PNS dan Bonus Akhir Tahun

Siapa tidak mau dapat bonus akhir tahun? Sayangnya hanya pegawai swasta dan BUMN/BUMD saja yang biasa mendapatkannya. Tapi bukan tidak mungkin PNS bisa mendapatkannya …

Saat ini profesi pegawai negeri dan swasta semakin bersaing. Tidak hanya karena gengsinya, misal karena jabatan publik/birokrat diperebutkan melalui jalur demokrasi, tapi juga karena upah pegawai negeri saat ini semakin mendekati standar swasta … relatif sih. Karenanya bukan hal yang aneh bila profesi PNS menjadi alternatif bagi sarjana fresh graduate selepas kuliah.

Pemerintah memang menjamin kesejahteraan pegawai negeri dengan gaji yang semakin sesuai standar kebutuhan primer dan tunjangan yang semakin memadai untuk berbagai kebutuhan sekunder. Bahkan pemerintah telah cukup lama memikirkan kebutuhan pegawai negeri terkait kebutuhan biaya sekolah anak dengan memberikan gaji ke-13.

Sempat muncul wacana terkait tunjangan hari raya (THR) sebagaimana diatur dalam UU Tenaga Kerja yang menjadi hak pegawai swasta dan BUMN/BUMD, tapi hingga saat ini belum menjadi komponen yang masuk APBN. Beberapa pemda saja yang telah memberikan THR untuk PNSD dari APBD mereka yang berlebih, sedangkan untuk PNS pusat realisasi THR sepertinya masih sebatas wacana.

Benar atau tidak, sebagian instansi pemerintah telah berhasil secara swadaya membangun sistem non APBN untuk memberikan THR/bonus akhir tahun kepada pegawainya. Hal itu ditempuh dengan mengembangkan usaha koperasi pegawai atau badan usaha lainnya milik kolektif pegawainya. Walhasil, melalui penanaman saham pegawainya mereka bisa memberikan SHU atau deviden yang cukup kompetitif. Saya sangat ingin tau … bagaimana memulainya ya?

Masalah kesejahteraan PNS, dari sisi hak atas gaji dan tunjangan sebenarnya bukan full tanggung jawab pimpinan instansi. Cukup mengikuti mekanisme yang disediakan pemerintah maka standar penghasilan pegawai akan terpenuhi. Masalah yang kemudian muncul adalah ketika tuntutan kesejahteraan pegawai melonjak melebihi penghasilan mereka. Alasannya memang bisa bermacam-macam, mulai dari standar kebutuhan tempat domisili hingga kesenjangan sosial gaya hidup hedonis rekan kerja. Hadoh

Disadari atau tidak, ternyata pusing juga jadi pimpinan ya. Bila kesejahteraan pegawai dirasa kurang, loyalitas bisa-bisa anjlok. Saat tidak/belum ada mekanisme swadaya pegawai yang dijalankan maka risiko seolah-olah menjadi beban para bos. Pilihannya menjadi serba sulit, menyediakan tambahan penghasilan atau loyalitas kepada pimpinan menurun.

Memang PNS ini beda sama TNI/POLRI, loyalitas anggota TNI/POLRI dibentuk melalui pembinaan fisik dan mental sedangkan PNS kadang keduanya tidak tersentuh. Nah, menjadi PR bagi para bos PNS untuk mencari formula loyalitas PNS. Yang pasti kalo kesejahteraan berarti pemenuhan kebutuhan, maka tidak peduli PNS atau TNI/POLRI semua pasti menuntut dengan gigih. Dari sini berarti semestinya kesejahteraan bukan satu-satunya kunci loyalitas.

Nah … jadi setelah muter-muter ngalor ngidul gak nyambung gini, bagaimana pendapat Anda?

image

Disclaimer: Mohon maaf bila ada kesamaan peristiwa atau kejadian. Lebih mohon maaf lagi bila ternyata pernyataan dalam tulisan ini tidak benar.

