Nyaman Naik KRL dari Depok ke Bekasi (Bag. 2)


M3-I4-2.S2-Z4-A4-

image
Naik KRL, murah dan nyaman

Setelah saya berkomentar tentang perubahan kondisi KRL Jabodetabek akhir-akhir ini di sini, kali ini saya akan posting tentang cara melakukan perjalanan dengan KRL. Ya memang bukan hal baru buat Anda yang sudah sering menggunakan jasa KRL, tapi saya masih sering menemui penumpang yang belum paham cara naik KRL. Selamat mengikuti!

Membeli tiket KRL
Sebelum naik KRL Anda mesti membeli tiket terlebih dahulu. Tiket KRL sekarang tidak lagi berbahan dasar karton melainkan sudah berbentuk kartu magnetik model kartu ATM atau lebih tepatnya flashcard. Istilah yang dipake e-ticket persis seperti kartu bayar jalan tol. Nah ketika di loket Anda tinggal menyebutkan stasiun tujuan dan petugas loket akan menyebutkan harga yang mesti Anda bayar. Sesudah membayar, tiket akan keluar dari mesin tiket. Ambil tiket dan kembalian jika ada, maka Anda siap masuk ke peron.

Masuk peron stasiun
Bawa tiket yang Anda dapatkan di loket menuju pintu masuk peron. Anda akan disambut oleh petugas berbaju satpam yang siap membantu bila Anda butuh bantuan. Letakkan kartu pada bagian atas panel pintu dan tunggu lampu indikator berwarna hijau menyala maka Anda bisa melalui palang putar untuk masuk ke dalam peron. Tidak perlu terburu-buru karena sensor butuh waktu untuk membaca kartu dan lampu hijau tidak akan mati sebelum palang pintu diputar oleh penumpang yang masuk.

Perhatikan lajur tujuan
Pastikan Anda menuju lajur KRL yang sesuai dengan tujuan Anda. Stasiun Jabodetabek umumnya menempatkan KRL jurusan Bogor di lajur sisi Barat, arah Jakarta Kota di sisi Timur, sedangkan untuk KRL arah Bekasi di lajur Barat. Petugas stasiun secara berkala akan menyampaikan informasi kedatangan KRL, tujuan dan lajur yang dilalui. Di beberapa stasiun lajur yang digunakan tidak cuma dua sehingga Anda perlu memerhatikan di lajur mana KRL yang akan Anda naiki berhenti.

Tunggu di tempat duduk yang tersedia
Anda dapat menunggu di peron dengan duduk di tempat yang disediakan. Lebih banyak stasiun yang hanya menyediakan plat rel baja sebagai tempat duduk, sebagian kecil menyediakan tempat duduk yang lebih nyaman. Anda boleh memilih duduk atau berdiri, yang dekat pintu masuk ataupun yang jauh. Perlu diingat bahwa KRL akan berhenti di posisi yang telah ditentukan, gerbong pertama dan terakhir disediakan khusus untuk penumpang wanita. Jangan sekali-sekali menunggu di pinggir rel yang sudah diberi tanda garis merah/kuning/oranye karena itu adalah batas aman penumpang dari KRL yang berlalu. Ingatlah untuk menjaga anak-anak Anda terutama yang balita untuk tidak berjalan atau bermain di pinggir rel karena sangat berisiko.

Naik ke atas KRL tujuan
Saat KRL yang akan Anda naiki sampe di stasiun jangan buru-buru berdiri di depan pintu karena sangat mungkin ada penumpang yang akan keluar lewat pintu itu. Ingat, dulukan penumpang yang turun sehingga proses naik-turun penumpang lancar dan aman. Pintu KRL dirancang otomatis menutup dan dengan sensornya pintu tidak akan menutup bila ada benda yang menghalanginya. Anda cukup menahan pintunya agar tidak menutup saat pintu menutup sedang Anda masih ada di luar atau tepat di lubang pintu. Berhati-hatilah terutama saat Anda membawa barang atau bersama anak-anak. Pastikan anak-anak dan barang bawaan Anda tidak tertinggal di stasiun saat menaiki KRL.

