Info Masjid (1)

Jika Anda sedang melintasi Jalan Sawangan Raya dari atau menuju Jalan Nusantara dan saat itu waktu sholat maka Anda bisa berhenti untuk menunaikan sholat di Masjid Nurul Islam. Lokasinya di pinggir Jalan Mangga Raya sekitar 15 meter ke Barat dari persimpangan Jalan Rambutan Raya dan Jalan Mangga Raya. Insya’Allah Anda tidak akan kesulitan  menemukannya bahkan tanpa menggunakan peta sekalipun.

Fasilitas Masjid

Masjid Nurul Islam adalah masjid jami’, artinya di masjid ini diselenggarakan sholat berjama’ah 5 waktu dan di hari Jum’at diselenggarakan sholat Jum’at. Kapasitas/daya tampung masjid ini cukup besar, sekitar 600 jama’ah. Terdiri dari 2 lantai, di waktu sholat fardhu selain Jum’atan yang digunakan hanya lantai utama dengan jama’ah putri/akhwat di belakang jama’ah putra/ikhwan dibatasi dengan hijab tidak permanen.

Tempat wudhu dan toilet baik untuk ikhwan maupun akhwat terletak di sudut Barat Laut masjid. Tempat wudhu tambahan ada di bagian depan Tenggara masjid khusus untuk ikhwan.

Tempat parkir motor terletak di Utara masjid, sedangkan parkir mobil belum tersedia. Bila Anda membawa mobil maka bisa titip parkir di parkir minimarket di dekat masjid atau di pinggir jalan depan masjid.

Masjid ini dilengkapi dengan karpet tebal yang nyaman dan pendingin ruangan berupa kipas angin dan AC. Juga tersedia sarana multimedia berupa televisi LCD di dua sisi dinding Barat masjid. Sound system masjid juga cukup bagus dengan kualitas suara yang jernih.

Marilah kita ramaikan masjid dengan sholat fardhu 5 waktu secara berjama’ah.

Iklan

Tentang Chemistry (Bagian 2)

Pemotor yang Termarjinalkan

Sebelum saya lanjut dengan teori saya terkait chemistry (proses kimiawi), saya ingin mengkritisi sedikit sistem yang umum di pusat-pusat perbelanjaan modern (sebut saja mall). Baru-baru ini saya diajak makan bos kecil ke mall di bilangan Cilandak. Saya pernah ke sini sekali, dulu banget… seingat saya waktu saya baru menikah. Kami ke sini sepulang dari kontrol ke RS. Fatmawati, waktu itu kami ke mana-mana naik angkot atau bis kota.

Nah… setelah sekian lama, akhirnya saya balik ke sini lagi. Kali ini saya naik motor dari tempat kerja. Karena belum pengalaman, saya bertanya ke satpam di depan mall di manakah parkir untuk motor. Dengan ramah pak satpam menunjukkan kalo parkir motor sejalan dengan akses parkir mobil: masuk ke kiri lalu turun. Saya ikuti petunjuknya, agak bingung karena baru sekali ke parkir mall ini di basement. Ketemu tempat parkir motor eh ada tulisan khusus member. Oleh petugas di situ saya diarahkan ke parkir motor futsal. Wah… di mana itu? Putar-puter sana -sini, tengak-tengok eh sampe pintu keluar. Nyasar…

Akhirnya sampe juga. Tempatnya di ujung area mall hampir keluar, di seberang lapangan futsal indoor. Jaraknya sekitar 150 meter dari gedung utama mall, dan tanpa atap. Saat itu cuaca masih bersahabat meski sudah mendung, tapi bisa dibayangkan jika turun hujan lebat. Kasihan deh pemotor… Sebagai pengguna motor saya merasa agak didiskriminasi. Meski begitu, satu keuntungannya untuk saya adalah dekatnya parkir motor dengan musholla. Ya sudahlah… mohon maaf jika kurang berkenan.

