Cita-cita, Harapan dan Angan-angan


Sewaktu kecil setiap orang pasti punya cita-cita. Waktu SD dulu cita-cita saya adalah dokter. Saya tidak tahu dari mana munculnya cita-cita itu karena tidak ada satupun di lingkungan keluarga besar saya yang menjadi dokter. Mungkin cita-cita itu muncul dari harapan orangtua saya, mereka mungkin punya keinginan salah satu anaknya bisa menjadi dokter. Dokter adalah profesi yang terhormat di lingkungan masyarakat pada umumnya sehingga tidak heran bila banyak orangtua yang berharap anaknya menjadi dokter kelak ketika dewasa.

Semasa SMP ketika ada formulir dari guru BP, saya mengisi cita-cita saya: Ulama dan Pengusaha. Ini jelas berbeda dengan cita-cita saya waktu SD. Tapi dari mana datangnya cita-cita itu? Saya yakin ini bukan dari orangtua saya karena bahkan ketika SMP saya ditawari untuk melanjutkan sekolah di pesantren tapi saya menolak. Saya merasa tidak akan betah dengan kehidupan pesantren apalagi selama  ini saya tidak pernah tinggal jauh dari orangtua. Di SMP saya mulai bergaul dengan teman-teman secara intens dan mereka adalah anak-anak yang orangtua mereka paham terhadap agama. Teman-teman saya ini mendapatkan pembinaan agama dari orangtuanya dan diberi fasilitas untuk belajar agama lebih banyak dari keluarga lain. Karena itulah mungkin muncul di benak saya cita-cita untuk menjadi ulama itu karena sering berinteraksi dengan orangtua teman-teman. Pengusaha? Nah yang itu belum jelas. Mungkin karena ayah dan ibu saya berwirausaha.

Sebagian dari kita punya cita-cita yang statis, sejak SD sampai kuliah cita-cita sama sehingga akhirnya betul-betul terwujud. Tapi sebagian yang lain tidak, seperti saya yang cita-cita SD hingga kuliah tidak sama. Kalo ditanya sekarang cita-cita saya apa, maka saya akan bilang: tukang sampah dan marbot masjid. Padahal saya kuliah di kampus sains, fakultas teknik, jurusan dan peminatannya pun engineering. Kenapa bisa begitu? Entahlah saya pikir karena ketika muda kita idealis, tapi semakin dewasa kita makin realistis. Idealis menuntut orang menunju pada hal yang detil, pasti dan khusus. Sedangkan realistis menempatkan cita-cita pada tempatnya dan harapan pada tempatnya, sesuai situasi dan kondisi yang ada sehingga boleh jadi lebih umum dan tidak pasti.

Waktu kecil bercita-cita menjadi dokter tentu menyenangkan karena bisa mengobati orang sakit. Orangtua juga berharap anaknya menjalani profesi yang menjamin kemakmuran anaknya. Keduanya berujung pada kebahagiaan. Menjadi ulama adalah cita-cita yang muncul dari contoh di keluarga lain di mana anak-anaknya menjadi anak yang tidak hanya cerdas tapi juga berakhlak baik. Sedangkan pengusaha lagi-lagi contoh dari orangtua di mana kesejahteraan menjadi terjamin. Keduanya berujung pada kebahagiaan. Bagaimana dengan tukang sampah dan marbot masjid? Menurut Anda sekarang saya sedang bercita-cita, berharap, atau berangan-angan?

Wallahu a’lam…

One thought on “Cita-cita, Harapan dan Angan-angan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s