Duduk atau berdiri dalam KRL
Carilah tempat duduk yang kosong, untuk ibu hamil, jompo dan ibu dengan anak-anak disediakan tempat duduk khusus di salah satu sudut gerbong. Di negara-negara maju, kursi khusus akan tetap kosong meski penumpang berjubel kecuali dipake oleh yang berhak. Di KRL kita, hal ini memang masih mustahil. Maybe next couple years … semoga ada perubahan. Bila tidak ada tempat duduk silakan berdiri di sisi-sisi tempat duduk yang disediakan pegangan di atas kepala Anda. Bila Anda laki-laki jantan, menawarkan kursi untuk wanita, anak-anak dan jompo adalah bentuk ke-gentle-an. Lagi-lagi di negara maju, bila Anda tidak hati-hati menawarkan kursi atau antrean pada wanita atau jompo Anda akan diomelin karena dianggap menghina. Untuk yang ini tidak perlu diikuti lah … mendahulukan yang lemah kan nilai ketimuran.

Perhatikan stasiun tujuan
Saat Anda berada di dalam KRL, perhatikan stasiun tujuan Anda. Petugas KRL periodik menyebutkan stasiun perhentian berikutnya, bila Anda ragu-ragu silakan lihat peta jalur KRL yang ada di atas pintu. Bagaimana jika Anda melewatkan stasiun tujuan? Jangan panik, Anda bisa turun di stasiun berikutnya lalu kembali ke stasiun tujuan dengan KRL yang berlawanan tujuan tanpa mesti keluar peron, Anda cukup menunggu saja di lajur KRL yang berlawanan.

Turun dari KRL
Bila stasiun tujuan Anda sudah dekat bersiaplah untuk turun dari KRL. Periksalah barang bawaan Anda dan anak-anak. Sound system di KRL akan menyebutkan stasiun berikutnya sebanyak dua kali, masing-masing saat KRL mendekati stasiun tersebut dan saat KRL akan berhenti. Bersiaplah di depan pintu KRL tapi jangan buru-buru menuju ke pintu bila KRL belum berhenti. Saat pintu terbuka turunlah dari KRL dengan kaki kanan, berhati-hatilah saat melangkah. Pastikan peron di stasiun tujuan Anda, beberapa stasiun tidak menyediakan peron karena terdiri dari banyak lajur. Sesampainya di peron berhati-hatilah bila harus menyeberang rel untuk menuju pintu keluar karena boleh jadi ada KRL yang hendak melintas. Perhatikan selalu informasi petugas baik yang melalui pengeras suara maupun yang menggunakan peluit di peron.

Keluar peron stasiun
Saatnya Anda keluar dari stasiun. Di pintu keluar masukkan tiket Anda ke dalam lubang di panel dan tunggu lampu indikator hijau menyala. Bila Anda membeli tiket untuk stasiun yang sesuai atau stasiun lebih jauh maka kartu akan ditelan oleh panel tapi bila Anda membeli tiket untuk stasiun yang lebih dekat maka tiket akan ditolak. Petugas yang berjaga di situ akan membantu Anda. Perhatikan bahwa membeli tiket untuk stasiun yang lebih dekat dari stasiun tujuan adalah bentuk kecurangan, ada aturan untuk setiap tindak melawan hukum.

Tiket terusan
KRL Jabodetabek selain menggunakan tiket sekali jalan atau single trip ticket juga menawarkan tiket terusan atau abonemen. Khusus untuk tiket abonemen bisa digunakan beberapa kali sesuai saldo yang ada. Jangan lupa khusus untuk tiket abonemen selain tidak bisa ditukar kembali juga tidak dimasukkan dalam panel saat Anda keluar, cukup ditempelkan seperti saat Anda masuk peron.