Uniknya Chemistry Manusia

Pernahkah Anda mendengar nasihat seseorang yang membuat Anda menangis tersedu-sedu. Sadarkah Anda, nasihat itu pernah Anda dengar dari orang lain tapi Anda mengabaikannya? He he he… saya sih sering. Kelumrahan hal inilah, menurut saya, yang menyebabkan banyak orang menasihatkan, jangan lihat siapa yang bicara tapi lihatlah apa yang disampaikan. Benar atau tidak kesimpulan saya ini, silakan Anda menilai sendiri.

Jangankan di organisasi yang cukup besar model kampus saya, bahkan di keluarga kecil saya sekalipun pengaruh chemistry adalah  hal yang biasa. Misal, setiap kali saat sholat fardhu tiba reflek saya mengajak anak-anak untuk menunaikan sholat. Seringkali mereka masih asyik dengan aktifitasnya entah nonton tivi, baca buku atau bermain gadget saat saya sudah selesai sholat. Meskipun beberapa kali saya ingatkan mereka untuk sholat, jarang mereka langsung berangkat. Beda saat yang mengingatkan mama mereka, lebih mudah mereka melaksanakannya. Kalo dibilang kurang tegas sepertinya tidak juga, tidak jarang saya menggunakan nada tinggi komando meski kadang saya menggunakan sikap lembut persuasif. Saya lebih suka menyebutnya chemistry. Mengapa demikian?

Sesuatu yang kita pahami nilainya, baik buruknya bahkan manfaatnya, belum tentu mendorong kita untuk menyetujuinya apalagi melaksanakannya. Tetapi ketika sesuatu itu menyentuh perasaan kita, entah nyaman atau tidak nyaman maka itu lebih mendorong kita untuk menyetujui lalu melaksanakannya. Karenanya kita lebih sering tergoda dengan iklan, promosi, dll. yang mungkin secara riil tidak benar-benar kita perlukan. Chemistry itu bisa muncul dari pandangan, pendengaran, sentuhan meskipun tidak jarang juga muncul dari persepsi bahkan prasangka. Kalo dibilang baper ya mungkin tidak sepenuhnya keliru. Mirip-mirip… tapi tidak persis sama.

Chemistry adalah yang membuat Anda memilih beberapa sahabat dari banyak teman Anda. Chemistry adalah yang mendorong Anda melamar calon istri Anda. Chemistry pula yang mendorong staf Anda bersemangat, sementara saat bos yang lain mereka ogah-ogahan. Memang chemistry bisa dimanipulasi dengan obyek lain tapi yang saya yakini dia lebih kuat ketika muncul dari hati yang tulus dan niat ikhlas.

Sementara sampe di sini dulu ya teori saya tentang chemistry. Bagaimana menurut Anda? Kapan-kapan kita diskusi lagi… terima kasih.  

Etika Bermotor di Jalan Kampung

image
Jalan Kampung

Suatu saat kita mungkin harus bermotor melalui jalan kecil di daerah perkampungan (baca: jalan kampung). Jalan kampung tentu berbeda dengan jalan raya atau jalan protokol, selain karena ukurannya yang lebih kecil/sempit juga karena jalan ini berada di tengah permukiman. Oleh karenanya gaya bermotor di jalan kampung tidak seharusnya sama dengan gaya bermotor di jalan raya.

Sebagai pemotor (baca: biker) yang baik semestinya kita tetap memerhatikan lingkungan sekitar saat bermotor. Alasan yang paling mendasar adalah karena jalanan dibuat bukan hanya untuk biker tapi untuk semua orang. Kadang kita jumpai bikers yang tidak memedulikan pengguna jalan lain khususnya pejalan kaki. Mereka memacu motornya dengan kecepatan tinggi meskipun di jalan kampung. Selain ngebut sebagian juga tetap menyalakan lampu dan menutup kaca helm seperti saat mereka bermotor di jalan raya. Hal-hal ini tentu tidak sesuai dengan etika bermotor di jalan kampung.

Kenapa harus mengikuti etika? Tidak ada keharusan bagi siapapun khususnya biker untuk mengikuti etika, kecuali aturan hukum terkait berkendara di jalan umum. Tapi etikalah yang membentuk karakter dan sikap kita ketika berada di tempat di mana orang-orang juga berada di tempat yang sama. Inilah konsekuensi hidup bermasyarakat.

