H29 Ramadhan | Catatan Akhir Bulan Seribu Bulan


M3.2-I4.2-T11-2.S2-D4-2.Z4.2-A4-T

Allahu akbar allahu akbar! …

Adzan Maghrib berkumandang di seantero negeri dan berakhirlah Ramadhanku. Kurasa bukan akhir terindah, bukan pula Ramadhan terbaik … tapi selalu ada hikmah di setiap fase waktu. Begitu juga dengan Ramadhan tahun ini.

Diawali dengan persiapan yang kurang matang meski pemanasan telah dilakukan. Amal jama’i pun terkesan agak mendadak disiapkan, mungkin karena kesibukan. Bahkan target-target pribadi dan jama’i tak sempat dirinci hingga terlewat beberapa hari. Kini saatnya untuk menyesali, bukan (hanya) untuk ditangisi tapi untuk mawas diri agar tidak terulangi.

Ramadhan tahun ini untuk saya permulaannya cukup terjaga, target-target rutin terpenuhi meski tetap (saja) ada yang terlewatkan. Sholat berjama’ah, tarawih, juga tilawah masih dalam kategori wajar. Meski di akhir permulaan beberapa tantangan muncul dan mulai membuyarkan konsentrasi.

Pertengahan Ramadhan ada kegiatan ekstra yang tidak bisa dihindari memangkas kewajiban puasa beberapa hari. Meski dibolehkan berbuka saat shafar, tetap saja ada rasa “sayang” yang mengganjal di hati. Apa boleh buat mesti dijalani meski saya “setengah yakin” akan ada target lain yang terlewatkan. Selain target sholat berjama’ah di masjid yang jeblok, tilawah saya keteter hingga sepuluh juz lebih. Astaghfirullah … pengorbanan yang terlalu besar untuk sebuah perjalanan jauh.

Ada cerita, ada hikmah, ada nikmat yang bisa dibagi … tapi ada juga aib yang tak pantas dibagi bahkan ketika ingin memberi peringatan untuk orang lain. Sudah sepantasnya saya bersyukur dengan hal yang di atas dan bertobat untuk hal yang di bawahnya.

Sepuluh hari terakhir … atau lebih tepatnya sembilan hari terakhir Ramadhan ini boleh jadi adalah yang terbaik sepanjang hidup saya. Mengapa? Karena hampir-hampir saya mengisi seluruh malam ganjilnya untuk beri’tikaf bersama keluarga. Alhamdulillah … Kalo di tahun-tahun sebelumnya saya puas dengan (hanya) beri’tikaf sendiri saja, maka ketika bisa melakukannya dengan orang-orang tercinta saya rasa ini adalah hal yang lebih indah. Semoga di tahun-tahun ke depan saya kembali bisa mendapatkan kesempatan dan kenikmatan yang sama.

Hampir tengah malam saat saya menyelesaikan tulisan ini. Takbir dan tahmid masih bergema di langit kota, sesekali diselingi riuh rendah suara petasan dan kembang api. Tahun ini satu hal lagi yang mesti disyukuri oleh saya dan umat Islam pada umumnya. Sebagian besar kaum muslimin di Indonesia akan merayakan Idul Fitri secara bersama-sama meski startnya berbeda.

Allahu akbar allahu akbar walillahilhamd!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s