Naik Turun…

Ya begitulah…

Saya tidak sedang ingin nulis tentang statistika blog, itu cuma ilustrasi saja. Hidup ini naik turun, seperti gambar di atas. Gini-gini… sdh lamaaa banget saya gak nulis di blog. Sekali nulis, 3 hari yang lalu statistikanya langsung naik. He he he…

Jadi apa kira-kira kesimpulannya? Simple aja, take the action then you’ll see the difference. Berani…?

Iklan

Ramadhan dan 3 Tipe Manusia

image

Ramadhan Karim…

Ada 3 tipe manusia menghadapi Ramadhan, bulan yang mulia. Demikian disampaikan Prof. Dr. Kalamullah Ramli dalam Kultum Tarawih beliau di masjid Ukhuwwah Islamiyyah malam ini. Beliau membuka tausiyahnya dengan membacakan nasihat Rasulullah kepada para sahabat menyambut datangnya Ramadhan.

Ketiga tipe manusia tersebut diuraikan beliau sbb.:
1. Manusia yang tidak terpengaruh.
Ramadhan yang hadir tidak mengubah perilakunya sama sekali. Mereka tidak senang kedatangan bulan suci ini dan bahkan tetap bermaksiat kepada Allah. Mereka ini adalah golongan orang yang merugi seperti yang disebut oleh Rasulullah, yang tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.
2. Manusia yang biasa-biasa saja.
Mereka menyambut Ramadhan dengan ibadah, tapi kadarnya sama saja dengan hari-hari biasa. Tidak ada peningkatan dalam ibadahnya sehingga yang membedakan hanya mereka berpuasa dan tarawih saja.
3. Manusia yang berusaha keras.
Ramadhan dianggap sebagai momentum langka yang mungkin tidak akan berulang. Mereka bergembira dan bersemangat mengisinya dengan ibadah yang jauh lebih baik dibanding bulan-bulan sebelumnya. Bulan puasa diisi tidak hanya dengan puasa dan tarawih tetapi juga dengan tilawah, shodaqoh, ta’lim dan banyak ibadah lainnya. Mereka inilah golongan manusia yang beruntung, sebagaimana sabda Rasulullah yang menyebutkan bahwa barangsiapa yang puasa/tarawih di Ramadhan dengan iman dan bersungguh-sungguh maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Di akhir kultumnya, Pak Muli mengajak jama’ah tarawih malam itu untuk menentukan target ibadah Ramadhan lalu mengejarnya dengan sungguh-sungguh meski capek dan mengantuk. Beliau mengingatkan bahwa boleh jadi ini Ramadhan terakhir kita, dan di akhir hayat hanya 2 hal yang kita inginkan yaitu surga Allah dan pembebasan dari api neraka. Semoga kita termasuk dalam golongan manusia yang beruntung.

Ramadhan Karim

Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar. Allahumma sholli wasallim wabarik ‘ala Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

Tiada terkira bahagianya saya bisa berjumpa lagi dengan penghulu bulan, Ramadhan Karim. Nikmat kesempatan ini tidak semua orang mendapatkannya, tidak istri saya (almarhumah) dan tidak pula guru saya (almarhum). Dan bahkan banyak orang sholih yang dipanggil Allah sebelum Ramadhan datang menghampiri.

Tapi bukan manusia jika sekedar menyadari hal itu lalu tidak berbuat apa-apa. Saya boleh saja merasa sedih tahun ini tidak menjalani Ramadhan bersama sang kekasih yang lebih dari satu dekade terakhir menemani hari-hari saya. Cuma, apa yang akan saya dapatkan jika hanya bersedih? Boleh jadi lagi-lagi saya akan melewatkan Ramadhan tahun ini dengan sia-sia. Karenanya saya harus move on … titik.

Agak berbeda memang semangat saya menyambut Ramadhan tahun ini jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini saya tidak merumuskan target … lebih tepatnya belum he he he. Sedangkan tahun-tahun kemarin saya sepertinya mempunyai target, sebagaimana tips dan trik Ramadhan di sini. Mungkin ini karena saya sedang penyesuaian dengan kondisi keluarga saya yang baru.

