Ceramah Halal Bihalal Paguyuban Bani Singosenjoyo

Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Sekali lagi biar afdhol… Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Innalhamdalillah, nahmaduhu wanasta’inuhu wanastaghfiruhu wana’udzubillahi min shururi anfusina wamin sayyi-ati a’malina, man yahdillahu fala mudhillalahu waman yudhlil fala hadi-alah. Asyhadu an la-ilaha illallahu wahdahu la-syarikalahu wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu warasuluhu la-nabiya ba’dah. Wash sholatu wasalamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala alihi washohbihi waman walah wala-haula wala-quwwata illa billah.
Yang saya hormati, sesepuh saha pinisepuh paguyuban Bani Singosenjoyo sekalian. Bapak ibu pakdhe budhe paklik bulik kangmas mbakyu dan adik2 yang tidak saya sebutkan satu persatu tapi tidak mengurangi rasa hormat dan mahabbah saya kepada saudara2 sekalian.
Perkenankan saya memanjatkan syukur kehadirat Allah SWT. karena hanya dengan nikmat dan rahmat-Nya sajalah saya bisa berada di sini, bertemu dengan simbah2 dan saudara2 sekalian. Sholawat serta salam semoga selalu tercurah lestari kepada baginda nabi besar Muhammad SAW., keluarga, para sahabat dan pengikut beliau yang istiqomah hingga akhir zaman.
Saya di sini sekali2 bukan karena saya lebih pintar, bukan juga karena saya lebih ‘alim dari saudara2 sekalian tetapi karena mengingatkan sesama muslim adalah kewajiban bagi setiap pribadi muslim sebagaimana firman Allah dalam Surat Al Ashr: Wal ‘ashr, innal insana lafi khusr, illalladzina amanu wa ‘amilush sholihati watawa shoubil haqqi watawa showbish shobr. Demi waktu, sesungguhnya manusia itu sungguh2 dalam kerugian, kecuali orang2 yang beriman dan beramal sholih, yang saling menasihati kepada ketaqwaan dan saling menasihati untuk kesabaran. Selain itu memenuhi sunnah Rasulullah SAW, junjungan kita bersama, seauai hadits beliau: Balighu ‘anni walau ayah. Sampaikan dariku walaupun hanya 1 ayat.
Saudara2 yang dirahmati Allah, alhamdulillah kita telah sampai pada hari raya Idul Fitri 1439H. Di hari raya Idul Fitri ini ada 2 kebahagiaan yang dirasakan kaum muslimin. Kebahagiaan yang pertama, mendapatkan kemenangan setelah berpuasa Ramadhan selama sebulan penuh. Kemenangan apa yang diraih kaum muslimin dari puasa itu? Kemenangan atas hawa nafsunya, menahan diri dari makan minum dan berhubungan suami istri di siang hari, karena imannya kepada Allah SWT. Ganjarannya atas kemenangan ini kelak adalah surga. Banyak muslim merayakan Idul Fitri dengan sholat Ied tetapi tidak semua muslim yang merasakan kemenangan ini. Ciri2 muslim yang mendapatkan kemenangan ini adalah mantapnya ketakwaan dalam dirinya. Sholat 5 waktu terjaga, memelihara mulut, mata dan telinga dari kemaksiatan, ringan berinfaq, dan sebagainya. Bila kita masih malas beribadah dan beramal sholih boleh jadi kita tidak mendapatkan kemenangan itu.
Kebahagiaan yang kedua, berkumpul dengan keluarga dan saudara2 tercinta dalam sukacita. Berkumpul ini menjadi fitrah bagi manusia sebagaimana Allah menciptakan manusia berbangsa2 dan bersuku2 agar saling mengenal. Allah menciptakan umat manusia dari seorang lelaki dan seorang perempuan lalu dari keduanya Allah jadikan umat manusia yang banyak. Seperti hari ini, jumlah anggota bani Singosenjoyo sekarang jika dibandingkan dengan awal paguyuban ini mengumpulkan anggotanya dulu boleh jadi lebih dari 2 kali lipat. Mangan ora mangan sing penting kumpul, nggih boten? Kelak, orang2 beriman akan dikumpulkan Allah di surga bersama anak2 dan cucu2nya tapi dengan syarat … napa syaratipun? Syaratnya beriman dan bertakwa. Kita berdo’a, semoga Allah SWT. melindungi bani Singosenjoyo di dunia, tetap dalam keimanan dan ketakwaan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. Cuma apakah berdo’a saja cukup?
