Lelaki Berkalung Gendongan

Membaca judul di atas mungkin mengingatkan Anda dengan sebuah judul film nasional beberapa tahun lalu, di mana digambarkan seorang wanita di lingkungan pesantren yang mempunyai pandangan berbeda dengan lingkungannya secara umum.

Tapi saya tidak akan membahas itu lho. Sekedar analogi saja. Malah saya punya ilustrasi menarik. Berikut…

Gimana, kira-kira pas gak judul di atas? Wkwkwk. Buat seorang yang bertitel ayah, segagah apapun Anda maka jika memang jantan suatu saat pasti akan mengalaminya. Ya, Anda adalah: Lelaki Berkalung Gendongan.

Kira-kira malu gak jika Anda sesekali mesti menggendong bayi dengan kain gendongan? Buat saya tidak sama sekali, bahkan ini membanggakan. Menjadi ayah adalah kebanggaan buat saya, meskipun saya bukan ayah terbaik. Tapi setidaknya untuk anak-anak saya, yang terbaik yang akan saya usahakan. Bagaimana dengan Anda?

Sasirangan Banjarmasin vs Sasirangan Jogja

Bila Anda perhatikan, foto di atas sang model memakai batik motif warna merah. Jangan lihat posturnya yang kurus, fokus pada motif batiknya. Apakah jenis batik yang ia pakai? Biar lebih jelas saya berikan contoh motifnya sebagai pembanding.

Atau yang ini.

Nah, menurut Anda mirip tidak? Ya kalo gak mirip, dimirip-miripin lah… Trus kenapa saya tuliskan judulnya seperti itu? Ceritanya begini. Suatu saat bos saya dinas ke Kalsel, dan pulangnya kami staf seruangan dibelikanlah kain Sasirangan. Beliau bilang kita buat kain ini seragam panitia Rakor tahun depan. Kami tentu senang, tapi… seorang rekan membisiki saya sesuatu. Ssstt… Sasirangan bukannya berbahan sutera, Mas. Eng ing eng… segera saja saya cek di internet, karena sebagai muslim saya tidak boleh memakai sutera. Dari sini saya dapatkan jawaban dan kemudian saya berpikir tapi belum ada jalan keluar.

Akhir tahun itu saya berkesempatan pulang kampung sekeluarga. Malahan kami mengajak bapak-ibu dan mertua jalan-jalan ke pantai Depok, Jogja. Saat pulang kami sempatkan mampir di Malioboro. Dan tentu ke pasar Beringharjo. Nah, di sanalah ide saya muncul tiba-tiba. Di sinikan pusat batik, pasti ada motif Sasirangan. Tanya satu-dua penjual eh bener… saya mendapatkan satu kain dengan motif mirip dengan yang saya cari. Langsung saja saya kontak teman-teman cowok ruangan tentang ini dan spontan hampir mereka semua titip dibelikan dengan warna yang sesuai. Singkat cerita ketika kami jadi panitia rakor yang kebetulan di Jogja, bos-bos kami pakai Sasirangan Banjarmasin sedangkan staf-staf cowok pakai batik Jogja motif Sasirangan. He he he… what a wonderful life 😁

Iklan

And Fia Is Her Name

Saya tergagap dibangunkan istri jam 2.30-an pagi ini. Di hari kedua sahur, saya berharap bangun jam 3-an karena biasa sahur di akhir waktu. Ternyata istri bilang kalo dari jam 2-an sudah mules terus dan sudah keluar flag (saya tidak tau istilah yang benar, yang saya tulis lebih dekat dengan istilah komputer). MasyaaAllaah … berarti sudah waktunya istri saya melahirkan. Saya bergegas ke kamar mandi untuk bersiap-siap ke Poned. Sesudahnya saya membangunkan adik dan biyung lalu mengeluarkan motor dari halaman rumah. Istri sudah menyiapkan tas berisi perlengkapan yang mesti dibawa, kami membawa sedikit bekal lalu berangkat ke Puskesmas.

Istri saya berjalan kaki dari rumah ke Poned sementara saya naik motor di sebelahnya. Beberapa kali orang berlalu di dekat kami, pandangan mereka sedikit aneh, entah apa yang mereka pikirkan karena saya fokua pada kondisi istri. Tidak sampe 15 menit kami tiba di gerbang Poned, satpam membuka pintu pagar dan kami masuk ke dalam. Petugas yang piket sudah bangun untuk makan sahur, mempersilakan istri saya masuk ke ruang periksa sementara saya mengisi formulir di meja administrasi.