Baiklah, apapun kondisi kita saat ini … mari kita optimalkan pendekatan kita kepada Allah mulai dari sekarang. Karena Allah mencintai orang-orang yang berusaha mencintai-Nya. Dan kebahagiaan sejati sesungguhnya adalah mendapatkan kasih sayang dari sang Kekasih.

Ya Allah … jadikan Ramadhan kami tahun ini semakin mendekatkan diri kami kepada-Mu, hingga akhir hidup kami. Aamiin …

Memaknai 11 Tahun Kebersamaan

image

Hari ini tepat 11 tahun saya dan istri mengikat janji setia dalam sebuah akad pernikahan. Masih hijau memang untuk niatan terikat dunia-akhirat, tapi bukan waktu yang singkat bagi kami masing-masing menemukan arti tujuan kebersamaan ini. Dan bahkan ketika sudah lewat satu dasawarsa kami membangun rumah tangga, saya dan istri masih terus mencari format terbaik mewujudkan sakinah mawaddah warahmah.

Banyak hal yang sudah kami lalui bersama, ada suka juga duka, kadang tangis juga canda tawa. Meski mungkin masih banyak hal yang belum kami alami, serta cita dan harapan yang belum kesampaian, tapi semua yang ada sekarang telah mendewasakan kami. Dan kami masih terus berproses untuk semakin dewasa setiap harinya…

Yang pasti hanya kalimat syukur sajalah yang pantas kami ucap saat ini dan seterusnya, sebagai bagian dari penghambaan kami pada Allah Rabbul ‘Izzati atas segala nikmat yang diberikan.

Alhamdulillah… Ya Allah, telah Kau limpahkan nikmat-Mu pada kami: usia, kesehatan, anak-anak, harta-benda, kesempatan, ujian, dan nikmat-nikmat yang tidak akan mampu kami sebutkan satu persatu bahkan hingga sampai ajal kami. Maka jadikan kami hamba-hamba yang selalu mensyukuri nikmat-Mu. Aamiin

.

Istriku, terimakasih atas cinta, kasih sayang, pengertian, kesetiaan, kesabaran dan semua yang telah kau berikan padaku. Dan karenanya sudah sepantasnya aku menempatkan dirimu sebagai wanita kedua di hatiku. Semoga kelak kau akan menjadi permaisuriku di surga, insya’Allah…

Depok, 21 September 2014

Cita-cita, Harapan dan Angan-angan

Sewaktu kecil setiap orang pasti punya cita-cita. Waktu SD dulu cita-cita saya adalah dokter. Saya tidak tahu dari mana munculnya cita-cita itu karena tidak ada satupun di lingkungan keluarga besar saya yang menjadi dokter. Mungkin cita-cita itu muncul dari harapan orangtua saya, mereka mungkin punya keinginan salah satu anaknya bisa menjadi dokter. Dokter adalah profesi yang terhormat di lingkungan masyarakat pada umumnya sehingga tidak heran bila banyak orangtua yang berharap anaknya menjadi dokter kelak ketika dewasa.

Semasa SMP ketika ada formulir dari guru BP, saya mengisi cita-cita saya: Ulama dan Pengusaha. Ini jelas berbeda dengan cita-cita saya waktu SD. Tapi dari mana datangnya cita-cita itu? Saya yakin ini bukan dari orangtua saya karena bahkan ketika SMP saya ditawari untuk melanjutkan sekolah di pesantren tapi saya menolak. Saya merasa tidak akan betah dengan kehidupan pesantren apalagi selama  ini saya tidak pernah tinggal jauh dari orangtua. Di SMP saya mulai bergaul dengan teman-teman secara intens dan mereka adalah anak-anak yang orangtua mereka paham terhadap agama. Teman-teman saya ini mendapatkan pembinaan agama dari orangtuanya dan diberi fasilitas untuk belajar agama lebih banyak dari keluarga lain. Karena itulah mungkin muncul di benak saya cita-cita untuk menjadi ulama itu karena sering berinteraksi dengan orangtua teman-teman. Pengusaha? Nah yang itu belum jelas. Mungkin karena ayah dan ibu saya berwirausaha.

