Puasa Ramadhan #14

Ditanya sama bapak-bapak yang sedang ngobrol santai sambil nunggu rapat, “Apakah menghisap asap rokok batal?”

Saya jawab, “Jika merokok menggunakan mulut maka menghisap asapnya dengan mulut, ini membatalkan puasa. Menghisap asap rokok melalui hidung tidak membatalkan puasa, tapi jika niatnya mendapatkan kenikmatan seperti menghisap rokok melalui mulut maka sangat mungkin membatalkan pahala puasa.”

Bagaimana menurut Anda?

Iklan

Yang terpinggirkan…

Pagi ini jalan-jalan ke Monas, tugu kebanggaan warga Jakarta dan para pemimpin negara ini. Setiap ganti presiden dan gubernur, ada saja perubahan wajah Monumen Nasional. Seperti tahun ini, ada gedung baru menjulang di selatannya. Bukan yang ini…

Tapi yang ini…

Keren kan. Siapa dulu dong… #hushh jangan sombong ah.

Tetapi sesaat setelah mengaguminya, ada fenomena yang menusuk di hati. Seorang pria muda suku Baduy datang menawari saya madu hutan, dengan senyum tulus penuh harap saya mau membeli bawaannya itu. Saya sendiri tertegun, yang muncul spontan adalah penolakan. Kemarin baru beli madu, gumam saya. Lalu iapun berlalu meninggalkan saya, sembari terus menawarkan madu ke orang-orang lain di sekitarnya tetap dengan senyuman itu. Setelah semua orang yang ditawari menolak, ia melanjutkan langkahnya dengan kepastian. Langkah tanpa alas kaki yang khas, menjemput rizki Allah.

Memandanginya berjalan menjauh, hati saya berteriak… Kenapa tidak kamu beli madunya? Pelit sekali kamu, bahkan mengeluarkan sedikit rizki untuk sesama manusia saja mikirnya panjang banget. Dasar…

Itulah nasib kaum yang tersudut, yang tidak merasakan kemajuan negeri ini. Mereka yang selalu… terpinggirkan.

Instruktur Senam adalah Penari

Pagi ini saya mengantar anak buat rujukan di Puskesmas. Eh ketemu ibu-ibu pegawai Puskesmas sedang senam pagi. Jadi inget zaman kids saya dulu, senamnya SKJ ’86 😁

Saya melirik (bukan melotot ya) ke instruktur senamnya. Beliau sudah berumur (paruh baya) tapi masih mau ya membimbing ibu-ibu ini senam. Hapus pikiran Anda tentang instruktur aerobik yang seksi-seksi. Saya pikir memang alasannya secara kultural mengikuti perkembangan zaman.

Dulu ketika orang-orang Nusantara ini masih mengikuti tradisi pada setiap sendi kehidupan maka yang banyak dilakukan orang adalah menari. Saya ingat sekali waktu Om saya menikah, tetamu disuguhi tarian Rama-Shinta. Trus kalo saya liburan dan main ke rumah nenek atau pakdhe di kampung. Kami sering diajak nonton Jatilan, tanpa harus ada festival seni di Alun-alun.

Sekarang orang sudah jarang menggunakan tarian-tarian dalam kehidupan, berganti dengan joget dangdut yang gak jelas atau senam yang menyehatkan. Nah, kalo dulu penari mengambil peran penting dalam pendidikan informal di masyarakat. Mereka melatih anak-anak untuk menari sehingga pada saat ada “gawe”, mereka bisa menampilkan tariannya sebagai hiburan.

Penari profesional sebagian beralih ke instruktur senam. Ya tidak? Asumsi saya sih, tapi mereka berdua mesti memiliki kompetensi yang sama: kelincahan gerak badan. Walaupun ibu-ibu dikenal memiliki sifat lemah gemulai, tidak berarti semua ibu-ibu bisa melakukan gerakan senam dengan baik. Tidak jarang mereka senam dengan gerakan yang kaku bahkan wagu … Wkwkwkwk.

