Yang terpinggirkan…

Pagi ini jalan-jalan ke Monas, tugu kebanggaan warga Jakarta dan para pemimpin negara ini. Setiap ganti presiden dan gubernur, ada saja perubahan wajah Monumen Nasional. Seperti tahun ini, ada gedung baru menjulang di selatannya. Bukan yang ini…

Tapi yang ini…

Keren kan. Siapa dulu dong… #hushh jangan sombong ah.

Tetapi sesaat setelah mengaguminya, ada fenomena yang menusuk di hati. Seorang pria muda suku Baduy datang menawari saya madu hutan, dengan senyum tulus penuh harap saya mau membeli bawaannya itu. Saya sendiri tertegun, yang muncul spontan adalah penolakan. Kemarin baru beli madu, gumam saya. Lalu iapun berlalu meninggalkan saya, sembari terus menawarkan madu ke orang-orang lain di sekitarnya tetap dengan senyuman itu. Setelah semua orang yang ditawari menolak, ia melanjutkan langkahnya dengan kepastian. Langkah tanpa alas kaki yang khas, menjemput rizki Allah.

Memandanginya berjalan menjauh, hati saya berteriak… Kenapa tidak kamu beli madunya? Pelit sekali kamu, bahkan mengeluarkan sedikit rizki untuk sesama manusia saja mikirnya panjang banget. Dasar…

Itulah nasib kaum yang tersudut, yang tidak merasakan kemajuan negeri ini. Mereka yang selalu… terpinggirkan.

Iklan

Kemarahan vs. Keramahan Berkendara

Di sebuah jalan kota besar di nusantara. Seorang ibu paruh baya berjalan tertatih menyeberangi jalan lalu berhenti di tengah karena sebuah mobil membunyikan klakson kencang-kencang tanpa mengurangi lajunya melalui ibu tadi. Tanpa diduga si pengendara mobil membuka kaca jendelanya lalu meneriakkan kalimat pendek, “Kalo nyebrang pake mata dong…!!”. Tampak raut muka ketakutan di wajah si ibu saat mobil itu berlalu menjauhinya.

Pada saat yang sama di sebuah jalan raya, di ibukota suatu negara Amerika Selatan. Seorang kakek tua berdiri di tepi jalan dengan tongkatnya, sebelum menyeberang ia menjulurkan tangannya ke depan. Sebuah mobil mewah melaju kencang mengarah ke jalan tempat si kakek menyeberang, lalu berhenti tepat di belakang zebra-cross. Si sopir tersenyun sambil memberikan isyarat kepada kakek itu untuk menyeberang di depannya.

Bagaimana menurut Anda, mana yang lebih sering Anda temui di jalanan?

Saya sudah hampir 20 tahun tinggal di Jabodetabek dan lebih sering menemui kejadian pertama dibanding yang kedua. Saya begitu takjub ketika berkesempatan mengunjungi Brazil dan menemui kejadian kedua. Entah dari mana munculnya istilah yang tenar itu, Indonesia terkenal karena keramahan penduduknya. Pada contoh kasus ini, jelas tidak ada keramahan di kejadian pertama. Somehow, keramahan itu ada di sisi lain dunia.

Mungkin ini konsekuensi menjadi penduduk dari negara berkembang khususnya di kota besar, orang lebih mudah marah bahkan untuk berbagai hal termasuk berkendara. Huh dasar… #sambilmarahmarah

Zaman-old vs. Zaman-now

Sopir angkot, dan sopir-sopir moda transportasi sejenis, kini semakin terdesak oleh para pesaing usaha jasa transportasi. Ya, transportasi online kini menjadi moda transportasi yang makin dominan. Tak pelak lagi, banyak sopir angkot akhirnya banting setir menjadi driver ojek atau taksi online. Hal ini tentu dipandang sebagai hal yang lumrah di dunia usaha, tetapi bisa menjadi petaka bagi orang-orang yang karena kondisinya gagal move on untuk mengikuti perkembangan zaman.