Sebagian dari kita punya cita-cita yang statis, sejak SD sampai kuliah cita-cita sama sehingga akhirnya betul-betul terwujud. Tapi sebagian yang lain tidak, seperti saya yang cita-cita SD hingga kuliah tidak sama. Kalo ditanya sekarang cita-cita saya apa, maka saya akan bilang: tukang sampah dan marbot masjid. Padahal saya kuliah di kampus sains, fakultas teknik, jurusan dan peminatannya pun engineering. Kenapa bisa begitu? Entahlah saya pikir karena ketika muda kita idealis, tapi semakin dewasa kita makin realistis. Idealis menuntut orang menunju pada hal yang detil, pasti dan khusus. Sedangkan realistis menempatkan cita-cita pada tempatnya dan harapan pada tempatnya, sesuai situasi dan kondisi yang ada sehingga boleh jadi lebih umum dan tidak pasti.

Waktu kecil bercita-cita menjadi dokter tentu menyenangkan karena bisa mengobati orang sakit. Orangtua juga berharap anaknya menjalani profesi yang menjamin kemakmuran anaknya. Keduanya berujung pada kebahagiaan. Menjadi ulama adalah cita-cita yang muncul dari contoh di keluarga lain di mana anak-anaknya menjadi anak yang tidak hanya cerdas tapi juga berakhlak baik. Sedangkan pengusaha lagi-lagi contoh dari orangtua di mana kesejahteraan menjadi terjamin. Keduanya berujung pada kebahagiaan. Bagaimana dengan tukang sampah dan marbot masjid? Menurut Anda sekarang saya sedang bercita-cita, berharap, atau berangan-angan?

Wallahu a’lam…

Beratnya Subuhan Berjama’ah …

Pagi tadi udara terasa begitu dingin. Memang sejak dua hari lalu cuaca Jakarta dan sekitarnya hujan rintik-rintik hampir seharian. Kadang-kadang cuaca terang lalu hujan deras, seperti kemarin pagi saat orang-orang berangkat kerja. Siangnya hujan berhenti, sore malam hingga dini hari tadi hujan rintik kembali turun. Walhasil saat adzan Subuh berkumandang, suasana pun begitu lengang. Bila saja tidak ada pakdhe kontrakan, bisa-bisa musholla samping rumah saya tak ada sholat berjama’ah.

Memang dinginnya udara pagi menguji kemauan untuk bangun dan bergegas menuju masjid/musholla untuk sholat berjama’ah. Secara naluri, saat tidur dan udara makin dingin maka refleks yang bekerja adalah menarik selimut dan kembali mendengkur. Mungkin ini pula yang menjadi sebab Rasul SAW. menyebut sholat Subuh sebagai kewajiban yang berat untuk dilakukan kecuali bagi orang-orang beriman. Karena hanya orang yang benar-benar yakin akan kehidupan sesudah mati saja yang akan memenuhi panggilan Sangkhalik di saat cuaca lebih enak untuk melanjutkan tidur.

Ala bisa karena biasa … Ini pepatah yang tepat untuk menggambarkan suasana sholat Subuh di masjid/
musholla. Orang-orang yang hadir sholat Subuh berjama’ah umumnya adalah yang terbiasa hadir untuk sholat di masjid/musholla. Bahkan tidak semua orang yang rajin sholat berjama’ah di siang dan malam hari mampu selalu hadir dalam sholat Subuh berjama’ah. Brrrr … dinginnya air saat berwudhu dan berdiri sholat Subuh sungguh menyiksa bagi orang yang belum terbiasa.

Saya jadi berfikir tentang makna dibalik kalimat adzan Subuh yang tidak ada di adzan waktu-waktu yang lain. Ashshalatu khairum minannaum … Sholat itu lebih baik dari tidur. Allah SWT. menjanjikan pahala yang sangat besar bagi orang-orang yang sholat Subuh berjama’ah sehingga Rasul SAW. menyebutkan bahwa jika saja manusia tau rahasia di balik sholat Subuh berjama’ah maka mereka akan menghadirinya bahkan meski harus merangkak.

