Menikah sebuah Sunnah Hasanah


M3.2-I4.2-S2-J2.2-A4

وأنكحوا الأيامى منكم والصالحين من عبادكم وإمائكم إن يكونوا فقراء يغنهم الله من فضله والله واسع عليم [An-Noor : 32]

Liburan sekolah kemarin, selain meluangkan waktu untuk silaturrahim ke saudara-saudara di kampung dan berwisata bersama keluarga, ada momen di keluarga besar saya. Adik kami yang tinggal bersama bapak-ibu tasyakuran pernikahannya yang sudah jalan lebih dari setahun lalu. Berbagai alasan memaksa tidak digelarnya tasyakuran sesudah akad nikah, bahkan saat ini mereka belum punya cukup uang untuk itu. Jadilah kami kakak-kakaknya patungan untuk sekedar mengirim saudara dan tetangga nasi berkat sebagai tanda syukur atas pernikahannya sekaligus atas kelahiran putrinya alias keponakan kami.

Menikah/kawin memang sebuah kebutuhan kodrati setiap manusia. Berbeda dengan hewan yang melakukan perkawinan untuk mempertahankan keturunan, menikah menjadi jalan yang disyariatkan Islam. Apa bedanya? Kawin bagi hewan tidak diatur syarat dan ketentuannya, sedangkan pernikahan ada bintang kecilnya. Artinya dalam pernikahan terdapat syarat dan ketentuan yang mesti dipenuhi sehingga hubungan di antara dua orang laki-laki dan perempuan bukan mahram menjadi halal. Dalam dunia hewan umumnya tidak mengenal mahram alias yang tidak boleh dinikah karena alasan apapun, bagi manusia hal ini tidak hanya menjadi ketentuan syariat tetapi juga sangat relevan dengan kodrat manusiawi dan ilmu pengetahuan.

Karenanya menikah menjadi bagian dari risalah kenabian (sunnah) Rasul saw. Menikah tidak hanya diartikan sebagaimana definisinya melainkan menjadi bagian dari rekayasa sosial yang bertujuan membangun pribadi, keluarga, masyarakat sekaligus negara yang Rabbani. Keluarga adalah tempat dua orang insan yang berbeda bersama-sama membentuk pribadi sempurna yang sholih baik vertikal maupun horizontal. Keluarga yang demikian menjadi pondasi atas terbentuknya masyarakat yang madani di mana kehidupan sosial tidak berjalan hanya dengan motif duniawi tetapi secara kolektif bervisi jauh hingga akhirat. Sebagai puncaknya ketika masyarakat-masyarakat madani terbentuk dan bersatu maka terwujudlah negara yang madani pula. Sebagaimana pernah terwujud di masa kekhalifan Islam yang insya’Allah akan datang kembali.

Begitulah sedikit di antara penjelasan tentang indahnya pernikahan dalam Islam, di mana cinta di antara dua manusia berujung pada kecintaan kumpulan manusia dalam suatu negara kepada Allah dan Rasul-Nya. Inilah makna menikah sebagai sunnah hasanah. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s