Lari 8 Kilometer? Siapa Takut!?

M3-I4.2-S2-Z4.2-A4-

image
Di garis Start

Ahad kemarin saya menyengaja datang ke Monas pagi-pagi. Pas sampe situ pas azan Subuh … luar biasa! Ya, saya datang pagi-pagi di Monas untuk mengikuti Independence Day Run “Semangat 17/8” untuk Merah Putih yang disponsori oleh bank nasional ternama. Info tentang even itu bisa dilihat di sini. Awalnya saya dapat info dari SMS broadcast, dari panitia IDR 2013.

Yang menarik memang bukan di lari marathonnya, tapi di hadiah dan tentu doorprize-nya. Dan pula untuk join di even ini gratis, cukup mendaftar online dengan melengkapi data pribadi. Jadilah hampir 5 ribu peserta terdaftar dalam even itu yang terbagi dalam 2 kategori besar 8 km diikuti lebih dari seribu orang dan 17 km diikuti lebih dari 3.500 orang. Mantabs!! Sangat disayangkan panitia yang mengantisipasi keamanan pak Presiden beserta rombongan dengan keamanan ketat sedikit banyak mengurangi kesempatan peserta muslim untuk sholat Subuh. Ya, karena panitia mensyaratkan peserta hadir jam 4.30 pagi. Untung saya bisa menyelinap untuk sholat di kantor Kemdagri meski harus beralaskan koran. Huff … please deh 😦

Tepat jam 6 pagi saat seluruh peserta lari disaksikan pak Presiden dan rombongan mengikuti pengibaran bendera merah putih di Istana Merdeka. Berasa khidmat sekali meski tidak semua berdiri dengan sikap sempurna dan menghormat pada sang saka. Beberapa menit kemudian tembakan pistol tanda perlombaan lari marathon pun dibunyikan, diawali dengan kategori 17 km diikuti kategori 8 km sepuluh menit berselang.

Ribuan pelari berebut melalui garis Start di depan panggung kehormatan tempat pak Presiden melepas para pelari. Tampak oleh saya puluhan peserta mengarahkan kamera digital dan ponsel untuk mengambil gambar atau video dari pak Presiden termasuk saya. Sejurus kemudian kami berlalu dan mulai memacu langkah menuju garis Finish.

Bersambung …

Iklan

Nyaman Naik KRL dari Depok ke Bekasi (Bag. 2)

M3-I4-2.S2-Z4-A4-

image
Naik KRL, murah dan nyaman

Setelah saya berkomentar tentang perubahan kondisi KRL Jabodetabek akhir-akhir ini di sini, kali ini saya akan posting tentang cara melakukan perjalanan dengan KRL. Ya memang bukan hal baru buat Anda yang sudah sering menggunakan jasa KRL, tapi saya masih sering menemui penumpang yang belum paham cara naik KRL. Selamat mengikuti!

Membeli tiket KRL
Sebelum naik KRL Anda mesti membeli tiket terlebih dahulu. Tiket KRL sekarang tidak lagi berbahan dasar karton melainkan sudah berbentuk kartu magnetik model kartu ATM atau lebih tepatnya flashcard. Istilah yang dipake e-ticket persis seperti kartu bayar jalan tol. Nah ketika di loket Anda tinggal menyebutkan stasiun tujuan dan petugas loket akan menyebutkan harga yang mesti Anda bayar. Sesudah membayar, tiket akan keluar dari mesin tiket. Ambil tiket dan kembalian jika ada, maka Anda siap masuk ke peron.

Masuk peron stasiun
Bawa tiket yang Anda dapatkan di loket menuju pintu masuk peron. Anda akan disambut oleh petugas berbaju satpam yang siap membantu bila Anda butuh bantuan. Letakkan kartu pada bagian atas panel pintu dan tunggu lampu indikator berwarna hijau menyala maka Anda bisa melalui palang putar untuk masuk ke dalam peron. Tidak perlu terburu-buru karena sensor butuh waktu untuk membaca kartu dan lampu hijau tidak akan mati sebelum palang pintu diputar oleh penumpang yang masuk.