Bisnis berbasis online memang mulai merajai pasar dunia, tidak terkecuali di tanah air. Tidak sedikit toko, mall, dan supermall konvensional mesti mencari 1.001 cara untuk bertahan melawan gelombang besar berpindahnya pelanggan mereka ke toko, mall dan supermall online. Bahkan beberapa sudah mengibarkan bendera putih, sedang sebagian beralih ke basis online mengikuti pesaingnya. Lagi-lagi inilah keniscayaan dalam dunia usaha.

Saat saya kecil dulu bermain game mesti punya gamewatch atau konsol game macam Nintendo atau Sega. Atau kalo tidak punya cukup tabungan untuk membeli alat game tadi saya biasa pergi ke game station untuk bermain ding-dong. Saat itu harga mainan game puluhan sampe ratusan ribu sedangkan main ding-dong hanya seratus hingga 5 ratus perak per game. Sebagai pembanding, harga semangkuk mi ayam waktu itu 3 ratus perak saja. Kebayang kan usia saya berapa 😁

Sekarang anak-anak kita dimanjakan dengan berbagai game online yang tentu membutuhkan koneksi internet berbayar. Dan jika membutuhkan mereka bisa menambah fitur game yang dimainkan dengan membelinya langsung dengan pulsa yang dimiliki. Saat ini saja saya sudah kewalahan dengan kebutuhan anak laki-laki paling kecil saya terhadap Youtube. Kalo dituruti bisa habis belasan atau puluhan ribu sehari. Weleh-weleh 😌

Di Antara Para Bebek Matic

Hampir 10 tahun motor itu menemani kami sekeluarga. Sudah tua memang, tapi masih gagah lah mengantar saya setiap hari pp rumah-kantor. Tua tua keladi hi hi hi… Sejarahnya panjang dan lebar, manfaatnya luas dan berisi. Pengalaman memilih motor itu saya tuliskan di sini. Dialah salah satu warisan mendiang istri saya. Sudah seperti istri kedua, eh maksudnya istri keempat buat saya #ups

Dulu ada motor tua, lebih tua dari motor ini. Masih dari pabrikan yang sama tapi sangat senior, masih 100cc. Meski begitu motor tua itu tidak kurang hebat sejarahnya dibanding motor ini. Saat saya melepasnya, saya masih berharap motor itu bisa memberi manfaat untuk pemilik barunya. Saya ini saya tidak tau di mana motor tua itu, tapi saya masih menyimpan fotonya. Seperti istri ketiga buat saya #upslagi

Continue reading “Di Antara Para Bebek Matic”

Membimbing itu Tidak Gampang

Seiring bertambahnya usia, seseorang akan dihadapkan pada berbagai persoalan dalam kehidupannya. Di usia yang lebih muda kita pada umumnya berpikir menjadi orang yang lebih tua daripada kita adalah sesuatu yang menyenangkan. Saat masih sekolah kita melihat mahasiswa begitu asyik kuliah, bebas dengan baju tak seragamnya. Saat kuliah kita melihat orang bekerja begitu menikmati hasil pekerjaannya, membeli mobil, menikah atau punya anak. Saat sudah bekerja kita melihat bos-bos kita begitu asyik menikmati masa menjelang pensiunnya, bersiap untuk libur panjang, momong cucu dan seterusnya. Kenyataannya menjadi lebih tua bukan perkara gampang. Ada hal yang belum terpikir saat kita lebih muda, apa ya?

Continue reading “Membimbing itu Tidak Gampang”

Naik Turun…

Ya begitulah…

Saya tidak sedang ingin nulis tentang statistika blog, itu cuma ilustrasi saja. Hidup ini naik turun, seperti gambar di atas. Gini-gini… sdh lamaaa banget saya gak nulis di blog. Sekali nulis, 3 hari yang lalu statistikanya langsung naik. He he he…

Jadi apa kira-kira kesimpulannya? Simple aja, take the action then you’ll see the difference. Berani…?

