Info Masjid (1)

Jika Anda sedang melintasi Jalan Sawangan Raya dari atau menuju Jalan Nusantara dan saat itu waktu sholat maka Anda bisa berhenti untuk menunaikan sholat di Masjid Nurul Islam. Lokasinya di pinggir Jalan Mangga Raya sekitar 15 meter ke Barat dari persimpangan Jalan Rambutan Raya dan Jalan Mangga Raya. Insya’Allah Anda tidak akan kesulitan  menemukannya bahkan tanpa menggunakan peta sekalipun.

Fasilitas Masjid

Masjid Nurul Islam adalah masjid jami’, artinya di masjid ini diselenggarakan sholat berjama’ah 5 waktu dan di hari Jum’at diselenggarakan sholat Jum’at. Kapasitas/daya tampung masjid ini cukup besar, sekitar 600 jama’ah. Terdiri dari 2 lantai, di waktu sholat fardhu selain Jum’atan yang digunakan hanya lantai utama dengan jama’ah putri/akhwat di belakang jama’ah putra/ikhwan dibatasi dengan hijab tidak permanen.

Tempat wudhu dan toilet baik untuk ikhwan maupun akhwat terletak di sudut Barat Laut masjid. Tempat wudhu tambahan ada di bagian depan Tenggara masjid khusus untuk ikhwan.

Tempat parkir motor terletak di Utara masjid, sedangkan parkir mobil belum tersedia. Bila Anda membawa mobil maka bisa titip parkir di parkir minimarket di dekat masjid atau di pinggir jalan depan masjid.

Masjid ini dilengkapi dengan karpet tebal yang nyaman dan pendingin ruangan berupa kipas angin dan AC. Juga tersedia sarana multimedia berupa televisi LCD di dua sisi dinding Barat masjid. Sound system masjid juga cukup bagus dengan kualitas suara yang jernih.

Marilah kita ramaikan masjid dengan sholat fardhu 5 waktu secara berjama’ah.

Iklan

Tentang Chemistry (Bagian 2)

Pemotor yang Termarjinalkan

Sebelum saya lanjut dengan teori saya terkait chemistry (proses kimiawi), saya ingin mengkritisi sedikit sistem yang umum di pusat-pusat perbelanjaan modern (sebut saja mall). Baru-baru ini saya diajak makan bos kecil ke mall di bilangan Cilandak. Saya pernah ke sini sekali, dulu banget… seingat saya waktu saya baru menikah. Kami ke sini sepulang dari kontrol ke RS. Fatmawati, waktu itu kami ke mana-mana naik angkot atau bis kota.

Nah… setelah sekian lama, akhirnya saya balik ke sini lagi. Kali ini saya naik motor dari tempat kerja. Karena belum pengalaman, saya bertanya ke satpam di depan mall di manakah parkir untuk motor. Dengan ramah pak satpam menunjukkan kalo parkir motor sejalan dengan akses parkir mobil: masuk ke kiri lalu turun. Saya ikuti petunjuknya, agak bingung karena baru sekali ke parkir mall ini di basement. Ketemu tempat parkir motor eh ada tulisan khusus member. Oleh petugas di situ saya diarahkan ke parkir motor futsal. Wah… di mana itu? Putar-puter sana -sini, tengak-tengok eh sampe pintu keluar. Nyasar…

Akhirnya sampe juga. Tempatnya di ujung area mall hampir keluar, di seberang lapangan futsal indoor. Jaraknya sekitar 150 meter dari gedung utama mall, dan tanpa atap. Saat itu cuaca masih bersahabat meski sudah mendung, tapi bisa dibayangkan jika turun hujan lebat. Kasihan deh pemotor… Sebagai pengguna motor saya merasa agak didiskriminasi. Meski begitu, satu keuntungannya untuk saya adalah dekatnya parkir motor dengan musholla. Ya sudahlah… mohon maaf jika kurang berkenan.

Uniknya Chemistry Manusia

Pernahkah Anda mendengar nasihat seseorang yang membuat Anda menangis tersedu-sedu. Sadarkah Anda, nasihat itu pernah Anda dengar dari orang lain tapi Anda mengabaikannya? He he he… saya sih sering. Kelumrahan hal inilah, menurut saya, yang menyebabkan banyak orang menasihatkan, jangan lihat siapa yang bicara tapi lihatlah apa yang disampaikan. Benar atau tidak kesimpulan saya ini, silakan Anda menilai sendiri.

