Naik Turun…

Ya begitulah…

Saya tidak sedang ingin nulis tentang statistika blog, itu cuma ilustrasi saja. Hidup ini naik turun, seperti gambar di atas. Gini-gini… sdh lamaaa banget saya gak nulis di blog. Sekali nulis, 3 hari yang lalu statistikanya langsung naik. He he he…

Jadi apa kira-kira kesimpulannya? Simple aja, take the action then you’ll see the difference. Berani…?

Iklan

Belajar Baca-Nulis (Lagi)

Saya mulai menulis blog ini beberapa saat sesudah kelahiran putra kedua saya (hampir delapan tahun lalu). Waktu itu saya sedang kuliah, dan aktif berlanjut sampai sebelum saya mulai aktif mengajar di kampus. Seiring aktifitas saya sebagai pengajar itulah kira-kira saya jadi agak malas menulis. Entah karena jarang punya waktu luang untuk menulis atau memang semangat menulis saya mati eh… mati suri maksud saya. Padahal saat ini, ketika saya sudah memutuskan untuk menjadi full-timer pengajar, menulis menjadi salah satu kewajiban saya. Duh…

Sebenarnya menjadi blogger itu aktifitasnya memang tidak hanya menulis, melainkan membaca juga. Nah ini… yang saya juga menurun sekali semangatnya. Saya ingat dulu waktu masih di SD, mungkin sampe SMA lah, begitu menyukai membaca. Dulu memang belum ada internet, jadi sebagian besar waktu luang saya habiskan untuk membaca wabil khusus komik dan novel he he he… Tapi sejak kuliah hingga sekarang semangat membaca saya menurun drastis. Meski saya masih suka komik dan mungkin juga novel tapi saya jarang sekali melakukannya. Gantinya lebih asik membaca dan menulis di medsos terutama grup-grup Whatsapp. Ups… ini masalahnya.

Sekarang, saat saya sudah hampir 2 tahun bekerja di kampus, saya merasa sudah saatnya saya kembali harus memaksakan diri untuk menjadikan kembali membaca dan juga menulis menjadi hobi saya. Titik.

Saya mesti meluangkan waktu khusus untuk itu dan bukan lagi hanya waktu luang. Sepertinya beberapa menit sebelum tidur bisa menjadi alternatif utama saya untuk melakukannya. Bismillah…

Tentang Chemistry (Bagian 2)

Pemotor yang Termarjinalkan

Sebelum saya lanjut dengan teori saya terkait chemistry (proses kimiawi), saya ingin mengkritisi sedikit sistem yang umum di pusat-pusat perbelanjaan modern (sebut saja mall). Baru-baru ini saya diajak makan bos kecil ke mall di bilangan Cilandak. Saya pernah ke sini sekali, dulu banget… seingat saya waktu saya baru menikah. Kami ke sini sepulang dari kontrol ke RS. Fatmawati, waktu itu kami ke mana-mana naik angkot atau bis kota.

Nah… setelah sekian lama, akhirnya saya balik ke sini lagi. Kali ini saya naik motor dari tempat kerja. Karena belum pengalaman, saya bertanya ke satpam di depan mall di manakah parkir untuk motor. Dengan ramah pak satpam menunjukkan kalo parkir motor sejalan dengan akses parkir mobil: masuk ke kiri lalu turun. Saya ikuti petunjuknya, agak bingung karena baru sekali ke parkir mall ini di basement. Ketemu tempat parkir motor eh ada tulisan khusus member. Oleh petugas di situ saya diarahkan ke parkir motor futsal. Wah… di mana itu? Putar-puter sana -sini, tengak-tengok eh sampe pintu keluar. Nyasar…

Akhirnya sampe juga. Tempatnya di ujung area mall hampir keluar, di seberang lapangan futsal indoor. Jaraknya sekitar 150 meter dari gedung utama mall, dan tanpa atap. Saat itu cuaca masih bersahabat meski sudah mendung, tapi bisa dibayangkan jika turun hujan lebat. Kasihan deh pemotor… Sebagai pengguna motor saya merasa agak didiskriminasi. Meski begitu, satu keuntungannya untuk saya adalah dekatnya parkir motor dengan musholla. Ya sudahlah… mohon maaf jika kurang berkenan.