Perhatikan lajur tujuan
Pastikan Anda menuju lajur KRL yang sesuai dengan tujuan Anda. Stasiun Jabodetabek umumnya menempatkan KRL jurusan Bogor di lajur sisi Barat, arah Jakarta Kota di sisi Timur, sedangkan untuk KRL arah Bekasi di lajur Barat. Petugas stasiun secara berkala akan menyampaikan informasi kedatangan KRL, tujuan dan lajur yang dilalui. Di beberapa stasiun lajur yang digunakan tidak cuma dua sehingga Anda perlu memerhatikan di lajur mana KRL yang akan Anda naiki berhenti.
Continue reading “Nyaman Naik KRL dari Depok ke Bekasi (Bag. 2)”

Nyaman Naik KRL dari Depok ke Bekasi (Bag. 1)

M3.2-I4.2-2.S2-D2-Z4.2-A4-T

image

Anda pernah melakukan perjalanan dari Depok ke Bekasi, enaknya naik apa ya? Apakah dengan bus AKAP? Ataukah dengan KRL Commuterline? Buat Anda yang masih bingung memilih moda transportasi apa silakan teruskan membaca posting ini. Sebelumnya saya juga pernah menulis tentang hal itu di sini. Semoga bisa jadi pembanding buat Anda yang biasa berhitung efisiensi dan kenyamanan.

Beberapa waktu belakangan PT. KAI yang mengoperasikan KRL untuk wilayah Jabodetabek mengubah sistemnya. Selain itu juga dilakukan revitalisasi stasiun-stasiun serta penambahan jumlah armada KRL yang dioperasionalkan. Peningkatan kualitas layanan dan kapasitas KRL Jabodetabek ini tampak pada hal-hal berikut ini:

1. Stasiun yang steril dari selain penumpang dan petugas KRL. Dulu stasiun sangat terbuka, sehingga non penumpang bisa dengan leluasa keluar masuk peron. Pedagang asongan, PKL, pengemis, dan pengamen menjadi komponen yang biasa mewarnai stasiun, peron, bahkan gerbong KRL. Sekarang sebagian besar stasiun sudah dibenahi mulai dari pagarnya, lokal parkirnya, juga pintu keluar-masuk stasiun.

2. Seluruh penumpang yang masuk ke peron membeli tiket dengan harga terjangkau. Sudah menjadi pemandangan biasa KRL dipadati penumpang hingga di atapnya. Petugas tiket juga sering menemui penumpang yang tidak membeli tiket, tentu termasuk penumpang yang duduk di atap. Kini dengan sistem akses terkontrol dan tarif progresif, KRL hanya dinaiki oleh penumpang yang memegang tiket elektronik (e-ticket) saja dan harga tiket sangat murah/terjangkau.

3. KRL semakin tepat waktu dan jumlahnya mendekati kebutuhan. Waktu awal-awal kali saya naik KRL lebih dari sepuluh tahun lalu, KRL ekonomi hampir tidak pernah tidak terlambat dan terlambatnya pun tidak tanggung-tanggung bisa berjam-jam. Lebih parahnya ketika KRL yang ditunggu tiba, masya’Allah penuh sesak seperti tidak menyisakan ruang untuk penumpang di stasiun berikutnya. Penumpang berjubel, berhimpitan bahkan ada yang bergelantungan di pintu gerbong. Kondisi itu sekarang sudah berubah, meski KRL penuh tapi tidak sampai berhimpitan dan bergantungan di pintu. Dan jika mau bersabar untuk kereta berikutnya maka mungkin akan dapat ruang lebih lega bahkan kursi kosong.

4. KRL seluruhnya ber-AC, bersih dan disediakan gerbong khusus wanita. Dulu masih ada kereta ekonomi dan patas. Ada harga, ada rupa. Kereta ekonomi tiketnya murah, tentu fasilitasnya terbatas: tanpa AC yang ada kipas angin, lampu lebih sering mati, pintu dan jendela tidak bisa ditutup, gerbong kotor dan dipenuhi pegadang asong dkk. Sekarang KRL commuterline semuanya adalah kereta patas, berkipas dan ber-AC, terang, bersih, dan nyaman tanpa pedagang asongan, pengamen, atau pengemis.

Itulah catatan saya atas perubahan kondisi KRL Jabodetabek belakangan. Anda punya pandangan lain? Baca tips naik KRL Jabodetabek di sini.