Baru bukaan satu…, begitulah kira-kira yang disampaikan petugas setelah memeriksa dalam kandungan istri saya. Istri keluar dari ruang periksa, kami pun duduk menunggu di kursi tunggu. Beberapa saat berlalu petugas memanggil kami ke meja administrasi. Mereka menyampaikan kondisi dan rencana aksinya. Istri dipersilakan menunggu di ruang perawatan Poned, saya pamit mencari makan sahur dan sholat Shubuh karena waktu sudah menunjukkan jam 4.15.

Setelah menyantap sahur di menit-menit akhir Imsak, saya pun menuju masjid untuk sholat Shubuh. Saya berdo’a semoga istri dan anak kami diberikan keselamatan dan kesehatan oleh Allah. Saya pun beranjak kembali ke Poned, menunggui istri saya. Kami berinisiatif menghitung frekuensi dan durasi kontraksi istri dengan aplikasi yang saya unduh di Playstore. Jam 6 istri saya diperiksa dalam lagi, baru bukaan dua. Jam 8 istri saya diperiksa lagi, baru mendekati bukaan 3. Istilah “bukaan”, bagi yang awam, silakan googling ya.

Sesuai prosedur yang disampaikan di awal oleh petugas, lewat jam 8 petugas piket berkonsultasi dengan penanggung jawab Poned melalui telpon (karena hari ini hari libur) untuk menyampaikan kondisi dan mengambil tindakan. Saya pun diminta mencari RS yang diinginkan sebagai rujukan mengingat risiko kelahiran istri. Saya bergegas menuju RS. GPI untuk mencari informasi, dan Alhamdulillah diterima setelah proses pengecekan yang lumayan panjang. Hampir jam 11, istri saya diantar dengan ambulance puskesmas ke UGD RS. GPI tanpa biaya. Kami menggunakan BPJS Kesehatan, fasilitas dari kantor saya.

Di UGD, istri saya langsung menjalani pemeriksaan rekam jantung bayi dan dirinya sendiri. Saya tidak tau hasilnya, bidan yang memeriksa bilang hasilnya akan disampaikan oleh dokter kandungan. Perawat kemudian memasang infus, sementara bidan berkonsultasi dengan dokter melalui telpon. Walhasil, dokter memutuskan istri saya harus menjalani operasi cesar untuk melahirkan bayi kami. Terjadwal jam 13 hari ini. Subhaanallaah

Istri lalu dipindahkan ke ruang tindakan kebidanan sementara saya mengurus administrasi pendaftarannya. Sesudahnya saya bergantian dengan biyung menunggui istri di ruang tindakan karena anak-anak saya ikut semua ke RS kecuali Fida yang sedang ada kegiatan di sekolah. Mereka ingin menunggui Mama mereka melahirkan adik kecil yang sudah lama mereka tunggu-tunggu. Tim dokter datang agak terlambat, hampir jam 14 baru lengkap sehingga jam 14.30 istri baru masuk ke ruang operasi. Selama menunggu istri digantikan baju, diberi penjelasan tetang bius lokal dan diganti infusnya. Dag dig dug

Lewat satu jam sejak istri masuk ke ruang operasi, mas Faqih sudah tidak sabar. Berkali-kali dia menanyakan, kapan mamanya keluar dan kapan dede bayinya lahir. Entah kenapa selain excited, dia juga sangat emosional. Agak beda dengan dik Faisal yang lebih tenang, juga kak Fida. Semoga setelah adiknya lahir, mas Faqih bisa lebih tenang. Tiba-tiba box bayi lewat di depan kami, perawat lalu memanggil keluarga bayi yang dibawanya. Saya lalu menghampirinya, dan perawat langsung mengenalkan bayi itu pada ayahnya. Alhamdulillaah … ini putri saya, bahkan kami belum punya nama untuknya. Setelah adzan dan iqomah, perawat menyilakan saya memotretnya dengan kamera hape … cepret cepret !!


Lebih dari 1 jam kemudian barulah istri keluar dari ruang operasi. Menjelang Maghrib hari ini, Allah mengabulkan do’a saya di Shubuh tadi. Saya bersyukur, bayi dan mamanya diberikan keselamatan dan kesehatan. Terima kasih ya Allaah …

Beberapa hari kemudian kami berdua sepakat memberinya nama Shofia.

