Mudik-Balik-Mudik


“Mudik Lebaran…”
Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar istilah itu? Kemacetan sepanjang belasan kilometer… Ribuan pemudik bermotor memenuhi jalanan Pantura… Atau Jakarta yang sepi karena ditinggal mudik penghuninya? Ya, seribu satu gambaran terlintas di benak kita tentang istilah yang satu itu. Tapi mau tidak mau, senang tidak senang, mudik lebaran sudah menjadi bagian dari kehidupan orang Indonesia sejak beratus tahun yang lalu. Dan bukan tidak mungkin, mudik lebaran akan tetap bertahan hingga akhir dunia.

Saya termasuk bagian orang Indonesia yang melakoni “ritual” mudik lebaran. Meski tidak tiap tahun, saya dan keluarga seperti sudah sepakat bahwa kami setidaknya 2 tahun sekali harus ya… harus pulang kampung. Kenapa harus? Karena kami masih punya orang tua yang tinggal di sana. That’s all… tidak ada alasan yang lebih penting dan mendasar buat kami mudik lebaran kecuali bersilaturrahim dengan orang tua. Tidak peduli apakah kami dalam kondisi lapang atau sempit, selalu ada jalan keluarnya.

Biaya Transportasi yang Makin Mahal
Disadari betul oleh kami, para pemudik lebaran, bahwa biaya transportasi menuju kampung semakin tahun semakin mahal. Tuslag tiket transportasi baik darat, laut, maupun udara mencapai 150-300% harga normal. Tak pelak lagi, kami mesti merogoh kantong lebih dalam untuk itu, dan bila kantong kami pas-pasan maka kami mesti menabung.

Memang kondisi ini sebenarnya adalah peluang untuk pebisnis bidang transportasi, karena saat-saat lebaran menjadi waktu di mana pemasukan menjadi berlipat-lipat. Tapi sayangnya, pemerintah belum bisa menanganinya secara kompak dengan swasta sehingga permintaan akan transportasi mudik lebaran yang lebih terjangkau belum bisa didapat masyarakat. Karena itulah sebagian orang, termasuk kami, memilih untuk mengatur volume mudik lebaran menjadi 2 tahun sekali.

Mudik Lebaran adalah Kemacetan di Seluruh Titik
Sudah menjadi kemakluman semua pihak, masa mudik lebaran adalah masa ketika kemacetan panjang berpindah atau tepatnya menyebar dari Jabodetabek ke seluruh penjuru Indonesia khususnya Jawa. Akibatnya tidak hanya antrean panjang berpuluh-puluh jam di sepanjang jalur tetapi juga kerusakan ratusan kilometer jalanan yang dilalui jutaan kendaraan bermotor yang hendak mudik.

Masalah kemacetan akibat mudik ini muncul setiap tahun, sayang sekali pemerintah pusat dan pemerintah daerah termasuk badan dan dinas terkait belum punya formula yang tepat untuk mengatasinya. Mobilisasi jutaan orang dan kendaraan dari Jabodetabek ke daerah pada kurub waktu tertentu telah menyebabkan penumpukan volume pengguna jalan di hampir seluruh titik yang dilalui. Kereta dan pesawat terbang dan kereta sebagai alternatif angkutan massa paling efektif seharusnya menjadi pilihan utama pemerintah.

Berhari-hari di Perjalanan
Waktu saya masih kuliah di Bogor, setiap kali menjelang lebaran saya tidak punya pilihan selain naik bis antarkota (bis malam). Anda tentu paham bagaimana kondisi angkutan yang satu ini saat menjelang lebaran: bis terbatas, penumpang berjubel, harga tiket mahal, dan waktu perjalanan yang tidak menentu.

Pernah suatu kali karena saya gagal mendapatkan tiket bis di terminal Lebak Bulus, saya memutuskan untuk mencari tiket di terminal Kampung Rambutan. Setelah menunggu berjam-jam, kira-kira jam 9 malam saya dapat tiket bis yang dicari. Ternyata saya dapat bis tua dan tanpa AC, pun tempat duduknya di samping sopir tanpa sandaran. Dan syukurnya saya selamat sampai di rumah jam 9 malam hari berikutnya, artinya saya menempuh perjalanan Jakarta-Magelang selama 24 jam.

Mungkin waktu itu saya merasa inilah perjalanan pulang kampung terburuk sepanjang hidup. Oo… saya salah. Setelahnya bahkan belasan tahun sesudahnya saya harus merasakan pengalaman yang tidak kalah pahit, 27 jam dalam perjalanan mudik. Lebih miris lagi saya bersama istri dan ketiga anak kami sedangkan Faqih sedang sakit. Alhamdulillah, selama perjalanan kami baik-baik saja termasuk Faqih.

Mudik-Balik-Mudik dalam Sepekan
Pernahkah Anda bolak-balik Jakarta – kampung halaman 2 kali dalam sepekan? Kecuali Anda businessman, pilot, masinis atau sopir angkutan maka saya maklum, selain itu rasanya berlebihan bolak balik gitu. Tapi ternyata saya malah sudah 2 kali mengalaminya, terakhir tahun ini. Sekali mudik mengantar istri dan anak-anak, balik karena mesti kerja lagi, trus mudik kedua yang benar-benar mudik. Mudik yang pertama 27 jam, baliknya 10 jam. Nah, gimana dengan mudik kedua? We’ll see… sekarang mo istirahat dulu di Pring Sewu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s