Zakat versus Shodaqoh


M3-I4.2-S2-Z4.2-A4

image
Orang kecil selalu tergusur

Baru-baru ini saya terlibat diskusi online dengan teman-teman saya, membahas rencana atas bonus akhir tahun yang kami terima dari kantor. Ada yang ingin membangun rumah baru yang lebih besar agar bisa menambah anggota keluarga, ada juga yang ingin beli mobil murah. Diskusinya cukup ramai, karena latar belakang dan orientasi kami tentu berbeda-beda. Meski dulu pernah sekampus tapi tidak cukup untuk menyamakan persepsi untuk banyak hal termasuk untuk urusan yang satu ini, apalagi ketika dikaitkan dengan prinsip-prinsip agama. Bahkan di antara kami yang seagama saja pandangan atas kewajiban, juga yang dianjurkan dan pula yang terlarang pun tidak sama.

Satu masalah yang dihadapi umat saat ini adalah kemiskinan sistemik. Jumlah orang miskin seperti tidak menurun setiap tahun melainkan malah bertambah. Meskipun statistika pemerintah mengatakan bahwa jumlah orang miskin makin berkurang tapi pengurangannya tidak signifikan. Belum jelas roadmapnya yang mudah ditangkap oleh masyarakat ini. Tantangan atas segala pemberdayaan masyarakat yang terbesar adalah kapitalisme yang telah bersarang dalam masyarakat itu sendiri. Betapa banyak orang kaya di tengah masyarakat, sedangkan di sekitarnya orang-orang yang tidak berdaya. Semestinyalah kekayaan itu tidak hanya beredar di antara sebagian orang-orang tertentu saja tetapi merata pada seluruh umat manusia. Sayang itu hanya sebuah ide yang pernah terealisir beratus abad lalu ketika pemimpin negeri menegakkan syariat termasuk di dalamnya zakat. Sementara saat ini orang kaya lebih banyak tertarik untuk menambah pundi-pundi harta meski masih ada pula yang mau menyisihkan sebagian hartanya untuk orang-orang yang kurang beruntung.

Bukan ingin mengacaukan suatu kebaikan yang sedang digerakkan oleh banyak ulama yaitu menggalakkan infaq shodaqoh, tetapi sebaiknya setiap pihak menyinkronkan langkah dalam rangka mengentaskan kemiskinan umat. Shodaqoh memang membawa manfaat yang banyak dan keberkahan bagi pemberinya namun dalam sistem pemberdayaan ekonomi umat ada zakat yang hukumnya wajib sehingga lebih utama untuk didahulukan. Memang ibadah sunnah dijanjikan pahala yang berlipat ganda, namun tidak bisa menggantikan ibadah wajib yang pahalanya surga. So, sudahkah kita berzakat?

5 thoughts on “Zakat versus Shodaqoh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s