(Tidak) Semua Biker Egois

Sudah hampir 7 tahun saya berubah dari angkoter jadi motorer (biker) … bukan sombong, cuma curhat #alay.com. Nah, selama lebih dari 6 tahun itulah saya mengalami banyak sekali pengalaman menarik dan tidak menarik di jalanan. Beberapa sudah saya tuliskan di blog ini seperti yang ini, yang ini, dan yang ini. Tidak hanya ini, juga yang itu, yang itu, dan yang itu. Masih ada beberapa lagi termasuk yang ono no. Nah, belakangan saya menyimpulkan bahwa: Tidak Semua Biker Egois. Iya, ciyus … bahkan termasuk saya. Mau buktinya? Berikut saya kasih …

  1. Saya dengan semena-mena berhenti mendadak di depan pengendara yang lain ketika ada pejalan kaki yang hendak menyeberang dan sudah meminta tapi sayang tidak ada yang memberi jalan untuknya
  2. Saya tidak menyalakan lampu meskipun saat hujan, karena lampu motor saya mati tapi saya menyalakan lampu sign kanan atau kiri supaya pengendara lain dan pejalan kaki tau keberadaan saya
  3. Saya tidak membiarkan biker lain mendahului saya saat saya di belakang kendaraan lain sedangkan di depan ada kendaraan berlawanan arah dan mendahuluinya dapat menyebabkan kecelakaan
  4. Saya bunyikan klakson keras-keras ketika ada kendaraan yang masuk ke jalan atau membelok tanpa memberikan kode lampu sen atau klakson sehingga bisa membahayakan orang lain
  5. Saya jalan pelan-pelan sedangkan jalanan lengang karena saya tidak suka terburu-buru kecuali memang sedang memburu waktu dan ketika ngebut sekalipun tetap memerhatikan keselamatan diri dan orang lain

Mungkin masih banyak lagi keegoisan saya, dan saya rasa biker-biker lain juga punya sikap seperti saya ketika berkendara di jalanan. Bukan begitu kawan-kawan? Memang jalanan itu milik kita … khusus jalanan di halaman rumah kita kaleee #emang jalannya mbah-mu apa?

Atas keegoisan ini saya mohon maaf tapi sorry-sorry-sorry, Jack … ini tetap akan saya lakukan 😛

Polisi dan Menu Makan Siang

M3.2-I4.2-2S2-Z4.2-A4

Semalam saya ke rumah teman di bilangan Kalisari, lewat komplek Hankam dari Akses UI. Saya jadi teringat asrama kami dulu, istilah orang Jawa “tangsi”. Yang umum sejak dulu sampai sekarang di komplek-komplek tentara adalah banyak polisi di jalannya. Mungkin sebagian orang akan bertanya kenapa bisa banyak polisi di komplek tentara, apa mungkin itu PM alias polisi militer? Bukan sohib-sohib, yang saya maksudkan adalah polisi tidur. Entah darimana asal-muasal kata ini tapi kalo di-Inggris-kan jadi gak nyambung, mosok “sleeping cop” atau “sleeping police” 😉

Soal yang ini, meski banyak orang yang protes dengan keberadaan polisi tidur itu sebenarnya banyak manfaat yang didapat darinya minimal mencegah pengendara kendaraan bermotor ngebut di jalan komplek yang notabene banyak anak-anak berseliweran. Cuma bentuk polisi tidur konvensional yang  tunggal dan sering terlalu tinggi malah dapat membahayakan pengguna jalan, apalagi bila jalanan gelap karena kurang penerangan atau tidak diberi warna khusus agar mudah dikenali. Tidak sedikit kecelakaan terjadi terutama pada pengendara motor meski mereka tidak sedang ngebut. Untungnya sekarang model polisi tidur sudah mulai diubah menjadi lebih kecil dalam jumlah banyak, sekedar memberi peringatan pengendara untuk mengurangi kecepatannya. Saya malah berpikir pada suatu saat nanti di jalan dengan rambu kecepatan maksimal, setiap kendaraan secara otomatis akan mengurangi kecepatannya hingga batas maksimalnya tanpa bisa diatur manual oleh pengendara.