Uniknya Chemistry Manusia

Pernahkah Anda mendengar nasihat seseorang yang membuat Anda menangis tersedu-sedu. Sadarkah Anda, nasihat itu pernah Anda dengar dari orang lain tapi Anda mengabaikannya? He he he… saya sih sering. Kelumrahan hal inilah, menurut saya, yang menyebabkan banyak orang menasihatkan, jangan lihat siapa yang bicara tapi lihatlah apa yang disampaikan. Benar atau tidak kesimpulan saya ini, silakan Anda menilai sendiri.

Jangankan di organisasi yang cukup besar model kampus saya, bahkan di keluarga kecil saya sekalipun pengaruh chemistry adalah  hal yang biasa. Misal, setiap kali saat sholat fardhu tiba reflek saya mengajak anak-anak untuk menunaikan sholat. Seringkali mereka masih asyik dengan aktifitasnya entah nonton tivi, baca buku atau bermain gadget saat saya sudah selesai sholat. Meskipun beberapa kali saya ingatkan mereka untuk sholat, jarang mereka langsung berangkat. Beda saat yang mengingatkan mama mereka, lebih mudah mereka melaksanakannya. Kalo dibilang kurang tegas sepertinya tidak juga, tidak jarang saya menggunakan nada tinggi komando meski kadang saya menggunakan sikap lembut persuasif. Saya lebih suka menyebutnya chemistry. Mengapa demikian?

Sesuatu yang kita pahami nilainya, baik buruknya bahkan manfaatnya, belum tentu mendorong kita untuk menyetujuinya apalagi melaksanakannya. Tetapi ketika sesuatu itu menyentuh perasaan kita, entah nyaman atau tidak nyaman maka itu lebih mendorong kita untuk menyetujui lalu melaksanakannya. Karenanya kita lebih sering tergoda dengan iklan, promosi, dll. yang mungkin secara riil tidak benar-benar kita perlukan. Chemistry itu bisa muncul dari pandangan, pendengaran, sentuhan meskipun tidak jarang juga muncul dari persepsi bahkan prasangka. Kalo dibilang baper ya mungkin tidak sepenuhnya keliru. Mirip-mirip… tapi tidak persis sama.

Chemistry adalah yang membuat Anda memilih beberapa sahabat dari banyak teman Anda. Chemistry adalah yang mendorong Anda melamar calon istri Anda. Chemistry pula yang mendorong staf Anda bersemangat, sementara saat bos yang lain mereka ogah-ogahan. Memang chemistry bisa dimanipulasi dengan obyek lain tapi yang saya yakini dia lebih kuat ketika muncul dari hati yang tulus dan niat ikhlas.

Sementara sampe di sini dulu ya teori saya tentang chemistry. Bagaimana menurut Anda? Kapan-kapan kita diskusi lagi… terima kasih.  

Membuat SIM A di Pasar Segar (Percobaan #2)

Ini kali kedua saya datang ke Pasar Segar Depok untuk membuat (mengurus pembuatan -red) SIM A. Kali ini sesuai instruksi, saya langsung menuju ke tempat tes praktik. Petugas penguji praktiknya masih sama, sehingga beliau langsung mengenali saya.

Eng ing eng… saya langsung dag dig dug. Sempat ngobrol sebentar dengan mbak-mbak yang sudah ada di situ setelah mengikuti ujiam praktik dan berhasil. Dia bilang itu kali keduanya, meskipun pengakuannya sudah biasa bawa mobil sendiri. Ya ya ya… saya berharap juga bisa sukses ujian.

Bapak petugas segera menyilakan saya masuk ke dalam mobil. Saya duduk tenang lalu menyalakan mobil brem brem brem… sesuai instruksinya saya maju lalu belok kanan. Berhenti di depan cone, saya lalu mundur masuk ke area parkir seri di kanan. Sukses…!

Selanjutnya saya maju lalu belok kiri, kemudian atret (mundur -red) untuk parkir paralel di kiri. Sekali belum pas, saya disilakan petugas maju lagi untuk mengulang. Dua kali, ternyata malah belakang mobil menyentuh balok kayu. Duh… gagal maning… gagal maning...