Generasi Cyber

Ramadhan Karim…

Tahun ini liburan sekolah berhimpit dengan bulan Ramadhan, sehingga anak-anak menjalani hari-hari puasanya di rumah. Meski sepertinya ini lebih nyaman buat mereka tapi ada hal-hal yang merisaukan saya sebagai orangtua.

Waktu Luang Tidak Terstruktur
Anak-anak yang liburan saat puasa Ramadhan bisa puas menghabiskan waktu untuk melakukan aktifitas yang mereka sukai seharian. Saya juga ingat waktu saya seusia mereka dulu, libur Ramadhan adalah hari-hari membaca buku dan menonton tivi. Sejak Subuh sampe hampir Dzuhur membaca komik dan novel petualangan, menjelang Maghrib asyik menonton sinetron religi di tivi.

Dulu anak-anak suka memulai hari puasa mereka dengan berjalan-jalan keliling kampung. Siangnya tidur seharian dan sorenya bersiap berbuka dengan ngabuburit. Nah, yang berbeda adalah sekarang ini masa ketika anak-anak sudah akrab dengan gadget dan internet. Tidak bisa dipungkiri, ini mengubah cara anak-anak menjalani puasa mereka.

Akses anak-anak ke gadget dan internet yang tidak dibatasi membuat waktu luang mereka dihabiskan untuk bermain game dan lain-lain hampir sepanjang hari. Saking asyik dengannya, waktu luang saat liburan menjadi tidak terstruktur. Kadang-kadang ada aktifitas positif tapi lebih banyak lagi aktifitas yang kurang bermanfaat.

Generasi Gadget
Anak-anak sekarang tumbuh ketika gadget telah menjadi kebutuhan primer hampir semua orang. Tentu orang tua mereka sendiri yang punya peran mengenalkan gadget ke anak-anaknya bahkan di usia yang terlalu belia. Begitu besar pengaruh gadget sedemikian hingga balita saja sudah bisa mengakses Youtube sendiri dari hape orangtuanya.

Berkenalan dengan teknologi sebenarnya baik, buat orang dewasa ataupun anak-anak. Tapi hal ini tentu perlu memerhatikan dampaknya bagi masing-masing. Terlebih bagi anak-anak yang bahkan ketika sudah beranjak remaja tetap perlu mendapat bimbingan dan pengawasan orang tua. Tidak semua teknologi berdampak positif bagi kita, tidak terkecuali gadget. Ada efek adiktif yang potensial muncul ketika kita menggunakannya, terlebih jika gadget kita terhubung dengan internet.

Begitu banyak varian hiburan yang bisa didapat dari gadget, mulai dari kemudahan berkomunikasi hingga permainan (games). Saat ini bahkan dengan perkembangan teknologi yang begitu cepat gadget telah mengadopsi fungsi komputer. Tentu ini memberikan banyak manfaat untuk pengguna, karena gadget bisa digunakan sebagai pengolah data. Tapi ini juga berarti efek adiktif gadget canggih menjadi semakin besar.

Generasi Cyber
Internet sudah menjadi kebutuhan primer sebagian besar orang saat ini. Begitu besar pengaruh internet dalam kehidupan manusia modern, sampai-sampai muncul istilah mending mati listrik daripada putus koneksi. He he he… luar biasa. Tapi saya sendiri ternyata juga merasakannya, entah sudah sampai tingkatan adiktif yang mana.

Kalo dulu internet hanya bisa dinikmati dengan komputer yang terhubung dengan modem kabel, sekarang internet begitu mudah diakses dari gadget di tangan kita. Termasuk anak-anak kita, adalah generasi yang begitu mudah mengakses internet. Dan mereka tau bagaimana menggunakannya… duh.

Saya ingat interaksi awal saya dengan internet adalah membuat email pribadi. Browsing dan gaming online … baru saya lakukan beberapa tahun setelah bekerja. Itu juga karena sudah ada akses internet di kantor. Kalo terpaksa barulah saya mencari warnet untuk akses internet. Sekarang, anak saya bisa menghabiskan kuota 1 GB hanya dalam waktu 2 hari saja… wow. Sungguh berbeda sekali perbedaan dua generasi ini.