Baiklah, sampe di sini saja opini saya terkait instruktur senam dan penari. Semoga ketika senam kita bisa mengikuti gerakan instruktur senam kita 😊

Info Masjid (1)

Jika Anda sedang melintasi Jalan Sawangan Raya dari atau menuju Jalan Nusantara dan saat itu waktu sholat maka Anda bisa berhenti untuk menunaikan sholat di Masjid Nurul Islam. Lokasinya di pinggir Jalan Mangga Raya sekitar 15 meter ke Barat dari persimpangan Jalan Rambutan Raya dan Jalan Mangga Raya. Insya’Allah Anda tidak akan kesulitan  menemukannya bahkan tanpa menggunakan peta sekalipun.

Fasilitas Masjid

Masjid Nurul Islam adalah masjid jami’, artinya di masjid ini diselenggarakan sholat berjama’ah 5 waktu dan di hari Jum’at diselenggarakan sholat Jum’at. Kapasitas/daya tampung masjid ini cukup besar, sekitar 600 jama’ah. Terdiri dari 2 lantai, di waktu sholat fardhu selain Jum’atan yang digunakan hanya lantai utama dengan jama’ah putri/akhwat di belakang jama’ah putra/ikhwan dibatasi dengan hijab tidak permanen.

Tempat wudhu dan toilet baik untuk ikhwan maupun akhwat terletak di sudut Barat Laut masjid. Tempat wudhu tambahan ada di bagian depan Tenggara masjid khusus untuk ikhwan.

Tempat parkir motor terletak di Utara masjid, sedangkan parkir mobil belum tersedia. Bila Anda membawa mobil maka bisa titip parkir di parkir minimarket di dekat masjid atau di pinggir jalan depan masjid.

Masjid ini dilengkapi dengan karpet tebal yang nyaman dan pendingin ruangan berupa kipas angin dan AC. Juga tersedia sarana multimedia berupa televisi LCD di dua sisi dinding Barat masjid. Sound system masjid juga cukup bagus dengan kualitas suara yang jernih.

Marilah kita ramaikan masjid dengan sholat fardhu 5 waktu secara berjama’ah.

Tentang Chemistry (Bagian 2)

Pemotor yang Termarjinalkan

Sebelum saya lanjut dengan teori saya terkait chemistry (proses kimiawi), saya ingin mengkritisi sedikit sistem yang umum di pusat-pusat perbelanjaan modern (sebut saja mall). Baru-baru ini saya diajak makan bos kecil ke mall di bilangan Cilandak. Saya pernah ke sini sekali, dulu banget… seingat saya waktu saya baru menikah. Kami ke sini sepulang dari kontrol ke RS. Fatmawati, waktu itu kami ke mana-mana naik angkot atau bis kota.

Nah… setelah sekian lama, akhirnya saya balik ke sini lagi. Kali ini saya naik motor dari tempat kerja. Karena belum pengalaman, saya bertanya ke satpam di depan mall di manakah parkir untuk motor. Dengan ramah pak satpam menunjukkan kalo parkir motor sejalan dengan akses parkir mobil: masuk ke kiri lalu turun. Saya ikuti petunjuknya, agak bingung karena baru sekali ke parkir mall ini di basement. Ketemu tempat parkir motor eh ada tulisan khusus member. Oleh petugas di situ saya diarahkan ke parkir motor futsal. Wah… di mana itu? Putar-puter sana -sini, tengak-tengok eh sampe pintu keluar. Nyasar…

Akhirnya sampe juga. Tempatnya di ujung area mall hampir keluar, di seberang lapangan futsal indoor. Jaraknya sekitar 150 meter dari gedung utama mall, dan tanpa atap. Saat itu cuaca masih bersahabat meski sudah mendung, tapi bisa dibayangkan jika turun hujan lebat. Kasihan deh pemotor… Sebagai pengguna motor saya merasa agak didiskriminasi. Meski begitu, satu keuntungannya untuk saya adalah dekatnya parkir motor dengan musholla. Ya sudahlah… mohon maaf jika kurang berkenan.