Iklan

11-12-13 … Bintang pun Bertebaran di DIPA 2014

Bulan Desember untuk sebagian orang adalah waktu sibuk-sibuknya kerjaan. Begitupun untuk sebagian besar instansi pemerintah termasuk pemda, Desember adalah bulan terakhir menyelesaikan proyek anggaran. Jadilah para pekerja dan kantor pemerintah seperti berlomba-lomba mengebut begitu banyak pekerjaan di bulan Desember ini. Huff …

Memang tren volume pekerjaan yang meningkat tajam di akhir tahun bukan hal yang baru saja terjadi melainkan sudah menjadi ritme tahunan di negeri ini. Polanya meski lama jadi temuan para eksekutif di berbagai kementerian strategis namun penanganannya ternyata tidak mudah. Hal ini bila dikaitkan hanya dengan penyerapan anggaran maka yang diantisipasi kemudian cuma terkait dengan upaya agar anggaran terserap optimal jauh hari sebelum akhir tahun. Kemkeu kemudian mengeluarkan kebijakan untuk tidak melakukan tindakan atas dokumen anggaran kementerian yang bisa berimbas pada penyerapan anggaran. Wamen komit dengan menghilangkan pemblokiran anggaran alias tidak ada bintang. Mungkinkah?
Lanjutkan membaca “11-12-13 … Bintang pun Bertebaran di DIPA 2014”

Obrolan tentang Zakat Profesi

Entah sejak kapan saya mulai menggunakan Whatsapp (WA), tapi saat ini saya seperti tidak bisa lepas dari WA. Mungkin ini pula yang menjangkiti para pengguna BBM, meski saya tidak termasuk di dalamnya secara prinsip mirip-miriplah. Tapi benar, grup WA itu seperti do’a saya yg terkabul. Bagaimana tidak? Sejak mulai kerja sampai beberapa waktu lalu, saya dan teman-teman akademi seperti susah sekali mencari waktu untuk ngumpul dan ngobrol. Meski ada email, ada handphone, ada SMS, bahkan BBM tapi tidak semua teman bisa terhubung secara online seperti saat ini.

Asli. Saya punya harapan besar dari obrolan di grup ini, juga di grup-grup WA yang lain. Seperti pagi ini, ketika saya menimpali komentar seorang sohib terkait gaji dengan ide #ayo_bayar_zakat. Seketika rame betul teman-teman yang memberi tanggapan terkait tema itu, meski ada yang pro dan kontra tentu. Dari sini, brainstorming dan penyamaan persepsi dimulai …

Zakat Profesi, Pro-Kontra
Salah satu kewajiban bagi muslimin terkait harta adalah zakat. Memang bukan cuma ini tapi zakat adalah pilar utama ekonomi Islam. Mengapa begitu? Setiap sistem keuangan negara mempunyai basis penghimpunan dana dari masyarakat, misal ekonomi kapitalis dengan pajaknya. Nah, demikian pula dengan Islam sebagai sistem ekonomi negara. Ia juga punya basis penghimpunan dana dari ummat yaitu zakat.

Begitu pentingnya zakat dalam kehidupan masyarakat, sehingga ia masuk dalam salah satu kewajiban pokok muslim dari lima rukun yang lain; Rukun Islam. Zakat dicatat sebagai rukun ketiga setelah syahadat dan sholat 5 waktu. Penjabaran dari pemanfaatan zakat sebagai pilar utama ekonomi Islam sangat panjang lebar, karenanya kali ini saya cuma ingin ngobrol ringan saja. Jadi posting ini adalah resume dari obrolan saya di grup WA. Selamat menyimak!

1. Apakah zakat profesi ada dalam syariat?
Pro: Zakat profesi memang tidak secara zhohir tersebutkan dalam Qur-an dan hadits, ia muncul sebagai qiyas atas kewajiban zakat hasil pertanian/panen sebagai bentuk keadilan atas berkembangnya bentuk profesi dari masa ke masa.
Kontra: Zakat profesi tidak ada dalam syariat Islam zaman Rasulullah SAW. dan para shohabat RA.

2. Berapakah nishob untuk zakat profesi?
Pro: Nishob zakat profesi karena diqiyaskan dengan zakat hasil pertanian sama dengan nishobnya yaitu sebesar 653 kg beras (PKPU/Baznas) atau 520 kg beras (Rumah Zakat). Bila kita anggap penghasilan kita setara panen beras yg kita konsumsi misal 8500/kg, maka nishob penghasilan kita adalah 5,55 jt atau 4,42 jt.
Kontra: Zakat bagi selain petani, peternak dan pedagang nishobnya sama dengan nishob zakat harta benda yaitu setara 85g emas. Bila saat ini harga emas 450.000/gr maka nishobnya adalah 38,25 jt yang bertahan setahun (haul).