Berikut ini etika bermotor di jalan kampung versi saya:
– mengurangi kecepatan khususnya menjelang persimpangan jalan dan polisi tidur;
– mengenakan helm dan membuka kaca helm;
– mematikan lampu motor utama dan tetap menggunakan lampu sign saat akan belok atau menepi;
– tidak membunyikan klakson kecuali terpaksa;
– mengikuti rambu-rambu khusus yang ada di jalan kampung misal perintah untuk menuntun motor di gang.
Bila ada yang merasa etika di atas terlalu mengada-ada maka sebaiknya membaca alasan di bawah ini.

Adapun alasan dari hal-hal di atas adalah:
– bermotor di jalan kampung dengan kecepatan tinggi membahayakan diri sendiri dan orang lain khususnya anak-anak dan pejalan kaki;
– helm dipakai untuk melindungi kepala dari benturan dengan benda keras seperti aspal tetapi saat di jalan kampung secara etis wajah mesti terlihat agar mudah dikenali;
– menyalakan lampu wajib bagi biker di jalan raya tapi ketika di jalan kampung tidak dan mematikan lampu menghindari silaunya pejalan kaki;
– klakson memang bisa menjadi sarana komunikasi tetapi klakson saat jalan perlahan tentu menimbulkan ketidak-nyamanan;
– melanggar rambu-rambu khusus tentu bisa menimbulkan konsekuensi buruk mengingat banyak pepatah, seperti: Ngebut Benjut, Anda Sopan Kami Segan, dll.

Kiranya itu saja tulisan saya terkait etika bermotor di jalan kampung, khawatir kebanyakan malah membuat Anda pegal bacanya. Bila tulisan ini benar maka boleh Anda amalkan tetapi jika salah maka amalkan yang benar-benar saja. Salam biker… blar blar!!

Seandainya…

Pagi itu bis-bis AKAP padat merayap memasuki Jatisari, Karawang. Kemacetan panjang pun tak terhindarkan, memaksa sopir bis-bis itu tetap melaju meski sebentar lagi adzan Shubuh berkumandang. Hampir setengah jam kemudian barulah kemacetan itu mulai terurai, bis-bis malam yang mengantre itu akhirnya mulai mengarah ke Tol Karawang. Sayangnya lebih banyak bis yang terus melaju mengejar waktu untuk bisa segera sampai di Jakarta, melupakan kesempatan bagi penumpang untuk sekedar istirahat sejenak dan sholat Shubuh.

image

Sedikit sekali penumpang bis-bis itu yang kemudian mengambil inisiatif untuk sholat Shubuh di atas kursi duduknya bahkan dengan bertayamum. Padahal tidak sedikit bis yang menyediakan toilet dengan air bersih dan bisa dipakai untuk berwudhu. Astaghfirullah… semoga Allah Yang Mahapengampun mengampuni kami semua. Berikanlah kami kesempatan dan petunjuk-Mu, agar kami bisa melaksanakan perintah-Mu sesuai kemampuan kami.

Seandainya saja para penumpang bis-bis AKAP ini merasakan sholat sebagai kebutuhan dan bukan sebagai beban tentulah mereka tetap melaksanakannya dalam kondisi apapun. Terlebih baik lagi memang bila pihak perusahaan minimal sopir bis-bis malam menyadarinya dan berkenan memberikan kesempatan dengan sekedar istirahat di masjid atau musholla barang 10-15 menit. Atau jika memang waktu yang sempit memaksa penumpang bis untuk sholat di kursi masing-masing maka pihak bis menyiapkan seorang yang ditunjuk untuk memimpin para penumpang untuk sholat berjama’ah. Hal seperti ini tentu tidak hanya untuk jama’ah haji/umroh di atas pesawat terbang bukan?

