Mengurus Akte Kelahiran (AKAP)


Jum’at pekan kemarin saya mengurus Akte Kelahiran Khalid, anak ketiga kami. Sebenarnya istri sudah berulang kali mengingatkan saya untuk hal ini, tapi kesibukan memaksa saya baru mengurusnya setelah usia Khalid sebulan lewat. Satu pekan sesudah Khalid dan umminya pulang dari RS, saya sudah mulai mencari info terkait urus-mengurus Akte Kelahiran. Dari diskusi di grup WA plus googling lengkap sudah informasi yang saya butuhkan, tapi akhirnya yang saya alami kemarin adalah hal paling valid yang mesti saya share untuk Anda semua.

Berkas Persyaratan
Sebelum saya mengurus surat pengantar ke RT, RW dan Kelurahan terlebih dulu saya meminta daftar berkas yang menjadi persyaratan mengurus Akte Kelahiran. Beruntung saya cukup dekat dengan Ketua RT tempat tinggal saya, cukup SMS beliau langsung mengirimkan daftar berkas persyaratannya.

Berkas persyaratan Akte Kelahiran adalah:
1. Kartu keluarga (KK), cukup fotokopinya saja, 1 lembar
2. KTP suami-istri, juga fotokopinya, masing-masing 1 lembar
3. Surat nikah, fotokopinya, masing-masing 1 lembar
4. Keterangan lahir dari bidan/RS, aslinya bukan fotokopi
5. Surat pengantar Kelurahan, asli.

Nah, sesudah menyiapkan berkas persyaratan di atas saya langsung menuju rumah beliau. Pak RT lalu membuatkan pengantar RT/RW untuk mengurus Surat pengantar Kelurahan. Tidak ada pungutan, dulu waktu saya di Jaktim di RT pasti disodori kotak amal.

Sesudah mendapatkan tanda tangan dan stempel RT, saya menuju ke rumah Ketua RW. Lagi-lagi kebetulan saya cukup akrab dengan beliau sehingga waktu saya datang beliau menyambut saya dengan baik. Tanpa banyak basa-basi, beliau memberi ucapan selamat atas kelahiran Khalid, memberi tanda tangan dan stempel RW pada pengantar yang saya bawa.

Done! Tiga langkah awal pertama sudah saya rampungkan. Tinggal menuju ke Kelurahan lalu ke Kadis Dukcapil.

Birokrasi Korup
Saya membawa berkas persyaratan nomor 1-4 dan pengantar RT/RW ke kantor Kelurahan. Di sana saya diterima dan dilayani dengan baik. Antre beberapa menit lalu mulailah proses pengurusan Surat pengantar Kelurahan. Petugas mengetik langsung surat itu dengan template yang sudah baku di komputer, lalu mencetaknya. Beliau menyusunnya dengan rapi lalu menyerahkannya ke meja lain.

Saya memang belum hafal pegawai-pegawai Kelurahan, maklum saya ke sini cuma ketika mengurus surat pindah, KK, dan KTP. Dari meja kedua, petugas yang mungkin adalah Kasie./Kasubbag Administrasi meminta tanda tangan Kabag Administrasi Kependudukan lalu menstempelnya.

Saya lalu menanyakan pada beliau tentang ke mana saya mesti membawa berkas-berkas ini. Beliau lalu menjelaskan bahwa saya bisa mengurusnya langsung ke Kadis Dukcapil di Kantor Walikota Depok. Saat saya menegaskan bahwa anak kami lahir di RS daerah Jagakarsa, maka beliaupun lalu meralat pernyataan awal. Saya mesti mengurusnya ke Kadis Dukcapil Jakarta Selatan. Akte kelahiran dibuat oleh dinas Dukcapil tempat bayi dilahirkan.