3. Berapa besaran zakat profesi?
Pro: Yang dikeluarkan zakatnya setiap tahun/bulan adalah 2,5% dari total penghasilan yang sudah masuk nishobnya.
Kontra: Zakat harta besarannya 2,5% dari total harta tersimpan yang sudah masuk nishobnya selama satu tahun (haul).

4. Apakah perhitungan zakat dari penghasilan kotor (sebelum dikurangi konsumsi) atau penghasilan bersih (sesudah dikurangi konsumsi)?
Pro: Karena diqiyaskan zakat hasil pertanian yang dikeluarkan saat panen maka lebih utama zakat dikeluarkan dari penghasilan kotor, meski demikian sebagian ulama membolehkan dikeluarkan dari penghasilan bersih.
Kontra: Zakat harta adalah simpanan tidak terpakai alias yang sudah disisihkan dari konsumsi harian.

Simulasi Zakat Profesi
Setelah menyimak pro-kontra zakat profesi, meski tentu belum semua, sekarang mari kita coba menghitung zakat profesi. Sebagai contoh kasus saya akan simulasikan zakat profesi seorang PNS.

1. Penghasilan
Gaji kotor 4,585 jt
Tunjangan kinerja 2,095 jt
Uang makan 570 rb
Total 7,250 jt

2. Nishob
Konsumsi beras 9.000/kg
Nishob 653 kg
Setara dengan 5,877 jt
* penghasilan masuk nishob

3. Zakat profesi
Besar zakat 2,5% x penghasilan
= 2,5% x 7,250 jt
= 181.250

Ternyata dari penghasilan bruto yang lebih dari 7 juta, zakat yang dibayarkan cuma 181-an ribu saja. Alhamdulillah, semoga kewajiban “ringan” ini bisa tertunaikan setiap bulannya.

Bersambung …

Hari Ini Premium 6.500 dan Solar 5.500

M3-I4-

Akhirnya “bisul” itupun pecah juga …

Memang bisul yang satu ini bukan bisul biasa, tapi bisul yang bikin pusing saat membesar dan makin nyeri ketika benar-benar pecah. Bisul itu adalah isu kenaikan BBM … ya dan akhirnya isu itu jadi kenyataan. Isunya saja sudah membuat masyarakat pusing tujuh keliling karena berimbas pada kenaikan berbagai kebutuhan pokok macam sayur-mayur dan lauk-pauk. Nah, ketika isu itu akhirnya jadi kenyataan dengan diumumkannya kenaikan harga BBM tadi malam maka susah disangkal lagi rencana kenaikan harga kebutuhan pokok lain macam ongkos angkutan umum hanya tinggal menunggu waktu. Sungguh, ini pilihan terakhir pemerintah yang memberatkan masyarakat ekonomi lemah.

Alasan kenaikan harga BBM yaitu lagi-lagi beban APBN atas subsidi yang “dirasa” terlalu besar. Dan, menurut pemerintah subsidi itu banyak dimanfaatkan oleh masyarakat kelas menengah ke atas yang mestinya tidak perlu disubsidi. Hadoh, secara prinsip ekonomi bahkan orang kaya sekalipun tidak akan menolak ketika ada kesempatan untuk mendapatkan potongan harga alias subsidi itu. Pemegang kuasa atas subsidilah yang seharusnya mengatur siapa yang mendapatkan subsidi dan yang tidak, sesuai haknya tanpa pilihan. Tentang bagaimana caranya, tentu sumberdaya pemerintah cukuplah untuk memikirkan dan menerapkannya. Gak bisa? Mundur aja …

Akhirnya sudah habis suara mereka meneriakkan penolakan atas rencana kenaikan harga BBM dan palu tetap diketok. Sah! Mulai hari, seberat apapun beban masyarakat atas risiko inflasi, harga BBM tetap naik. Habis perkara … #semalam tentu banyak orang langsung ngibrit antre di SPBU menuhin tangki motor dan mobil mereka 😛

image

H31 | KB Memang gak Nyunah tapi Perlu

M3-I4.2-2.S2-2.Z4.2-A4

Beberapa kali saya melihat keluarga minus (baca: ekonomi lemah) dengan anak-anak yang banyak. Maklum di kota saya tinggal, Depok, dan saya kerja, Jakarta, banyak ditemui keluarga yang berjuang untuk sekedar hidup saja. Dulu waktu saya tinggal di Jakarta, istri saya pernah aktif dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat miskin. Kegiatannya mengajari anak-anak pemulung mulai dari pelajaran sekolah hingga mengaji. Ternyata kampung dan keluarga pemulung tidak hanya di Jakarta, di Depok pun juga ada.