Jangankan di organisasi yang cukup besar model kampus saya, bahkan di keluarga kecil saya sekalipun pengaruh chemistry adalah  hal yang biasa. Misal, setiap kali saat sholat fardhu tiba reflek saya mengajak anak-anak untuk menunaikan sholat. Seringkali mereka masih asyik dengan aktifitasnya entah nonton tivi, baca buku atau bermain gadget saat saya sudah selesai sholat. Meskipun beberapa kali saya ingatkan mereka untuk sholat, jarang mereka langsung berangkat. Beda saat yang mengingatkan mama mereka, lebih mudah mereka melaksanakannya. Kalo dibilang kurang tegas sepertinya tidak juga, tidak jarang saya menggunakan nada tinggi komando meski kadang saya menggunakan sikap lembut persuasif. Saya lebih suka menyebutnya chemistry. Mengapa demikian?

Sesuatu yang kita pahami nilainya, baik buruknya bahkan manfaatnya, belum tentu mendorong kita untuk menyetujuinya apalagi melaksanakannya. Tetapi ketika sesuatu itu menyentuh perasaan kita, entah nyaman atau tidak nyaman maka itu lebih mendorong kita untuk menyetujui lalu melaksanakannya. Karenanya kita lebih sering tergoda dengan iklan, promosi, dll. yang mungkin secara riil tidak benar-benar kita perlukan. Chemistry itu bisa muncul dari pandangan, pendengaran, sentuhan meskipun tidak jarang juga muncul dari persepsi bahkan prasangka. Kalo dibilang baper ya mungkin tidak sepenuhnya keliru. Mirip-mirip… tapi tidak persis sama.

Chemistry adalah yang membuat Anda memilih beberapa sahabat dari banyak teman Anda. Chemistry adalah yang mendorong Anda melamar calon istri Anda. Chemistry pula yang mendorong staf Anda bersemangat, sementara saat bos yang lain mereka ogah-ogahan. Memang chemistry bisa dimanipulasi dengan obyek lain tapi yang saya yakini dia lebih kuat ketika muncul dari hati yang tulus dan niat ikhlas.

Sementara sampe di sini dulu ya teori saya tentang chemistry. Bagaimana menurut Anda? Kapan-kapan kita diskusi lagi… terima kasih.  

Generasi Cyber

Ramadhan Karim…

Tahun ini liburan sekolah berhimpit dengan bulan Ramadhan, sehingga anak-anak menjalani hari-hari puasanya di rumah. Meski sepertinya ini lebih nyaman buat mereka tapi ada hal-hal yang merisaukan saya sebagai orangtua.

Waktu Luang Tidak Terstruktur
Anak-anak yang liburan saat puasa Ramadhan bisa puas menghabiskan waktu untuk melakukan aktifitas yang mereka sukai seharian. Saya juga ingat waktu saya seusia mereka dulu, libur Ramadhan adalah hari-hari membaca buku dan menonton tivi. Sejak Subuh sampe hampir Dzuhur membaca komik dan novel petualangan, menjelang Maghrib asyik menonton sinetron religi di tivi.

Dulu anak-anak suka memulai hari puasa mereka dengan berjalan-jalan keliling kampung. Siangnya tidur seharian dan sorenya bersiap berbuka dengan ngabuburit. Nah, yang berbeda adalah sekarang ini masa ketika anak-anak sudah akrab dengan gadget dan internet. Tidak bisa dipungkiri, ini mengubah cara anak-anak menjalani puasa mereka.

Akses anak-anak ke gadget dan internet yang tidak dibatasi membuat waktu luang mereka dihabiskan untuk bermain game dan lain-lain hampir sepanjang hari. Saking asyik dengannya, waktu luang saat liburan menjadi tidak terstruktur. Kadang-kadang ada aktifitas positif tapi lebih banyak lagi aktifitas yang kurang bermanfaat.