Saudara2 yang saya cintai karena Allah ta’ala, dulu Presiden Suharto mendapatkan penghargaan dari PBB karena berhasil menjalankan suatu program. Ada yang tau? Nggih leres, Keluarga Berencana alias KB. Slogan yang saya ingat sedari kecil dulu, 2 Anak Cukup. Pegawai negeri wajib ikut KB, sehingga hanya difasilitasi jaminan kesehatan dll untuk maksimal 2 anak saja, kalo ada anak ketiga dst maka biasa disebut sebagai anak swasta. Nah kalo sekarang masih ada tidak program itu? Masih, tapi tidak wajib lagi. Kalo dulu tujuan Program KB untuk membatasi jumlah kelahiran alias menekan tingkat pertumbuhan penduduk Indonesia, supaya hidup lebih sejahtera. Kalo sekarang perlu tidak? Saya sekarang punya 4 anak, tapi saya ikut KB 2 kali jadi sementara pas. Tapi apakah cukup hanya dengan membatasi jumlah anak trus hidup sejahtera? Apakah KB juga bisa menjamin keluarga kita masuk ke surga Allah SWT? Jawabannya tidak, kecuali kita ubah pemahaman kita akan program ini.
Keluarga Berencana (KB) dalam terminologi Islam tidak terbatas pada membatasi jumlah anak, tetapi lebih daripada itu merencanakan kehidupan berkeluarga agar bahagia di dunia dan selamat di akhirat kelak. Begitu banyak ayat dalam Al Quran yang mengingatkan manusia akan hal ini, di antaranya:
  • Surat An Nur: … wanita2 yang baik adalah untuk laki2 yang baik, dan laki2 yang baik adalah untuk wanita2 yang baik pula …
  • Surat At Tahrim: Wahai orang2 beriman jagalah diri dan keluargamu dari api neraka…
  • Surat An-Nisa: … Dan hendaklah takut kepada Allah orang2 yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak2 yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka…
  • Dst.
Nah, kira2 program KB seperti apa yang bisa mengantarkan keluarga kita menuju kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat kelak?
Saudara2 yang dirahmati Allah SWT. Ada 2 tahapan besar bagi setiap muslim dalam berkeluarga. Yang pertama, Persiapan Berkeluarga. Berapa banyak pernikahan yang kandas di 10 tahun pertama? Banyak. Berapa banyak pernikahan yang berantakan di 10 bulan pertama? Lebih banyak. Berapa banyak pernikahan yang karam di 10 minggu pertama? Sangat banyak, contoh mudahnya pernikahan artis2 yang sering kita tonton di televisi. Kebanyakan kasus perceraian disebabkan karena pasangan suami istri tidak sungguh2 di tahapan pertama ini. Artinya boleh jadi persiapan berkeluarga hanya sampai pada 2 modal: Cinta dan Harta. Dan terbukti hal itu tidak cukup untuk membawa keluarga menuju keluarga yang langgeng. Nah, program KB perlu dilakukan karena penting dalam Persiapan Berkeluarga ini. Hal yang penting untuk dipahami di antaranya:
  • Keluarga yang baik dibentuk dari pribadi2 yang baik. Sebagaimana tsb di atas, setiap muslim semestinya menyadari bahwa sebelum membentuk keluarga yang baik, masing2 calon suami dan calon istri berusaha menjadi pribadi yang baik. Baik di sini tentu bukan pada paras, harta atau kedudukannya saja tetapi lebih pada agama dan akhlaknya. Sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW.: Wanita dinikahi karena 4 hal: hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah wanita yang taat beragama niscaya engkau beruntung. Hal ini berlaku juga untuk wanita ketika menentukan calon suami.
  • Keluarga yang kuat dibentuk dengan niat yang kuat juga. Sebagaimana hadits Nabi Muhammad: Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya. Setiap amalan muslim termasuk menikah sangat ditentukan dari niat awal, jika dilakukan untuk ibadah maka akan jadi ibadah tetapi jika hanya untuk kesenangan belaka maka akan mendapatkan kesenangan saja tanpa nilai ibadah. Menikah dalam Islam bukan hanya menyatukan 2 manusia (laki2 dan wanita) menjadi 1 keluarga tetapi mengikat mereka dalam perjanjian yang kuat (mitsaqon gholizho) di dunia hingga di akhirat kelak. Artinya tanggung jawabnya tidak berhenti di dunia saja tetapi berlanjut hingga di akhirat.
  • Keluarga sakinah sejatinya merupakan proses dan bukan hasil akhir. Kehidupan berkeluarga ibarat melakukan perjalanan dengan perahu melintasi samudera luas. Terkadang laut tenang dan menyenangkan, tapi tidak jarang berubah menjadi badai yang mematikan. Bila kurang persiapan maka tidak mustahil perahu karam meskipun pantai masih tampak oleh mata. Perlu ilmu dan ketrampilan yang cukup dari awak perahu untuk melakukan perjalanan hingga sampai di pantai impian. Kalo buat pengantin baru, pernikahan itu indah karena perahu masih ada di pantai. Tapi bagi pasangan suami istri yang sudah beberapa waktu bersama, pernikahan bisa jadi bagai siksaan waktu karena perahu terombang-ambing tanpa kepastian sampai di pantai impian.