Saya kembali mendapatkan slip biru tanda mengulang ujian praktik 2 pekan lagi. Pesan bapak petugas penguji: ” Datangnya lebih pagi besok ya, Pak Guru…”. Apa boleh buat, saya mesti balik lagi ke sini untuk ketiga kali. Uhuk…

BPJS oh BPJS… (bag. 1)

image
Antrean nomor di RS swasta di Depok saat Subuh

Dua bulan terakhir saya dan istri menjalani sesi pengobatan untuk keluhan nyeri di perut kanan istri. Sebenarnya keluhan sudah dirasakan istri sejak terpapar DBD kira-kira 4 tahun yang lalu tetapi karena datang-pergi sehingga istri enggan memeriksakannya ke dokter. Keluhan menjadi-jadi baru dirasakan istri hampir 2 bulan lalu, barulah istri mau diajak periksa ke dokter karena khawatir kondisinya memburuk.

Diagnosa Awal
Kami periksakan keluhan istri ke Puskesmas, fasilitas kesehatan (faskes Tk. I) asuransi kesehatan kami. Di sana dokter menanyakan riwayat kondisi tersebut lalu memberikan diagnosa setelah memeriksa fisik istri sekilas. Fatty liver, diagnosa awal yang diberikan dokter, sehingga istri dirujuk ke faskes Tk. II.

Kami memilih RS swasta yang dekat dengan tempat tinggal kami dan menerima BPJS untuk layanan spesialis penyakit dalam. Sebenarnya kami sudah lebih dulu menyurvei RS yang menerima BPJS karena sejauh pengetahuan kami tidak semua RS sudah menerima pasien BPJS untuk semua layanannya.

Pemeriksaan Lanjutan
Istri ditangani dokter spesialias yang cukup senior, beliau juga praktik di RSUD sehingga jadwal praktiknya cukup padat. Di RS pilihan kami, beliau mulai praktik jam 10.30 hingga 14.00 karena sepertinya beliau praktik pagi di RSUD.

Istri diperiksa fisik sekilas, dokter memberikan resep obat nyeri juga rujukan laboratorium untuk periksa darah dan USG abdomen. Beliau menyarankan kami untuk menjalani tes lab di RSUD dengan alasan biaya yang cukup mahal, dengan BPJS biaya tes lab di RSUD jauh lebih murah.

Saya sore harinya langsung mendaftarkan istri untuk tes lab (USG abdomen) di RSUD, tapi ternyata mesti antre lebih dari sepekan. Meskipun tanpa BPJS, dan membayar biayanya sendiri, tetap saja antre secepatnya 3 hari. Dengan pertimbangan kondisi istri yang memburuk kami batal tes lab di RSUD. Akhirnya kami lakukan tes lab di RS swasta tempat kami periksa awal, dengan biaya yang memang lumayan mahal.

Bersambung…

Ayo Menulis Lagi

Persis 4 bulan sejak terakhir saya posting di sini. Entah ke mana semangat menulis saya pergi tapi yang pasti saya seperti “tidak punya waktu” untuk blogging. He he he… anehnya, dan teman-teman saya pasti mengiyakan, saya memindahkan energi menulis saya dari blog ke socmed khususnya Whatsapp. Uhuk uhuk…

Nah, sebenarnya tentang semangat menulis blog yang menurun ini sudah saya sadari sejak hampir 2 tahun lalu. Saat itu saya mulai mengajar di sebuah sekolah kedinasan dan karena belum pengalaman saya mesti fokus pada hal-hal terkait pengajaran seperti membuat bahan ajar, presentasi, materi praktikum dan lain-lain. Sejak itu volume blogging saya menurun drastis. Sungguh berbeda dengan guru blogger saya ya… #salambuatpakBudi 🙂

Mestinya waktu 2 tahun cukuplah untuk saya kembali aktif dalam dunia per-blog-an namun sayang badai Whatsapp telah menenggelamkan saya pada lautan socmed yang tiada bertepi #lebay.com 😀 Ok, saatnya untuk bangun dari segala rutinitas membosankan, saya beranikan diri untuk kembali menulis di sini. Mohon do’a dan dukungan dari semua ya… Terima kasih

Berubaaaaaah…!!!