Generasi Gadget
Anak-anak sekarang tumbuh ketika gadget telah menjadi kebutuhan primer hampir semua orang. Tentu orang tua mereka sendiri yang punya peran mengenalkan gadget ke anak-anaknya bahkan di usia yang terlalu belia. Begitu besar pengaruh gadget sedemikian hingga balita saja sudah bisa mengakses Youtube sendiri dari hape orangtuanya.

Berkenalan dengan teknologi sebenarnya baik, buat orang dewasa ataupun anak-anak. Tapi hal ini tentu perlu memerhatikan dampaknya bagi masing-masing. Terlebih bagi anak-anak yang bahkan ketika sudah beranjak remaja tetap perlu mendapat bimbingan dan pengawasan orang tua. Tidak semua teknologi berdampak positif bagi kita, tidak terkecuali gadget. Ada efek adiktif yang potensial muncul ketika kita menggunakannya, terlebih jika gadget kita terhubung dengan internet.

Begitu banyak varian hiburan yang bisa didapat dari gadget, mulai dari kemudahan berkomunikasi hingga permainan (games). Saat ini bahkan dengan perkembangan teknologi yang begitu cepat gadget telah mengadopsi fungsi komputer. Tentu ini memberikan banyak manfaat untuk pengguna, karena gadget bisa digunakan sebagai pengolah data. Tapi ini juga berarti efek adiktif gadget canggih menjadi semakin besar.

Generasi Cyber
Internet sudah menjadi kebutuhan primer sebagian besar orang saat ini. Begitu besar pengaruh internet dalam kehidupan manusia modern, sampai-sampai muncul istilah mending mati listrik daripada putus koneksi. He he he… luar biasa. Tapi saya sendiri ternyata juga merasakannya, entah sudah sampai tingkatan adiktif yang mana.

Kalo dulu internet hanya bisa dinikmati dengan komputer yang terhubung dengan modem kabel, sekarang internet begitu mudah diakses dari gadget di tangan kita. Termasuk anak-anak kita, adalah generasi yang begitu mudah mengakses internet. Dan mereka tau bagaimana menggunakannya… duh.

Saya ingat interaksi awal saya dengan internet adalah membuat email pribadi. Browsing dan gaming online … baru saya lakukan beberapa tahun setelah bekerja. Itu juga karena sudah ada akses internet di kantor. Kalo terpaksa barulah saya mencari warnet untuk akses internet. Sekarang, anak saya bisa menghabiskan kuota 1 GB hanya dalam waktu 2 hari saja… wow. Sungguh berbeda sekali perbedaan dua generasi ini.

Generasi anak-anak dan remaja sekarang, tidak perlu melalui fase belajar mengakses internet berdasar aspek kepentingan. Umumnya mereka mengakses internet karena “paksaan” trend… sosmed dan gaming. Siapa remaja sekarang yang tidak punya akun Facebook, Tweeter, Line, Path atau Whatsapp? Sulit dicari… Demikian pula begitu jarang anak-anak yang tidak tau di mana mencari permainan baru yang seru? Mereka seperti otomatis tau untuk mencarinya di Playstore. Dan penyedot kuota yang terfavorit untuk mereka tidak lain ya… Youtube.

Inilah mereka… generasi cyber. Generasi yang lahir dan tumbuh bersama internet di kesehariannya. Sudah muncul istilah baru untuk mereka… generasi nunduk, karena kebiasaannya menundukkan kepala saat menggunakan gadget dan internet. Generasi yang entah apa yang akan terjadi pada mereka jika internet hilang dari muka bumi. Mungkin saat itu terjadi, mereka telah bertemu teknologi supracanggih yang memungkinkan mereka menggunakan internet tanpa gadget. Wallahu a’lam…

Jenipers… Yuks!

Hampir setahun terakhir saya minum jeruk nipis peras (jeniper) setiap pagi sebelum makan apapun, kecut tapi katanya sehat. Istri yang punya maag pernah ikutan tapi berhenti karena tidak tahan kecutnya. Suatu ketika istri ketemu adik kelasnya yang praktik minum jeniper dan lambungnya sehat, barulah istri mau minum jeniper lagi.