Belajar Baca-Nulis (Lagi)

Saya mulai menulis blog ini beberapa saat sesudah kelahiran putra kedua saya (hampir delapan tahun lalu). Waktu itu saya sedang kuliah, dan aktif berlanjut sampai sebelum saya mulai aktif mengajar di kampus. Seiring aktifitas saya sebagai pengajar itulah kira-kira saya jadi agak malas menulis. Entah karena jarang punya waktu luang untuk menulis atau memang semangat menulis saya mati eh… mati suri maksud saya. Padahal saat ini, ketika saya sudah memutuskan untuk menjadi full-timer pengajar, menulis menjadi salah satu kewajiban saya. Duh…

Sebenarnya menjadi blogger itu aktifitasnya memang tidak hanya menulis, melainkan membaca juga. Nah ini… yang saya juga menurun sekali semangatnya. Saya ingat dulu waktu masih di SD, mungkin sampe SMA lah, begitu menyukai membaca. Dulu memang belum ada internet, jadi sebagian besar waktu luang saya habiskan untuk membaca wabil khusus komik dan novel he he he… Tapi sejak kuliah hingga sekarang semangat membaca saya menurun drastis. Meski saya masih suka komik dan mungkin juga novel tapi saya jarang sekali melakukannya. Gantinya lebih asik membaca dan menulis di medsos terutama grup-grup Whatsapp. Ups… ini masalahnya.

Sekarang, saat saya sudah hampir 2 tahun bekerja di kampus, saya merasa sudah saatnya saya kembali harus memaksakan diri untuk menjadikan kembali membaca dan juga menulis menjadi hobi saya. Titik.

Saya mesti meluangkan waktu khusus untuk itu dan bukan lagi hanya waktu luang. Sepertinya beberapa menit sebelum tidur bisa menjadi alternatif utama saya untuk melakukannya. Bismillah…

Tentang Chemistry (Bagian 2)

Pemotor yang Termarjinalkan

Sebelum saya lanjut dengan teori saya terkait chemistry (proses kimiawi), saya ingin mengkritisi sedikit sistem yang umum di pusat-pusat perbelanjaan modern (sebut saja mall). Baru-baru ini saya diajak makan bos kecil ke mall di bilangan Cilandak. Saya pernah ke sini sekali, dulu banget… seingat saya waktu saya baru menikah. Kami ke sini sepulang dari kontrol ke RS. Fatmawati, waktu itu kami ke mana-mana naik angkot atau bis kota.

Nah… setelah sekian lama, akhirnya saya balik ke sini lagi. Kali ini saya naik motor dari tempat kerja. Karena belum pengalaman, saya bertanya ke satpam di depan mall di manakah parkir untuk motor. Dengan ramah pak satpam menunjukkan kalo parkir motor sejalan dengan akses parkir mobil: masuk ke kiri lalu turun. Saya ikuti petunjuknya, agak bingung karena baru sekali ke parkir mall ini di basement. Ketemu tempat parkir motor eh ada tulisan khusus member. Oleh petugas di situ saya diarahkan ke parkir motor futsal. Wah… di mana itu? Putar-puter sana -sini, tengak-tengok eh sampe pintu keluar. Nyasar…

Akhirnya sampe juga. Tempatnya di ujung area mall hampir keluar, di seberang lapangan futsal indoor. Jaraknya sekitar 150 meter dari gedung utama mall, dan tanpa atap. Saat itu cuaca masih bersahabat meski sudah mendung, tapi bisa dibayangkan jika turun hujan lebat. Kasihan deh pemotor… Sebagai pengguna motor saya merasa agak didiskriminasi. Meski begitu, satu keuntungannya untuk saya adalah dekatnya parkir motor dengan musholla. Ya sudahlah… mohon maaf jika kurang berkenan.

Uniknya Chemistry Manusia

Pernahkah Anda mendengar nasihat seseorang yang membuat Anda menangis tersedu-sedu. Sadarkah Anda, nasihat itu pernah Anda dengar dari orang lain tapi Anda mengabaikannya? He he he… saya sih sering. Kelumrahan hal inilah, menurut saya, yang menyebabkan banyak orang menasihatkan, jangan lihat siapa yang bicara tapi lihatlah apa yang disampaikan. Benar atau tidak kesimpulan saya ini, silakan Anda menilai sendiri.