Demikian cara nyaman naik KRL. Selamat mencoba untuk Anda yang belum terbiasa, semoga pelayanan KRL ke depan semakin baik lagi.

4 thoughts on “Nyaman Naik KRL dari Depok ke Bekasi (Bag. 2)

  1. Maaf, masalah tempat duduk saya mau ralat.
    tawarkan tempat duduk adalah untuk:
    wanita HAMIL, bukan WANITA CENTIL
    yang gendong bayi, BUKAN GENDONG BLACKBERRY
    dan wanita (dan laki-laki) MANULA, BUKAN WANITA MANJA.
    dan untuk orang cacat dan sakit parah. Anda bahkan tega tidak menyebut orang cacat dan sakit parah, apa wanita centil segitu pentubgnya diksasih duduk, tidak mereka jangan dibiasakan manja.

    Itu prinsip saya, jadi saya tidak setuju tentang kejantanan, tidak ada hubungannya dengan pemberian tempat duduk untuk wanita yang kuat berdiri, APALAGI SEJAK ADA GERBONG KHUSUS WANITA YANG SERING MUBAZIR KARENA WANITA TIDAK MAU BERDIRI DI GERBONG KHUSUS WANITA.

    jadi sekali lagi pemberian tempat duduk (sesuai peraturan) adalah wanita HAMIL, gendong bayi, balita, lansia, dan ORANG CACAT (yang belum anda sebutkan), bukan cewek2 muda yg kuat berdiri 6 jam untuk nonton konser. Lagipula sudah ada kursi prioritas, sebaiknya memang itu jangan ditempati selama amsih ada bangku lain yang kosong. Mohon ralat saya diterima. Tetima kasih.

    1. Komen Pak Rudi saya terima, cuma tidak serta merta jadi ralat ya. Sepenglihatan saya tidak tertulis Wanita Centil atau Manja di tulisan saya jadi tetap Wanita Hamil dan yang bawa Balita.

      Khusus untuk Orang Cacat memang tidak tertulis eksplisit di gerbong seperti halnya yang sering kita jumpai di tempat parkir. Semoga ke depan KRL menambahkan itu pada papan peringatannya.

      Terima kasih atas komentarnya, Pak Rudi.

  2. semoga komen saya lolos moderasi hehehe, padahal artikel yg lain bagus, tp tentang tempat duduk untuk wanita (dan tidak disebutkan orang cacat/sakit parah) saya jadi tidak setuju. Mungkin saya tergerak komen karena beberapa pengalaman pribadi., pernah ayah saya direbut tempat duduknya oleh wanita ABG, saat tinggal 1 bangku kosong. demikian pula ibu saya tidak diberi duduk saat yg duduk wanita semua (saat itu ada 1 geng remaja putri yg duduk), sampe ibu saya minta utk boleh duduk nyempil di antara 2 cewek ABG yg paling kurus. Demikian pula kakak ipar saya waktu hamil 2 kali “diusir” dari gerbong khusus wanita, krn tidak ada wanita mau beri dia duduk. Itu lah dampak kalau setiap wanita merasa memiliki hak yang sama dengan penumpang prioritas. Karena itu saya setuju bahwa yang perlu diutamakan duduk oleh seorang laki-laki jantan (atau wanita muda dan sehat) HANYALAH ibu hamil, lansia, orang cacat/sakit parah, serta yang membawa bayi (bukan membawa blackberry🙂 ) dan balita. Secara etika boleh lah kalau mau memberi duduk utk yg lebih tua (kecuali anak kecil).

    1. Komentar pedas Pak Rudi ternyata berasal dari pengalaman pribadi, tentu saya turut prihatin.

      Memang perlu waktu pembelajaran bagi masyarakat kita kembali pada adat ketimuran selain dari berlatih untuk disiplin terhadap peraturan.

      Kita sama2 berusaha dan berdo’a ya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s