Lelaki Berkalung Gendongan


Membaca judul di atas mungkin mengingatkan Anda dengan sebuah judul film nasional beberapa tahun lalu, di mana digambarkan seorang wanita di lingkungan pesantren yang mempunyai pandangan berbeda dengan lingkungannya secara umum.

Tapi saya tidak akan membahas itu lho. Sekedar analogi saja. Malah saya punya ilustrasi menarik. Berikut…

Gimana, kira-kira pas gak judul di atas? Wkwkwk. Buat seorang yang bertitel ayah, segagah apapun Anda maka jika memang jantan suatu saat pasti akan mengalaminya. Ya, Anda adalah: Lelaki Berkalung Gendongan.

Kira-kira malu gak jika Anda sesekali mesti menggendong bayi dengan kain gendongan? Buat saya tidak sama sekali, bahkan ini membanggakan. Menjadi ayah adalah kebanggaan buat saya, meskipun saya bukan ayah terbaik. Tapi setidaknya untuk anak-anak saya, yang terbaik yang akan saya usahakan. Bagaimana dengan Anda?

Sasirangan Banjarmasin vs Sasirangan Jogja

Bila Anda perhatikan, foto di atas sang model memakai batik motif warna merah. Jangan lihat posturnya yang kurus, fokus pada motif batiknya. Apakah jenis batik yang ia pakai? Biar lebih jelas saya berikan contoh motifnya sebagai pembanding.

Atau yang ini.

Nah, menurut Anda mirip tidak? Ya kalo gak mirip, dimirip-miripin lah… Trus kenapa saya tuliskan judulnya seperti itu? Ceritanya begini. Suatu saat bos saya dinas ke Kalsel, dan pulangnya kami staf seruangan dibelikanlah kain Sasirangan. Beliau bilang kita buat kain ini seragam panitia Rakor tahun depan. Kami tentu senang, tapi… seorang rekan membisiki saya sesuatu. Ssstt… Sasirangan bukannya berbahan sutera, Mas. Eng ing eng… segera saja saya cek di internet, karena sebagai muslim saya tidak boleh memakai sutera. Dari sini saya dapatkan jawaban dan kemudian saya berpikir tapi belum ada jalan keluar.

Akhir tahun itu saya berkesempatan pulang kampung sekeluarga. Malahan kami mengajak bapak-ibu dan mertua jalan-jalan ke pantai Depok, Jogja. Saat pulang kami sempatkan mampir di Malioboro. Dan tentu ke pasar Beringharjo. Nah, di sanalah ide saya muncul tiba-tiba. Di sinikan pusat batik, pasti ada motif Sasirangan. Tanya satu-dua penjual eh bener… saya mendapatkan satu kain dengan motif mirip dengan yang saya cari. Langsung saja saya kontak teman-teman cowok ruangan tentang ini dan spontan hampir mereka semua titip dibelikan dengan warna yang sesuai. Singkat cerita ketika kami jadi panitia rakor yang kebetulan di Jogja, bos-bos kami pakai Sasirangan Banjarmasin sedangkan staf-staf cowok pakai batik Jogja motif Sasirangan. He he he… what a wonderful life 😁

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s