Minum jeniper untuk liver sehat… Itulah kalimat teman yang menginspirasi saya. Untuk Anda yang susah mendapatkan jeruk nipis, lemon bisa menjadi penggantinya. So, jika kita tidak mendapatkan jeniper di pagi hari maka kita bisa mencari lemper 😉

Etika Bermotor di Jalan Kampung

image
Jalan Kampung

Suatu saat kita mungkin harus bermotor melalui jalan kecil di daerah perkampungan (baca: jalan kampung). Jalan kampung tentu berbeda dengan jalan raya atau jalan protokol, selain karena ukurannya yang lebih kecil/sempit juga karena jalan ini berada di tengah permukiman. Oleh karenanya gaya bermotor di jalan kampung tidak seharusnya sama dengan gaya bermotor di jalan raya.

Sebagai pemotor (baca: biker) yang baik semestinya kita tetap memerhatikan lingkungan sekitar saat bermotor. Alasan yang paling mendasar adalah karena jalanan dibuat bukan hanya untuk biker tapi untuk semua orang. Kadang kita jumpai bikers yang tidak memedulikan pengguna jalan lain khususnya pejalan kaki. Mereka memacu motornya dengan kecepatan tinggi meskipun di jalan kampung. Selain ngebut sebagian juga tetap menyalakan lampu dan menutup kaca helm seperti saat mereka bermotor di jalan raya. Hal-hal ini tentu tidak sesuai dengan etika bermotor di jalan kampung.

Kenapa harus mengikuti etika? Tidak ada keharusan bagi siapapun khususnya biker untuk mengikuti etika, kecuali aturan hukum terkait berkendara di jalan umum. Tapi etikalah yang membentuk karakter dan sikap kita ketika berada di tempat di mana orang-orang juga berada di tempat yang sama. Inilah konsekuensi hidup bermasyarakat.

Berikut ini etika bermotor di jalan kampung versi saya:
– mengurangi kecepatan khususnya menjelang persimpangan jalan dan polisi tidur;
– mengenakan helm dan membuka kaca helm;
– mematikan lampu motor utama dan tetap menggunakan lampu sign saat akan belok atau menepi;
– tidak membunyikan klakson kecuali terpaksa;
– mengikuti rambu-rambu khusus yang ada di jalan kampung misal perintah untuk menuntun motor di gang.
Bila ada yang merasa etika di atas terlalu mengada-ada maka sebaiknya membaca alasan di bawah ini.

Adapun alasan dari hal-hal di atas adalah:
– bermotor di jalan kampung dengan kecepatan tinggi membahayakan diri sendiri dan orang lain khususnya anak-anak dan pejalan kaki;
– helm dipakai untuk melindungi kepala dari benturan dengan benda keras seperti aspal tetapi saat di jalan kampung secara etis wajah mesti terlihat agar mudah dikenali;
– menyalakan lampu wajib bagi biker di jalan raya tapi ketika di jalan kampung tidak dan mematikan lampu menghindari silaunya pejalan kaki;
– klakson memang bisa menjadi sarana komunikasi tetapi klakson saat jalan perlahan tentu menimbulkan ketidak-nyamanan;
– melanggar rambu-rambu khusus tentu bisa menimbulkan konsekuensi buruk mengingat banyak pepatah, seperti: Ngebut Benjut, Anda Sopan Kami Segan, dll.

Kiranya itu saja tulisan saya terkait etika bermotor di jalan kampung, khawatir kebanyakan malah membuat Anda pegal bacanya. Bila tulisan ini benar maka boleh Anda amalkan tetapi jika salah maka amalkan yang benar-benar saja. Salam biker… blar blar!!

BPJS oh BPJS… (bag. 1)

image
Antrean nomor di RS swasta di Depok saat Subuh

Dua bulan terakhir saya dan istri menjalani sesi pengobatan untuk keluhan nyeri di perut kanan istri. Sebenarnya keluhan sudah dirasakan istri sejak terpapar DBD kira-kira 4 tahun yang lalu tetapi karena datang-pergi sehingga istri enggan memeriksakannya ke dokter. Keluhan menjadi-jadi baru dirasakan istri hampir 2 bulan lalu, barulah istri mau diajak periksa ke dokter karena khawatir kondisinya memburuk.

Diagnosa Awal
Kami periksakan keluhan istri ke Puskesmas, fasilitas kesehatan (faskes Tk. I) asuransi kesehatan kami. Di sana dokter menanyakan riwayat kondisi tersebut lalu memberikan diagnosa setelah memeriksa fisik istri sekilas. Fatty liver, diagnosa awal yang diberikan dokter, sehingga istri dirujuk ke faskes Tk. II.

