H31 | KB Memang gak Nyunah tapi Perlu


M3-I4.2-2.S2-2.Z4.2-A4

Beberapa kali saya melihat keluarga minus (baca: ekonomi lemah) dengan anak-anak yang banyak. Maklum di kota saya tinggal, Depok, dan saya kerja, Jakarta, banyak ditemui keluarga yang berjuang untuk sekedar hidup saja. Dulu waktu saya tinggal di Jakarta, istri saya pernah aktif dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat miskin. Kegiatannya mengajari anak-anak pemulung mulai dari pelajaran sekolah hingga mengaji. Ternyata kampung dan keluarga pemulung tidak hanya di Jakarta, di Depok pun juga ada.

Nah, dari pengalam di atas saya menemukan fenomena yang cukup miris. Pertama, banyak di antara keluarga pemulung punya anak lebih dari dua orang. Kedua, anak-anak pemulung ini jarak umurnya berdekatan bahkan ada yang kurang dari 2 tahun. Ketiga, hampir semua anak pemulung tidak bersekolah. Keempat, beberapa keluarga pemulung tinggal di jalanan. Artinya, secara umum keluarga pemulung yang saya temui kurang memerhatikan Hak Anak.

Saya tidak sedang ingin menghakimi kepala keluarga pemulung yang seakan-akan lalai akan kewajibannya, karena bila dicermati banyak dari bagian masyarakat kita yang juga mengalami fase kehidupan seperti itu. Saya bahkan yakin, mereka sebenarnya sedang berjuang untuk sebuah kebahagiaan yang mungkin belum bisa terwujudkan. Beban hidup secara ekonomis di kota-kota besar seperti Jakarta juga Depok telah memaksa mereka menjalani pahitnya berumah tangga tanpa perencanaan. Ya, apakah bisa dibilang terencana bila sebuah keluarga yang hidup dari matapencaharian memungut sampah daur ulang tanpa tempat tinggal layak memiliki jumlah anak yang banyak dan kurang terjamin kebutuhannya?

Miris saja melihat seorang ibu, istri pemulung, yang sedang menggendong bayi dibelakang gerobak yang ditarik suaminya sementara dalam gerobak ada anak-anak mereka yang masih kecil-kecil. Meski anak-anak itu tampak gembira karena naik gerobak memang sangat menyenangkan buat mereka, tentu tinggal di rumah yang nyaman, bermain dan bersekolah tentu lebih baik untuk tumbuh kembang mereka.

Dalam pikiran saya, mestinya mereka berfikir lebih dalam lagi untuk mempunyai anak banyak dalam kondisi demikian. Tapi tentu tidak mudah mengatasi kebutuhan mendasar “itu” sementara tidak ada fasilitas untuk kebutuhan sekunder yang bisa merendamnya. Walhasil, pengendalian kelahiran anak untuk bagian masyarakat golongan ekonomi menjadi tidak terkendali. Kecuali untuk mereka yang sudah Sadar KB (Keluarga Berencana).

KB yang saya bicarakan ini tentu berbeda dengan konsep KB orde baru. Kalo dulu KB berarti pembatasan kelahiran atau jumlah anak, maksimal 3 atau 2 saja. Sekarang sepertinya bahkan BKKBN sekalipun telah mengubah paradigma tersebut menjadi merencanakan dengan matang kelahiran atau jumlah anak sesuai kemampuan ortu, secara komprehensif. Karenanya kalo dulu sebagian ulama melarang jama’ahnya mengikuti program KB maka sekarang sebaiknya setiap ulama menganjurkan program KB untuk seluruh jama’ahnya. Karena esensinya bukan membatasi jumlah anak tapi merencanakan masa depan anak lebih matang. Karena anak-anak kita punya hak, atas kebutuhan mendasar yang tidak hanya makan-minum, tapi juga pendidikan, tempat tinggal yang layak, keamanan dan juga kasih sayang.

So, mesti saya tegaskan lagi bahwa:

KB (dulu) memang gak nyunah, tapi (KB sekarang) perlu …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s