ODNR @ Office

M3.2-I4.2-2S2-Z4.2-A4

No rice this day (not nite or morning) …

image

image

… it just Bakso Malang @ Harsono RM 🙂

Iklan

Polisi dan Menu Makan Siang

M3.2-I4.2-2S2-Z4.2-A4

Semalam saya ke rumah teman di bilangan Kalisari, lewat komplek Hankam dari Akses UI. Saya jadi teringat asrama kami dulu, istilah orang Jawa “tangsi”. Yang umum sejak dulu sampai sekarang di komplek-komplek tentara adalah banyak polisi di jalannya. Mungkin sebagian orang akan bertanya kenapa bisa banyak polisi di komplek tentara, apa mungkin itu PM alias polisi militer? Bukan sohib-sohib, yang saya maksudkan adalah polisi tidur. Entah darimana asal-muasal kata ini tapi kalo di-Inggris-kan jadi gak nyambung, mosok “sleeping cop” atau “sleeping police” 😉

Soal yang ini, meski banyak orang yang protes dengan keberadaan polisi tidur itu sebenarnya banyak manfaat yang didapat darinya minimal mencegah pengendara kendaraan bermotor ngebut di jalan komplek yang notabene banyak anak-anak berseliweran. Cuma bentuk polisi tidur konvensional yang  tunggal dan sering terlalu tinggi malah dapat membahayakan pengguna jalan, apalagi bila jalanan gelap karena kurang penerangan atau tidak diberi warna khusus agar mudah dikenali. Tidak sedikit kecelakaan terjadi terutama pada pengendara motor meski mereka tidak sedang ngebut. Untungnya sekarang model polisi tidur sudah mulai diubah menjadi lebih kecil dalam jumlah banyak, sekedar memberi peringatan pengendara untuk mengurangi kecepatannya. Saya malah berpikir pada suatu saat nanti di jalan dengan rambu kecepatan maksimal, setiap kendaraan secara otomatis akan mengurangi kecepatannya hingga batas maksimalnya tanpa bisa diatur manual oleh pengendara.

Ngomong-ngomong tadi siang pada makan apa? Ini menu makan siang saya. Nasi rames dari kantin di kantor, nikmat meski murah. Alhamdulillah …

image
Nasi, rendang, telur dan sayur pepaya muda

Tentang Kadaluarsa …

M3.2-I4-2S2-Z4-2-A4

image
Label kadaluarsa

Suatu ketika Jon menemukan makanan di kantornya masih terbungkus rapi. Biskuit basah oleh-oleh dari teman yang dinas ke luar kota. Buru-buru ia membuka bungkus makanan itu dan langsung melahapnya. Belum lama ia mengunyah makanan itu seorang rekan ruangannya menghampiri makanan lalu menyeletuk,”Wah ini mah sudah kadaluarsa. Lihat aja tulisannya: best before 25 Desember 2012!”

Si Jon santai saja dan terus menikmati makanannya. Sang rekan tampak kebingungan lalu berkomentar,”Jon, kamu saking kelaparan jadi doyan makanan kadaluarsa ya?” Setelah selesai dengan makanan di mulutnya, ia pun tenang menanggapi,”Tgl 25 kan best before toh? Sekarang baru lewat 2 minggu berarti masih good lah, seminggu kemarin makanan ini malah masih better lho.”

Good – Better – Best

Mestinya tulisan tanggal kadaluarsa dicetak “good before”? Atau si Jon yang kudu belajar bahasa Inggris lebih rajin?