Karenanya baik bagi adik2 yang belum menikah dan juga bapak ibu yang putra-putrinya hampir menikah, saya berpesan mohon jangan lupakan program KB untuk Persiapan Menikah ini: menjadi pribadi yang baik, miliki niat yang kuat dan persiapkan bekal yang cukup.
Saudara2 yang saya cintai karena Allah SWT. Tahapan yang kedua, Membina Keluarga. Saya berkali-kali mendengarkan nasihat pernikahan saat mengikuti akad nikah teman2 atau saudara2. Ada satu nasihat pernikahan yang menurut saya pas untuk saya ulas terkait tahap kedua ini. Ustadz asal Salatiga tersebut menyampaikan bahwa baik pasangan muda maupun pasangan tua, perlu melakukan 3 hal setelah menikah.
  1. Pengenalan Mendalam. Bapak ibu dan saudara2 di sini adakah yang tidak pacaran? Ada, tapi sedikit ya. Kalo saya tanya apa tujuan pacaran? Mengenal, ya mungkin dilakukan tapi cuma kulitnya saja. Kebanyakan yang baik2 saja yang muncul saat pacaran, karena memang ada hal lain yang dominan saat pacaran yaitu bersenang2. Nah, baik yang dulu pacaran maupun tidak perlu melakukan pengenalan mendalam terhadap pasangannya, meliputi pribadi maupun keluarganya. Karena menikah itu sesungguhnya menyatukan tidak hanya 2 orang melainkan juga menyatukan 2 keluarga besar. Kalo pacaran dulu, ketemu penampilan rapi, cantik, sikap juga lemah lembut. Sesudah menikah, melihat kenyataan kondisi pasangan dari tidurnya, bangun tidur sampai tidur lagi. Pengenalan mendalam ini penting, karena dari sinilah akan muncul kasih sayang di antara suami istri (mawaddah warohmah). Suami istri saling menerima pasangan apa adanya bukan ada apanya lagi, berbeda dengan saat masih pacaran.
  2. Penyesuaian. Pasangan suami istri yang sudah melakukan pengenalan mendalam terhadap masing2 sebaiknya melakukan penyesuaian. Di sini ada prinsip asah, asih, asuh. Suami menempatkan diri sebagai imam dalam keluarga sedangkan istri menjadi makmum. Kalo dulu masing2 bisa melakukan aktifitas sendiri2 sesuai keinginannya ketika berkeluarga semua harus disinkronkan dengan pasangan. Suami misal mungkin dulunya pulang kerja bisa mampir2, main ke rumah teman atau nongkrong2 di warung dsb. Nah kalo sudah punya istri tentu tidak lagi selalu seperti itu, kalo tidak perlu sekali ya langsung pulang. Atau kalo mendesak juga mengabari istri dulu. Demikian pula istri, dulunya bisa belanja kebutuhannya dengan bebas mo beli baju tiap bulan atau beli make-up dsb. Sesudah menikah tentu mesti ijin ke suami, beli baju menyesuaikan kondisi keuangan keluarga, modelnya juga mensinkronkan selera suami dll. Dan lebih jauh lagi, penyesuaian dengan kondisi keluarga besar masing2, karena menjadi menantu tidak lain berarti menjadi anak dari mertua kita.
  3. Pemeliharaan kondisi. Berkeluarga itu tidak akan datar begitu saja, pasti ada gelombang2. Mulai dari masalah internal sampai masalah eksternal. Mulai dari hal kecil misal selera makan atau cara mandi sampai hal yang besar seperti pendidikan anak atau memilih prioritas keluarga. Akan muncul perbedaan2 di antara pasangan suami istri dalam menyikapi suatu permasalahan. Kondisi yang baik setelah proses pengenalan mendalam dan penyesuaian akan diuji, apakah masing2 bisa menghadapinya dengan baik dan benar. Di sini butuh komitmen yang kuat dari anggota keluarga baik suami, istri maupun nantinya anak2. Tujuannya jelas, untuk menjaga keutuhan keluarga tetap dalam koridor menuju sakinah mawaddah warohmah. Bila pemeliharaan kondisi ini berhasil maka akan muncul ketentraman (sakinah) dalam keluarga. Dan ini mesti dilakukan terus-menerus dalam keluarga hingga akhir hayat.
Saudara2 yang dirahmati Allah. Menjadi pribadi muslim yang kaffah dan membina keluarga sakinah mawaddah warohmah adalah 2 hal utama dalam program Keluarga Berencana dalam pemahaman Islam. Insya-Allah ketika pribadi kita baik, keluarga kita juga baik maka masyarakat dan negara ini menjadi baik pula. Baldatun thoyyibatun warobbun ghofur. Semoga bani Singosenjoyo kelak akan dikumpulkan di surga Allah SWT. Aamiin aamiin ya Rabbal ‘aalamiin. Dari saya kurang lebihnya mohon maaf.
Wal ‘afwu minkum, billahit taufiq walhidayah wassalamu ‘alaikum wr. wb.
Iklan