So, siapa yang suka dengan tantangan? Bila Anda suka, maka mendisiplinkan diri sholat Subuh berjama’ah di masjid/musholla adalah tantangan seumur hidup yang bonusnya tidak akan Anda sesali bahkan ketika ruh pergi dari jasad. Wallahu a’lam

H29 Ramadhan | Catatan Akhir Bulan Seribu Bulan

M3.2-I4.2-T11-2.S2-D4-2.Z4.2-A4-T

Allahu akbar allahu akbar! …

Adzan Maghrib berkumandang di seantero negeri dan berakhirlah Ramadhanku. Kurasa bukan akhir terindah, bukan pula Ramadhan terbaik … tapi selalu ada hikmah di setiap fase waktu. Begitu juga dengan Ramadhan tahun ini.

Diawali dengan persiapan yang kurang matang meski pemanasan telah dilakukan. Amal jama’i pun terkesan agak mendadak disiapkan, mungkin karena kesibukan. Bahkan target-target pribadi dan jama’i tak sempat dirinci hingga terlewat beberapa hari. Kini saatnya untuk menyesali, bukan (hanya) untuk ditangisi tapi untuk mawas diri agar tidak terulangi.

Ramadhan tahun ini untuk saya permulaannya cukup terjaga, target-target rutin terpenuhi meski tetap (saja) ada yang terlewatkan. Sholat berjama’ah, tarawih, juga tilawah masih dalam kategori wajar. Meski di akhir permulaan beberapa tantangan muncul dan mulai membuyarkan konsentrasi.

Pertengahan Ramadhan ada kegiatan ekstra yang tidak bisa dihindari memangkas kewajiban puasa beberapa hari. Meski dibolehkan berbuka saat shafar, tetap saja ada rasa “sayang” yang mengganjal di hati. Apa boleh buat mesti dijalani meski saya “setengah yakin” akan ada target lain yang terlewatkan. Selain target sholat berjama’ah di masjid yang jeblok, tilawah saya keteter hingga sepuluh juz lebih. Astaghfirullah … pengorbanan yang terlalu besar untuk sebuah perjalanan jauh.

Ada cerita, ada hikmah, ada nikmat yang bisa dibagi … tapi ada juga aib yang tak pantas dibagi bahkan ketika ingin memberi peringatan untuk orang lain. Sudah sepantasnya saya bersyukur dengan hal yang di atas dan bertobat untuk hal yang di bawahnya.

Sepuluh hari terakhir … atau lebih tepatnya sembilan hari terakhir Ramadhan ini boleh jadi adalah yang terbaik sepanjang hidup saya. Mengapa? Karena hampir-hampir saya mengisi seluruh malam ganjilnya untuk beri’tikaf bersama keluarga. Alhamdulillah … Kalo di tahun-tahun sebelumnya saya puas dengan (hanya) beri’tikaf sendiri saja, maka ketika bisa melakukannya dengan orang-orang tercinta saya rasa ini adalah hal yang lebih indah. Semoga di tahun-tahun ke depan saya kembali bisa mendapatkan kesempatan dan kenikmatan yang sama.

Hampir tengah malam saat saya menyelesaikan tulisan ini. Takbir dan tahmid masih bergema di langit kota, sesekali diselingi riuh rendah suara petasan dan kembang api. Tahun ini satu hal lagi yang mesti disyukuri oleh saya dan umat Islam pada umumnya. Sebagian besar kaum muslimin di Indonesia akan merayakan Idul Fitri secara bersama-sama meski startnya berbeda.

Allahu akbar allahu akbar walillahilhamd!