Makanan Kesukaan Anak-anak

M3.2-I4.2-S2-Z4.2-A4

Hari ini langit mulai cerah, hujan berganti dengan angin kencang. Sejak kemarin malam angin kencang itu mulai bertiup, bahkan di beberapa daerah angin itu memporak-porandakan atap-atap rumah. Pagi hingga siang ini angin kencang terus bertiup menggoyang-goyangkan dahan, menjatuhkan ranting dan dedaunan. Semoga tidak sampai menerbangkan atap bangunan dan baliho-baliho besar.

image
Langit Jakarta yang cerah berawan

Ganti topik ya. Apa makanan kesukaan anak Anda? Dulu waktu masih SD, saya paling suka makan sayur senerek (kacang merah). Apalagi dipadu dengan tempe goreng yang renyah, luar biasa nikmatnya. Yang saya suka dari sayur senerek adalah nikmat dalam kondisi hangat maupun dingin, keduanya tetap segar. Saya paling suka makan sayur senerek dan tempe goreng di warung makan depan asrama kami, biasanya kalo ibu saya sedang tidak masak.

Ada cerita lucu tentang senerek ini. Sayur senerek yang saya kenal sejak kecil sampai remaja adalah sup kacang merah yang dilengkapi sedikit daging untuk aroma (sandung lamur). Nah pertama kali saya dimasakin istri sayur senerek, saya tidak menemukan sekerat daging pun di dalamnya hingga tanpa pikir panjang saya bertanya pada istri, “Mana dagingnya?”. Tak disangka istri saya menangis, mungkin dia sedih karena saya tidak memuji masakannya tapi malah menanyakan kekurangannya. Masya’Allah … padahal tidak ada maksud apapun dari saya atas pertanyaan itu, sehingga baru saya tau kalo uang belanja yang saya berikan tidak cukup bahkan untuk sekedar membeli sandung lamur. Sekarang setiap kali masak sayur senerek maka istri tidak lupa menambahkannya dengan sandung lamur bahkan potongan daging yang lumayan banyak. Alhamdulillah

Fida, anak pertama kami paling suka makan ayam goreng fried chicken #apa bedanya ayam goreng dengan fried chicken ya? Sedangkan Faqih, adiknya paling suka makan ekor lele. Setiap kali istri saya masak lauk ikan lele, maka ia bisa makan ekor lele lebih dari satu sekali makan. Mereka berdua kompak sangat suka makan buah-buahan, setiap ada buah di rumah mereka seperti berlomba-lomba menghabiskannya. Jadi apa makanan kesukaan anak Anda?

image
Ekor lele, kesukaan Faqih

Kisah Tahu (atau Tempe?) dan Cabe

image
Gorengan dan Cabe

Suatu saat Jon naik kereta api dari kampung menuju ibukota. Belum sarapan sewaktu berangkat tadi membuatnya lapar. Sayang uangnya yang tersisa tinggal gopek. Clingak-clinguk dia mencari penjaja makanan yang biasa mondar-mandir di atas kereta api. Untunglah tidak sampai setengah jam penjual gorengan lewat di lorong gerbong tempat Jon duduk. Dengan uang gopek dia cuma mendapatkan satu buah gorengan saja. Tidak lupa Jon meminta cabe rawit karena dia memang penyuka pedas.

Jon duduk lagi di kursinya, berhimpitan dengan penumpang lain sekursi. Maklumlah, kereta api ekonomi memang sering begitu. Tapi Jon sudah biasa dengan kondisi itu. Sekarang dua tangannya memegang gorengan dan cabe. Bukannya berdo’a trus memakannya, Jon malah bingung. Dia ingat tidak membawa minum, dia khawatir ketika makan nanti akan keloloden atau kepedasan. Jadi pikirannya beradu antara makan gorengan dulu atau cabe dulu.

Hampir 15 menit dia berpikir, gorengan dan cabe masih ada di kedua tangannya. Jon akhirnya memutuskan untuk memakan cabe duluan karena dalam pikirannya dia tidak akan kepedasan karena setelahnya dia akan makan gorengan. Baru saja cabe masuk mulut dan Jon mulai mengunyahnya, tiba-tiba 2 orang anak berlarian di lorong gerbongnya. Anak yang di depan menyenggol tangan kanan Jon hingga gorengannya jatuh ke lantai, anak kedua menginjak gorengannya hingga gepeng dan kotor. Sebegitu cepatnya kejadian itu sehingga Jon tidak bisa berbuat apa-apa. Hampir lupa kalau mulutnya sedang mengunyah cabe rawit sampai ketika seluruh cabe ditelan dan rasa pedas panas mulai menyebar di mulut hingga perutnya.

