Faqih dan Antrean


M3.2-I4.2-2S2-Z4.2-A4

Beberapa pekan terakhir Faqih, putra kedua kami, mulai tertarik dengan permainan puzzle. Kalo diingat-ingat Fida, putri pertama kami, tertarik dengan permainan ini di usia yang lebih muda. Meski begitu, Faqih cukup cepat menguasainya. Jadilah puzzle menjadi permainan favorit putra-putri kami. Mereka memainkan permainan ini di hape atau yang manual. Puzzle menjadi permainan yang tidak hanya melatih kecerdasan otak kiri tetapi juga melatih kesabaran dan koordinasi otak kanannya.

image
Faqih asyik mainan puzzle

Kemarin saya, istri dan Faqih ke RSUD Pasar Rebo untuk suatu keperluan. Meski kami berangkat pagi-pagi, di sana sudah ramai dengan pasien. Antreannya untuk peserta Askes sampe 150 nomor sehingga kursi tunggu yang disediakan selalu penuh. Kami mesti menunggu kurang lebih satu jam sebelum akhirnya dapat giliran untuk dilayani petugas. Saat menunggu, Faqih sudah tidak sabar. Ia minta makanan kecil yang kami bawa, sesudah itu minta beli donat, lalu minta dibelikan puzzle saat saya hendak membeli majalah pesanan Fida. Entah bagaimana ia melihat permainan itu di antara majalah-majalah dan koran yang dipajang oleh penjualnya. Puzzle yang dipilihnya bergambar Shaun the Sheep, salah satu film kartun favoritnya.

image
Faqih dan puzzle barunya

Memang mesti sabar kita sebagai pengguna layanan umum seperti rumah sakit di zaman sekarang. Jumlah penduduk yang semakin besar memaksa penyedia layanan bekerja extra-keras. Teknologi membantu mengatur agar waktu proses layanan bisa diminimalisir. Seperti halnya sistem antrean di RSUD ini. Dulu, waktu pertama kali kami berobat di sini antrean Askes tidak sepanjang sekarang tapi waktu tunggunya sama bahkan lebih, karena waktu itu sistemnya masih manual. Petugas memasukkan data-data kartu pasien ke komputer untuk mendapatkan data lalu memasukkan status baru untuk mendapatkan nomor antrean di bagian klinik yang dituju. Sekarang dengan kartu baru, petugas tinggal memindai barcode kartu dan memasukkan status sehingga waktu proses lebih pendek.

image
Antrean dengan display digital

Yang terpikir di benak saya waktu di antrean kemarin adalah bagaimana data pasien bisa di-share untuk seluruh puskesmas dan rumah sakit. Hal ini penting mengingat situasi kondisi pasien bisa saja memaksanya untuk berpindah tempat layanan. Contoh kasus sederhana ketika seorang ibu hamil rutin memeriksakan kandungannya di rumkit A tapi ia berencana melahirkan di rumkit B karena berbagai alasan. Hal ini tentu akan membutuhkan duplikasi data kondisi terakhir si ibu oleh rumkit B. Karena tidak ada sistem data-sharing antarrumkit maka rumkit B akan memeriksa ulang kondisi awal si ibu ketika memeriksakan kandungannya di rumkit B. Meski hal ini prosedur standar tapi tentu membutuhkan waktu dan biaya menjadi kurang efisien. Adanya data-sharing akan mengurangi waktu dan biaya ketika prosedur pemeriksaan tidak perlu dilakukan karena masih dalam kurun waktu standar yang valid.

Penerapan data-sharing ini tentu mesti memerhatikan faktor keamanan dan kevalidan data karena data kesehatan adalah konfidensial bagi umum dan data ini penting bagi penyedia layanan. Sistem ini sepertinya akan berjalan tidak lama lagi mengingat konvergensi data penduduk dengan sistem on-line nasional mulai diterapkan, misal pemberlakuan e-KTP. Data penduduk dasar hingga yang khusus seperti kondisi kesehatan akan termasuk dalam data yang akan di-share kepada entitas umum termasuk swasta sesuai kebutuhannya. Semoga digitalisasi dan sentralisasi data seperti ini memerhatikan sisi privasi setiap orang selain juga memberi kemanfaatan yang luas bagi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s