H15 Ramadhan | Ya Allah Lindungilah Hamba …

MI3.2-T11-S2-ZA2.2-T

Sudah hampir 5 hari saya meninggalkan istri dan anak-anak untuk urusan pekerjaan. Komunikasi pun agak tersendat karena rencana saya untuk memakai nomor lokal belum bisa direalisasikan. Fasilitas hotspot (WiFi) yang saya harapkan diberikan free oleh pihak penyelenggara juga tidak saya dapatkan. Sehingga satu hari lebih bahkan hampir 2 hari saya putus komunikasi dengan istri dan anak-anak. Ketika begini baru berasa betapa nilai komunikasi begitu besar. Huff

Meski begitu ada kesempatan di awal-awal kegiatan untuk sekedar chatting dengan istri dan anak-anak memanfaatkan kelengahan penyelenggara. Dan akhirnya bisa telpon dengan nomor lokal pinjaman meski hanya setengah menit dan anak-anak sudah tidur. Hal yang cukup menyejukkan di tengah kering dan gersangnya hati akibat jauh dari orang-orang yang disayangi.

Saya bersyukur karena untuk urusan makan, minum, akomodasi bahkan transportasi sudah ditanggung oleh teman-teman di sini. Namun, sebagai laki-laki normal saya tentu mempunyai kebutuhan yang sama dengan manusia lain yang belum terpenuhi yaitu cinta. Cinta yang tidak hanya sekedar diekspresikan dengan teks dan lisan tetapi juga dengan sikap dan tingkah laku. Sesuatu yang sulit saya dapati saat jauh dari keluarga. Hiks

Dan dijadikan indah di mata laki-laki, perempuan (istri) dan anak-anak. Ketika mereka berjauhan maka akan ada perempuan lain yang menjadi indah di matanya meski ia sadar ini adalah fitnah. Ya, fitnah yang boleh jadi lebih kejam dari pembunuhan. Entah memang didorong nafsu atau bujukan setan, yang mestinya ia tidak kuat karena sedang diikat, maka persepsi keindahan atas perempuan selain istri bisa menjadi sangat dominan. Terlebih ketika perempuan itu bersikap terbuka dan tidak memberi batasan yang tegas. Jadilah kesempatan muncul dalam kesempitan, maka hanya iman sajalah yang akan memberi warning atas setiap perilaku berlebihan. Dan hanya Allah semata Yang bisa memberi keselamatan.

Ketika iman menurun hingga titik nadzir, Rasul berpesan untuk mengikuti sunnahnya. Ini tentu bukan tanpa sebab dan tujuan. Ketika iman menipis maka batasan yang haq dan yang bathil menjadi kabur. Ibarat domba yang makan rumput di pinggir jurang, ketika tidak hati-hati maka ia akan jatuh hanya karena menginginkan tanaman merambat yang tumbuh di dinding jurang. Domba itu tau bahaya berada di tepi jurang, maka hanya kebodohan saja yang mendorong ia mengejar makanan yang bukan haknya. Naudzubillahi min dzalik …

Ya Allah … Ya Rabbi
Engkau MahaTau dan MahaMelihat
Engkau mengetahui isi hati ini
Dan Engkau melihat perbuatan hamba-Mu

Ya Allah … Ya Rahman
Engkau berikan kasih-Mu
Bahkan kepada hamba-Mu yang ingkar
Jangan biarkan hamba ini
Menjadi kufur atas segala nikmat-Mu

Ya Allah … Ya Rahim
Begitu besar rasa sayang-Mu
Pada hamba yang pasrah pada-Mu
Meski hamba penuh dengan dosa

Ya Allah … Ya Ghofur
Ampunanmu seluas langit dan bumi
Meski dosa hamba-Mu memenuhi gunung dan lautan
Maka ampunilah hamba ini

Ya Allah … Lindungilah Hamba

H-1 Ramadhan | Ketika Materi Tak Lagi menjadi Orientasi

Barangsiapa mengejar dunia
Maka ia akan menjadi pelayannya
Tapi barangsiapa mengejar akhirat
Maka dunia akan melayaninya

Kalimat di atas dulu sering saya dengar dari seorang ustadz kondang. Sekarang sedikit banyak saya bisa melihat sendiri kebenaran nasihat itu dalam dunia nyata. Betapa banyak orang yang hidup untuk kerja (istilah kerennya workaholic) seperti yang dinisbatkan pada orang  Jepang, orang China atau orang Jakarta. Pagi, siang, malam kerja banting tulang. Kaki jadi kepala, kepala jadi kaki. Semua dilakukan untuk satu tujuan kecukupan materi alias UANG.