Puasa Ramadhan #28

Menjadi manusia adalah takdir dari Allah, kewajiban kita adalah memilih jalan yang benar. Menjadi pegawai negeri adalah takdir, kewajiban saya adalah melakukan tugas dengan benar. Menjadi bawahan adalah takdir, kewajiban saya adalah mengikuti pemimpin yang benar. Inilah politik kehidupan, memilih yang benar untuk kebahagiaan hakiki. Karena hidup hanya 2 kali, dunia dan akhirat.

*_Pesan dari Desa_*

– Masa tunggu haji di Kebumen sekarang 22 tahun, kuota haji tidak jadi ditambah pemerintah Arab Saudi karena Jokowi tidak menerima paket ekonomi Raja Arab. Jokowi lebih memilih Cina untuk investasi di proyek-proyek infrastrukturnya, padahal model Cina paket pekerjaan adalah dengan pekerjanya maka menganggurlah pekerja-pekerja kita.
– Ekonomi akar rumput sangat memrihatinkan, pajak bagi rakyat terus dinaikkan. Contoh: harga kelapa sekarang Rp 1.000,-/buah di pasar harga jual petani hampir *gratis*, harga sapi 450kg turun sampe *Rp 8,5 jt* padahal dulu setidaknya Rp 10,5 jt (daging potong per sapi cuma dihargai 85kg padahal dulu dihargai 105kg), beras petani dipersaingkan harga dengan beras impor sehingga petani tidak pernah menikmati jerih payah (dulu beras impor dibatasi agar harga beras lokal tidak jatuh di pasar).

Kalaulah infrastruktur itu menjadi prioritas nasional, maka perlu pendekatan yang lebih *manusiawi* buat rakyat kecil sehingga tidak menjadi korban. Meskipun dari kacamata kenegaraan boleh jadi pengorbanan rakyat itu menjadi *kontribusi* bagi pembangun. Pemimpin yang adil bukanlah pedagang yang berorientasi pada kelancaran bisnis semata tetapi juga memerhatikan betul nasib rakyat yang dipimpinnya dan menakar kesanggupan mereka mendorong kemajuan, bukan mengorbankan mereka seolah tiada makna. Demikian mohon maaf ya. Tapi buat saya *#2019gantiPresiden* tetap jadi pilihan.

Puasa Ramadhan #25

Malam ini kami menyempatkan diri i’tikaf di Masjid Agung Kebumen. Penampilan masjid ini sangat menarik, selain menampilkan ornamen klasik kayu jati sebagai tiang penyangga atapnya masjid ini juga dilengkapi fasilitas ibadah yang cukup lengkap dan nyaman. Sebut saja kamar mandi, toilet dan tempat wudhu terpisah bagi jama’ah putra dan putri, selain jumlahnya memadai kebersihannya juga cukup baik. Karpet masjid yang tebal lagi empuk di lantai sholat utama, mushaf Al-Quran di setiap tiang, kipas angin yang mendinginkan ruangan tersebut. Teras dengan lantai marmer yang sejuk, kipas angin di setiap tiang dan lampu-lampu benderang yang menghilangkan kesan suram.