“Aduh pedaaaas … panas …. Awas  … awas …” Jon berteriak-teriak kepedasan. Tanpa pikir panjang dia berlari. Bukan untuk mengejar 2 bocah nakal yang telah menyebabkannya menderita tapi menuju ke toilet kereta api untuk minum air mentah dan menghilangkan rasa pedas di mulutnya. Sungguh kasihan Jon. Maksud hati mengganjal perut dengan gorengan nikmat, apa daya cabe pedas membakar mulut dan perutnya.

Disarikan dari cerita kaum urban

Makna kata
gopek: Rp 500,-
clingak-clinguk: melihat ke kanan dan ke kiri karena bingung
keloloden: jalan nafas di tenggorokan tersumbat makanan (tersedak)
menyenggol (senggol): menyentuh sebagian kecil bagian tubuh orang/benda lain tanpa sengaja.

Yang Menarik di Magelang (Bag. 1)

Saat pulang kampung adalah saat untuk dua hal: mengenang dan menikmati. Mengenang saat-saat kecil dan remaja di kota kecil yang tenang serta menikmati perubahan yang pasti dialami semua kota termasuk Magelang. Dulu kota ini dikenal sebagai kota HARAPAN. Banner-nya dulu dipasang di Shopping, pertokoan di bilangan Pasar Rejowinangun tepatnya di ujung simpang yang memisahkan dua jalan. Saya masih menemukan slogan ini di bantaran sungai di ujung Pasar Bonpolo. Sekarang Magelang mengenalkan diri sebagai kota Sejuta Bunga. Banner-nya ada di batas kota-kabupaten (Sambung) tertulis di gapura Selamat Datang juga di atas tower PDAM di alun-alun kota.

image
Gapura Selamat Datang Kota Magelang

Selalu terkenang saat di Magelang yaitu saat-saat menghabiskan waktu untuk berkeliling kota dengan sepeda motor. Dari ujung ke ujung, dalam kondisi normal Magelang dapat disambangi dalam waktu tidak lebih dari satu jam, tapi bila masuk ke daerah-daerah menariknya mungkin butuh seharian penuh. Saat ini mungkin butuh waktu lebih lama mengingat kepadatan lalu lintas yang meningkat seiring semakin padatnya penduduk Magelang.

Satu lokasi yang selalu saya kunjungi saat pulang kampung: warung Ronde di bilangan SMA 3. Kemarin saya sempatkan ke sana berdua saja dengan istri tercinta. Hitung-hitung pacaran lagi, secara waktu remaja dulu kami tidak melakukannya he he he. Cita rasa Ronde yang tidak berubah selalu menarik saya untuk kembali mengunjungi tempat ini sekedar melepas kerinduan.

image
Ronde khas Magelang
image
Ngiras bersama istri tercinta

Inilah salah satu kuliner wajib saat Anda sempat mampir di kota Magelang.

Menjajal Produk Tasting Box #1 Sedapur

Sepekan sudah sejak saya menerima telpon dari istri tercinta di saat-saat yang tidak biasa. Sore itu menjelang Asar, istri saya menanyakan kapan saya pulang dari kantor. Saya cuma berkata seperti biasa sekitar jam 5-an, sebelum ditutup istri saya baru bilang kalo paket dari Sedapur sudah sampe dan ia akan menunggu saya sebelum membuka bungkusnya. Ahay … tepat seperti yang dijadwalkan mas Didik Wicaksono (@did1k) melalui e-mail pemberitahuan sebelumnya. Saya jadi begitu curious seperti apa produk-produk Sedapur yang dikirimkan meski saya sudah mendapatkan katalog info produk sehari sebelum pengiriman. Hmmm …

Sesampainya di rumah saya terkejut karena ternyata bungkus paket Sedapur sudah dibuka. Rupanya anak-anak sudah tidak sabar ingin tau apa isi paket yang baru sampe itu, saya jadi ingat betapa mereka juga curious ketika paket Sotoji datang he he he … Dan tampaklah oleh saya ketiga paket produk Sepadur di atas meja, wah menarik sekali … bagaimana dengan rasanya? Saya letakkan tas dan jaket lalu duduk dekat meja memandangi produk-produk itu sambil berbincang dengan istri saya yang tampaknya juga sudah tidak sabar ingin mencicipinya. OK, langsung kita buka saja … mumpung masih “hangat”.