Ok, berarti saya mesti mengurus akte kelahiran ke Kadis Dukcapil Jakarta Selatan. Hasil googling menyebutkan alamatnya di Jalan Radio V No. 1, Kebayoran Baru. Wuih … jauh juga ya dari Depok, tapi begitulah birokrasi. Sebelum pergi petugas meminta saya membayar Rp 10 ribu untuk surat pengantar itu. Saya pun membayarnya tanpa mendapat bukti pembayaran. Huh … ternyata masih ada saja oknum birokrat yang korup model beliau ya. Kasihan …

Pengalihan Kewenangan
Satu jam perjalanan dari Depok ke Kebayoran Baru, saya sempat puter-puter mencari alamat itu. Akhirnya ketemu juga setelah bertanya ke sana-sini. Hmmm … cukup sepi, mungkin karena hari Jum’at. Setelah mendapati loket bertuliskan Pengurusan Akte Kelahiran saya langsung menyerahkan berkas ke petugas yang ada di situ. Beberapa saat beliau memeriksa berkas saya, lalu beliau berkata bahwa saya harus membawa berkas itu ke Kecamatan Jagakarsa.

Entah sejak kapan, petugas itu tidak menjelaskan, pengurusan akte kelahiran kecuali yang bermasalah dilakukan di kecamatan tempat bayi dilahirkan. Feeling saya sih, kebijakan ini muncul saat Jokowi-Ahok mulai memimpin Jakarta. Jadi ada pengalihan kewenangan pengurusan administrasi akte kelahiran dari kadis ke sie. Dukcapil Kecamatan.

Satu sisi saya merasa ini adalah kebijakan yang bagus karena membagi kewenangan sehingga tidak terpusat di level walikota. Tapi … saya sudah berjuang untuk sampai di situ, harus balik lagi ke kecamatan yang mestinya bisa ditempuh dalam 20 menit dari Depok. Hadoh … ya sudahlah, tidak ada waktu untuk mengeluh. Saatnya mengejar waktu sebelum jam istirahat siang tiba.

Hampir satu jam kemudian saya sampai di Kecamatan Jagakarsa. Bertanya di resepsionis, ditunjukkan ruangan sie. Dukcapil di ujung gedung. Antre sebentar, akhirnya saya sampai di meja Kasie. Dukcapil. Berkas saya serahkan, lalu beliau mulai sibuk menuliskan data di formulir-formulir. Sesekali beliau bertanya pada saya lalu menuliskannya di formulir. Selesai!

Saya ditanya tentang saksi maka saya balas bertanya apa tugas saksi. Beliau menjawab, menandatangani berkas-berkas sehingga mesti dihadirkan di tempat. Ya sudah, saya menyerahkan pada pihak Kecamatan, dengan biaya saksi Rp 50 ribu. Saya juga diminta membayar biaya administrasi Rp 10 ribu. Lagi-lagi, semua tanpa tanda terima pembayaran. Hadoh …

Beliau berkata akte kelahiran bisa diambil 1,5 bulan ke depan dengan membawa slip bukti penerimaan berkas. Selebihnya bila ada hal-hal lain saya akan dihubungi. Saya pun bergegas meninggalkan ruangan sie. Dukcapil tanpa lupa menyampaikan terima kasih.

Alur Pengurusan
Begitulah pengalaman saya mengurus Akte Kelahiran Khalid. Secara singkat alurnya adalah sebagai berikut:
Siapkan berkas (KK, KTP, surat nikah, keterangan lahir) –> Minta pengantar RT –> Persetujuan RW –> Urus Surat Pengantar Kelurahan –> sie. Dukcapil Kecamatan.

Sebagai catatan ini untuk kasus kelahiran di Jakarta dengan KTP/KK Depok. Bila tempat lahir dan domisili Depok, setelah dari Kelurahan langsung ke Dinas Dukcapil Depok. Semoga informasi ini bermanfaat untuk Anda semua, khususnya yang akan mengurus Akte Kelahiran buah hati.

Update: akte Faisal sudah jadi … alhamdulillah

image

2 thoughts on “Mengurus Akte Kelahiran (AKAP)

  1. Hi Bapak, sementara ulasan Bapak paling lengkap yang saya temukan di Internet karena juga menceritakan bagian pengurusan di RT, RW, dan Kelurahan.

    Saya akan coba lusa ini. Thanks!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s