Kami memilih RS swasta yang dekat dengan tempat tinggal kami dan menerima BPJS untuk layanan spesialis penyakit dalam. Sebenarnya kami sudah lebih dulu menyurvei RS yang menerima BPJS karena sejauh pengetahuan kami tidak semua RS sudah menerima pasien BPJS untuk semua layanannya.

Pemeriksaan Lanjutan
Istri ditangani dokter spesialias yang cukup senior, beliau juga praktik di RSUD sehingga jadwal praktiknya cukup padat. Di RS pilihan kami, beliau mulai praktik jam 10.30 hingga 14.00 karena sepertinya beliau praktik pagi di RSUD.

Istri diperiksa fisik sekilas, dokter memberikan resep obat nyeri juga rujukan laboratorium untuk periksa darah dan USG abdomen. Beliau menyarankan kami untuk menjalani tes lab di RSUD dengan alasan biaya yang cukup mahal, dengan BPJS biaya tes lab di RSUD jauh lebih murah.

Saya sore harinya langsung mendaftarkan istri untuk tes lab (USG abdomen) di RSUD, tapi ternyata mesti antre lebih dari sepekan. Meskipun tanpa BPJS, dan membayar biayanya sendiri, tetap saja antre secepatnya 3 hari. Dengan pertimbangan kondisi istri yang memburuk kami batal tes lab di RSUD. Akhirnya kami lakukan tes lab di RS swasta tempat kami periksa awal, dengan biaya yang memang lumayan mahal.

Bersambung…

Seandainya…

Pagi itu bis-bis AKAP padat merayap memasuki Jatisari, Karawang. Kemacetan panjang pun tak terhindarkan, memaksa sopir bis-bis itu tetap melaju meski sebentar lagi adzan Shubuh berkumandang. Hampir setengah jam kemudian barulah kemacetan itu mulai terurai, bis-bis malam yang mengantre itu akhirnya mulai mengarah ke Tol Karawang. Sayangnya lebih banyak bis yang terus melaju mengejar waktu untuk bisa segera sampai di Jakarta, melupakan kesempatan bagi penumpang untuk sekedar istirahat sejenak dan sholat Shubuh.

image

Sedikit sekali penumpang bis-bis itu yang kemudian mengambil inisiatif untuk sholat Shubuh di atas kursi duduknya bahkan dengan bertayamum. Padahal tidak sedikit bis yang menyediakan toilet dengan air bersih dan bisa dipakai untuk berwudhu. Astaghfirullah… semoga Allah Yang Mahapengampun mengampuni kami semua. Berikanlah kami kesempatan dan petunjuk-Mu, agar kami bisa melaksanakan perintah-Mu sesuai kemampuan kami.

Seandainya saja para penumpang bis-bis AKAP ini merasakan sholat sebagai kebutuhan dan bukan sebagai beban tentulah mereka tetap melaksanakannya dalam kondisi apapun. Terlebih baik lagi memang bila pihak perusahaan minimal sopir bis-bis malam menyadarinya dan berkenan memberikan kesempatan dengan sekedar istirahat di masjid atau musholla barang 10-15 menit. Atau jika memang waktu yang sempit memaksa penumpang bis untuk sholat di kursi masing-masing maka pihak bis menyiapkan seorang yang ditunjuk untuk memimpin para penumpang untuk sholat berjama’ah. Hal seperti ini tentu tidak hanya untuk jama’ah haji/umroh di atas pesawat terbang bukan?

Mekanisme sebenarnya sangat mudah, langkah-langkahnya mungkin seperti ini:
1. Sepuluh menit sebelum pelaksanaan sholat di bis pihak bis mengumumkan bahwa waktu sholat sudah masuk
2. Pihak bis mempersilakan penumpang untuk memilih berwudhu di toilet bis atau bertayamum dan memberitahukan bahwa sholat berjama’ah dimulai dalam 10 menit ke depan
3. Para penumpang bis bergiliran mengambil wudhu di toilet bis atau langsung bertayamum dengan debu suci di sandaran kursi dan kaca bis
4. Pihak bis mempersilakan salah seorang penumpang laki-laki untuk menjadi imam, bila tidak ada yang berkenan maka sopir/kernet menjadi imam sholat berjama’ah
5. Didahului dengan iqomah, penumpang melaksanakan sholat berjama’ah dipimpin oleh seorang imam di kursi duduk masing-masing
6. Sopir bisa bergantian untuk memberikan kesempatan yang lain melaksanakan sholat

Alhamdulillah… meski dalam kemacetan dan perjalanan semestinya kita bisa tetap melaksanakan sholat fardhu 5 waktu.