Hari-hari ini saya mengalami kegalauan… he he he karena akhirnya saya pindah tempat kerja. Tentu ada pertanyaan, lho kenapa mesti galau? Saya sendiri bingung kenapa saya galau, yang pasti ini pengalaman pertama saya sejak bekerja di awal 2002. Hmmm… jadi saya sudah bekerja di satu tempat saja hampir 13 tahun. Bukan waktu yang sebentar memang, meski sempat diselingi dengan tugas sementara di Aceh (2005-2006) dan kuliah di UI (2008-2010). Selalu ada pengalaman pertama kan…

Ok. Saya orang dewasa dan bukan saatnya terjebak dalam kegalauan. Momentum ini harus dijadikan sebagai fase penting saya untuk berubah… ya, saatnya untuk berubaaaaah!! #Kotaro Minami mode on

image
Sumber: ahmadcholiez.blogspot.com

Memaknai 11 Tahun Kebersamaan

image

Hari ini tepat 11 tahun saya dan istri mengikat janji setia dalam sebuah akad pernikahan. Masih hijau memang untuk niatan terikat dunia-akhirat, tapi bukan waktu yang singkat bagi kami masing-masing menemukan arti tujuan kebersamaan ini. Dan bahkan ketika sudah lewat satu dasawarsa kami membangun rumah tangga, saya dan istri masih terus mencari format terbaik mewujudkan sakinah mawaddah warahmah.

Banyak hal yang sudah kami lalui bersama, ada suka juga duka, kadang tangis juga canda tawa. Meski mungkin masih banyak hal yang belum kami alami, serta cita dan harapan yang belum kesampaian, tapi semua yang ada sekarang telah mendewasakan kami. Dan kami masih terus berproses untuk semakin dewasa setiap harinya…

Yang pasti hanya kalimat syukur sajalah yang pantas kami ucap saat ini dan seterusnya, sebagai bagian dari penghambaan kami pada Allah Rabbul ‘Izzati atas segala nikmat yang diberikan.

Alhamdulillah… Ya Allah, telah Kau limpahkan nikmat-Mu pada kami: usia, kesehatan, anak-anak, harta-benda, kesempatan, ujian, dan nikmat-nikmat yang tidak akan mampu kami sebutkan satu persatu bahkan hingga sampai ajal kami. Maka jadikan kami hamba-hamba yang selalu mensyukuri nikmat-Mu. Aamiin

.

Istriku, terimakasih atas cinta, kasih sayang, pengertian, kesetiaan, kesabaran dan semua yang telah kau berikan padaku. Dan karenanya sudah sepantasnya aku menempatkan dirimu sebagai wanita kedua di hatiku. Semoga kelak kau akan menjadi permaisuriku di surga, insya’Allah…

Depok, 21 September 2014

Cita-cita, Harapan dan Angan-angan

Sewaktu kecil setiap orang pasti punya cita-cita. Waktu SD dulu cita-cita saya adalah dokter. Saya tidak tahu dari mana munculnya cita-cita itu karena tidak ada satupun di lingkungan keluarga besar saya yang menjadi dokter. Mungkin cita-cita itu muncul dari harapan orangtua saya, mereka mungkin punya keinginan salah satu anaknya bisa menjadi dokter. Dokter adalah profesi yang terhormat di lingkungan masyarakat pada umumnya sehingga tidak heran bila banyak orangtua yang berharap anaknya menjadi dokter kelak ketika dewasa.

Semasa SMP ketika ada formulir dari guru BP, saya mengisi cita-cita saya: Ulama dan Pengusaha. Ini jelas berbeda dengan cita-cita saya waktu SD. Tapi dari mana datangnya cita-cita itu? Saya yakin ini bukan dari orangtua saya karena bahkan ketika SMP saya ditawari untuk melanjutkan sekolah di pesantren tapi saya menolak. Saya merasa tidak akan betah dengan kehidupan pesantren apalagi selama  ini saya tidak pernah tinggal jauh dari orangtua. Di SMP saya mulai bergaul dengan teman-teman secara intens dan mereka adalah anak-anak yang orangtua mereka paham terhadap agama. Teman-teman saya ini mendapatkan pembinaan agama dari orangtuanya dan diberi fasilitas untuk belajar agama lebih banyak dari keluarga lain. Karena itulah mungkin muncul di benak saya cita-cita untuk menjadi ulama itu karena sering berinteraksi dengan orangtua teman-teman. Pengusaha? Nah yang itu belum jelas. Mungkin karena ayah dan ibu saya berwirausaha.