Generasi anak-anak dan remaja sekarang, tidak perlu melalui fase belajar mengakses internet berdasar aspek kepentingan. Umumnya mereka mengakses internet karena “paksaan” trend… sosmed dan gaming. Siapa remaja sekarang yang tidak punya akun Facebook, Tweeter, Line, Path atau Whatsapp? Sulit dicari… Demikian pula begitu jarang anak-anak yang tidak tau di mana mencari permainan baru yang seru? Mereka seperti otomatis tau untuk mencarinya di Playstore. Dan penyedot kuota yang terfavorit untuk mereka tidak lain ya… Youtube.

Inilah mereka… generasi cyber. Generasi yang lahir dan tumbuh bersama internet di kesehariannya. Sudah muncul istilah baru untuk mereka… generasi nunduk, karena kebiasaannya menundukkan kepala saat menggunakan gadget dan internet. Generasi yang entah apa yang akan terjadi pada mereka jika internet hilang dari muka bumi. Mungkin saat itu terjadi, mereka telah bertemu teknologi supracanggih yang memungkinkan mereka menggunakan internet tanpa gadget. Wallahu a’lam…

Ramadhan dan 3 Tipe Manusia

image

Ramadhan Karim…

Ada 3 tipe manusia menghadapi Ramadhan, bulan yang mulia. Demikian disampaikan Prof. Dr. Kalamullah Ramli dalam Kultum Tarawih beliau di masjid Ukhuwwah Islamiyyah malam ini. Beliau membuka tausiyahnya dengan membacakan nasihat Rasulullah kepada para sahabat menyambut datangnya Ramadhan.

Ketiga tipe manusia tersebut diuraikan beliau sbb.:
1. Manusia yang tidak terpengaruh.
Ramadhan yang hadir tidak mengubah perilakunya sama sekali. Mereka tidak senang kedatangan bulan suci ini dan bahkan tetap bermaksiat kepada Allah. Mereka ini adalah golongan orang yang merugi seperti yang disebut oleh Rasulullah, yang tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.
2. Manusia yang biasa-biasa saja.
Mereka menyambut Ramadhan dengan ibadah, tapi kadarnya sama saja dengan hari-hari biasa. Tidak ada peningkatan dalam ibadahnya sehingga yang membedakan hanya mereka berpuasa dan tarawih saja.
3. Manusia yang berusaha keras.
Ramadhan dianggap sebagai momentum langka yang mungkin tidak akan berulang. Mereka bergembira dan bersemangat mengisinya dengan ibadah yang jauh lebih baik dibanding bulan-bulan sebelumnya. Bulan puasa diisi tidak hanya dengan puasa dan tarawih tetapi juga dengan tilawah, shodaqoh, ta’lim dan banyak ibadah lainnya. Mereka inilah golongan manusia yang beruntung, sebagaimana sabda Rasulullah yang menyebutkan bahwa barangsiapa yang puasa/tarawih di Ramadhan dengan iman dan bersungguh-sungguh maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Di akhir kultumnya, Pak Muli mengajak jama’ah tarawih malam itu untuk menentukan target ibadah Ramadhan lalu mengejarnya dengan sungguh-sungguh meski capek dan mengantuk. Beliau mengingatkan bahwa boleh jadi ini Ramadhan terakhir kita, dan di akhir hayat hanya 2 hal yang kita inginkan yaitu surga Allah dan pembebasan dari api neraka. Semoga kita termasuk dalam golongan manusia yang beruntung.

Seandainya…

Pagi itu bis-bis AKAP padat merayap memasuki Jatisari, Karawang. Kemacetan panjang pun tak terhindarkan, memaksa sopir bis-bis itu tetap melaju meski sebentar lagi adzan Shubuh berkumandang. Hampir setengah jam kemudian barulah kemacetan itu mulai terurai, bis-bis malam yang mengantre itu akhirnya mulai mengarah ke Tol Karawang. Sayangnya lebih banyak bis yang terus melaju mengejar waktu untuk bisa segera sampai di Jakarta, melupakan kesempatan bagi penumpang untuk sekedar istirahat sejenak dan sholat Shubuh.

image

Sedikit sekali penumpang bis-bis itu yang kemudian mengambil inisiatif untuk sholat Shubuh di atas kursi duduknya bahkan dengan bertayamum. Padahal tidak sedikit bis yang menyediakan toilet dengan air bersih dan bisa dipakai untuk berwudhu. Astaghfirullah… semoga Allah Yang Mahapengampun mengampuni kami semua. Berikanlah kami kesempatan dan petunjuk-Mu, agar kami bisa melaksanakan perintah-Mu sesuai kemampuan kami.