Cita-cita, Harapan dan Angan-angan

Sewaktu kecil setiap orang pasti punya cita-cita. Waktu SD dulu cita-cita saya adalah dokter. Saya tidak tahu dari mana munculnya cita-cita itu karena tidak ada satupun di lingkungan keluarga besar saya yang menjadi dokter. Mungkin cita-cita itu muncul dari harapan orangtua saya, mereka mungkin punya keinginan salah satu anaknya bisa menjadi dokter. Dokter adalah profesi yang terhormat di lingkungan masyarakat pada umumnya sehingga tidak heran bila banyak orangtua yang berharap anaknya menjadi dokter kelak ketika dewasa.

Semasa SMP ketika ada formulir dari guru BP, saya mengisi cita-cita saya: Ulama dan Pengusaha. Ini jelas berbeda dengan cita-cita saya waktu SD. Tapi dari mana datangnya cita-cita itu? Saya yakin ini bukan dari orangtua saya karena bahkan ketika SMP saya ditawari untuk melanjutkan sekolah di pesantren tapi saya menolak. Saya merasa tidak akan betah dengan kehidupan pesantren apalagi selama  ini saya tidak pernah tinggal jauh dari orangtua. Di SMP saya mulai bergaul dengan teman-teman secara intens dan mereka adalah anak-anak yang orangtua mereka paham terhadap agama. Teman-teman saya ini mendapatkan pembinaan agama dari orangtuanya dan diberi fasilitas untuk belajar agama lebih banyak dari keluarga lain. Karena itulah mungkin muncul di benak saya cita-cita untuk menjadi ulama itu karena sering berinteraksi dengan orangtua teman-teman. Pengusaha? Nah yang itu belum jelas. Mungkin karena ayah dan ibu saya berwirausaha.

Sebagian dari kita punya cita-cita yang statis, sejak SD sampai kuliah cita-cita sama sehingga akhirnya betul-betul terwujud. Tapi sebagian yang lain tidak, seperti saya yang cita-cita SD hingga kuliah tidak sama. Kalo ditanya sekarang cita-cita saya apa, maka saya akan bilang: tukang sampah dan marbot masjid. Padahal saya kuliah di kampus sains, fakultas teknik, jurusan dan peminatannya pun engineering. Kenapa bisa begitu? Entahlah saya pikir karena ketika muda kita idealis, tapi semakin dewasa kita makin realistis. Idealis menuntut orang menunju pada hal yang detil, pasti dan khusus. Sedangkan realistis menempatkan cita-cita pada tempatnya dan harapan pada tempatnya, sesuai situasi dan kondisi yang ada sehingga boleh jadi lebih umum dan tidak pasti.

Waktu kecil bercita-cita menjadi dokter tentu menyenangkan karena bisa mengobati orang sakit. Orangtua juga berharap anaknya menjalani profesi yang menjamin kemakmuran anaknya. Keduanya berujung pada kebahagiaan. Menjadi ulama adalah cita-cita yang muncul dari contoh di keluarga lain di mana anak-anaknya menjadi anak yang tidak hanya cerdas tapi juga berakhlak baik. Sedangkan pengusaha lagi-lagi contoh dari orangtua di mana kesejahteraan menjadi terjamin. Keduanya berujung pada kebahagiaan. Bagaimana dengan tukang sampah dan marbot masjid? Menurut Anda sekarang saya sedang bercita-cita, berharap, atau berangan-angan?