Khusus di bulan Ramadhan, masjid ini buka 24 jam sehari. Berbagai kegiatan dipersiapkan pengurus masjid untuk memakmurkan masjid selama bulan suci ini. Jama’ah dimanjakan dengan berbagai kajian, ibadah sunnah hingga tabligh PHBI (peringatan hari besar Islam). Berikut program kegiatan menyambut Ramadhan di Masjid Agung Kebumen.

Malam ini malam ganjil di sepuluh akhir Ramadhan, kami menyengaja menginap di masjid untuk mengejar Lailatul Qodar. Awalnya kami ragu karena saat sampai pintu-pintu ruang sholat utama ditutup, tapi keraguan kami kemudian hilang ketika tidak lama pintu-pintu itu dibuka seiring semakin banyaknya jama’ah i’tikaf. Memang pelaksanaan i’tikaf di masjid ini belum sepenuhnya diatur oleh pengurus masjid sehingga hanya ada fasilitasi sholat tahajjud berjama’ah mulai pukul 12.30 hingga 13.30. Tidak ada kajian di awal malam, tapi ada sahur bareng di akhir malam yang disediakan pengurus masjid.

Namun demikian kami mengapresiasi pengurus Masjid Agung Kebumen, karena telah membuka kesempatan bagi kaum muslimin untuk mengoptimalkan ibadah di bulan penuh berkah ini. Semoga segala amal kebaikan pengurus dan jama’ah diterima Allah ‘Azza wa jalla. Aamiin ya Rabbal ‘alamin…

Puasa Ramadhan #15

Anak kecil saja bisa…

Kira-kira kalau Anda dibilang orang seperti itu, apa yang muncul di benak Anda? Mayoritas tentu merasa malu atau bahkan marah. Nah, tidak untuk hal yang satu ini…

Tahfizhul Quran

Menghafal Al Quran adalah perkara yang umumnya orang akan bilang susah, tapi nyatanya kita disuguhi tayangan tivi “Hafizh Cilik” yang menampilkan para penghafal Quran cilik. Ini tentu kontradiktif bukan? Di saat kebanyakan orang dewasa menganggap hal itu tidak mudah dilakukan dan butuh waktu lama, di saat yang sama anak-anak kecil dan remaja melakukannya dalam waktu yang bahkan sangat singkat.

Memang, menghafal lebih mudah dilakukan anak-anak dan remaja dibanding orang dewasa tapi kalo yang dihafal lebih dari 600 halaman tentu tidak bisa dibilang biasa. Meski begitu banyak ulama memotivasi kita untuk menghafal Al Quran dengan alasan ia mudah dihafalkan, sebagaimana tersebut dalam Surat Al Qomar (54:17) sebagai berikut:

  • وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْاٰنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُّدَّكِرٍ

“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Quran untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”

Nah, bagaimana menurut Anda? Apakah masih beranggapan hal itu sulit, atau sudah muncul optimisme dalam diri bahwa kita yang sudah dewasa inipun bisa menghafal Al Quran. Mari berbagi cerita…

Puasa Ramadhan #14

Ditanya sama bapak-bapak yang sedang ngobrol santai sambil nunggu rapat, “Apakah menghisap asap rokok batal?”

Saya jawab, “Jika merokok menggunakan mulut maka menghisap asapnya dengan mulut, ini membatalkan puasa. Menghisap asap rokok melalui hidung tidak membatalkan puasa, tapi jika niatnya mendapatkan kenikmatan seperti menghisap rokok melalui mulut maka sangat mungkin membatalkan pahala puasa.”

Bagaimana menurut Anda?

Puasa Ramadhan #6

Beberapa tahun lalu di Youtube saya menemukan tema yang tidak pernah saya pikirkan terlalu dalam/serius sebelumnya, Flat Earth alias Bumi Datar. Entah kenapa saya tertarik untuk mengikuti serialnya dari awal sampai akhir dan menjadi mulai terpengaruh. Saya juga melihat-lihat artikel terkait termasuk tulisan seorang PNS Batan yang kontra atas tema tersebut. Meski begitu saya tidak serta merta menjadi pengikut salah satu darinya, Flat atau Globe Earth.