Seandainya saja para penumpang bis-bis AKAP ini merasakan sholat sebagai kebutuhan dan bukan sebagai beban tentulah mereka tetap melaksanakannya dalam kondisi apapun. Terlebih baik lagi memang bila pihak perusahaan minimal sopir bis-bis malam menyadarinya dan berkenan memberikan kesempatan dengan sekedar istirahat di masjid atau musholla barang 10-15 menit. Atau jika memang waktu yang sempit memaksa penumpang bis untuk sholat di kursi masing-masing maka pihak bis menyiapkan seorang yang ditunjuk untuk memimpin para penumpang untuk sholat berjama’ah. Hal seperti ini tentu tidak hanya untuk jama’ah haji/umroh di atas pesawat terbang bukan?

Mekanisme sebenarnya sangat mudah, langkah-langkahnya mungkin seperti ini:
1. Sepuluh menit sebelum pelaksanaan sholat di bis pihak bis mengumumkan bahwa waktu sholat sudah masuk
2. Pihak bis mempersilakan penumpang untuk memilih berwudhu di toilet bis atau bertayamum dan memberitahukan bahwa sholat berjama’ah dimulai dalam 10 menit ke depan
3. Para penumpang bis bergiliran mengambil wudhu di toilet bis atau langsung bertayamum dengan debu suci di sandaran kursi dan kaca bis
4. Pihak bis mempersilakan salah seorang penumpang laki-laki untuk menjadi imam, bila tidak ada yang berkenan maka sopir/kernet menjadi imam sholat berjama’ah
5. Didahului dengan iqomah, penumpang melaksanakan sholat berjama’ah dipimpin oleh seorang imam di kursi duduk masing-masing
6. Sopir bisa bergantian untuk memberikan kesempatan yang lain melaksanakan sholat

Alhamdulillah… meski dalam kemacetan dan perjalanan semestinya kita bisa tetap melaksanakan sholat fardhu 5 waktu.

Memaknai 11 Tahun Kebersamaan

image

Hari ini tepat 11 tahun saya dan istri mengikat janji setia dalam sebuah akad pernikahan. Masih hijau memang untuk niatan terikat dunia-akhirat, tapi bukan waktu yang singkat bagi kami masing-masing menemukan arti tujuan kebersamaan ini. Dan bahkan ketika sudah lewat satu dasawarsa kami membangun rumah tangga, saya dan istri masih terus mencari format terbaik mewujudkan sakinah mawaddah warahmah.

Banyak hal yang sudah kami lalui bersama, ada suka juga duka, kadang tangis juga canda tawa. Meski mungkin masih banyak hal yang belum kami alami, serta cita dan harapan yang belum kesampaian, tapi semua yang ada sekarang telah mendewasakan kami. Dan kami masih terus berproses untuk semakin dewasa setiap harinya…

Yang pasti hanya kalimat syukur sajalah yang pantas kami ucap saat ini dan seterusnya, sebagai bagian dari penghambaan kami pada Allah Rabbul ‘Izzati atas segala nikmat yang diberikan.

Alhamdulillah… Ya Allah, telah Kau limpahkan nikmat-Mu pada kami: usia, kesehatan, anak-anak, harta-benda, kesempatan, ujian, dan nikmat-nikmat yang tidak akan mampu kami sebutkan satu persatu bahkan hingga sampai ajal kami. Maka jadikan kami hamba-hamba yang selalu mensyukuri nikmat-Mu. Aamiin

.

Istriku, terimakasih atas cinta, kasih sayang, pengertian, kesetiaan, kesabaran dan semua yang telah kau berikan padaku. Dan karenanya sudah sepantasnya aku menempatkan dirimu sebagai wanita kedua di hatiku. Semoga kelak kau akan menjadi permaisuriku di surga, insya’Allah…

Depok, 21 September 2014

Cita-cita, Harapan dan Angan-angan

Sewaktu kecil setiap orang pasti punya cita-cita. Waktu SD dulu cita-cita saya adalah dokter. Saya tidak tahu dari mana munculnya cita-cita itu karena tidak ada satupun di lingkungan keluarga besar saya yang menjadi dokter. Mungkin cita-cita itu muncul dari harapan orangtua saya, mereka mungkin punya keinginan salah satu anaknya bisa menjadi dokter. Dokter adalah profesi yang terhormat di lingkungan masyarakat pada umumnya sehingga tidak heran bila banyak orangtua yang berharap anaknya menjadi dokter kelak ketika dewasa.