Wallahu a’lam…

Mudik-Balik-Mudik

“Mudik Lebaran…”
Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar istilah itu? Kemacetan sepanjang belasan kilometer… Ribuan pemudik bermotor memenuhi jalanan Pantura… Atau Jakarta yang sepi karena ditinggal mudik penghuninya? Ya, seribu satu gambaran terlintas di benak kita tentang istilah yang satu itu. Tapi mau tidak mau, senang tidak senang, mudik lebaran sudah menjadi bagian dari kehidupan orang Indonesia sejak beratus tahun yang lalu. Dan bukan tidak mungkin, mudik lebaran akan tetap bertahan hingga akhir dunia.

Saya termasuk bagian orang Indonesia yang melakoni “ritual” mudik lebaran. Meski tidak tiap tahun, saya dan keluarga seperti sudah sepakat bahwa kami setidaknya 2 tahun sekali harus ya… harus pulang kampung. Kenapa harus? Karena kami masih punya orang tua yang tinggal di sana. That’s all… tidak ada alasan yang lebih penting dan mendasar buat kami mudik lebaran kecuali bersilaturrahim dengan orang tua. Tidak peduli apakah kami dalam kondisi lapang atau sempit, selalu ada jalan keluarnya.

Biaya Transportasi yang Makin Mahal
Disadari betul oleh kami, para pemudik lebaran, bahwa biaya transportasi menuju kampung semakin tahun semakin mahal. Tuslag tiket transportasi baik darat, laut, maupun udara mencapai 150-300% harga normal. Tak pelak lagi, kami mesti merogoh kantong lebih dalam untuk itu, dan bila kantong kami pas-pasan maka kami mesti menabung.

Memang kondisi ini sebenarnya adalah peluang untuk pebisnis bidang transportasi, karena saat-saat lebaran menjadi waktu di mana pemasukan menjadi berlipat-lipat. Tapi sayangnya, pemerintah belum bisa menanganinya secara kompak dengan swasta sehingga permintaan akan transportasi mudik lebaran yang lebih terjangkau belum bisa didapat masyarakat. Karena itulah sebagian orang, termasuk kami, memilih untuk mengatur volume mudik lebaran menjadi 2 tahun sekali.

Mudik Lebaran adalah Kemacetan di Seluruh Titik
Sudah menjadi kemakluman semua pihak, masa mudik lebaran adalah masa ketika kemacetan panjang berpindah atau tepatnya menyebar dari Jabodetabek ke seluruh penjuru Indonesia khususnya Jawa. Akibatnya tidak hanya antrean panjang berpuluh-puluh jam di sepanjang jalur tetapi juga kerusakan ratusan kilometer jalanan yang dilalui jutaan kendaraan bermotor yang hendak mudik.

Masalah kemacetan akibat mudik ini muncul setiap tahun, sayang sekali pemerintah pusat dan pemerintah daerah termasuk badan dan dinas terkait belum punya formula yang tepat untuk mengatasinya. Mobilisasi jutaan orang dan kendaraan dari Jabodetabek ke daerah pada kurub waktu tertentu telah menyebabkan penumpukan volume pengguna jalan di hampir seluruh titik yang dilalui. Kereta dan pesawat terbang dan kereta sebagai alternatif angkutan massa paling efektif seharusnya menjadi pilihan utama pemerintah.

Berhari-hari di Perjalanan
Waktu saya masih kuliah di Bogor, setiap kali menjelang lebaran saya tidak punya pilihan selain naik bis antarkota (bis malam). Anda tentu paham bagaimana kondisi angkutan yang satu ini saat menjelang lebaran: bis terbatas, penumpang berjubel, harga tiket mahal, dan waktu perjalanan yang tidak menentu.

Pernah suatu kali karena saya gagal mendapatkan tiket bis di terminal Lebak Bulus, saya memutuskan untuk mencari tiket di terminal Kampung Rambutan. Setelah menunggu berjam-jam, kira-kira jam 9 malam saya dapat tiket bis yang dicari. Ternyata saya dapat bis tua dan tanpa AC, pun tempat duduknya di samping sopir tanpa sandaran. Dan syukurnya saya selamat sampai di rumah jam 9 malam hari berikutnya, artinya saya menempuh perjalanan Jakarta-Magelang selama 24 jam.

Mungkin waktu itu saya merasa inilah perjalanan pulang kampung terburuk sepanjang hidup. Oo… saya salah. Setelahnya bahkan belasan tahun sesudahnya saya harus merasakan pengalaman yang tidak kalah pahit, 27 jam dalam perjalanan mudik. Lebih miris lagi saya bersama istri dan ketiga anak kami sedangkan Faqih sedang sakit. Alhamdulillah, selama perjalanan kami baik-baik saja termasuk Faqih.