Mekanisme sebenarnya sangat mudah, langkah-langkahnya mungkin seperti ini:
1. Sepuluh menit sebelum pelaksanaan sholat di bis pihak bis mengumumkan bahwa waktu sholat sudah masuk
2. Pihak bis mempersilakan penumpang untuk memilih berwudhu di toilet bis atau bertayamum dan memberitahukan bahwa sholat berjama’ah dimulai dalam 10 menit ke depan
3. Para penumpang bis bergiliran mengambil wudhu di toilet bis atau langsung bertayamum dengan debu suci di sandaran kursi dan kaca bis
4. Pihak bis mempersilakan salah seorang penumpang laki-laki untuk menjadi imam, bila tidak ada yang berkenan maka sopir/kernet menjadi imam sholat berjama’ah
5. Didahului dengan iqomah, penumpang melaksanakan sholat berjama’ah dipimpin oleh seorang imam di kursi duduk masing-masing
6. Sopir bisa bergantian untuk memberikan kesempatan yang lain melaksanakan sholat

Alhamdulillah… meski dalam kemacetan dan perjalanan semestinya kita bisa tetap melaksanakan sholat fardhu 5 waktu.

Mudik-Balik-Mudik

“Mudik Lebaran…”
Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar istilah itu? Kemacetan sepanjang belasan kilometer… Ribuan pemudik bermotor memenuhi jalanan Pantura… Atau Jakarta yang sepi karena ditinggal mudik penghuninya? Ya, seribu satu gambaran terlintas di benak kita tentang istilah yang satu itu. Tapi mau tidak mau, senang tidak senang, mudik lebaran sudah menjadi bagian dari kehidupan orang Indonesia sejak beratus tahun yang lalu. Dan bukan tidak mungkin, mudik lebaran akan tetap bertahan hingga akhir dunia.

Saya termasuk bagian orang Indonesia yang melakoni “ritual” mudik lebaran. Meski tidak tiap tahun, saya dan keluarga seperti sudah sepakat bahwa kami setidaknya 2 tahun sekali harus ya… harus pulang kampung. Kenapa harus? Karena kami masih punya orang tua yang tinggal di sana. That’s all… tidak ada alasan yang lebih penting dan mendasar buat kami mudik lebaran kecuali bersilaturrahim dengan orang tua. Tidak peduli apakah kami dalam kondisi lapang atau sempit, selalu ada jalan keluarnya.

Biaya Transportasi yang Makin Mahal
Disadari betul oleh kami, para pemudik lebaran, bahwa biaya transportasi menuju kampung semakin tahun semakin mahal. Tuslag tiket transportasi baik darat, laut, maupun udara mencapai 150-300% harga normal. Tak pelak lagi, kami mesti merogoh kantong lebih dalam untuk itu, dan bila kantong kami pas-pasan maka kami mesti menabung.

Memang kondisi ini sebenarnya adalah peluang untuk pebisnis bidang transportasi, karena saat-saat lebaran menjadi waktu di mana pemasukan menjadi berlipat-lipat. Tapi sayangnya, pemerintah belum bisa menanganinya secara kompak dengan swasta sehingga permintaan akan transportasi mudik lebaran yang lebih terjangkau belum bisa didapat masyarakat. Karena itulah sebagian orang, termasuk kami, memilih untuk mengatur volume mudik lebaran menjadi 2 tahun sekali.

Mudik Lebaran adalah Kemacetan di Seluruh Titik
Sudah menjadi kemakluman semua pihak, masa mudik lebaran adalah masa ketika kemacetan panjang berpindah atau tepatnya menyebar dari Jabodetabek ke seluruh penjuru Indonesia khususnya Jawa. Akibatnya tidak hanya antrean panjang berpuluh-puluh jam di sepanjang jalur tetapi juga kerusakan ratusan kilometer jalanan yang dilalui jutaan kendaraan bermotor yang hendak mudik.

Masalah kemacetan akibat mudik ini muncul setiap tahun, sayang sekali pemerintah pusat dan pemerintah daerah termasuk badan dan dinas terkait belum punya formula yang tepat untuk mengatasinya. Mobilisasi jutaan orang dan kendaraan dari Jabodetabek ke daerah pada kurub waktu tertentu telah menyebabkan penumpukan volume pengguna jalan di hampir seluruh titik yang dilalui. Kereta dan pesawat terbang dan kereta sebagai alternatif angkutan massa paling efektif seharusnya menjadi pilihan utama pemerintah.