Sebagian dari kita punya cita-cita yang statis, sejak SD sampai kuliah cita-cita sama sehingga akhirnya betul-betul terwujud. Tapi sebagian yang lain tidak, seperti saya yang cita-cita SD hingga kuliah tidak sama. Kalo ditanya sekarang cita-cita saya apa, maka saya akan bilang: tukang sampah dan marbot masjid. Padahal saya kuliah di kampus sains, fakultas teknik, jurusan dan peminatannya pun engineering. Kenapa bisa begitu? Entahlah saya pikir karena ketika muda kita idealis, tapi semakin dewasa kita makin realistis. Idealis menuntut orang menunju pada hal yang detil, pasti dan khusus. Sedangkan realistis menempatkan cita-cita pada tempatnya dan harapan pada tempatnya, sesuai situasi dan kondisi yang ada sehingga boleh jadi lebih umum dan tidak pasti.

Waktu kecil bercita-cita menjadi dokter tentu menyenangkan karena bisa mengobati orang sakit. Orangtua juga berharap anaknya menjalani profesi yang menjamin kemakmuran anaknya. Keduanya berujung pada kebahagiaan. Menjadi ulama adalah cita-cita yang muncul dari contoh di keluarga lain di mana anak-anaknya menjadi anak yang tidak hanya cerdas tapi juga berakhlak baik. Sedangkan pengusaha lagi-lagi contoh dari orangtua di mana kesejahteraan menjadi terjamin. Keduanya berujung pada kebahagiaan. Bagaimana dengan tukang sampah dan marbot masjid? Menurut Anda sekarang saya sedang bercita-cita, berharap, atau berangan-angan?

Wallahu a’lam…

Perjalanan ke Setu

Sabtu kemarin saya, istri dan Mufida menengok keponakan kami yang baru sembuh dari sakit. Memang kami belum pernah silaturrahim ke rumah adik kami (ayah ibu Adnan) jadi sekalian main biar tau di mana rumahnya. Kami berangkat jam 14-an dari Depok naik motor karena infonya lokasi jauh dari kereta atau bis kota. Beruntung hari cerah berawan jadi kami tidak kehujanan juga tidak kepanasan.

Saya belum tau alamat rumah adik kami ini tapi istri saya sudah di-SMS ancer-ancernya: setelah RS Mary Cileungsi belok kanan sampai setu. Kami ambil jalan Margonda, Juanda lalu akses ke Cibubur Junction meski agak padat merayap tapi cukup lancar. Sesampainya di Trans Yogi saya mulai bisa memacu motor agak cepat hingga flyover Cileungsi. Di sini kami ambil arah Bekasi dan kondisi jalanan yang kami lalui rusak parah. Sampai di RS. Mary saya putuskan berhenti untuk menelpon adik kami dan diberi petunjuk yang sama dengan isi SMS-nya. Kami pun melanjutkan perjalanan.

Setelah mengambil jalan ke kanan dari jalan utama Cileungsi-Bekasi hampir sepanjang jalan kondisinya memprihatinkan. Selain tidak rata, berlubang-lubang besar, sebagian bahkan tergenang air. Perjalanan jadi sangat terhambat, apalagi ternyata lalu lintas di situ cukup padat. Beberapa kali kami menemui kemacetan entah apa penyebabnya. Dan ternyata Setu yang kami cari perasaan saya jauuuuuh sekali. Mungkin karena baru sekali saya lewat jalan itu, terlebih karena kondisinya tidak bisa disebut nyaman untuk pengendara.

Akhirnya kami sampai di Pasar Setu, dan beberapa menit kemudian (hampir 1/2 jam) baru kami sampai di alamat rumah yang adik SMS belakangan. Alhamdulillah… ternyata lokasi rumahnya cukup jauh dan berliku. Hampir jam 17 waktu kami sampai, sekali lagi beruntung selama perjalanan tidak kehujanan meski pengakuan adik di sekitar rumahnya hujan waktu kami telpon tadi. Syukur keponakan kami sudah sehat. Adnan sempat dirawat 2 malam di RS karena diare dan demam tinggi. Di sana kami diceritai tentang kondisi rumah adik yang kebanjiran saat Jakarta dan sekitarnya terkena banjir beberapa waktu lalu. Mereka bahkan sampai harus mengungsi ke rumah orangtua di Bogor.

Hampir Maghrib kami berpamitan. Sepanjang perjalanan pulang istri tidak habis-habis berucap syukur karena mendapatkan rumah di Depok meski kondisinya pas-pasan. Ya semua memang mesti disyukuri dan disabari (kata saya dalam hati).