Semasa SMP ketika ada formulir dari guru BP, saya mengisi cita-cita saya: Ulama dan Pengusaha. Ini jelas berbeda dengan cita-cita saya waktu SD. Tapi dari mana datangnya cita-cita itu? Saya yakin ini bukan dari orangtua saya karena bahkan ketika SMP saya ditawari untuk melanjutkan sekolah di pesantren tapi saya menolak. Saya merasa tidak akan betah dengan kehidupan pesantren apalagi selama  ini saya tidak pernah tinggal jauh dari orangtua. Di SMP saya mulai bergaul dengan teman-teman secara intens dan mereka adalah anak-anak yang orangtua mereka paham terhadap agama. Teman-teman saya ini mendapatkan pembinaan agama dari orangtuanya dan diberi fasilitas untuk belajar agama lebih banyak dari keluarga lain. Karena itulah mungkin muncul di benak saya cita-cita untuk menjadi ulama itu karena sering berinteraksi dengan orangtua teman-teman. Pengusaha? Nah yang itu belum jelas. Mungkin karena ayah dan ibu saya berwirausaha.

Sebagian dari kita punya cita-cita yang statis, sejak SD sampai kuliah cita-cita sama sehingga akhirnya betul-betul terwujud. Tapi sebagian yang lain tidak, seperti saya yang cita-cita SD hingga kuliah tidak sama. Kalo ditanya sekarang cita-cita saya apa, maka saya akan bilang: tukang sampah dan marbot masjid. Padahal saya kuliah di kampus sains, fakultas teknik, jurusan dan peminatannya pun engineering. Kenapa bisa begitu? Entahlah saya pikir karena ketika muda kita idealis, tapi semakin dewasa kita makin realistis. Idealis menuntut orang menunju pada hal yang detil, pasti dan khusus. Sedangkan realistis menempatkan cita-cita pada tempatnya dan harapan pada tempatnya, sesuai situasi dan kondisi yang ada sehingga boleh jadi lebih umum dan tidak pasti.

Waktu kecil bercita-cita menjadi dokter tentu menyenangkan karena bisa mengobati orang sakit. Orangtua juga berharap anaknya menjalani profesi yang menjamin kemakmuran anaknya. Keduanya berujung pada kebahagiaan. Menjadi ulama adalah cita-cita yang muncul dari contoh di keluarga lain di mana anak-anaknya menjadi anak yang tidak hanya cerdas tapi juga berakhlak baik. Sedangkan pengusaha lagi-lagi contoh dari orangtua di mana kesejahteraan menjadi terjamin. Keduanya berujung pada kebahagiaan. Bagaimana dengan tukang sampah dan marbot masjid? Menurut Anda sekarang saya sedang bercita-cita, berharap, atau berangan-angan?

Wallahu a’lam…

Mudik-Balik-Mudik

“Mudik Lebaran…”
Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar istilah itu? Kemacetan sepanjang belasan kilometer… Ribuan pemudik bermotor memenuhi jalanan Pantura… Atau Jakarta yang sepi karena ditinggal mudik penghuninya? Ya, seribu satu gambaran terlintas di benak kita tentang istilah yang satu itu. Tapi mau tidak mau, senang tidak senang, mudik lebaran sudah menjadi bagian dari kehidupan orang Indonesia sejak beratus tahun yang lalu. Dan bukan tidak mungkin, mudik lebaran akan tetap bertahan hingga akhir dunia.

Saya termasuk bagian orang Indonesia yang melakoni “ritual” mudik lebaran. Meski tidak tiap tahun, saya dan keluarga seperti sudah sepakat bahwa kami setidaknya 2 tahun sekali harus ya… harus pulang kampung. Kenapa harus? Karena kami masih punya orang tua yang tinggal di sana. That’s all… tidak ada alasan yang lebih penting dan mendasar buat kami mudik lebaran kecuali bersilaturrahim dengan orang tua. Tidak peduli apakah kami dalam kondisi lapang atau sempit, selalu ada jalan keluarnya.