Memang tidak bisa dinafikan bahwa setiap orang hidup tentu membutuhkan uang untuk menyambung hidup, memenuhi kebutuhan hingga mendapatkan kesenangan. Tidak peduli apakah orang itu miskin atau sudah berlimpah materi, bekerja adalah aktifitas yang bertujuan untuk mendapatkan uang.

Tapi tidak semua orang sama, termasuk untuk hal di atas. Ada bahkan banyak orang-orang yang hidupnya tidak terdominasi oleh orientasi uang. Sebagian di antara mereka mungkin memang sudah memiliki harta atau penghasilan yang jauh melebihi kebutuhannya, tapi sebagian yang lain bahkan tidak bisa dibilang berkecukupan. Untuk model yang pertama mungkin sesuai dengan teori Maslow bahwa manusia akan naik peringkat ketika orientasi kebutuhannya berubah karena yang mendasar atau di bawahnya telah terpenuhi. Tapi bagaimana dengan yang kedua?

image
Sumber gambar: novia01.blogspot.com

Kebutuhan psikologis manusia yang digambarkan oleh Maslow boleh jadi adalah kebutuhan rata-rata atau kebanyakan manusia di masa dan lingkungan Maslow saat itu. Teori itu tidak salah cuma iya menyisihkan kondisi-kondisi spesial yang mungkin ia temui dalam penelitiannya. Seperti halnya di bulan Ramadhan ini.

Siapa menyangkal kebutuhan bahan makanan, pakaian, perabot dan bahkan kendaraan akan meningkat secara signifikan. Tentu tidak ada, tapi sebagian dari masyarakat dengan tingkat kebutuhan materiil yang bertambah itu mungkin tidak menjadikan itu sebagai hal yang utama. Mereka malahan banyak meninggalkan keramaian dan hiruk pikuk pasar/bisnis lalu menggantikannya dengan banyak menghabiskan waktu di masjid atau majelis ilmu. Dan tidak umum seperti orang-orang yang semakin mendekati akhir Ramadhan semakin berorientasi pada materi, mereka malahan menghabiskan hampir seluruh waktunya berdiam diri di masjid untuk ber-taqarub ilallah.

Seperti telah disampaikan oleh Rasulullah SAW. bahwasanya Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali (asing), sebagaimana ia muncul dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang asing. Asing di sini bukan orang luar, tapi asing di sini berarti aneh atau tidak umum. Ya, dan yang aneh itulah yang sering menjadi sasaran diskriminasi oleh bagian besar masyarakat tidak terkecuali para filsuf dan pakar yang meneliti kondisi masyarakat. Mungkin karena jumlah yang minoritas, boleh jadi tapi semestinya itu menjadi catatan sehingga setiap pembelajar akan mengetahui pengecualian-pengecualian yang ada.

Kembali ke orientasi. Nah, di bulan Ramadhan yang tinggal beberapa waktu lagi akan hadir ini kira-kira apa orientasi kita? Saya sendiri baru menyusun nih, apa saja yang ingin saya wujudkan di bulan penuh berkah ini. Berikut daftarnya, dan silakan Anda buat sendiri daftar orientasi selama Ramadhan ini. Selamat berpuasa!

1. Berpuasa penuh; #ini mah cemen# gak juga tuh karena akan ada tantangan di hari-hari ke depan di mana ruhshoh bisa menjadi pilihan.
2. Menghilangkan atau setidaknya mengurangi secara signifikan perbuatan sia-sia; banyak hal ini … jadi mesti sabar karena sebulan itu sangat pendek.
3. Mengkhotamkan Qur-an minim sekali dengan artinya; yang pertama mungkin sudah biasa tapi yang kedua itu cukup menantang.
4. Processing …