H3 Ramadhan | Belajar Puasa


M3.2-I4.2-T23.2-2.S2-J2.2-A4-T6

image

Putri kami, Mufida, tahun ini menginjak tahun kedua belajar puasa. Memang dia mulai puasa waktu sudah SD, jadi sewaktu TK ia belum berpuasa. Tahun kemarin hampir sebulan Fida puasa bedug atau puasa setengah hari, ada beberapa hari dia sakit dan tidak puasa. Untuk seumur Fida, rata-rata teman sekolahnya belum berpuasa penuh. Ada memang yang sudah puasa sampe Maghrib, tapi itu karena kakak beradik kompak jadi ada saling membantu antarmereka. Beda dengan Fida yang adiknya belum bisa belajar puasa, siang hari saat adiknya makan-minum tentu membuat nafsu makannya muncul.

Kemarin Fida sukses puasa penuh setelah sebelumnya puasa setengah hari. Memang sempat ada insiden dia ngambek dan hampir minum/makan karena kehausan/kelaparan tapi dengan rayuan umminya dia urung membatalkan puasanya. Istri saya menjanjikannya hadiah langsung tunai #macam BLT aja ya# untuk Fida setiap hari bila dia puasa setengah hari atau penuh, besarannya beda. Tapi menurut saya pancingan ini kurang efektif, karena akhirnya dia seperti bisa memilih puasa setengah haripun tetap untung buat dia. He he he … ranking 1 dilawan. Dan ternyata itu terbukti. Hari ini Fida puasa setengah hari lagi, alasannya dia tidak kuat menahan sakit karena perutnya yang kelaparan. Ya gitu deh … karena kami tidak ada bersama dia jadi mbaknya, asisten rumah tangga, tidak bisa merayunya untuk tetap berpuasa.

Mesti ada cara jitu untuk anak belajar puasa. Saya ingat waktu saya seumuran Fida dulu, Mama saya juga menggunakan cara yang mirip seperti yang dipakai istri saya. Jadilah di hari Lebaran saya mendapat hadiah lumayan besar dari Mama. Sempat suatu hari saya demam tapi berkeras tetap puasa karena merasa sayang bila hadiahnya dipotong. Akhirnya Mama saya pun bilang kalo sakit tetap dihitung puasa, gak apa-apa deh, sehingga saya pun berbuka untuk minum obat.

Nah, tiap keluarga tentu punya cara masing-masing. Misalkan keluarga ustadz yang pernah saya temui ketika berceramah di masjid kantor. Sang ustadz tidak mesti menjanjikan hadiah karena ketika dia bilang puasa itu untuk mendapatkan pahala dari Allah, anak sang ustadz langsung mau belajar puasa. Sepertinya motivasi anak untuk belajar puasa tergantung pola pembinaan anak dalam keluarga. Bagaimana dengan Anda, apakah pendekatan yang dipilih untuk mengajarkan anak berpuasa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s