Ngomong-ngomong tadi siang pada makan apa? Ini menu makan siang saya. Nasi rames dari kantin di kantor, nikmat meski murah. Alhamdulillah …

image
Nasi, rendang, telur dan sayur pepaya muda

Jalan-jalan dari Depok ke Pamulang

M3.2-I4-S2-2Z4.2-A4

Kemarin saya melakukan perjalanan AKAP dari Depok ke Pamulang. Jaraknya memang tidak terlalu jauh, hanya sekitar 16-an kilo atau 37-an menit menurut direction-nya google maps. Meski begitu dengan kecepatan motor standar dalam kota (50 km/jam) saya menempuhnya dalam waktu lebih dari 1 jam. Beberapa bulan lalu saya malah menempuhinya hampir 2 jam, karena jalan yang saya lewati sebagian rusak parah. Kali ini memang masih ada hambatan, tapi tidak seberapa.

image
Spanduk pemberitahuan dari Polsek Limo

Di dekat jembatan daerah Lereng Limo bagian jalan yang dekat sungai tampak di tutup seadanya dengan ranting pohon dan bambu. Di persimpangan masuk dari Jalan Raya Limo memang sudah ada penghalang jalan sehingga kendaraan roda 4/6 tidak bisa lewat. Di dinding tepi jalan pun tertempel spanduk mini pemberitahuan hal tersebut dari Polsek Limo. Bolak-balik lewat jembatan itu saya baru ngeuh kalo tepi sungai itu longsor, saya pikir jalan itu barusan diperbaiki seperti ruas-ruas jalan lain. Berikut foto kondisi jalan yang saya maksud.

image

image

image

Di foto terakhir tampak seutas kabel fiber optic (FO) terjuntai di sisi tanah yang longsor. Yang terpikir di benak saya adalah, jangan-jangan pekerjaan galian FO itulah yang menjadi penyebab longsornya bahu jalan pinggir sungai itu. Meski terkesan menghambat pengguna jalan tapi tindakan preventif seperti ini kiranya memang diperlukan, tidak perlu menunggu ada mobil terjungkal di jalan yang rawan longsor sebelum benar-benar menutup jalan itu bukan? Meski begitu mestinya ada tindakan perbaikan permanen yang sigap dari pemko mengingat jalan itu adalah jalan tembus alternatif yang menghubungkan Pondok Cabe dengan Limo.

Di sisi bagian Pondok Cabe arah Golf hambatan berikutnya adalah tenda biru alias tenda hajatan pernikahan warga yang memakai seluruh ruas jalan sebagai tempat resepsi. Untungnya ada gang yang bisa dilalui motor persis di sisi rumah tempat resepsi diadakan sehingga pengendara motor bisa lewat bisa tetap lewat jalan itu sedangkan kendaraan roda 4/6 mohon maaf harus berbalik dan mencari jalan alternatif lain.

image
Tenda biru memenuhi ruas jalan

Di pusat kota Tangsel tepatnya setelah alun-alun tampak pembangunan jalan lebar di satu sisi Jalan Raya Siliwangi sampai di depan Situ tCileduk. Jalan itu memang sering mengalami kemacetan parah terutama di jam sibuk bahkan Sabtu-Ahad.

Akhir tahun anggaran sepertinya jadi pilihan waktu bagi pemerintah untuk membenahi infrastruktur, entah apa alasannya. Ada yang bilang untuk menghabiskan anggaran, ada pula yang bilang itu karena menjelang pilkada. Apapun alasannya yang tampak oleh masyarakat adalah bahwa pemerintah tengah berusaha meningkatkan fasilitas umum yang mendukung aktifitas warga. Jalan-jalan yang tadinya rusak parah di Depok juga sudah diperbaiki. Contohnya ada pada foto-foto berikut, yang beberapa bulan sebelum ini kondisinya sangat memrihatinkan.

image

image

image

image

Semoga perbaikan jalan umum benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat luas. Dan yang juga penting adalah semoga jalan-jalan itu dibuat atau diperbaiki dengan kualitas kerja yang baik sehingga umurnya panjang sehingga manfaat yang dirasakan juga bertahan lama. Mari kita sama-sama menjaga fasilitas yang dibangun dengan pajak yang sudah kita setorkan setiap tahunnya. Btw, sudahkah kita taat pajak?

Karena Tidak Siap

M3.2-I4.2-2.S2-T1-ZA4.4

Hari ini kami berangkat mudik liburan sekolah. Karena liburan kali ini bertepatan dengan liburan akhir tahun, tiket mudik jadi lebih mahal dan susah mencari bis yang sesuai selera. Jadilah kami mendapatkan bis seadanya. Meski harganya murah, perjalanan dengan bis yang tidak biasa sebenarnya menjadi sebuah pertaruhan.

