And Fia Is Her Name


Saya tergagap dibangunkan istri jam 2.30-an pagi ini. Di hari kedua sahur, saya berharap bangun jam 3-an karena biasa sahur di akhir waktu. Ternyata istri bilang kalo dari jam 2-an sudah mules terus dan sudah keluar flag (saya tidak tau istilah yang benar, yang saya tulis lebih dekat dengan istilah komputer). MasyaaAllaah … berarti sudah waktunya istri saya melahirkan. Saya bergegas ke kamar mandi untuk bersiap-siap ke Poned. Sesudahnya saya membangunkan adik dan biyung lalu mengeluarkan motor dari halaman rumah. Istri sudah menyiapkan tas berisi perlengkapan yang mesti dibawa, kami membawa sedikit bekal lalu berangkat ke Puskesmas.

Istri saya berjalan kaki dari rumah ke Poned sementara saya naik motor di sebelahnya. Beberapa kali orang berlalu di dekat kami, pandangan mereka sedikit aneh, entah apa yang mereka pikirkan karena saya fokua pada kondisi istri. Tidak sampe 15 menit kami tiba di gerbang Poned, satpam membuka pintu pagar dan kami masuk ke dalam. Petugas yang piket sudah bangun untuk makan sahur, mempersilakan istri saya masuk ke ruang periksa sementara saya mengisi formulir di meja administrasi.

Baru bukaan satu…, begitulah kira-kira yang disampaikan petugas setelah memeriksa dalam kandungan istri saya. Istri keluar dari ruang periksa, kami pun duduk menunggu di kursi tunggu. Beberapa saat berlalu petugas memanggil kami ke meja administrasi. Mereka menyampaikan kondisi dan rencana aksinya. Istri dipersilakan menunggu di ruang perawatan Poned, saya pamit mencari makan sahur dan sholat Shubuh karena waktu sudah menunjukkan jam 4.15.

Setelah menyantap sahur di menit-menit akhir Imsak, saya pun menuju masjid untuk sholat Shubuh. Saya berdo’a semoga istri dan anak kami diberikan keselamatan dan kesehatan oleh Allah. Saya pun beranjak kembali ke Poned, menunggui istri saya. Kami berinisiatif menghitung frekuensi dan durasi kontraksi istri dengan aplikasi yang saya unduh di Playstore. Jam 6 istri saya diperiksa dalam lagi, baru bukaan dua. Jam 8 istri saya diperiksa lagi, baru mendekati bukaan 3. Istilah “bukaan”, bagi yang awam, silakan googling ya.

Sesuai prosedur yang disampaikan di awal oleh petugas, lewat jam 8 petugas piket berkonsultasi dengan penanggung jawab Poned melalui telpon (karena hari ini hari libur) untuk menyampaikan kondisi dan mengambil tindakan. Saya pun diminta mencari RS yang diinginkan sebagai rujukan mengingat risiko kelahiran istri. Saya bergegas menuju RS. GPI untuk mencari informasi, dan Alhamdulillah diterima setelah proses pengecekan yang lumayan panjang. Hampir jam 11, istri saya diantar dengan ambulance puskesmas ke UGD RS. GPI tanpa biaya. Kami menggunakan BPJS Kesehatan, fasilitas dari kantor saya.

Di UGD, istri saya langsung menjalani pemeriksaan rekam jantung bayi dan dirinya sendiri. Saya tidak tau hasilnya, bidan yang memeriksa bilang hasilnya akan disampaikan oleh dokter kandungan. Perawat kemudian memasang infus, sementara bidan berkonsultasi dengan dokter melalui telpon. Walhasil, dokter memutuskan istri saya harus menjalani operasi cesar untuk melahirkan bayi kami. Terjadwal jam 13 hari ini. Subhaanallaah

Istri lalu dipindahkan ke ruang tindakan kebidanan sementara saya mengurus administrasi pendaftarannya. Sesudahnya saya bergantian dengan biyung menunggui istri di ruang tindakan karena anak-anak saya ikut semua ke RS kecuali Fida yang sedang ada kegiatan di sekolah. Mereka ingin menunggui Mama mereka melahirkan adik kecil yang sudah lama mereka tunggu-tunggu. Tim dokter datang agak terlambat, hampir jam 14 baru lengkap sehingga jam 14.30 istri baru masuk ke ruang operasi. Selama menunggu istri digantikan baju, diberi penjelasan tetang bius lokal dan diganti infusnya. Dag dig dug

Lewat satu jam sejak istri masuk ke ruang operasi, mas Faqih sudah tidak sabar. Berkali-kali dia menanyakan, kapan mamanya keluar dan kapan dede bayinya lahir. Entah kenapa selain excited, dia juga sangat emosional. Agak beda dengan dik Faisal yang lebih tenang, juga kak Fida. Semoga setelah adiknya lahir, mas Faqih bisa lebih tenang. Tiba-tiba box bayi lewat di depan kami, perawat lalu memanggil keluarga bayi yang dibawanya. Saya lalu menghampirinya, dan perawat langsung mengenalkan bayi itu pada ayahnya. Alhamdulillaah … ini putri saya, bahkan kami belum punya nama untuknya. Setelah adzan dan iqomah, perawat menyilakan saya memotretnya dengan kamera hape … cepret cepret !!


Lebih dari 1 jam kemudian barulah istri keluar dari ruang operasi. Menjelang Maghrib hari ini, Allah mengabulkan do’a saya di Shubuh tadi. Saya bersyukur, bayi dan mamanya diberikan keselamatan dan kesehatan. Terima kasih ya Allaah …

Beberapa hari kemudian kami berdua sepakat memberinya nama Shofia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s