Puasa Ramadhan #14

Ditanya sama bapak-bapak yang sedang ngobrol santai sambil nunggu rapat, “Apakah menghisap asap rokok batal?”

Saya jawab, “Jika merokok menggunakan mulut maka menghisap asapnya dengan mulut, ini membatalkan puasa. Menghisap asap rokok melalui hidung tidak membatalkan puasa, tapi jika niatnya mendapatkan kenikmatan seperti menghisap rokok melalui mulut maka sangat mungkin membatalkan pahala puasa.”

Bagaimana menurut Anda?

Iklan

Instruktur Senam adalah Penari

Pagi ini saya mengantar anak buat rujukan di Puskesmas. Eh ketemu ibu-ibu pegawai Puskesmas sedang senam pagi. Jadi inget zaman kids saya dulu, senamnya SKJ ’86 😁

Saya melirik (bukan melotot ya) ke instruktur senamnya. Beliau sudah berumur (paruh baya) tapi masih mau ya membimbing ibu-ibu ini senam. Hapus pikiran Anda tentang instruktur aerobik yang seksi-seksi. Saya pikir memang alasannya secara kultural mengikuti perkembangan zaman.

Dulu ketika orang-orang Nusantara ini masih mengikuti tradisi pada setiap sendi kehidupan maka yang banyak dilakukan orang adalah menari. Saya ingat sekali waktu Om saya menikah, tetamu disuguhi tarian Rama-Shinta. Trus kalo saya liburan dan main ke rumah nenek atau pakdhe di kampung. Kami sering diajak nonton Jatilan, tanpa harus ada festival seni di Alun-alun.

Sekarang orang sudah jarang menggunakan tarian-tarian dalam kehidupan, berganti dengan joget dangdut yang gak jelas atau senam yang menyehatkan. Nah, kalo dulu penari mengambil peran penting dalam pendidikan informal di masyarakat. Mereka melatih anak-anak untuk menari sehingga pada saat ada “gawe”, mereka bisa menampilkan tariannya sebagai hiburan.

Penari profesional sebagian beralih ke instruktur senam. Ya tidak? Asumsi saya sih, tapi mereka berdua mesti memiliki kompetensi yang sama: kelincahan gerak badan. Walaupun ibu-ibu dikenal memiliki sifat lemah gemulai, tidak berarti semua ibu-ibu bisa melakukan gerakan senam dengan baik. Tidak jarang mereka senam dengan gerakan yang kaku bahkan wagu … Wkwkwkwk.

Baiklah, sampe di sini saja opini saya terkait instruktur senam dan penari. Semoga ketika senam kita bisa mengikuti gerakan instruktur senam kita 😊

Jenipers… Yuks!

Hampir setahun terakhir saya minum jeruk nipis peras (jeniper) setiap pagi sebelum makan apapun, kecut tapi katanya sehat. Istri yang punya maag pernah ikutan tapi berhenti karena tidak tahan kecutnya. Suatu ketika istri ketemu adik kelasnya yang praktik minum jeniper dan lambungnya sehat, barulah istri mau minum jeniper lagi.

Minum jeniper untuk liver sehat… Itulah kalimat teman yang menginspirasi saya. Untuk Anda yang susah mendapatkan jeruk nipis, lemon bisa menjadi penggantinya. So, jika kita tidak mendapatkan jeniper di pagi hari maka kita bisa mencari lemper 😉

BPJS oh BPJS… (bag. 1)

image
Antrean nomor di RS swasta di Depok saat Subuh

Dua bulan terakhir saya dan istri menjalani sesi pengobatan untuk keluhan nyeri di perut kanan istri. Sebenarnya keluhan sudah dirasakan istri sejak terpapar DBD kira-kira 4 tahun yang lalu tetapi karena datang-pergi sehingga istri enggan memeriksakannya ke dokter. Keluhan menjadi-jadi baru dirasakan istri hampir 2 bulan lalu, barulah istri mau diajak periksa ke dokter karena khawatir kondisinya memburuk.

Diagnosa Awal
Kami periksakan keluhan istri ke Puskesmas, fasilitas kesehatan (faskes Tk. I) asuransi kesehatan kami. Di sana dokter menanyakan riwayat kondisi tersebut lalu memberikan diagnosa setelah memeriksa fisik istri sekilas. Fatty liver, diagnosa awal yang diberikan dokter, sehingga istri dirujuk ke faskes Tk. II.

Kami memilih RS swasta yang dekat dengan tempat tinggal kami dan menerima BPJS untuk layanan spesialis penyakit dalam. Sebenarnya kami sudah lebih dulu menyurvei RS yang menerima BPJS karena sejauh pengetahuan kami tidak semua RS sudah menerima pasien BPJS untuk semua layanannya.

Pemeriksaan Lanjutan
Istri ditangani dokter spesialias yang cukup senior, beliau juga praktik di RSUD sehingga jadwal praktiknya cukup padat. Di RS pilihan kami, beliau mulai praktik jam 10.30 hingga 14.00 karena sepertinya beliau praktik pagi di RSUD.

Istri diperiksa fisik sekilas, dokter memberikan resep obat nyeri juga rujukan laboratorium untuk periksa darah dan USG abdomen. Beliau menyarankan kami untuk menjalani tes lab di RSUD dengan alasan biaya yang cukup mahal, dengan BPJS biaya tes lab di RSUD jauh lebih murah.

Saya sore harinya langsung mendaftarkan istri untuk tes lab (USG abdomen) di RSUD, tapi ternyata mesti antre lebih dari sepekan. Meskipun tanpa BPJS, dan membayar biayanya sendiri, tetap saja antre secepatnya 3 hari. Dengan pertimbangan kondisi istri yang memburuk kami batal tes lab di RSUD. Akhirnya kami lakukan tes lab di RS swasta tempat kami periksa awal, dengan biaya yang memang lumayan mahal.

Bersambung…