Musholla Ideal (Bag. 2 – Habis)

Sedih, Ramadhan tinggal sehari atau 2 hari lagi. Ke mana aja saya sebulan ini? Duh… target mana target. Insidently, saya kembali lagi tidak bisa mengejar target yang saya buat sendiri. Sungguh ini awalan yang kurang bagus untuk menulis tema di atas, tapi apa boleh buat the post must go on.

Mengejar Laily. Subtema ini agak nyerempet bahaya, tapi biar saya semangat nulisnya terusin deh. Ingatan saya terbang ke masa-masa SMA, hampir 20 tahun lalu. Waktu itu saya mulai mengenal Islam dengan lebih serius, tapi saat itu juga saya mulai tertarik dengan makhluk yang halus-halus (pastinya bukan hantu).

Tersebutlah sebuah nama di suatu kelas yang jauh dari kelas saya, Laily. Asli … bahkan sampai hari ini saya cuma kenal wajah dan tau alamat rumahnya dulu (selain itu blank). Tapi saat itu, cukup buat saya memimpikan yang indah-indah di sepanjang hari saya hingga saya tersadar. Memang cinta (meski monyet) sanggup menggerakkan seseorang berbuat yang di luar batas kewajaran, termasuk pada saya he he he …

Ya itu cerita lama, sekarang saya mo fokus pada hal yang pertama: Islam. Dengan modal pengetahuan yang minim tapi dengan semangat membara saya terus berusaha menjaga ketertarikan saya pada agama ini sampai saat ini. Sehingga alhamdulillah saya tidak lagi ingin mengejar Laily tapi saya ingin menikmati lail yang lain: Lailatul Qodar. Ya, saat-saat menjelang akhir Ramadhan seperti sekarang ini saya ingin memutar kembali waktu 20 tahun ke belakang agar bisa mengejarnya. Ya Allah …

Kira-kira apa hubungan musholla ideal dengan lailatul qodar? Saya sedang memikirkannya sambil menulis post ini. Beberapa saat sebelum Ramadhan memasuki asyrul awakhir (10 hari terakhir), seseorang mem-BC sebuah tulisan tentang bolehnya melakukan i’tikaf di musholla (bukan masjid jami’) dan di malam 25 saya mendengarnya langsung dari ustadz pengisi ceramah di suatu masjid terkait hal tersebut. Dari situ saya akhirnya memutuskan menghabiskan malam-malam terakhir yang tersisa di musholla dekat rumah karena beberapa alasan.

Nah, musholla yang dikenal di sini karena tidak digunakan untuk sholat Jum’at juga tidak dijadikan sasaran tempat i’tikaf. Mungkin ada yang nekat i’tikaf di musholla meski banyak yang menganggap tidak sah, tapi sudah selayaknya musholla dan masjid melengkapi fasilitasnya untuk jama’ahnya yang ingin mengoptimalkan ibadah di bulan Ramadhan. Fasilitas apa saja yang semestinya ada di bulan Ramadhan?

Fasilitas Musholla Ideal. Musholla sebagai tempat ibadah sekaligus aktifitas lain yang berhubungan dengan bidang pendidikan, sosial dan keagamaan sebaiknya dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang memadai. Untuk urusan peribadatan misalnya, musholla yang ideal menyediakan ruang sholat yang nyaman baik bagi jama’ah putra maupun putri. Nyaman tidak berarti harus mewah, tetapi setidaknya bersih, rapi dan aman. Karpet sholat, pendingin ruangan (kipas angin atau AC), sound system, dan tempat wudhu. Khusus untuk tempat sholat putri, sebaiknya diberikan pemisah/hijab, perlengkapan sholat/mukena, dan tempat wudhu terpisah.

Untuk aktifitas lain seperti majelis ta’lim atau TPA butuh buku, kitab, dan referensi acuan untuk mendukung pembelajaran. Sebagai fasilitator majelis ta’lim, perlu juga disediakan guru/ustadz/ustadzah yang kompeten dan komit terhadap jama’ah.

To be continued…

Iklan

Musholla Ideal (Bagian 1)

Tidak terasa Ramadhan 1438 H sudah masuk hari ke-9, betapa cepatnya waktu berlalu… apa saja yang sudah kita lakukan selama bulan suci ini. Masyaa’Allaah

Ada yang berbeda di Ramadhan tahun ini… anggota keluarga saya bertambah dengan kehadiran Fia. Di hari kedua Ramadhan, tepatnya Ahad pekan lalu istri saya melahirkan putri pertama kami (sekaligus anak keempat saya). Setelah menjalani proses persalinan normal selama hampir 12 jam, akhirnya istri harus menjalani operasi cesar. Lahirlah Shofia Zahra Ramadhani, 3 kg 47 cm dengan bantuan dokter Dewi di RS. GPI. Alhamdulillaah … cerita terkait saya tuliskan di sini.