  1. Layaknya seorang Indonesia yang memakan makanan pokok alias nasi sebelum makanan pendamping, saya dan istri menjajal Bed Hair Guy Onigiri. Kemasannya yang unik karena menggunakann plastik khusus “easy tear off” yang dilengkapi petunjuk berbahasa Jepang … lah gimana bacanya? Untung saja masih ada gambar yang memberi pentunjuk cukup jelas sehingga kami bisa menikmatinya langsung tanpa piring dan sendok, langsung gigit dan kunyah. Ada dua varian Onigiri yang ada di paket Produk Tasting Box #1 Sedapur, saying saya tidak begitu paham yang mana tapi dari rasanya saya bisa menyimpulkan kalo dua varian itu adalah BedHairGuy Onigiri Tuna Mayo dan BedHairGuy Onigiri KaniEgg. Nasi Jepang yang khas sangat mirip dengan nasi ketan tapi lebih empuk, bumbu yang menyatu dalam toping dan nasi memunculkan sensasi rasa gurih asam yang “aneh” tapi nikmat. Maklumlah, menu masakan Jepang yang pernah kami santap hanya HHB saja jadi khasanah lidah kamipun belum terlalu luas. Meski demikian kedua paket Bed Hair Guy Onigiri itupun kandas oleh saya dan istri. Memang Onigiri aslinya bukan untuk main course atau bisa disetarakan dengan lontong, lemper atau arem-arem di Indonesia sehingga ukurannya lebih pas untuk cemilan berat dibanding menu makan malam.

  2. Sambil menonton siaran TV malam hari, saya “iseng-iseng” membuka bungkusan Pisang Ijo Genit yang sedari sore saya masukkan dalam kulkas. Sengaja saya tidak mengajak istri dan anak-anak karena selain mereka sudah tidur pulas saya juga ingin menikmatinya sendiri. He he he … jarang-jarang saya ngemil malam-malam begini, apalagi menunya Pisang Ijo Genit dari Sedapur. Sebelum ini saya pernah menikmati pisang ijo, tepatnya bulan Ramadhan tahun lalu karena istri yang memesan. Itu pengalaman pertama saya dan kali ini saya ingin mencicipi rasa “berbeda” Pisang Ijo Genit. Saya letakkan pisang ijo dalam sebuah mangkuk, memotong-motongnya sejajar dengan pisau, menuangkan berturut-turut saus santan, susu kental manis, dan sirup merah di atasnya lalu slurp … nikmatnya. Manis gurih dan … dingin menyegarkan, rasa khas pisang raja berbalut tepung aroma pandan begitu khas pisang ijo. Menilik komposisinya yang berkualitas dan sehat saya merasakan bedanya Pisang Ijo Genit dengan pisang ijo yang lain, sayangnya cuma varian saja yang ada di paket Produk Tasting Box #1 Sedapur sehingga saya tidak bisa membandingkan dengan varian lain yang tersedia yaitu Pisang Ijo dengan Saus Coklat dan Pisang Ijo dengan Saus Vanila Rum. Apa saya memesannya saja ya? Karena keesokan harinya ketika saya menawarkan satu paket Pisang Ijo Genit yang tersisa kepada anak-anak, tidak sampai 15 menit pisang ijo itu sudah “kandas” oleh mereka dan langsung saja mereka berkata kalo pisang ijo ini enak. Kebetulan di Sedapur sedang ada Deal Pisang Ijo Genit dengan diskon 35% dari tanggal 14 – 27 Mei 2012 (masih 5 hari lho), saatnya click http://deal.sedapur.com sekarang juga.