Berhari-hari di Perjalanan
Waktu saya masih kuliah di Bogor, setiap kali menjelang lebaran saya tidak punya pilihan selain naik bis antarkota (bis malam). Anda tentu paham bagaimana kondisi angkutan yang satu ini saat menjelang lebaran: bis terbatas, penumpang berjubel, harga tiket mahal, dan waktu perjalanan yang tidak menentu.

Pernah suatu kali karena saya gagal mendapatkan tiket bis di terminal Lebak Bulus, saya memutuskan untuk mencari tiket di terminal Kampung Rambutan. Setelah menunggu berjam-jam, kira-kira jam 9 malam saya dapat tiket bis yang dicari. Ternyata saya dapat bis tua dan tanpa AC, pun tempat duduknya di samping sopir tanpa sandaran. Dan syukurnya saya selamat sampai di rumah jam 9 malam hari berikutnya, artinya saya menempuh perjalanan Jakarta-Magelang selama 24 jam.

Mungkin waktu itu saya merasa inilah perjalanan pulang kampung terburuk sepanjang hidup. Oo… saya salah. Setelahnya bahkan belasan tahun sesudahnya saya harus merasakan pengalaman yang tidak kalah pahit, 27 jam dalam perjalanan mudik. Lebih miris lagi saya bersama istri dan ketiga anak kami sedangkan Faqih sedang sakit. Alhamdulillah, selama perjalanan kami baik-baik saja termasuk Faqih.

Mudik-Balik-Mudik dalam Sepekan
Pernahkah Anda bolak-balik Jakarta – kampung halaman 2 kali dalam sepekan? Kecuali Anda businessman, pilot, masinis atau sopir angkutan maka saya maklum, selain itu rasanya berlebihan bolak balik gitu. Tapi ternyata saya malah sudah 2 kali mengalaminya, terakhir tahun ini. Sekali mudik mengantar istri dan anak-anak, balik karena mesti kerja lagi, trus mudik kedua yang benar-benar mudik. Mudik yang pertama 27 jam, baliknya 10 jam. Nah, gimana dengan mudik kedua? We’ll see… sekarang mo istirahat dulu di Pring Sewu.

Perjalanan ke Setu

Sabtu kemarin saya, istri dan Mufida menengok keponakan kami yang baru sembuh dari sakit. Memang kami belum pernah silaturrahim ke rumah adik kami (ayah ibu Adnan) jadi sekalian main biar tau di mana rumahnya. Kami berangkat jam 14-an dari Depok naik motor karena infonya lokasi jauh dari kereta atau bis kota. Beruntung hari cerah berawan jadi kami tidak kehujanan juga tidak kepanasan.

Saya belum tau alamat rumah adik kami ini tapi istri saya sudah di-SMS ancer-ancernya: setelah RS Mary Cileungsi belok kanan sampai setu. Kami ambil jalan Margonda, Juanda lalu akses ke Cibubur Junction meski agak padat merayap tapi cukup lancar. Sesampainya di Trans Yogi saya mulai bisa memacu motor agak cepat hingga flyover Cileungsi. Di sini kami ambil arah Bekasi dan kondisi jalanan yang kami lalui rusak parah. Sampai di RS. Mary saya putuskan berhenti untuk menelpon adik kami dan diberi petunjuk yang sama dengan isi SMS-nya. Kami pun melanjutkan perjalanan.

Setelah mengambil jalan ke kanan dari jalan utama Cileungsi-Bekasi hampir sepanjang jalan kondisinya memprihatinkan. Selain tidak rata, berlubang-lubang besar, sebagian bahkan tergenang air. Perjalanan jadi sangat terhambat, apalagi ternyata lalu lintas di situ cukup padat. Beberapa kali kami menemui kemacetan entah apa penyebabnya. Dan ternyata Setu yang kami cari perasaan saya jauuuuuh sekali. Mungkin karena baru sekali saya lewat jalan itu, terlebih karena kondisinya tidak bisa disebut nyaman untuk pengendara.