Saya sadar ilmu dan kemampuan saya terlalu awam untuk bisa membuktikan kebenaran teori bumi dan langit ini sehingga lebih tertarik untuk mencari dalil-dalil naqli (wahyu Allah dalam Al Qur-an) yang terkait dengan hal tersebut. Beberapa rekan kerja termasuk junior saya di kantor sempat menegur saya, untuk apa memikirkan sesuatu yang tidak akan mengubah apapun. Bisa dibilang saya dianggap melakukan hal yang sia-sia. Boleh jadi begitu tapi pada akhirnya saya percaya bahwa apa yang saya lakukan tidak serendah itu, karena Allah menyebut-nyebut Ulil Albab dalam Al Qur-an di mana ia adalah manusia yang menggunakan akal pikiran untuk berbagai hal baik yang Allah wahyukan dalam kitab-kitab suci maupun alam semesta ini.

Lalu mengapa ini begitu penting? Dalam logika saya, manusia diberikan akal untuk mendukung keimanan. Meskipun semua manusia punya akal tetapi tidak semua punya iman. Ini menjadi pembeda, orang beriman dengan orang kafir/tidak beriman. Jika orang beriman menggunakan logika yang berujung pada keyakinan pada Allah, sedangkan orang tidak beriman tidak peduli apakah ujung penggunaan logikanya kecuali untuk kehidupan di dunia. Nah, ketika saya mengikuti atau membenarkan teori yang dimunculkan oleh orang kafir maka boleh jadi saya menjadi bagian dari golongannya. Saya tidak bilang pemikiran orang kafir tidak obyektif, tetapi sebagai orang beriman saya tetap harus selektif dan kritis atas motivasi di balik pemikiran tersebut. Mengutip ungkapan seorang Yahudi Amerika terkemuka, nothing personal it’s just business.

Sekarang coba kita tengok teori asal muasal alam semesta yang diyakini orang awam…

Bersambung ke Puasa Ramadhan #7

Puasa Ramadhan #5

Kultum Ramadhan

Menjadi Baik by DM (bukan cagub)

Nabi menegaskan tujuan risalah agama adalah menyempurnakan akhlak manusia, membuat orang menjadi baik. Seruan mengajak orang menjadi baik tdk hanya melalui lisan juga dg teladan yg luhur dalam akhlak keseharian.

Anas bin Malik membuat pengakuan, ” Sungguh aku telah melayani Nabi selama 10 thn, beliau tdk pernah berkata kpdku ‘Uff/ Ahh’, tdk pernah berkomentar tentang apa yg kulakukan ‘Mengapa kamu lakukan ini’, dan tentang apa yg tdk aku lakukan ‘Mengapa kamu tdk melakukan yg ini’.

Sikap pemaaf, al afwu jelas tergambar dari kisah diatas. Al afwu, tdk menuntut manusia bersikap ideal thdp kita atau menginginkan orang sesuai kehendaknya. Tugas kita hanyalah banyak berlapang dada, mampu menerima, memahami keterbatasan dan memaafkan kekurangan orang lain

Ibnu Qoyyim merangkum sosok Nabi sebagai pribadi yg suka tersenyum, lemah lembut, rendah hati tanpa merendahkan diri, dermawan tanpa menghamburkan uang, dan sangat menyayangi dan menghargai sesama.

Saudaraku, orang baik cenderung lebih banyak tersenyum. Percaya atau tidak, kebaikan seseorang bisa ditunjukkan dari cara dia tersenyum. Mengapa? Karena semakin banyak orang tersenyum, maka Hawa Positif akan bertebaran disekitarnya. Selain itu, dengan tersenyum, orang akan terkesan lebih ramah dan bisa dipercaya.

Pikiran-pikiran negatif seperti iri hati & dengki jarang menghinggapi orang baik. Orang Baik akan selalu menanamkan pikiran positif dalam hidupnya. Bahkan saat dia mengalami masa-masa sulit sekalipun sehingga akan tetap menyebarkan suasana nyaman.

Orang Baik biasanya lebih sering menyapa duluan. Orang baik tidak akan keberatan untuk menyapa semua orang, bahkan terhadap orang yg berbuat jahat padanya sekalipun.

Orang Baik selalu terhindar dari rasa menjadi orang penting ingin dicari dan dibutuhkan. Karena memiliki keikhlasan biasanya dia tidak membutuhkan pengakuan orang atas kinerjanya selama ini. Orang Baik tdk ingin menunjukkan bahwa dia baik. Tapi orang jahat akan selalu membangun citra baik untuk (kekurangan) dirinya.

Orang Baik pandai mengendalikan emosi. Mereka terlihat sangat sabar dan toleran. Tidak mengutamakan kepentingan diri sendiri.

Orang Baik suka bertutur dan berbagi hal2 yg bermafaat dengan tujuan memberi tahu mengajak kebaikan. Tiga kata sakti orang baik ‘Maaf, Tolong dan Terima Kasih’.

