Perjalanan ke Setu


Sabtu kemarin saya, istri dan Mufida menengok keponakan kami yang baru sembuh dari sakit. Memang kami belum pernah silaturrahim ke rumah adik kami (ayah ibu Adnan) jadi sekalian main biar tau di mana rumahnya. Kami berangkat jam 14-an dari Depok naik motor karena infonya lokasi jauh dari kereta atau bis kota. Beruntung hari cerah berawan jadi kami tidak kehujanan juga tidak kepanasan.

Saya belum tau alamat rumah adik kami ini tapi istri saya sudah di-SMS ancer-ancernya: setelah RS Mary Cileungsi belok kanan sampai setu. Kami ambil jalan Margonda, Juanda lalu akses ke Cibubur Junction meski agak padat merayap tapi cukup lancar. Sesampainya di Trans Yogi saya mulai bisa memacu motor agak cepat hingga flyover Cileungsi. Di sini kami ambil arah Bekasi dan kondisi jalanan yang kami lalui rusak parah. Sampai di RS. Mary saya putuskan berhenti untuk menelpon adik kami dan diberi petunjuk yang sama dengan isi SMS-nya. Kami pun melanjutkan perjalanan.

Setelah mengambil jalan ke kanan dari jalan utama Cileungsi-Bekasi hampir sepanjang jalan kondisinya memprihatinkan. Selain tidak rata, berlubang-lubang besar, sebagian bahkan tergenang air. Perjalanan jadi sangat terhambat, apalagi ternyata lalu lintas di situ cukup padat. Beberapa kali kami menemui kemacetan entah apa penyebabnya. Dan ternyata Setu yang kami cari perasaan saya jauuuuuh sekali. Mungkin karena baru sekali saya lewat jalan itu, terlebih karena kondisinya tidak bisa disebut nyaman untuk pengendara.

Akhirnya kami sampai di Pasar Setu, dan beberapa menit kemudian (hampir 1/2 jam) baru kami sampai di alamat rumah yang adik SMS belakangan. Alhamdulillah… ternyata lokasi rumahnya cukup jauh dan berliku. Hampir jam 17 waktu kami sampai, sekali lagi beruntung selama perjalanan tidak kehujanan meski pengakuan adik di sekitar rumahnya hujan waktu kami telpon tadi. Syukur keponakan kami sudah sehat. Adnan sempat dirawat 2 malam di RS karena diare dan demam tinggi. Di sana kami diceritai tentang kondisi rumah adik yang kebanjiran saat Jakarta dan sekitarnya terkena banjir beberapa waktu lalu. Mereka bahkan sampai harus mengungsi ke rumah orangtua di Bogor.

Hampir Maghrib kami berpamitan. Sepanjang perjalanan pulang istri tidak habis-habis berucap syukur karena mendapatkan rumah di Depok meski kondisinya pas-pasan. Ya semua memang mesti disyukuri dan disabari (kata saya dalam hati).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s