Uniknya Chemistry Manusia

Pernahkah Anda mendengar nasihat seseorang yang membuat Anda menangis tersedu-sedu. Sadarkah Anda, nasihat itu pernah Anda dengar dari orang lain tapi Anda mengabaikannya? He he he… saya sih sering. Kelumrahan hal inilah, menurut saya, yang menyebabkan banyak orang menasihatkan, jangan lihat siapa yang bicara tapi lihatlah apa yang disampaikan. Benar atau tidak kesimpulan saya ini, silakan Anda menilai sendiri.

Jangankan di organisasi yang cukup besar model kampus saya, bahkan di keluarga kecil saya sekalipun pengaruh chemistry adalah  hal yang biasa. Misal, setiap kali saat sholat fardhu tiba reflek saya mengajak anak-anak untuk menunaikan sholat. Seringkali mereka masih asyik dengan aktifitasnya entah nonton tivi, baca buku atau bermain gadget saat saya sudah selesai sholat. Meskipun beberapa kali saya ingatkan mereka untuk sholat, jarang mereka langsung berangkat. Beda saat yang mengingatkan mama mereka, lebih mudah mereka melaksanakannya. Kalo dibilang kurang tegas sepertinya tidak juga, tidak jarang saya menggunakan nada tinggi komando meski kadang saya menggunakan sikap lembut persuasif. Saya lebih suka menyebutnya chemistry. Mengapa demikian?

Sesuatu yang kita pahami nilainya, baik buruknya bahkan manfaatnya, belum tentu mendorong kita untuk menyetujuinya apalagi melaksanakannya. Tetapi ketika sesuatu itu menyentuh perasaan kita, entah nyaman atau tidak nyaman maka itu lebih mendorong kita untuk menyetujui lalu melaksanakannya. Karenanya kita lebih sering tergoda dengan iklan, promosi, dll. yang mungkin secara riil tidak benar-benar kita perlukan. Chemistry itu bisa muncul dari pandangan, pendengaran, sentuhan meskipun tidak jarang juga muncul dari persepsi bahkan prasangka. Kalo dibilang baper ya mungkin tidak sepenuhnya keliru. Mirip-mirip… tapi tidak persis sama.

Chemistry adalah yang membuat Anda memilih beberapa sahabat dari banyak teman Anda. Chemistry adalah yang mendorong Anda melamar calon istri Anda. Chemistry pula yang mendorong staf Anda bersemangat, sementara saat bos yang lain mereka ogah-ogahan. Memang chemistry bisa dimanipulasi dengan obyek lain tapi yang saya yakini dia lebih kuat ketika muncul dari hati yang tulus dan niat ikhlas.

Sementara sampe di sini dulu ya teori saya tentang chemistry. Bagaimana menurut Anda? Kapan-kapan kita diskusi lagi… terima kasih.  

Generasi Cyber

Ramadhan Karim…

Tahun ini liburan sekolah berhimpit dengan bulan Ramadhan, sehingga anak-anak menjalani hari-hari puasanya di rumah. Meski sepertinya ini lebih nyaman buat mereka tapi ada hal-hal yang merisaukan saya sebagai orangtua.

Waktu Luang Tidak Terstruktur
Anak-anak yang liburan saat puasa Ramadhan bisa puas menghabiskan waktu untuk melakukan aktifitas yang mereka sukai seharian. Saya juga ingat waktu saya seusia mereka dulu, libur Ramadhan adalah hari-hari membaca buku dan menonton tivi. Sejak Subuh sampe hampir Dzuhur membaca komik dan novel petualangan, menjelang Maghrib asyik menonton sinetron religi di tivi.

Dulu anak-anak suka memulai hari puasa mereka dengan berjalan-jalan keliling kampung. Siangnya tidur seharian dan sorenya bersiap berbuka dengan ngabuburit. Nah, yang berbeda adalah sekarang ini masa ketika anak-anak sudah akrab dengan gadget dan internet. Tidak bisa dipungkiri, ini mengubah cara anak-anak menjalani puasa mereka.