Orang Baik tidak akan keberatan untuk mengakui kelebihan orang lain. Apalagi jika dia merasa bersalah. Mereka tidak akan segan-segan untuk meminta maaf dan memperbaiki kesalahan.

Semoga kita bisa melatih diri menjadi orang sabar dalam menghadapi kejahatan, perilaku orang jahat dan berusaha mengajak mereka yg jahat menjadi baik.

Semoga Allah menuntun kita menjadi orang baik di bulan yg penuh keberkahan dan kebaikan ini… Aamiin_..

Allahu a’lamu bishowab

5 Ramadhan 1439

Puasa Ramadhan #4

Ibadah apa yang paling disukai Allah di bulan Ramadhan? Setidaknya 2 hal yang bisa membuat pelakunya masuk surga. Berikut penjelasannya…

Sholat malam atau qiyamullail. Di Ramadhan sebagian kaum muslimin secara rutin menjalankan sholat malam yang biasa disebut Tarawih. Malam-malam awal umumnya masjid dan musholla penuh oleh jama’ah sholat, sesuai hadits yang menyebutkan bahwa barangsiapa mendirikan sholat malam di bulan Ramadhan dengan landasan iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Hal ini tentu menjadi amalan yang Allah sukai, meski sayang biasanya shof Tarawih semakin “maju” seiring berjalan bulan puasa ini.

Shaum dan tilawah Al Quran. Puasa selain menjadi perintah ibadah utama di bulan Ramadhan juga menawarkan berbagai keutamaan bagi pelakunya. Banyak sekali hadits yang menjelaskan hal tersebut, di antaranya kebahagiaan bertemu dengan Rabb di akhirat, dimasukkan ke surga dari pintu Ar Royan, hingga diampuni dosa-dosa yang telah lalu. Sedangkan tilawah Al Quran akan memberikan kebaikan berupa pahala 10 kebaikan setiap hurufnya selain ia akan memberikan syafaat kelak di akhirat.

Itulah amalan-amalan yang disukai Allah di bulan Ramadhan. Bagaimana puasa kita hari ini?

Puasa Ramadhan #3

Sabtu pagi saya singgah sholat Shubuh di Masjid Al Barokah Komplek Pupuk Kujang Beji Timur. Kebetulan ada kuliah subuh, materinya pun cukup menarik. Berikut catatan yang masih saya ingat…

Saat ini ada isu yang cukup hangat di media sosial khususnya terkait peristiwa pengeboman 3 gereja di Surabaya beberapa hari lalu. Isu itu mengarahkan opini masyarakat kepada suatu kondisi yang menyamakan ketakwaan seseorang dengan radikalisme. Radikalisme adalah suatu kondisi ekstrim dalam menyikapi sesuatu, sedangkan ketakwaan adalah perwujudan keimanan seseorang dalam kehidupan.

Hal ini tidak bisa lepas dari pemahaman kita tentang suatu kondisi yang berbeda di antara 2 hal tersebut. Dalam berbagai referensi kitab tafsir dan syarah hadits disebutkan bahwa sikap ekstrim itu adalah kondisi di ujung, berlebihan, atau dalam bahasa Arab disebut tathorruf. Sedangkan ketakwaan lebih kepada kondisi di tengah-tengah, proporsional, atau dalam bahasa Arab disebut ‘adl.

Isu Pertama: Ketakwaan dan Ekstrimisme

Dari kasus yang berkembang, media mengangkat kisah keluarga ini sebagai profil keluarga yang baik dan taat beribadah. Secara umum ini menjadi mudah untuk digeneralisasi sebagai perwujudan ketakwaan.

Bila kita melihat sejarah di zaman Rasulullah saw. dan para sahabat ra., kita mendapati suatu kondisi saat seorang wanita istri salah satu sahabat menceritakan kondisi suaminya kepada sahabat yang lain di mana digambarkan selalu sibuk dalam ibadah kepada Allah sampai melupakan kewajibannya kepada keluarga. Sang sahabat ini lalu menemui suami wanita tersebut untuk menasihatinya, hingga muncul pernyataannya bahwa Allah punya hak, dirimu punya hak, dan keluarga punya hak. Hak-hak itu harus dipenuhi olehnya dan tidak meninggalkan salah satu darinya. Hal ini lalu dikonsultasikan kepada Rasulullah saw, lalu beliau membenarkan pernyataan tersebut. Inilah contoh kondisi ekstrim yang tegas ditolak dalam Islam.

