Belajar dari Nuh as.


M3.2-I4.2-2S2-2J2.2-A4

image
Masjid, pusat aktifitas umat Islam

Siang ini khutbah Jum’at di masjid kantor saya disampaikan oleh ustadz muda yang bersemangat. Semangatnya mampu menahan mata saya tetap terbuka dari awal sampe akhir khutbah karena selain suaranya lantang dan jelas, materi yang disampaikan juga cukup menggugah. Tema yang disampaikan terkait bertahan dengan iman-Islam ditengah banjir kejahilan modern. Berikut kutipan khutbah yang beliau sampaikan.

Islam sebagai agama tidak akan hilang dari muka bumi tapi tidak ada jaminan dari Allah kalo Islam tidak akan hilang dari Indonesia. Islam tidak akan sirna dari dunia ini tapi tidak ada jaminan dalam Al Qur-an kalo Islam tidak akan sirna dari Jakarta. Kita memang tidak akan mengalami banjir bandang seperti yang dialami umat Nabi Nuh as. tapi kita sedang dilanda banjir globalisasi. Gaya hidup bebas yang merusak moral, kapitalisme yang mengutamakan materi dan kekuasaan, juga kecintaan pada dunia. Semua itu akan menenggelamkan umat ini sebagaimana banjir bandang yang menenggelamkan kaum Nuh as. Maka sudah seharusnya kita berjuang untuk menjaga, memelihara dan mewariskan pada generasi penerus kita Islam di negeri ini. Memang berjuang itu tidak selalu jihad fisabilillah mengangkat senjata seperti Rasulullah saw. dan para sahabat ra. melainkan juga menjaga dakwah Islam ini tetap tegak.

Dalam sejarah tertulis nabi Nuh as. berdakwah selama 950 tahun dan hanya mendapatkan tidak lebih dari 80 pengikut. Bisa dibayangkan bagaimana sikap kaum Nuh menolak ajakan beliau untuk menegakkan kalimat Allah, mereka menutup telinga dan menghindar dari dakwah Nuh as. Mana ada pesantren, ustadz atau madrasah yang tetap bertahan bila setiap 10 tahun santri, jama’ah atau muridnya hanya bertambah 1 orang saja? Sungguh perjuangan yang penuh kesabaran. Tidak cuma itu, bahkan anak beliau yaitu Kan-an tidak mau menerima dakwah Nuh as. dan memilih bergabung dengan umat yang kufur. Hingga akhirnya beliau meminta pada Allah swt. untuk memberikan azab pada kaumnya, dan Allah memerintahkan beliau untuk membuat sebuah kapal. Kapal itu dibuat dari kayu, sedangkan kayu tidak tersedia maka Nuh as. menanam dulu pohon hingga bisa dipanen kayunya untuk dijadikan bahan baku kapal.

Waktu yang dibutuhkan 100 tahun sehingga kapal itu jadi. Dibuat Nuh as. di atas gunung sehingga beliau dianggap sudah gila dan selalu mendapatkan ejekan dari kaumnya. Ketika kapal itu jadi maka Allah swt. memerintahkan Nuh as. mengangkut semua pengikutnya dan sepasang dari setiap jenis hewan-hewan. Yang membuat Nuh as. sedih adalah ketika beliau memeriksa penumpang dan tidak menemukan Kan-an di antara mereka. Saat dilihat anaknya bersama kaumnya yang kufur maka Nuh as. meminta Kan-an untuk naik ke atas kapal, sayang tawaran itu ditolak sang anak. Bahkan ketika dibilang padanya bahwa akan datang banjir besar yang akan menenggelamkan mereka semua, Kan-an tetap menolak dan berkata kalo ia akan naik ke atas gunung tertinggi agar selamat. Maka Allah swt. dengan kuasa-Nya menenggelamkan dan memusnahkan manusia semua kecuali umat yang menerima dakwah Nuh as. berada di atas kapal. Perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa dari Nuh as.

Perjuangan menegakkan kalimat Allah panjang dan berliku, menanjak dan penuh duri. Membutuhkan kesabaran dan pengorbanan yang tidak ringan. Sudah semestinya bagi setiap orang beriman yang mengharap ridho dan surga Allah, jalan dakwah menjadi satu pilihan dalam hidupnya. Wallahu a’lam.

One thought on “Belajar dari Nuh as.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s