Akses anak-anak ke gadget dan internet yang tidak dibatasi membuat waktu luang mereka dihabiskan untuk bermain game dan lain-lain hampir sepanjang hari. Saking asyik dengannya, waktu luang saat liburan menjadi tidak terstruktur. Kadang-kadang ada aktifitas positif tapi lebih banyak lagi aktifitas yang kurang bermanfaat.

Generasi Gadget
Anak-anak sekarang tumbuh ketika gadget telah menjadi kebutuhan primer hampir semua orang. Tentu orang tua mereka sendiri yang punya peran mengenalkan gadget ke anak-anaknya bahkan di usia yang terlalu belia. Begitu besar pengaruh gadget sedemikian hingga balita saja sudah bisa mengakses Youtube sendiri dari hape orangtuanya.

Berkenalan dengan teknologi sebenarnya baik, buat orang dewasa ataupun anak-anak. Tapi hal ini tentu perlu memerhatikan dampaknya bagi masing-masing. Terlebih bagi anak-anak yang bahkan ketika sudah beranjak remaja tetap perlu mendapat bimbingan dan pengawasan orang tua. Tidak semua teknologi berdampak positif bagi kita, tidak terkecuali gadget. Ada efek adiktif yang potensial muncul ketika kita menggunakannya, terlebih jika gadget kita terhubung dengan internet.

Begitu banyak varian hiburan yang bisa didapat dari gadget, mulai dari kemudahan berkomunikasi hingga permainan (games). Saat ini bahkan dengan perkembangan teknologi yang begitu cepat gadget telah mengadopsi fungsi komputer. Tentu ini memberikan banyak manfaat untuk pengguna, karena gadget bisa digunakan sebagai pengolah data. Tapi ini juga berarti efek adiktif gadget canggih menjadi semakin besar.

Generasi Cyber
Internet sudah menjadi kebutuhan primer sebagian besar orang saat ini. Begitu besar pengaruh internet dalam kehidupan manusia modern, sampai-sampai muncul istilah mending mati listrik daripada putus koneksi. He he he… luar biasa. Tapi saya sendiri ternyata juga merasakannya, entah sudah sampai tingkatan adiktif yang mana.

Kalo dulu internet hanya bisa dinikmati dengan komputer yang terhubung dengan modem kabel, sekarang internet begitu mudah diakses dari gadget di tangan kita. Termasuk anak-anak kita, adalah generasi yang begitu mudah mengakses internet. Dan mereka tau bagaimana menggunakannya… duh.

Saya ingat interaksi awal saya dengan internet adalah membuat email pribadi. Browsing dan gaming online … baru saya lakukan beberapa tahun setelah bekerja. Itu juga karena sudah ada akses internet di kantor. Kalo terpaksa barulah saya mencari warnet untuk akses internet. Sekarang, anak saya bisa menghabiskan kuota 1 GB hanya dalam waktu 2 hari saja… wow. Sungguh berbeda sekali perbedaan dua generasi ini.

Generasi anak-anak dan remaja sekarang, tidak perlu melalui fase belajar mengakses internet berdasar aspek kepentingan. Umumnya mereka mengakses internet karena “paksaan” trend… sosmed dan gaming. Siapa remaja sekarang yang tidak punya akun Facebook, Tweeter, Line, Path atau Whatsapp? Sulit dicari… Demikian pula begitu jarang anak-anak yang tidak tau di mana mencari permainan baru yang seru? Mereka seperti otomatis tau untuk mencarinya di Playstore. Dan penyedot kuota yang terfavorit untuk mereka tidak lain ya… Youtube.

Inilah mereka… generasi cyber. Generasi yang lahir dan tumbuh bersama internet di kesehariannya. Sudah muncul istilah baru untuk mereka… generasi nunduk, karena kebiasaannya menundukkan kepala saat menggunakan gadget dan internet. Generasi yang entah apa yang akan terjadi pada mereka jika internet hilang dari muka bumi. Mungkin saat itu terjadi, mereka telah bertemu teknologi supracanggih yang memungkinkan mereka menggunakan internet tanpa gadget. Wallahu a’lam…

Jenipers… Yuks!