Akhirnya kami sampai di Pasar Setu, dan beberapa menit kemudian (hampir 1/2 jam) baru kami sampai di alamat rumah yang adik SMS belakangan. Alhamdulillah… ternyata lokasi rumahnya cukup jauh dan berliku. Hampir jam 17 waktu kami sampai, sekali lagi beruntung selama perjalanan tidak kehujanan meski pengakuan adik di sekitar rumahnya hujan waktu kami telpon tadi. Syukur keponakan kami sudah sehat. Adnan sempat dirawat 2 malam di RS karena diare dan demam tinggi. Di sana kami diceritai tentang kondisi rumah adik yang kebanjiran saat Jakarta dan sekitarnya terkena banjir beberapa waktu lalu. Mereka bahkan sampai harus mengungsi ke rumah orangtua di Bogor.

Hampir Maghrib kami berpamitan. Sepanjang perjalanan pulang istri tidak habis-habis berucap syukur karena mendapatkan rumah di Depok meski kondisinya pas-pasan. Ya semua memang mesti disyukuri dan disabari (kata saya dalam hati).

Berenang atau Main Air

image

Ini kesekian kalinya saya bersama anak-anak mengisi waktu libur akhir pekan ke obyek wisata air. Hari ini kami piknik ke Taman Angsa, sukabumi. Awalnya saya pikir obyek wisata yang terletak di Kabupaten Sukabumi ini seperti Taman Melati yang menyediakan berbagai macam hiburan seperti outbond, berkuda dan lain-lain. Ternyata memang agak jauh dari asumsi itu, taman ini hanya menyediakan hiburan tunggal: kolam renang. Memang ada permainan anak seperti ayunan, prosotan, panjatan maupun odong-odong statis tapi sepertinya hanya sebagai pelengkap saja. Sisanya hamparan tanah luas berumput dan berbunga dihiasi aneka patung unik.

image

Untuk saya yang sudah mengunjungi berbagai tempat wisata aktifitas mungkin Taman Angsa bukan tempat yang terlalu menarik, tapi anak-anak akan berkata lain. Ya, mereka sangat menyukai taman ini bahkan karena hanya satu hal: kolam renang. Anak-anak memang selalu suka bermain air, mulai dari mandi sambil semprot-semprotan shower, hujan-hujanan di lapangan, sampai bermain ombak di tepi pantai yang landai. Seperti hari ini, tidak peduli meski tempat mereka bermain tidak sebagus Waterboom atau seindah pantai Kuta mereka tetap menikmati momen bermain di kolam renang.

image

Sesaat saya berfikir, anak-anak suka berlama-lama di kolam renang meski mereka tidak benar-benar berenang. Ya, mereka hanya bermain air. Bermain cipratan air, kejar-kejaran, lempar-lemparan bola, meloncat dari tepi kolam, atau mengapung dengan ban atau balon. He he he… saya baru sadar bahkan orang dewasa melakukannya, meskipun mereka sudah mahir berenang. Saya sendiri makin yakin kalo obyek-obyek wisata air tidak dibuat untuk berenang. Kolam renang dibuat untuk berenang, tapi obyek wisata air tidak. Mereka semua dibuat untuk memuaskan kesenangan kita bermain air. Lihat saja, mereka dilengkapi dengan segala macam peranti yang mendukung aktifitas bermain air, mulai dari arus dan gelombang, prosotan berbagai ukuran, air mancur dan air terjun, juga ban berbagai bentuk dan ukuran.

image

Ayo… saatnya saya berenang eh main air sama anak-anak. Hups… #byur

Lari 8 Kilometer? Siapa Takut!?

M3-I4.2-S2-Z4.2-A4-

image
Di garis Start

Ahad kemarin saya menyengaja datang ke Monas pagi-pagi. Pas sampe situ pas azan Subuh … luar biasa! Ya, saya datang pagi-pagi di Monas untuk mengikuti Independence Day Run “Semangat 17/8” untuk Merah Putih yang disponsori oleh bank nasional ternama. Info tentang even itu bisa dilihat di sini. Awalnya saya dapat info dari SMS broadcast, dari panitia IDR 2013.