  3. Menu terakhir yang saya nikmati adalah Pempek Udang Emak. Setelah hampir semalam masuk ke magic jar, lalu masuk kulkas karena belum ada yang berminat, sore berikutnya baru masuk magic jar lagi sebelum disantap. Sayangnya karena “tidak cermat” membaca petunjuk dan terbiasa dengan pempek kaki lima, Pempek Udang Emak yang mestinya cukup dikukus akhirnya digoreng juga. Meski demikian pempek udang yang bercita rasa khas itupun langsung dikerubutin oleh saya, istri dan anak-anak. Cuma khusus untuk sambal tauconya, terlalu pedas untuk istri saya yang penderita maag juga untuk anak-anak. Jadilah cuma saya yang menikmati Pempek Udang Emak lengkap dengan sambalnya yang juga khas. Selain buat cemilan, pempek ini juga nikmat untuk menemani nasi alias sebagai lauk seperti shrimp nugget saja he he he … Next time saya akan mencoba menikmati Pempek Udang Emak kukus sesuai petunjuknya, seperti anjuran setiap produsen: Bila ketagihan segera hubungi Sedapur.com

Sekian dulu review dari saya tentang Produk Tasting Box #1 Sedapur, tidak lebih tidak kurang … karena saya belum menjadi wisatawan kuliner jadi komentarnya sederhana dan seadanya. Btw, terima kasih untuk mas Didik dan tim Sedapur atas Tasting Box #1-nya sehingga saya dan keluarga bisa menikmati produk-produk pilihan yang tentu sehat dan berkualitas. Semoga sukses baik buat Sedapur.com

Sumber gambar : sedapur.com

Kesan Berikutnya bersama Sotoji (Review Bagian Kedua)

Setelah sebelumnya saya menerima paket Sotoji dan mendengar komentar “koki rumah” atas Sotoji, sekarang saatnya saya membuktikan sendiri cita rasa Sotoji. Kebetulan sedang tidak ada lauk di rumah, sayapun memutuskan inilah waktu yang tepat untuk menjajal kelezatannya.

image

Sotoji dan Telur Ayam
Sengaja saya siapkan telur sebagai pendamping Sotoji, kebiasaan yang tidak bisa dihilangkan karena slogan “Spesial pake Telor”. Meskipun cara paling fair untuk menguji cita rasa produk adalah dengan membiarkannya “sendiri” tanpa pendamping, tapi buat saya yang sedang kelaparan tidak ada salahnya “melanggar” aturan itu.

Sempat terpikir untuk merebus terlebih dulu telur sehingga saat dipadukan dengan Sotoji sekaligus menjadi garnis (seperti Soto Kudus) tapi opsi itu saya alihkan dengan merebusnya sesudah Sotoji siap nanti supaya saya dapat menikmatinya setengah matang.

image

Kelengkapan Sotoji
Saya buka kemasan Sotoji lalu mengeluarkan seluruh isinya dan meletakkannya di atas mangkuk. Ada soun padat putih ukuran sedang (banyak reviewer yang terkejut dengan ukurannya yang “kecil”), jamur kering dalam bungkus aluminium foil, bumbu, minyak sayur, dan cabe bubuk dalam bungkus plastik kecil.

Saya belum pernah memasak produk soto instan sebelumnya tapi “komponen” Sotoji tersebut sangat standar mie instan kecuali pada jamurnya, malah bawang goreng yang umumnya ada sebagai garnis tidak disertakan di sini. Entah karena memang tidak wajib atau mungkin sudah disatukan dengan minyak sayur.

Banyak varian soto di tanah air, masing-masing menggunakan bumbu khas yang menjadi ciri asal dari soto tersebut. Saya sebutkan di sini bumbu yang berarti kuah karena isi soto bisa bervariasi sesuai kebiasaan atau kebutuhan, dan saya akan segera melihat seperti apakah ciri Sotoji ini.

image

Citarasa Sotoji
Setelah proses memasak seperti yang tertulis pada kemasan Sotoji saya lakukan kecuali pada bagian merebus telur ayam di akhir, akhirnya saya dapatkan semangkuk Sotoji “Spesial pake Telor” buatan saya sendiri. Luar biasa, setelah sekian lama sejak SMA dulu saya menyajikan soto di warung milik ibu untuk pelanggan akhirnya saya kembali menyajikan soto untuk diri saya sendiri.

