Karena Tidak Siap


M3.2-I4.2-2.S2-T1-ZA4.4

Hari ini kami berangkat mudik liburan sekolah. Karena liburan kali ini bertepatan dengan liburan akhir tahun, tiket mudik jadi lebih mahal dan susah mencari bis yang sesuai selera. Jadilah kami mendapatkan bis seadanya. Meski harganya murah, perjalanan dengan bis yang tidak biasa sebenarnya menjadi sebuah pertaruhan.

Benar saja, bis yang kami naiki ekonomi AC dengan seat 2-3. Kami mengambil 4 kursi 3-1 dengan asumsi istri dan anak-anak di depan, saya di belakang mereka. Ternyata 3 kursi tidak cukup nyaman untuk istri dan 3 bocah cilik (2 putra-putri kami, 1 keponakan). Bahkan kursi yang saya duduki tidak cukup nyaman untuk saya yang berbadan kurus ini. Sepertinya ketidaknyamanan ini yang membuat saya beralih ke patas non-AC, VIP atau eksekutif belasana tahun lalu. Tapi apa mau dikata, nasi sudah habis dimakan tinggal menunggu hasilnya belakangan. Jalur yang kami lalui padat sekali bahkan ketika kami masuk jalan tol kemacetan tetap saja menghambat perjalanan kami.

Awalnya istri dan anak-anak masih enjoy tapi ketika mestinya waktu istirahat malam tapi bis masih ngantre di tol Cikampek mereka mulai tidak nyaman. Fida dan umminya akhirnya mual dan muntah, sesudahnya suasana di perjalanan sudah tidak asyik lagi. Untungnya Faqih gak rewel. Dia mau saya pangku meski tempat duduk saya tidak begitu nyaman. Beberapa menit bolak-balik berdiri di pangkuan saya, main game di hape trus tertidur deh. Memeluk bocah saat dia tertidur membuat kita nyaman juga meski kondisi sekitar tidak kondusif.

Di sebelah saya sepasang suami istri dan anak mereka yang belum genap setahun. Sempat rewel entah karena apa tapi yang bikin gregetan si bapak gak mau bantu istrinya, santai aja dia molor. Si ibu kelihatan repot banget, mungkin dia mulai pusing dan mual seperti istri saya. Beberapa kali si ibu marah sama anaknya, berharap si anak mau diam dan tidur. Anak dipaksanya minum air putih dalam botol padahal buat anak segitu mestinya masih butuh ASI kan. Kalo saya bilang pasangan ini tidak siap dengan komitmen sebagai suami istri yang mesti saling membantu dan tidak siap dengan kehadiran bocah yang berhak atas kasih sayang kedua orangtuanya. Lebih parah lagi mereka sepertinya tidak terlalu siap melakukan perjalanan jauh dengan balita yang mestinya butuh persiapan lebih misal baju hangat dan makanan/minuman yang siap setiap saat dibutuhkan. Hadoh, walaupun menikah muda mestinya mereka siap dengan konsekuensinya ya. Jangan-jangan mereka tidak pernah memikirkan itu sebelumnya ya. Capek deh …

4 thoughts on “Karena Tidak Siap

  1. Menikah muda bukan berarti terjun bebas tanpa persiapan. Tapi menikah muda jelas lebih baik daripada menikah di usia tua hehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s