H17 | (Malas) LQ


M3-I4-T4-2.S2-Z4.2-A4

Rajin pangkal pandai
Hemat pangkal kaya

Pepatah di atas sudah saya dengar sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD). Mungkin karena itulah sejak kecil saya suka belajar dan menabung. Walhasil prestasi saya di sekolah dasar cukup memuaskan, dan saya termasuk anak yang bisa mengumpulkan tabungan cukup banyak. Meski begitu sesudah beranjak remaja dan lalu dewasa tidak semua kebiasaan masa kecil itu masih ada pada diri saya. Apakah Anda juga mengalaminya?

Saya sadar betul kalo saya bukan anak yang pintar, di sekolah menengah pertama (SMP) dan atas (SMA) saya tidak pernah menjadi tiga besar. Bahkan nilai ebtanas murni saya cuma bertambah masing-masing satu poin sejak SD, jauh tertinggal dari teman-teman SD yang pernah jadi pesaing saya. Sekarang saya merasa bahwa cuma keberuntungan (kebaikan Allah – red) saja yang menyelamatkan saya melewati fase-fase ujian itu. Tapi hidup tidak melulu belajar bukan?

Saya sudah lebih dari 11 tahun bekerja dan belum beranjak dari tempat kerja saya sedari dulu, berbeda dengan rekan-rekan saya yang sebagian bahkan hampir tiap 3 tahun bergeser ke tempat kerja lain. Mungkin karena itulah kondisi ekonomi saya biasa-biasa saja, sementara beberapa teman bahkan yunior saya sudah meraih banyak hal. Sebenarnya tentang meraih banyak hal ini saya bukannya tidak mendapat kesempatan, tapi buat saya itu adalah pilihan hidup. Dan pilihan itu bukan tanpa sebab. Selain karena kondisi yang pernah kami alami juga karena saya mendapatkan pengalaman lain yang begitu mendalam, sejak saya mulai mengaji (LQ – red) sewaktu masih duduk di bangku SMA dulu.

Mengaji buat saya dulu adalah perkara yang menakutkan. Betapa tidak, mengingat sewaktu kecil saya kurang mendapat pendidikan agama (karena di SD negeri) sehingga sampe SMA kemampuan baca Al Qur-an saya sangat minim. Rasanya takut banget kalo disuruh baca Al Qur-an di depan orang banyak, Anda mungkin juga merasakan hal yang sama bukan.

Tapi, lepas SMA dan kembali bertemu komunitas LQ, saya mulai merasa bahwa ngaji tidak fokus pada baca Al Qur-an. Ngaji adalah memahami kandungan isi Al Qur-an sembari memperbaiki hubungan kita dengannya baik membaca, mentadaburi, maupun menghafalnya. Lambat laun ngaji adalah agenda wajib yang mesti dijalani setiap pekan. Akan terasa kering bila tidak ngaji sehingga meski harus jalan kaki beberapa kilo atau naik angkot ganti naik truk pasir atau berangkat sore pulang malam atau kehujanan dan perut keroncongan, ngaji tetap jadi aktifitas yang menyenangkan. Mungkin virus iman yang membuat semua itu.

Bukan manusia bila kondisi tidak naik turun, hanya nabi sajalah yang kondisinya selalu menaik. Seperti juga saya, yang kadang begitu semangat tapi juga kadang malas. Untungnya untuk ngaji, sepertinya tidak ada kata malas. Apalagi sekarang sudah ada motor, berangkat dari rumah atau kos dengan perut kenyang, dan banyak kondisi yang mendukung dibanding kondisi dahulu. Memang ada masanya, istri di rumah manja minta ditemani, anak-anak di rumah manja minta bermain, atau pekerjaan kantor yang manja minta dikerjain. Itu biasa asal jangan lupa untuk meniatkan untuk selalu hadir dalam LQ meski hanya hati saja yang bisa hadir melalui do’a rabithah.

Salam takzim untuk semua MR saya. Salam persaudaraan untuk semua sohib grup saya. Semoga kelak kita bisa ngaji bareng Rasul dan para sahabatnya, aamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s