Yang menarik memang bukan di lari marathonnya, tapi di hadiah dan tentu doorprize-nya. Dan pula untuk join di even ini gratis, cukup mendaftar online dengan melengkapi data pribadi. Jadilah hampir 5 ribu peserta terdaftar dalam even itu yang terbagi dalam 2 kategori besar 8 km diikuti lebih dari seribu orang dan 17 km diikuti lebih dari 3.500 orang. Mantabs!! Sangat disayangkan panitia yang mengantisipasi keamanan pak Presiden beserta rombongan dengan keamanan ketat sedikit banyak mengurangi kesempatan peserta muslim untuk sholat Subuh. Ya, karena panitia mensyaratkan peserta hadir jam 4.30 pagi. Untung saya bisa menyelinap untuk sholat di kantor Kemdagri meski harus beralaskan koran. Huff … please deh 😦

Tepat jam 6 pagi saat seluruh peserta lari disaksikan pak Presiden dan rombongan mengikuti pengibaran bendera merah putih di Istana Merdeka. Berasa khidmat sekali meski tidak semua berdiri dengan sikap sempurna dan menghormat pada sang saka. Beberapa menit kemudian tembakan pistol tanda perlombaan lari marathon pun dibunyikan, diawali dengan kategori 17 km diikuti kategori 8 km sepuluh menit berselang.

Ribuan pelari berebut melalui garis Start di depan panggung kehormatan tempat pak Presiden melepas para pelari. Tampak oleh saya puluhan peserta mengarahkan kamera digital dan ponsel untuk mengambil gambar atau video dari pak Presiden termasuk saya. Sejurus kemudian kami berlalu dan mulai memacu langkah menuju garis Finish.

Bersambung …

Nyaman Naik KRL dari Depok ke Bekasi (Bag. 2)

M3-I4-2.S2-Z4-A4-

image
Naik KRL, murah dan nyaman

Setelah saya berkomentar tentang perubahan kondisi KRL Jabodetabek akhir-akhir ini di sini, kali ini saya akan posting tentang cara melakukan perjalanan dengan KRL. Ya memang bukan hal baru buat Anda yang sudah sering menggunakan jasa KRL, tapi saya masih sering menemui penumpang yang belum paham cara naik KRL. Selamat mengikuti!

Membeli tiket KRL
Sebelum naik KRL Anda mesti membeli tiket terlebih dahulu. Tiket KRL sekarang tidak lagi berbahan dasar karton melainkan sudah berbentuk kartu magnetik model kartu ATM atau lebih tepatnya flashcard. Istilah yang dipake e-ticket persis seperti kartu bayar jalan tol. Nah ketika di loket Anda tinggal menyebutkan stasiun tujuan dan petugas loket akan menyebutkan harga yang mesti Anda bayar. Sesudah membayar, tiket akan keluar dari mesin tiket. Ambil tiket dan kembalian jika ada, maka Anda siap masuk ke peron.

Masuk peron stasiun
Bawa tiket yang Anda dapatkan di loket menuju pintu masuk peron. Anda akan disambut oleh petugas berbaju satpam yang siap membantu bila Anda butuh bantuan. Letakkan kartu pada bagian atas panel pintu dan tunggu lampu indikator berwarna hijau menyala maka Anda bisa melalui palang putar untuk masuk ke dalam peron. Tidak perlu terburu-buru karena sensor butuh waktu untuk membaca kartu dan lampu hijau tidak akan mati sebelum palang pintu diputar oleh penumpang yang masuk.