Sepekan terakhir rencana padat saya mengisi Ramadhan dengan berbagai amaliyah sedikit tergeser dengan “agenda dadakan” atas kelahiran Fia. Agak tertinggal memang, tetapi bukan saatnya untuk mengeluh sekarang karena Ramadhan terlalu sayang untuk dilewatkan tanpa perjuangan kan. Saatnya menata kembali agenda meraih Ramadhan Terbaik. Eh … saya jadi lupa mo nulis apa he he he gagal fokus.

Seperti tahun-tahun lalu, menjelang dan selama bulan puasa selalu ada keseruan terkait pengurusan musholla kami, Nurul Iman. Tahun ini lebih seru lagi karena kami… lebih tepatnya saya kurang memerhatikan waktu persiapan Ramadhan, jadilah pengurus belum ada persiapan bahkan ketika hadirnya tinggal beberapa hari. Untung saja hal yang bisa dilakukan dadakan seperti kerja bakti membersihkan musholla tetap berjalan sehingga tidak seperti tahun lalu yang minim peserta. Padahal kami bahkan telah melakukan pengecatan ulang dinding musholla dan kusen di dua pekan sebelum Ramadhan. Di sinilah kemudian muncul sedikit permasalahan, sebagian jama’ah musholla mempertanyakan dari mana dana pengecatan itu mengingat kas musholla yang “biasa” minim. Duh … yang begini ini kadang bikin emosi, tapi memang mesti disikapi secara positif. Mengapa? Karena itu hak jama’ah mengetahui aliran dana musholla, dan kewajiban pengurus untuk menyampaikan secara akuntabel dan transparan. Inilah azas yang perlu dipahami oleh Musholla Ideal.

Setiap organisasi masyarakat mempunyai kewajiban menyampaikan kepada masyarakat secara akuntabel dan transparan terkait pengelolaan dana dari masyarakat, tidak terkecuali musholla.

Nah … akhirnya dengan usaha maksimal, kami menyusun laporan keuangan peningkatan sarana prasarana musholla lalu menyampaikannya di malam pembukaan sholat Tarawih. Semoga seluruh jama’ah memahami dan memakluminya. Pengurus juga manusia…

Cerita musholla ideal berikutnya ada di sini. Marilah kita optimalkan interaksi kita dengan masjid/musholla di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Salam Ramadhan Terbaik

Info Masjid (1)

Jika Anda sedang melintasi Jalan Sawangan Raya dari atau menuju Jalan Nusantara dan saat itu waktu sholat maka Anda bisa berhenti untuk menunaikan sholat di Masjid Nurul Islam. Lokasinya di pinggir Jalan Mangga Raya sekitar 15 meter ke Barat dari persimpangan Jalan Rambutan Raya dan Jalan Mangga Raya. Insya’Allah Anda tidak akan kesulitan  menemukannya bahkan tanpa menggunakan peta sekalipun.

Fasilitas Masjid

Masjid Nurul Islam adalah masjid jami’, artinya di masjid ini diselenggarakan sholat berjama’ah 5 waktu dan di hari Jum’at diselenggarakan sholat Jum’at. Kapasitas/daya tampung masjid ini cukup besar, sekitar 600 jama’ah. Terdiri dari 2 lantai, di waktu sholat fardhu selain Jum’atan yang digunakan hanya lantai utama dengan jama’ah putri/akhwat di belakang jama’ah putra/ikhwan dibatasi dengan hijab tidak permanen.

Tempat wudhu dan toilet baik untuk ikhwan maupun akhwat terletak di sudut Barat Laut masjid. Tempat wudhu tambahan ada di bagian depan Tenggara masjid khusus untuk ikhwan.

Tempat parkir motor terletak di Utara masjid, sedangkan parkir mobil belum tersedia. Bila Anda membawa mobil maka bisa titip parkir di parkir minimarket di dekat masjid atau di pinggir jalan depan masjid.

Masjid ini dilengkapi dengan karpet tebal yang nyaman dan pendingin ruangan berupa kipas angin dan AC. Juga tersedia sarana multimedia berupa televisi LCD di dua sisi dinding Barat masjid. Sound system masjid juga cukup bagus dengan kualitas suara yang jernih.

Marilah kita ramaikan masjid dengan sholat fardhu 5 waktu secara berjama’ah.