Mudik-Balik-Mudik dalam Sepekan
Pernahkah Anda bolak-balik Jakarta – kampung halaman 2 kali dalam sepekan? Kecuali Anda businessman, pilot, masinis atau sopir angkutan maka saya maklum, selain itu rasanya berlebihan bolak balik gitu. Tapi ternyata saya malah sudah 2 kali mengalaminya, terakhir tahun ini. Sekali mudik mengantar istri dan anak-anak, balik karena mesti kerja lagi, trus mudik kedua yang benar-benar mudik. Mudik yang pertama 27 jam, baliknya 10 jam. Nah, gimana dengan mudik kedua? We’ll see… sekarang mo istirahat dulu di Pring Sewu.

Menulis Tema Ramadhan

Tahun ini buat saya beda dengan Ramadhan 3 tahun terakhir karena sekarang saya akan lebih fokus pada diri dan keluarga. Bahkan untuk menulis di sini pun saya seperti tidak sempat he he he… (#alasan.com). Tapi itulah kenyataannya, aktifitas yang lebih banyak saya kerjakan di Ramadhan tahun ini selain kerja adalah membaca dan membantu mengurus urusan rumah tangga.

Tahun ini Faqih belajar puasa
Faqih, putra kedua kami beberapa bulan lalu dikhitan. Saya sudah menuliskannya di sini belum ya? Hi hi hi… lupa ;P Karena itu kami mulai mengajarkan padanya kewajiban sebagai muslim baligh (masih lama kali… #rapopo).

Meski baru 5 tahun tahun ini Faqih belajar berpuasa. Seperti saya waktu kecil dulu, Faqih puasa bedug alias puasa setengah hari. Faqih mulai berlatih bangun lebih pagi untuk sahur, shalat Subuh berjama’ah di masjid, lalu tidak makan dan minum sampai Dzuhur. Jam 12-13 Faqih boleh berbuka, sesudahnya lanjut lagi berpuasa sampai Maghrib. Malamnya Faqih ikut shalat tarawih semampunya. Setengah bulan jalan, sepertinya dia mulai terbiasa meski sesekali merengek menangis minta jajan atau minum. Sabar ya, Nak…

Istri libur selama Ramadhan
Tahun ini kalender akademik agak kacau, karena Ramadhan hampir berbarengan dengan akhir tahun ajaran sehingga liburan sekolah 2-3 pekan di awal Ramadhan. Sisa 1-2 pekan masuk sekolah lanjut liburan Lebaran kurang efektif untuk bimbel istri yang pakai sistem pembayaran bulanan. Akhirnya istri saya memutuskan untuk meliburkan bimbel selama Ramadhan.

Untuk menutupi kekosongan waktu itu istri mencoba usaha sampingan, menjual coklat untuk lebaran. Walhasil mau tidak mau saya ikut turun tangan membantunya karena secara tidak terduga dapat pesanan hampir 200 toples. Sabar…

ODOJ, Tahfizh dan MTQ
Sejak bergabung dengan program membaca Al Quran satu juz sehari (ODOJ) 3 bulan lalu saya yang mestinya sudah 3 kali khatam ternyata baru 1 atau 2 kali khatam. Hadeuh… Karena itulah Ramadhan ini seharusnya saya lebih disiplin dalam tilawah Al Quran, sayangnya saya masih lebih sibuk dengan pekerjaan lain. Semoga di 10 hari terakhir ini saya punya lebih banyak kesempatan untuk mengakrabinya.

Hampir 2 tahun lalu saya belajar tahsin (membaguskan bacaan) di Rumah Tajwid Depok. Alhamdulillah bacaan saya sekarang jauh lebih baik dari sebelum saya belajar. Dan sesuai program saya mulai menghafal Juz 30, mulai dari depan. Saya merasa agak kesulitan, sehingga sudah hampir setahun saya baru bisa menghafal 3 surat saja. Meski begitu saya akan tetap berusaha, terutama di bulan suci ini.

Ramadhan tinggal 6 hari dan hampir saja saya tidak menulis tentang tema Ramadhan…