Hampir setahun terakhir saya minum jeruk nipis peras (jeniper) setiap pagi sebelum makan apapun, kecut tapi katanya sehat. Istri yang punya maag pernah ikutan tapi berhenti karena tidak tahan kecutnya. Suatu ketika istri ketemu adik kelasnya yang praktik minum jeniper dan lambungnya sehat, barulah istri mau minum jeniper lagi.

Minum jeniper untuk liver sehat… Itulah kalimat teman yang menginspirasi saya. Untuk Anda yang susah mendapatkan jeruk nipis, lemon bisa menjadi penggantinya. So, jika kita tidak mendapatkan jeniper di pagi hari maka kita bisa mencari lemper 😉

Etika Bermotor di Jalan Kampung

image
Jalan Kampung

Suatu saat kita mungkin harus bermotor melalui jalan kecil di daerah perkampungan (baca: jalan kampung). Jalan kampung tentu berbeda dengan jalan raya atau jalan protokol, selain karena ukurannya yang lebih kecil/sempit juga karena jalan ini berada di tengah permukiman. Oleh karenanya gaya bermotor di jalan kampung tidak seharusnya sama dengan gaya bermotor di jalan raya.

Sebagai pemotor (baca: biker) yang baik semestinya kita tetap memerhatikan lingkungan sekitar saat bermotor. Alasan yang paling mendasar adalah karena jalanan dibuat bukan hanya untuk biker tapi untuk semua orang. Kadang kita jumpai bikers yang tidak memedulikan pengguna jalan lain khususnya pejalan kaki. Mereka memacu motornya dengan kecepatan tinggi meskipun di jalan kampung. Selain ngebut sebagian juga tetap menyalakan lampu dan menutup kaca helm seperti saat mereka bermotor di jalan raya. Hal-hal ini tentu tidak sesuai dengan etika bermotor di jalan kampung.

Kenapa harus mengikuti etika? Tidak ada keharusan bagi siapapun khususnya biker untuk mengikuti etika, kecuali aturan hukum terkait berkendara di jalan umum. Tapi etikalah yang membentuk karakter dan sikap kita ketika berada di tempat di mana orang-orang juga berada di tempat yang sama. Inilah konsekuensi hidup bermasyarakat.

Berikut ini etika bermotor di jalan kampung versi saya:
– mengurangi kecepatan khususnya menjelang persimpangan jalan dan polisi tidur;
– mengenakan helm dan membuka kaca helm;
– mematikan lampu motor utama dan tetap menggunakan lampu sign saat akan belok atau menepi;
– tidak membunyikan klakson kecuali terpaksa;
– mengikuti rambu-rambu khusus yang ada di jalan kampung misal perintah untuk menuntun motor di gang.
Bila ada yang merasa etika di atas terlalu mengada-ada maka sebaiknya membaca alasan di bawah ini.

Adapun alasan dari hal-hal di atas adalah:
– bermotor di jalan kampung dengan kecepatan tinggi membahayakan diri sendiri dan orang lain khususnya anak-anak dan pejalan kaki;
– helm dipakai untuk melindungi kepala dari benturan dengan benda keras seperti aspal tetapi saat di jalan kampung secara etis wajah mesti terlihat agar mudah dikenali;
– menyalakan lampu wajib bagi biker di jalan raya tapi ketika di jalan kampung tidak dan mematikan lampu menghindari silaunya pejalan kaki;
– klakson memang bisa menjadi sarana komunikasi tetapi klakson saat jalan perlahan tentu menimbulkan ketidak-nyamanan;
– melanggar rambu-rambu khusus tentu bisa menimbulkan konsekuensi buruk mengingat banyak pepatah, seperti: Ngebut Benjut, Anda Sopan Kami Segan, dll.

Kiranya itu saja tulisan saya terkait etika bermotor di jalan kampung, khawatir kebanyakan malah membuat Anda pegal bacanya. Bila tulisan ini benar maka boleh Anda amalkan tetapi jika salah maka amalkan yang benar-benar saja. Salam biker… blar blar!!