Benar saja, bis yang kami naiki ekonomi AC dengan seat 2-3. Kami mengambil 4 kursi 3-1 dengan asumsi istri dan anak-anak di depan, saya di belakang mereka. Ternyata 3 kursi tidak cukup nyaman untuk istri dan 3 bocah cilik (2 putra-putri kami, 1 keponakan). Bahkan kursi yang saya duduki tidak cukup nyaman untuk saya yang berbadan kurus ini. Sepertinya ketidaknyamanan ini yang membuat saya beralih ke patas non-AC, VIP atau eksekutif belasana tahun lalu. Tapi apa mau dikata, nasi sudah habis dimakan tinggal menunggu hasilnya belakangan. Jalur yang kami lalui padat sekali bahkan ketika kami masuk jalan tol kemacetan tetap saja menghambat perjalanan kami.

Awalnya istri dan anak-anak masih enjoy tapi ketika mestinya waktu istirahat malam tapi bis masih ngantre di tol Cikampek mereka mulai tidak nyaman. Fida dan umminya akhirnya mual dan muntah, sesudahnya suasana di perjalanan sudah tidak asyik lagi. Untungnya Faqih gak rewel. Dia mau saya pangku meski tempat duduk saya tidak begitu nyaman. Beberapa menit bolak-balik berdiri di pangkuan saya, main game di hape trus tertidur deh. Memeluk bocah saat dia tertidur membuat kita nyaman juga meski kondisi sekitar tidak kondusif.

Di sebelah saya sepasang suami istri dan anak mereka yang belum genap setahun. Sempat rewel entah karena apa tapi yang bikin gregetan si bapak gak mau bantu istrinya, santai aja dia molor. Si ibu kelihatan repot banget, mungkin dia mulai pusing dan mual seperti istri saya. Beberapa kali si ibu marah sama anaknya, berharap si anak mau diam dan tidur. Anak dipaksanya minum air putih dalam botol padahal buat anak segitu mestinya masih butuh ASI kan. Kalo saya bilang pasangan ini tidak siap dengan komitmen sebagai suami istri yang mesti saling membantu dan tidak siap dengan kehadiran bocah yang berhak atas kasih sayang kedua orangtuanya. Lebih parah lagi mereka sepertinya tidak terlalu siap melakukan perjalanan jauh dengan balita yang mestinya butuh persiapan lebih misal baju hangat dan makanan/minuman yang siap setiap saat dibutuhkan. Hadoh, walaupun menikah muda mestinya mereka siap dengan konsekuensinya ya. Jangan-jangan mereka tidak pernah memikirkan itu sebelumnya ya. Capek deh …

Pengalaman Traumatis

MI3.2-S2-ZA2.2

image
Laut berbeda dengan kolam renang

Seorang perempuan muda usia 30-an sudah bersiap dengan baju renang, kacamata dan masker snorkling. Perahu motor yang membawa rombongan ke lokasi snorkling pun melaju, tidak sampai 30 menit sudah sampai di tujuan. Segera saja beberapa orang yang juga sudah siap untuk snorkling menceburkan diri ke laut dan mulai sibuk dengan kacamata juga masker mereka. Sementara itu si perempuan tadi tampak ragu-ragu meskipun beberapa perempuan lain juga sudah siap untuk ikut turun ke air.

Sang guide sudah lebih dulu berenang menyusul mereka yang tampak sudah mulai menjauh dari perahu. Orang yang ditugasi sang guide menurunkan tangga kayu lalu mengikatnya di perahu untuk naik turun. Perempuan tadi memilih sisi perahu lain yang tidak dipasangi tangga lalu menceburkan diri ke laut … byur. Si perempuan buru-buru berpegangan sisi perahu seraya berkata kalo dia lupa melepas jam tangannya. Seorang yang ada di atas perahu lalu memegangi tangan perempuan tadi lalu melepas jam tangannya.

