Ceramah Halal Bihalal Paguyuban Bani Singosenjoyo

Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Sekali lagi biar afdhol… Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Innalhamdalillah, nahmaduhu wanasta’inuhu wanastaghfiruhu wana’udzubillahi min shururi anfusina wamin sayyi-ati a’malina, man yahdillahu fala mudhillalahu waman yudhlil fala hadi-alah. Asyhadu an la-ilaha illallahu wahdahu la-syarikalahu wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu warasuluhu la-nabiya ba’dah. Wash sholatu wasalamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala alihi washohbihi waman walah wala-haula wala-quwwata illa billah.
Yang saya hormati, sesepuh saha pinisepuh paguyuban Bani Singosenjoyo sekalian. Bapak ibu pakdhe budhe paklik bulik kangmas mbakyu dan adik2 yang tidak saya sebutkan satu persatu tapi tidak mengurangi rasa hormat dan mahabbah saya kepada saudara2 sekalian.
Perkenankan saya memanjatkan syukur kehadirat Allah SWT. karena hanya dengan nikmat dan rahmat-Nya sajalah saya bisa berada di sini, bertemu dengan simbah2 dan saudara2 sekalian. Sholawat serta salam semoga selalu tercurah lestari kepada baginda nabi besar Muhammad SAW., keluarga, para sahabat dan pengikut beliau yang istiqomah hingga akhir zaman.
Saya di sini sekali2 bukan karena saya lebih pintar, bukan juga karena saya lebih ‘alim dari saudara2 sekalian tetapi karena mengingatkan sesama muslim adalah kewajiban bagi setiap pribadi muslim sebagaimana firman Allah dalam Surat Al Ashr: Wal ‘ashr, innal insana lafi khusr, illalladzina amanu wa ‘amilush sholihati watawa shoubil haqqi watawa showbish shobr. Demi waktu, sesungguhnya manusia itu sungguh2 dalam kerugian, kecuali orang2 yang beriman dan beramal sholih, yang saling menasihati kepada ketaqwaan dan saling menasihati untuk kesabaran. Selain itu memenuhi sunnah Rasulullah SAW, junjungan kita bersama, seauai hadits beliau: Balighu ‘anni walau ayah. Sampaikan dariku walaupun hanya 1 ayat.
Saudara2 yang dirahmati Allah, alhamdulillah kita telah sampai pada hari raya Idul Fitri 1439H. Di hari raya Idul Fitri ini ada 2 kebahagiaan yang dirasakan kaum muslimin. Kebahagiaan yang pertama, mendapatkan kemenangan setelah berpuasa Ramadhan selama sebulan penuh. Kemenangan apa yang diraih kaum muslimin dari puasa itu? Kemenangan atas hawa nafsunya, menahan diri dari makan minum dan berhubungan suami istri di siang hari, karena imannya kepada Allah SWT. Ganjarannya atas kemenangan ini kelak adalah surga. Banyak muslim merayakan Idul Fitri dengan sholat Ied tetapi tidak semua muslim yang merasakan kemenangan ini. Ciri2 muslim yang mendapatkan kemenangan ini adalah mantapnya ketakwaan dalam dirinya. Sholat 5 waktu terjaga, memelihara mulut, mata dan telinga dari kemaksiatan, ringan berinfaq, dan sebagainya. Bila kita masih malas beribadah dan beramal sholih boleh jadi kita tidak mendapatkan kemenangan itu.
Kebahagiaan yang kedua, berkumpul dengan keluarga dan saudara2 tercinta dalam sukacita. Berkumpul ini menjadi fitrah bagi manusia sebagaimana Allah menciptakan manusia berbangsa2 dan bersuku2 agar saling mengenal. Allah menciptakan umat manusia dari seorang lelaki dan seorang perempuan lalu dari keduanya Allah jadikan umat manusia yang banyak. Seperti hari ini, jumlah anggota bani Singosenjoyo sekarang jika dibandingkan dengan awal paguyuban ini mengumpulkan anggotanya dulu boleh jadi lebih dari 2 kali lipat. Mangan ora mangan sing penting kumpul, nggih boten? Kelak, orang2 beriman akan dikumpulkan Allah di surga bersama anak2 dan cucu2nya tapi dengan syarat … napa syaratipun? Syaratnya beriman dan bertakwa. Kita berdo’a, semoga Allah SWT. melindungi bani Singosenjoyo di dunia, tetap dalam keimanan dan ketakwaan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. Cuma apakah berdo’a saja cukup?