Sepintas dari penampilannya, kuah Sotoji yang tidak terlalu kental adalah cirinya mengingat kebanyakan soto (dan mie instan) menampilkan kuah yang kental. Nah saatnya mencicipi rasa Sotoji. Sruuuuupp hmmm rasanya memang tidak sekuat soto atau mie instan tapi memang tidak harus selalu begitu kan. Buat saya yang terbiasa dengan masakan bercitarasa bumbu kuat mungkin kuah Sotoji terlalu plain tapi citarasa berbeda adalah pilihan berani untuk produk instan yang baru dipromosikan.

Untuk soun dan jamurnya, meski sudah direbus sesuai petunjuk (sayang tidak disebutkan dengan api kecil, sedang, atau besar) masih berasa agak keras. Sebagian orang mungkin menyebutnya kenyal tapi saya pribadi menilainya kurang empuk terutama jamurnya karena mungkin terlebih dulu digoreng garing. Lebih maknyus bila tekstur soun dan jamurnya lebih lunak, sehingga penikmat Sotoji lebih fokus pada rasanya bukan pada proses mengunyahnya.

image

Sotoji dan Nasi
Sudah menjadi kebiasaan buat saya dan mungkin orang Indonesia umumnya menjadikan masakan apapun sebagai lauk makan nasi. Hal ini juga terjadi pada Sotoji yang saya masak. Sesudah siap saji, saya dan istri menikmatinya bersama sepiring nasi alih-alih memakannya langsung karena secara porsi Sotoji “kurang nendang” dinikmati sebagai main course. Ini adalah tantangan berikutnya, mengapa begitu?

Umumnya sayur atau lauk apapun yang dimakan sebagai pendamping nasi akan mengalami efek “penetralan” rasa. Saya sebut demikian karena karakter nasi yang dominan di mulut menyebabkan rasa sayur atau lauk berkurang dari aslinya, bercampur rasa “manis” yang secara alami keluar dari nasi yang dikunyah. Sotoji dengan kuah yang tidak terlalu kental dan rasa yang tidak terlalu kuat memang menjadi kurang gurih meski nikmatnya nasi soto jamur tetap saya rasakan, maklum sedang lapar-laparnya.

Kurang lebih setengah jam saya dan istri menikmati kelezatan Sotoji inilah hasil akhirnya, perut kenyang karena semangkuk Sotoji yang bergizi telah di mangkuk ke perut. Alhamdulillah …

image

Sotoji memang spesial. Semua orang bisa masak soto setelah ketemu Sotoji. Dan semua orang bisa makan soto sehat bersama Sotoji. Terima kasih Sotoji 🙂

Kesan Pertama bersama Sotoji

Sore tadi sepulang sholat Asar di musholla, sesaat sampai di rumah saya dikejutkan dengan kedatangan seseorang asing yang memanggil-manggil nama saya dari luar pagar rumah. Segera saja saya menghampiri orang itu untuk menanyakan maksud kedatangannya. Ternyata orang itu membawakan paket untuk saya, dalam hati saya langsung menebak ini pasti pesanan saya.

Sekilas saya baca asal paket di pojok kiri pembungkusnya, ah benar saja tebakan saya. Paket ini dari seorang pengusaha, sahabat saya di komunitas blogger Depok. Paket yang saya tunggu-tunggu sampai juga tepat sesuai janjinya. SOTOJI, telah membuktikan komitmennya dalam memuaskan calon pelanggannya dari sisi ketepatan waktu (delivery time).

Inilah kesan pertama saya bersama Sotoji. Untuk kesan berikutnya, tunggu sampai saya membuka bungkusnya besok. To be continued …