Nah, dari pengalam di atas saya menemukan fenomena yang cukup miris. Pertama, banyak di antara keluarga pemulung punya anak lebih dari dua orang. Kedua, anak-anak pemulung ini jarak umurnya berdekatan bahkan ada yang kurang dari 2 tahun. Ketiga, hampir semua anak pemulung tidak bersekolah. Keempat, beberapa keluarga pemulung tinggal di jalanan. Artinya, secara umum keluarga pemulung yang saya temui kurang memerhatikan Hak Anak.

Saya tidak sedang ingin menghakimi kepala keluarga pemulung yang seakan-akan lalai akan kewajibannya, karena bila dicermati banyak dari bagian masyarakat kita yang juga mengalami fase kehidupan seperti itu. Saya bahkan yakin, mereka sebenarnya sedang berjuang untuk sebuah kebahagiaan yang mungkin belum bisa terwujudkan. Beban hidup secara ekonomis di kota-kota besar seperti Jakarta juga Depok telah memaksa mereka menjalani pahitnya berumah tangga tanpa perencanaan. Ya, apakah bisa dibilang terencana bila sebuah keluarga yang hidup dari matapencaharian memungut sampah daur ulang tanpa tempat tinggal layak memiliki jumlah anak yang banyak dan kurang terjamin kebutuhannya?

Miris saja melihat seorang ibu, istri pemulung, yang sedang menggendong bayi dibelakang gerobak yang ditarik suaminya sementara dalam gerobak ada anak-anak mereka yang masih kecil-kecil. Meski anak-anak itu tampak gembira karena naik gerobak memang sangat menyenangkan buat mereka, tentu tinggal di rumah yang nyaman, bermain dan bersekolah tentu lebih baik untuk tumbuh kembang mereka.

Dalam pikiran saya, mestinya mereka berfikir lebih dalam lagi untuk mempunyai anak banyak dalam kondisi demikian. Tapi tentu tidak mudah mengatasi kebutuhan mendasar “itu” sementara tidak ada fasilitas untuk kebutuhan sekunder yang bisa merendamnya. Walhasil, pengendalian kelahiran anak untuk bagian masyarakat golongan ekonomi menjadi tidak terkendali. Kecuali untuk mereka yang sudah Sadar KB (Keluarga Berencana).

KB yang saya bicarakan ini tentu berbeda dengan konsep KB orde baru. Kalo dulu KB berarti pembatasan kelahiran atau jumlah anak, maksimal 3 atau 2 saja. Sekarang sepertinya bahkan BKKBN sekalipun telah mengubah paradigma tersebut menjadi merencanakan dengan matang kelahiran atau jumlah anak sesuai kemampuan ortu, secara komprehensif. Karenanya kalo dulu sebagian ulama melarang jama’ahnya mengikuti program KB maka sekarang sebaiknya setiap ulama menganjurkan program KB untuk seluruh jama’ahnya. Karena esensinya bukan membatasi jumlah anak tapi merencanakan masa depan anak lebih matang. Karena anak-anak kita punya hak, atas kebutuhan mendasar yang tidak hanya makan-minum, tapi juga pendidikan, tempat tinggal yang layak, keamanan dan juga kasih sayang.

So, mesti saya tegaskan lagi bahwa:

KB (dulu) memang gak nyunah, tapi (KB sekarang) perlu …

Beratnya Menjalankan Amanah

Suatu ketika saya bersama rekan-rekan pengurus musholla mendapatkan amanah jama’ah untuk menggalang dana santunan bagi yatim dan dhuafa di lingkungan kami. Idenya sederhana saja, memberikan sedikit uang untuk mereka yang kekurangan dalam menyambut datangnya Idul Fitri. Prinsipnya berbeda dengan zakat fitrah yang wajib bagi setiap muslim, santunan ini dikumpulkan dari para donatur dalam kurun waktu satu tahun melalui kegiatan arisan dan digenapi dengan suatu malam amal.

