kami memang punya kebutuhan hidup, begitu pula keluarga yang kami nafkahi. Tapi tentu kami berusaha memberikan rizki yang terbaik, yang bersih, halal dan thoyib.

Sejak saat itu baik sembako maupun uang THR yang kudapat dari kantor tidak aku berikan pada keluargaku tapi kusalurkan untuk kepentingan umum semisal pembangunan fasum atau fasos. Dan hanya nikmat yang berkah saja yang kuharapkan dari tempat aku bekerja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s