Perhatikan lajur tujuan
Pastikan Anda menuju lajur KRL yang sesuai dengan tujuan Anda. Stasiun Jabodetabek umumnya menempatkan KRL jurusan Bogor di lajur sisi Barat, arah Jakarta Kota di sisi Timur, sedangkan untuk KRL arah Bekasi di lajur Barat. Petugas stasiun secara berkala akan menyampaikan informasi kedatangan KRL, tujuan dan lajur yang dilalui. Di beberapa stasiun lajur yang digunakan tidak cuma dua sehingga Anda perlu memerhatikan di lajur mana KRL yang akan Anda naiki berhenti.
Lanjutkan membaca “Nyaman Naik KRL dari Depok ke Bekasi (Bag. 2)”

Nyaman Naik KRL dari Depok ke Bekasi (Bag. 1)

M3.2-I4.2-2.S2-D2-Z4.2-A4-T

image

Anda pernah melakukan perjalanan dari Depok ke Bekasi, enaknya naik apa ya? Apakah dengan bus AKAP? Ataukah dengan KRL Commuterline? Buat Anda yang masih bingung memilih moda transportasi apa silakan teruskan membaca posting ini. Sebelumnya saya juga pernah menulis tentang hal itu di sini. Semoga bisa jadi pembanding buat Anda yang biasa berhitung efisiensi dan kenyamanan.

Beberapa waktu belakangan PT. KAI yang mengoperasikan KRL untuk wilayah Jabodetabek mengubah sistemnya. Selain itu juga dilakukan revitalisasi stasiun-stasiun serta penambahan jumlah armada KRL yang dioperasionalkan. Peningkatan kualitas layanan dan kapasitas KRL Jabodetabek ini tampak pada hal-hal berikut ini:

1. Stasiun yang steril dari selain penumpang dan petugas KRL. Dulu stasiun sangat terbuka, sehingga non penumpang bisa dengan leluasa keluar masuk peron. Pedagang asongan, PKL, pengemis, dan pengamen menjadi komponen yang biasa mewarnai stasiun, peron, bahkan gerbong KRL. Sekarang sebagian besar stasiun sudah dibenahi mulai dari pagarnya, lokal parkirnya, juga pintu keluar-masuk stasiun.

2. Seluruh penumpang yang masuk ke peron membeli tiket dengan harga terjangkau. Sudah menjadi pemandangan biasa KRL dipadati penumpang hingga di atapnya. Petugas tiket juga sering menemui penumpang yang tidak membeli tiket, tentu termasuk penumpang yang duduk di atap. Kini dengan sistem akses terkontrol dan tarif progresif, KRL hanya dinaiki oleh penumpang yang memegang tiket elektronik (e-ticket) saja dan harga tiket sangat murah/terjangkau.

3. KRL semakin tepat waktu dan jumlahnya mendekati kebutuhan. Waktu awal-awal kali saya naik KRL lebih dari sepuluh tahun lalu, KRL ekonomi hampir tidak pernah tidak terlambat dan terlambatnya pun tidak tanggung-tanggung bisa berjam-jam. Lebih parahnya ketika KRL yang ditunggu tiba, masya’Allah penuh sesak seperti tidak menyisakan ruang untuk penumpang di stasiun berikutnya. Penumpang berjubel, berhimpitan bahkan ada yang bergelantungan di pintu gerbong. Kondisi itu sekarang sudah berubah, meski KRL penuh tapi tidak sampai berhimpitan dan bergantungan di pintu. Dan jika mau bersabar untuk kereta berikutnya maka mungkin akan dapat ruang lebih lega bahkan kursi kosong.

4. KRL seluruhnya ber-AC, bersih dan disediakan gerbong khusus wanita. Dulu masih ada kereta ekonomi dan patas. Ada harga, ada rupa. Kereta ekonomi tiketnya murah, tentu fasilitasnya terbatas: tanpa AC yang ada kipas angin, lampu lebih sering mati, pintu dan jendela tidak bisa ditutup, gerbong kotor dan dipenuhi pegadang asong dkk. Sekarang KRL commuterline semuanya adalah kereta patas, berkipas dan ber-AC, terang, bersih, dan nyaman tanpa pedagang asongan, pengamen, atau pengemis.

Itulah catatan saya atas perubahan kondisi KRL Jabodetabek belakangan. Anda punya pandangan lain? Baca tips naik KRL Jabodetabek di sini.