Lingkungan kami memang bukan lingkungan masyarakat berpunya, lebih banyak ekonomi menengah ke bawah. Meskipun demikian semangat untuk meringankan beban sekaligus berbagi kegembiraan bersama kaum papa masih ada. Saya sadar mereka bukan orang-orang yang berlebih bahkan cenderung membutuhkan sehingga urusan uang menjadi hal yang rumit bila tidak hati-hati. Contohnya beruntun terjadi dua tahun belakangan.

Dua tahun lalu ketika kas yatim disimpan dalam celengan tertutup sebagai tabungan tahunan untuk anak-anak yatim dari arisan tidak ada yang menyangka ketika saat celengan itu dibuka isinya tidak seperti yang diharapkan. Entah bagaimana isinya sangat sedikit dan karena yang menyaksikan hampir semua orang yang mengisi celengan itu tak pelak lagi rekan yang diberi amanah untuk menyimpan celengan itu menjadi sasaran kecurigaan warga. Meski buru-buru sebagian di antara kami berusaha menenangkan suasana dan yang bersangkutan mengungkapkan pernyataan akan bertanggung jawab, amanah untuk menyimpan celengan itu langsung direnggut dari yang bersangkutan. Sungguh seperti tanpa ampun 😦

Lanjutkan membaca “Beratnya Menjalankan Amanah”

30 Hari Meniti Iman (Hari 3)

Malam
M-BM-I-BI-T.20-W.3-TJ.2

Malam tadi di musholla samping rumah yang jadi imam sholat tarawih seorang anak muda yang belum menikah. Bacaan sholatnya lebih baik dari imam-imam senior dan ritme sholatnya disukai jama’ah ibu-ibu, bahkan istri sayapun menjadikannya standar yang pas untuk jadi imam tarawih. Tahun lalu adalah debut pertama pemuda ini sebagai imam sholat tarawih, waktu itu beberapa orang sempat menyampaikan kritikan pedas meskipun boleh jadi yang mengkritik tidak lebih baik dari yang dikritik. Alhamdulillah tahun ini tidak ada yang berkomentar, semoga berarti mereka sudah mulai toleran terhadap perubahan.

image
Pasar kaget di Ciganjur

Meramaikan musholla di bulan Ramadhan lebih mudah dibanding di bulan-bulan lain. Alasannya selain karena keutamaan yang dijanjikan Allah juga karena sudah menjadi adat atau kebiasaan di masyarakat kita. Tidak hanya di Indonesia, di Malaysia dalam film Ipin-Upin pun digambarkan tentang semaraknya Ramadhan dengan ramainya masjid oleh jama’ah. Beberapa tahun lalu saya sempat melakukan perjalanan di beberapa kota di Kalbar, tidak beda jauh dengan di Jawa, masjid ramai saat tarawih. Juga di kota-kota di Serawak, selain masjid pasar-pasar kaget pun menjamur dan dipenuhi pembeli. Terbukti di bulan suci ini aktifitas ekonomi meningkat seiring dengan meningkatnya aktifitas ibadah, semacam berkah yang tidak bisa dinafikan oleh siapapun.

Nah, bagaimana dengan Anda apakah merasakan hal serupa?

Siang
T.2-QS-S-D-BD.2-A-TJ.3

Pagi-pagi berangkat ke kantor, anak-anak masih tidur. Ternyata jalanan sudah ramai, anak-anak sekolah sudah mulai masuk sekolah. Perjalanan berlanjut dengan mobil kantor, jalanan lebih macet dari biasanya. Jarak yang biasa ditempuh dalam 1,5 jam pagi tadi menghabiskan waktu hampir 3 jam … hufff. Tapi gak apa-apalah itung-itung bisa ngaji di jalan. Lumayan, tilawah beberapa lembar trus dengerin ceramah dari ustadz motivator tentang harta yang berkah. Alhamdulillah dapat pencerahan …

Kerjaan dinas sering berseberangan dengan keinginan memaksimalkan ibadah, contohnya hari ini saya jadi tidak bisa sholat Dhuha dan qobliyah Dzuhur karena harus rapat luar kantor. Ya semoga Allah tetap memberikan kebaikan pada saya. Eh iya, saya dapat info bermanfaat tentang musholla dan karpet masjid. Ini dia fotonya.