Ketakwaan tidaklah benar bila dinisbatkan sebagai kondisi ekstrim, dia berada di pertengahan sebagaimana ayat Allah menyebutkan perintah untuk berbuat adil karena lebih dekat dengan ketakwaan. Seseorang yang bertakwa, ia tidak akan berlaku zholim kepada sesuatu yang haknya mesti ia penuhi karena itulah perwujudan keimanannya. Cabang iman itu yang paling ringan adalah menyingkirkan duri yang ada di jalan, dan ini lebih pada kepedulian sosial dibanding ibadah ritual. Apakah mungkin sikap menyakiti seseorang yang tidak berdosa menjadi bagian dari ketakwaan. Gambaran lainnya adalah ketika pasukan Islam menaklukkan suatu wilayah maka mereka melindungi warganya, tempat-tempat ibadahnya, dan tidak melakukan penghancuran sebagaimana dilakukan oleh pasukan-pasukan kafir. Futuh Makkah misalnya, Rasulullah berpesan kepada warga Makkah bahwa mereka aman ketika berada dalam rumahnya, ketika berada di rumah pimpinannya dan ketika berada di baitullah.

Hal ini menegaskan sikap para ulama atas kejadian tersebut bahwa pelaku terorisme tentu bukan orang bertakwa, dan sebaliknya orang bertakwa tidak mungkin melakukan terorisme. Pernyataan sikap ini tegas menolak isu yang menyatakan sumber radikalisme adalah majelis-majelis ketakwaan sehingga mesti diwaspadai. Majelis dzikir dan majelis ilmu sekali-sekali bukanlah sumber dari tindakan ekstrimisme. Tentu ketika rujukannya Al Quran dan As Sunnah.

Isu Kedua: Menjadi Pribadi yang Biasa Saja

Hal yang kemudian mengemuka adalah tuntutan dalam masyarakat untuk meninggalkan ketakwaan karena dianggap sebagai sumber radikalisme. Termasuk di dalamnya tuntutan meninggalkan sikap memusuhi kemungkaran sebagai perwujudan sikap toleransi. Misal seseorang boleh saja tidak minum minuman beralkohol, tetapi mesti menghormati mereka yang minum alkohol. Dan berbagai kemaksiatan lainnya.

Maka kita tidak bisa menerima tuntutan ini karena hal prinsip, bahwa ketakwaan didefinisikan menjadi 2 hal yaitu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Tidaklah benar jika seseorang hanya melakukan 1 di antara 2 hal tersebut sebagai perwujudan keimanannya. Seorang muslim mesti melaksanakan keduanya sesuai kadar kemampuan.

Seseorang tidak boleh dituntut meninggalkan kondisi ketakwaan menuju kondisi yang biasa-biasa saja apalagi kondisi yang mengabaikan nilai-nilai agama. Mengapa demikian? Karena ini berarti mendorong seseorang menuju titik ekstrim yang lain yaitu sikap berlebihan kepada dunia. Sikap mengabaikan nilai agama sesungguhnya merupakan perwujudan kelemahan atas iman seseorang.

Sebagai penutup ustadz menyampaikan nasihat kepada jama’ah sholat Shubuh untuk tetap dalam kondisi keimanan dan ketakwaan tanpa terpengaruh oleh isu-isu negatif tersebut. Menjadi muslim kafah yang bertakwa sekaligus warga negara yang baik. Melakukan kewajiban pribadi dan masyarakat, mendorong pemimpin untuk menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya.

Ada bagian yang tidak saya cantumkan, terkait kritik kepada pemerintah. Maklum saat ini sedang sangat sensitif isu ujaran kebencian. Bagaimana menurut Anda?

Puasa Ramadhan #2

Hari ini saya buka puasa tidak bersama #antimainstream dikit lah. Bukan berarti saya buka puasa duluan, tapi tidak bareng-bareng aja. Pasalnya istri bukber di rumah temannya, semua anak dibawa. Jadilah saya buka puasa sendiri di rumah, tapi ta’jil berbuka dan makan malam sudah disiapkan istri.

Menunya kolang-kaling, ditemani ikan-ikan di akuarium. Lumayan juga, anggap saja ini kurma lokal.

Makan malamnya pakai soto ayam nikmat, ditemani nasi anget dan martabak gosong buatan sendiri.

Alhamdulillah hari ini anak-anak masih puasa normal, termasuk anak ketiga kami puasa setengah hari. Bagaimana puasa Anda hari ini?