Biaya Transportasi yang Makin Mahal
Disadari betul oleh kami, para pemudik lebaran, bahwa biaya transportasi menuju kampung semakin tahun semakin mahal. Tuslag tiket transportasi baik darat, laut, maupun udara mencapai 150-300% harga normal. Tak pelak lagi, kami mesti merogoh kantong lebih dalam untuk itu, dan bila kantong kami pas-pasan maka kami mesti menabung.

Memang kondisi ini sebenarnya adalah peluang untuk pebisnis bidang transportasi, karena saat-saat lebaran menjadi waktu di mana pemasukan menjadi berlipat-lipat. Tapi sayangnya, pemerintah belum bisa menanganinya secara kompak dengan swasta sehingga permintaan akan transportasi mudik lebaran yang lebih terjangkau belum bisa didapat masyarakat. Karena itulah sebagian orang, termasuk kami, memilih untuk mengatur volume mudik lebaran menjadi 2 tahun sekali.

Mudik Lebaran adalah Kemacetan di Seluruh Titik
Sudah menjadi kemakluman semua pihak, masa mudik lebaran adalah masa ketika kemacetan panjang berpindah atau tepatnya menyebar dari Jabodetabek ke seluruh penjuru Indonesia khususnya Jawa. Akibatnya tidak hanya antrean panjang berpuluh-puluh jam di sepanjang jalur tetapi juga kerusakan ratusan kilometer jalanan yang dilalui jutaan kendaraan bermotor yang hendak mudik.

Masalah kemacetan akibat mudik ini muncul setiap tahun, sayang sekali pemerintah pusat dan pemerintah daerah termasuk badan dan dinas terkait belum punya formula yang tepat untuk mengatasinya. Mobilisasi jutaan orang dan kendaraan dari Jabodetabek ke daerah pada kurub waktu tertentu telah menyebabkan penumpukan volume pengguna jalan di hampir seluruh titik yang dilalui. Kereta dan pesawat terbang dan kereta sebagai alternatif angkutan massa paling efektif seharusnya menjadi pilihan utama pemerintah.

Berhari-hari di Perjalanan
Waktu saya masih kuliah di Bogor, setiap kali menjelang lebaran saya tidak punya pilihan selain naik bis antarkota (bis malam). Anda tentu paham bagaimana kondisi angkutan yang satu ini saat menjelang lebaran: bis terbatas, penumpang berjubel, harga tiket mahal, dan waktu perjalanan yang tidak menentu.

Pernah suatu kali karena saya gagal mendapatkan tiket bis di terminal Lebak Bulus, saya memutuskan untuk mencari tiket di terminal Kampung Rambutan. Setelah menunggu berjam-jam, kira-kira jam 9 malam saya dapat tiket bis yang dicari. Ternyata saya dapat bis tua dan tanpa AC, pun tempat duduknya di samping sopir tanpa sandaran. Dan syukurnya saya selamat sampai di rumah jam 9 malam hari berikutnya, artinya saya menempuh perjalanan Jakarta-Magelang selama 24 jam.

Mungkin waktu itu saya merasa inilah perjalanan pulang kampung terburuk sepanjang hidup. Oo… saya salah. Setelahnya bahkan belasan tahun sesudahnya saya harus merasakan pengalaman yang tidak kalah pahit, 27 jam dalam perjalanan mudik. Lebih miris lagi saya bersama istri dan ketiga anak kami sedangkan Faqih sedang sakit. Alhamdulillah, selama perjalanan kami baik-baik saja termasuk Faqih.

Mudik-Balik-Mudik dalam Sepekan
Pernahkah Anda bolak-balik Jakarta – kampung halaman 2 kali dalam sepekan? Kecuali Anda businessman, pilot, masinis atau sopir angkutan maka saya maklum, selain itu rasanya berlebihan bolak balik gitu. Tapi ternyata saya malah sudah 2 kali mengalaminya, terakhir tahun ini. Sekali mudik mengantar istri dan anak-anak, balik karena mesti kerja lagi, trus mudik kedua yang benar-benar mudik. Mudik yang pertama 27 jam, baliknya 10 jam. Nah, gimana dengan mudik kedua? We’ll see… sekarang mo istirahat dulu di Pring Sewu.