Jangankan di organisasi yang cukup besar model kampus saya, bahkan di keluarga kecil saya sekalipun pengaruh chemistry adalah  hal yang biasa. Misal, setiap kali saat sholat fardhu tiba reflek saya mengajak anak-anak untuk menunaikan sholat. Seringkali mereka masih asyik dengan aktifitasnya entah nonton tivi, baca buku atau bermain gadget saat saya sudah selesai sholat. Meskipun beberapa kali saya ingatkan mereka untuk sholat, jarang mereka langsung berangkat. Beda saat yang mengingatkan mama mereka, lebih mudah mereka melaksanakannya. Kalo dibilang kurang tegas sepertinya tidak juga, tidak jarang saya menggunakan nada tinggi komando meski kadang saya menggunakan sikap lembut persuasif. Saya lebih suka menyebutnya chemistry. Mengapa demikian?

Sesuatu yang kita pahami nilainya, baik buruknya bahkan manfaatnya, belum tentu mendorong kita untuk menyetujuinya apalagi melaksanakannya. Tetapi ketika sesuatu itu menyentuh perasaan kita, entah nyaman atau tidak nyaman maka itu lebih mendorong kita untuk menyetujui lalu melaksanakannya. Karenanya kita lebih sering tergoda dengan iklan, promosi, dll. yang mungkin secara riil tidak benar-benar kita perlukan. Chemistry itu bisa muncul dari pandangan, pendengaran, sentuhan meskipun tidak jarang juga muncul dari persepsi bahkan prasangka. Kalo dibilang baper ya mungkin tidak sepenuhnya keliru. Mirip-mirip… tapi tidak persis sama.

Chemistry adalah yang membuat Anda memilih beberapa sahabat dari banyak teman Anda. Chemistry adalah yang mendorong Anda melamar calon istri Anda. Chemistry pula yang mendorong staf Anda bersemangat, sementara saat bos yang lain mereka ogah-ogahan. Memang chemistry bisa dimanipulasi dengan obyek lain tapi yang saya yakini dia lebih kuat ketika muncul dari hati yang tulus dan niat ikhlas.

Sementara sampe di sini dulu ya teori saya tentang chemistry. Bagaimana menurut Anda? Kapan-kapan kita diskusi lagi… terima kasih.  

Membuat SIM A di Pasar Segar (Percobaan #2)

Ini kali kedua saya datang ke Pasar Segar Depok untuk membuat (mengurus pembuatan -red) SIM A. Kali ini sesuai instruksi, saya langsung menuju ke tempat tes praktik. Petugas penguji praktiknya masih sama, sehingga beliau langsung mengenali saya.

Eng ing eng… saya langsung dag dig dug. Sempat ngobrol sebentar dengan mbak-mbak yang sudah ada di situ setelah mengikuti ujiam praktik dan berhasil. Dia bilang itu kali keduanya, meskipun pengakuannya sudah biasa bawa mobil sendiri. Ya ya ya… saya berharap juga bisa sukses ujian.

Bapak petugas segera menyilakan saya masuk ke dalam mobil. Saya duduk tenang lalu menyalakan mobil brem brem brem… sesuai instruksinya saya maju lalu belok kanan. Berhenti di depan cone, saya lalu mundur masuk ke area parkir seri di kanan. Sukses…!

Selanjutnya saya maju lalu belok kiri, kemudian atret (mundur -red) untuk parkir paralel di kiri. Sekali belum pas, saya disilakan petugas maju lagi untuk mengulang. Dua kali, ternyata malah belakang mobil menyentuh balok kayu. Duh… gagal maning… gagal maning...

Saya kembali mendapatkan slip biru tanda mengulang ujian praktik 2 pekan lagi. Pesan bapak petugas penguji: ” Datangnya lebih pagi besok ya, Pak Guru…”. Apa boleh buat, saya mesti balik lagi ke sini untuk ketiga kali. Uhuk…