image
Musholla di DJA

Perjalanan pulang 2 jam, saking ngantuknya saya gak sadar sudah hampir dekat kantor. Syukur, setelah kerjaan selesai bisa sholat Asar di masjid kantor trus ngejar target tilawah. Nikmatnya bisa berlama-lama di masjid, selain teduh dan tidak gerah saya juga bisa mendengarkan alunan merdu bacaan Al Qur-an dari saudara-saudara seiman yang saling berlomba mencapai sebanyak-banyak pahala di bulan suci ini. Seandainya sepanjang tahun seperti ini tentu menentramkan 🙂

One Day No RiceProgram Pemkot Depok demi Ketahanan Pangan Nasional

Beberapa hari terakhir di laman resmi Pemkot Depok, muncul informasi terkait salah satu programnya: One Day No Rice. Ah mungkin ini bisa menjawab pertanyaan saya dalam posting terdahulu. Ternyata benar, sejak 2009 hingga 2011 sudah muncul perpres dan pergub terkait ketahanan pangan. Di billboard Kementan pun sudah terpampang selama berhari-hari himbauan untuk mengganti beras sebagai bahan makanan pokok dengany bahan yang lain seperti singkong, ubi atau jagung.

image

[/caption]

Meski belum mencari informasi yang valid tentang alasan munculnya perpres, pergub, dan perwakot itu tapi sekilas saya simpulkan bahwa kebutuhan bahan pangan dan persediaannya tidak berimbang alias besar pasak daripasa tiang. Karenanya baik pempus maupun pemda berupaya agar konsumsi beras bisa ditekan semaksimal mungkin, hal ini tentu bertujuan untuk menekan defisit cadangan pangan sekaligus menekan harga bahan pangan pokok. Sesuai hukum ekonomi, harga beras yang naik akhir-akhir ini disebabkan permintaan tetap/meningkat sementara persediaan menurun.

Nah sepertinya saya perlu mencermati ini dan menjadikannya alternatif untuk menekan lonjakan kebutuhan anggaran belanja rumah tangga ke depan. Mengkonsumsi minimal sehari dalam sepekan atau sekali dari tiga kali makan dalam sehari kecuali untuk anak-anak, menjadi program ketahanan pangan/ekonomi keluarga. Sepertinya istri yang ingin punya program diet sehat akan menyetujuinya.

Btw, saya pernah melakukan pembibitan dengan pot tanaman tomat dan cabe di pekarangan rumah. Hasilnya baru saya nikmati baru-baru ini meskipun yang berhasil panen cuma satu tanaman cabe merah keriting saja. Alhamdulillah, tiada usaha kecuali Allah memberikan hasil. Mungkin saya perlu usaha dan do’a yang lebih serius lagi.

image

Sumber: ghiboo.com
Sumber: desasejahtera.org

Saya sebagai warga Depok mendukung program One Day No Rice. Semoga apa yang kita usahakan mendapat ridho Allah sehingga ketahanan pangan khususnya di Depok semakin meningkat. Aamiin.

Bagaimana dengan Anda?

Harga Barang-barang Melonjak. Ada Apa Ya?

Awal bulan seperti biasa kami membeli beras untuk kebutuhan sebulan, biasanya kami beli langsung 20 kg atau sekarung. Yang mengejutkan harganya yang bulan kemarin masih 160-an ribu sekarang jadi 180-an ribu. Survei ke beberapa pedagang, ternyata memang harga beras sedang naik. Akhirnya beli yang sedang saja biar agak murah.

Ahad kemarin kami pergi ke mall untuk belanja susu dan popok. Popoknya dapat, susunya habis tak tersisa. Meski harganya naik, susu-susu di situ sepertinya tetap diborong karena di tempat lain harganya sudah hampir 60-an ribu. Akhirnya kami beli di swalayan lain dengan harga semahal itu, naik 5 ribuan dari bulan kemarin.

Harga sayuran dan lauk di pasar juga naik, entah karena hujan atau karena stoknya menipis. Padahal bulan-bulan ini tidak ada momen penting seperti kenaikan BBM, TDL atau gaji. Kenapa ya harga barang-barang kebutuhan pokok naik? Mungkin Anda tahu jawabannya.