Menulis Tema Ramadhan

Tahun ini buat saya beda dengan Ramadhan 3 tahun terakhir karena sekarang saya akan lebih fokus pada diri dan keluarga. Bahkan untuk menulis di sini pun saya seperti tidak sempat he he he… (#alasan.com). Tapi itulah kenyataannya, aktifitas yang lebih banyak saya kerjakan di Ramadhan tahun ini selain kerja adalah membaca dan membantu mengurus urusan rumah tangga.

Tahun ini Faqih belajar puasa
Faqih, putra kedua kami beberapa bulan lalu dikhitan. Saya sudah menuliskannya di sini belum ya? Hi hi hi… lupa ;P Karena itu kami mulai mengajarkan padanya kewajiban sebagai muslim baligh (masih lama kali… #rapopo).

Meski baru 5 tahun tahun ini Faqih belajar berpuasa. Seperti saya waktu kecil dulu, Faqih puasa bedug alias puasa setengah hari. Faqih mulai berlatih bangun lebih pagi untuk sahur, shalat Subuh berjama’ah di masjid, lalu tidak makan dan minum sampai Dzuhur. Jam 12-13 Faqih boleh berbuka, sesudahnya lanjut lagi berpuasa sampai Maghrib. Malamnya Faqih ikut shalat tarawih semampunya. Setengah bulan jalan, sepertinya dia mulai terbiasa meski sesekali merengek menangis minta jajan atau minum. Sabar ya, Nak…

Istri libur selama Ramadhan
Tahun ini kalender akademik agak kacau, karena Ramadhan hampir berbarengan dengan akhir tahun ajaran sehingga liburan sekolah 2-3 pekan di awal Ramadhan. Sisa 1-2 pekan masuk sekolah lanjut liburan Lebaran kurang efektif untuk bimbel istri yang pakai sistem pembayaran bulanan. Akhirnya istri saya memutuskan untuk meliburkan bimbel selama Ramadhan.

Untuk menutupi kekosongan waktu itu istri mencoba usaha sampingan, menjual coklat untuk lebaran. Walhasil mau tidak mau saya ikut turun tangan membantunya karena secara tidak terduga dapat pesanan hampir 200 toples. Sabar…

ODOJ, Tahfizh dan MTQ
Sejak bergabung dengan program membaca Al Quran satu juz sehari (ODOJ) 3 bulan lalu saya yang mestinya sudah 3 kali khatam ternyata baru 1 atau 2 kali khatam. Hadeuh… Karena itulah Ramadhan ini seharusnya saya lebih disiplin dalam tilawah Al Quran, sayangnya saya masih lebih sibuk dengan pekerjaan lain. Semoga di 10 hari terakhir ini saya punya lebih banyak kesempatan untuk mengakrabinya.

Hampir 2 tahun lalu saya belajar tahsin (membaguskan bacaan) di Rumah Tajwid Depok. Alhamdulillah bacaan saya sekarang jauh lebih baik dari sebelum saya belajar. Dan sesuai program saya mulai menghafal Juz 30, mulai dari depan. Saya merasa agak kesulitan, sehingga sudah hampir setahun saya baru bisa menghafal 3 surat saja. Meski begitu saya akan tetap berusaha, terutama di bulan suci ini.

Ramadhan tinggal 6 hari dan hampir saja saya tidak menulis tentang tema Ramadhan…

Tentang Pemilu (2)

[09:53, 7/9/2014] abu fida – faqih – faisal: Microblog:
“Saatnya Menentukan Pilihan”
[09:54, 7/9/2014] abu fida – faqih – faisal: Awali dengan doa dan munajat…

image

[09:55, 7/9/2014] abu fida – faqih – faisal: Datang dan perhatikan pilihan…

image

[09:55, 7/9/2014] abu fida – faqih – faisal: Daftarkan diri, jangan lupa sapa dan salam…

image

[09:56, 7/9/2014] abu fida – faqih – faisal: Ambil surat suara, pastikan tidak cacat…

image

[09:58, 7/9/2014] abu fida – faqih – faisal: Pilihanku…
Bismillah #mestirahasiakatanya

image

[09:59, 7/9/2014] abu fida – faqih – faisal: Masukkan surat suara…

image

[10:00, 7/9/2014] abu fida – faqih – faisal: Celupkan jari ke tinta jangan lupa

image

[10:01, 7/9/2014] abu fida – faqih – faisal: Alhamdulillah… Saatnya kembali bekerja

image

Depok, 9 Juli 2014 (copied by Whatsapp)