Sejenak perempuan muda itu berusaha menguasai keadaan dan melepaskan tangannya dari sisi perahu, tapi tidak sampai 5 menit dia lalu berkata dengan cemas ingin naik ke atas perahu saja. Seorang perempuan lain yang turun ke air berbarengan dengannya berusaha membantu, ia meminta tolong orang-orang yang di atas perahu untuk menarik si perempuan ke atas. Ternyata meski badannya tidak gemuk dan juga tidak tinggi si perempuan tidak bisa ditarik hanya oleh 1 orang, dan ketika seorang yang lain membantu perempuan itu akhirnya bisa juga naik ke atas perahu.

Perempuan muda itu tampak ketakutan, pengalaman tadi sepertinya membuat dia trauma. Laut ternyata sangat berbeda dibanding kolam renang. Meski memakai pelampung, air yang bergelombang membuat badan naik turun seperti akan tenggelam padahal tidak. Saat pelampung dipakai dengan benar maka badan akan mengapung di air dengan posisi 2/3 di dalam air, dada ke atas di atas air. Kecuali pelampung kendur sehingga ia naik ke badan atas sehingga badan agak lebih tenggelam tapi tidak lebih dari leher. Sayang sekali, kesempatan untuk snorkling di laut lepas kandas karena kesalahan pemakaian pelampung dan ketiadaan guide sebagai instruktur di saat dibutuhkan. Keingintahuan yang menggebu berganti trauma yang tentu akan butuh waktu dan proses untuk menghilangkannya.

Yang Dibonceng Biker Jakarta …

Biker tidak selalu memboncengkan penumpang, apalagi cewek cantik. Sering saya lihat biker dengan berbagai hal di jok belakangnya. Apakah Anda juga sering melihat yang begini?

image
Berapa telur yang dibawa ya?

Masih ada yang lain lho. Ini dia, pasar sayur berjalan.

image
Bang ... hati-hati wortelnya loncat!

Good father 🙂

image
Sayang anak ... sayang anak!

Yang ini bukan tentara lho …

image
Kombinasi aman: tabung gas dan galon air

Bersambung …

Cincin Siapa Ini?

image
Penerbangan yang Dibatalkan

Pembatalan Pesawat
Sepekan lalu saya pulang dari dinas ke Makassar. Mestinya saya naik Garuda penerbangan pukul 16.00 WITa, ternyata pesawatnya batal karena ada kerusakan dan baru bisa terbang lagi keesokan harinya. Terjadilah kepanikan di antara kami para penumpang terutama yang ada jadwal padat di Jakarta hari itu atau besok pagi. Saya sendiri baru pertama kali mengalami pembatalan pesawat seperti ini, kalo keterlambatan sih sering. Tapi saya berusaha untuk memahami situasinya, terlebih karena saya tidak dikejar apapun kecuali tentu rasa kangen pada keluarga di rumah. So, saya santai saja sementara para penumpang lain mulai berteriak bahkan hingga menarik-narik petugas maskapai.

Sejam menunggu kepastian kami diberikan dua alternatif: berangkat dengan Garuda esok hari dengan biaya penginapan dan transport hotel-bandara pp. ditanggung atau berangkat hari itu dengan pesawat lain. Saya putuskan mengambil alternatif kedua meski tanpa penggantian selisih harga tiket atau sekedar snack/makanan karena keterlambatan. Beruntung buat saya dan beberapa penumpang lain, pihak Garuda mendapatkan tiket pesawat lain sebagai pengganti meski baru berangkat pukul 19.00 WITa. Waktu yang tersisa saya manfaatkan untuk menikmati indahnya bandara internasional Sultan Hasanudin meski sayang sudah mulai kurang terawat. Satu jam keterlambatan tanpa pemberitahuan akhirnya pesawat pengganti bersiap berangkat ketika jam menunjukkan pukul 19.50 WITa. Semoga selamat meski terlambat …

image
JT873 Makassar-Jakarta
image
Kursi 37E Lion Air

Cincin di Lantai Pesawat
Saya mendapatkan kursi nomor 37E, beberapa baris dari pintu darurat. Baru duduk dan memakai sabuk pengaman sekelebat saya melihat sebentuk cincin di lantai pesawat, persis di depan kursi 37F samping kursi saya di bawah jendela pesawat. Langsung saja saya ambil cincin itu. Bukan cincin yang baru sepertinya tapi karena itulah mungkin bernilai terutama bagi pemiliknya. Berikut ini foto-fotonya, apakah Anda pemiliknya?

image

image

image