Saudara2 yang saya cintai karena Allah ta’ala, dulu Presiden Suharto mendapatkan penghargaan dari PBB karena berhasil menjalankan suatu program. Ada yang tau? Nggih leres, Keluarga Berencana alias KB. Slogan yang saya ingat sedari kecil dulu, 2 Anak Cukup. Pegawai negeri wajib ikut KB, sehingga hanya difasilitasi jaminan kesehatan dll untuk maksimal 2 anak saja, kalo ada anak ketiga dst maka biasa disebut sebagai anak swasta. Nah kalo sekarang masih ada tidak program itu? Masih, tapi tidak wajib lagi. Kalo dulu tujuan Program KB untuk membatasi jumlah kelahiran alias menekan tingkat pertumbuhan penduduk Indonesia, supaya hidup lebih sejahtera. Kalo sekarang perlu tidak? Saya sekarang punya 4 anak, tapi saya ikut KB 2 kali jadi sementara pas. Tapi apakah cukup hanya dengan membatasi jumlah anak trus hidup sejahtera? Apakah KB juga bisa menjamin keluarga kita masuk ke surga Allah SWT? Jawabannya tidak, kecuali kita ubah pemahaman kita akan program ini.
Keluarga Berencana (KB) dalam terminologi Islam tidak terbatas pada membatasi jumlah anak, tetapi lebih daripada itu merencanakan kehidupan berkeluarga agar bahagia di dunia dan selamat di akhirat kelak. Begitu banyak ayat dalam Al Quran yang mengingatkan manusia akan hal ini, di antaranya:
  • Surat An Nur: … wanita2 yang baik adalah untuk laki2 yang baik, dan laki2 yang baik adalah untuk wanita2 yang baik pula …
  • Surat At Tahrim: Wahai orang2 beriman jagalah diri dan keluargamu dari api neraka…
  • Surat An-Nisa: … Dan hendaklah takut kepada Allah orang2 yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak2 yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka…
  • Dst.
Nah, kira2 program KB seperti apa yang bisa mengantarkan keluarga kita menuju kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat kelak?
Saudara2 yang dirahmati Allah SWT. Ada 2 tahapan besar bagi setiap muslim dalam berkeluarga. Yang pertama, Persiapan Berkeluarga. Berapa banyak pernikahan yang kandas di 10 tahun pertama? Banyak. Berapa banyak pernikahan yang berantakan di 10 bulan pertama? Lebih banyak. Berapa banyak pernikahan yang karam di 10 minggu pertama? Sangat banyak, contoh mudahnya pernikahan artis2 yang sering kita tonton di televisi. Kebanyakan kasus perceraian disebabkan karena pasangan suami istri tidak sungguh2 di tahapan pertama ini. Artinya boleh jadi persiapan berkeluarga hanya sampai pada 2 modal: Cinta dan Harta. Dan terbukti hal itu tidak cukup untuk membawa keluarga menuju keluarga yang langgeng. Nah, program KB perlu dilakukan karena penting dalam Persiapan Berkeluarga ini. Hal yang penting untuk dipahami di antaranya:
  • Keluarga yang baik dibentuk dari pribadi2 yang baik. Sebagaimana tsb di atas, setiap muslim semestinya menyadari bahwa sebelum membentuk keluarga yang baik, masing2 calon suami dan calon istri berusaha menjadi pribadi yang baik. Baik di sini tentu bukan pada paras, harta atau kedudukannya saja tetapi lebih pada agama dan akhlaknya. Sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW.: Wanita dinikahi karena 4 hal: hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah wanita yang taat beragama niscaya engkau beruntung. Hal ini berlaku juga untuk wanita ketika menentukan calon suami.
  • Keluarga yang kuat dibentuk dengan niat yang kuat juga. Sebagaimana hadits Nabi Muhammad: Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya. Setiap amalan muslim termasuk menikah sangat ditentukan dari niat awal, jika dilakukan untuk ibadah maka akan jadi ibadah tetapi jika hanya untuk kesenangan belaka maka akan mendapatkan kesenangan saja tanpa nilai ibadah. Menikah dalam Islam bukan hanya menyatukan 2 manusia (laki2 dan wanita) menjadi 1 keluarga tetapi mengikat mereka dalam perjanjian yang kuat (mitsaqon gholizho) di dunia hingga di akhirat kelak. Artinya tanggung jawabnya tidak berhenti di dunia saja tetapi berlanjut hingga di akhirat.
  • Keluarga sakinah sejatinya merupakan proses dan bukan hasil akhir. Kehidupan berkeluarga ibarat melakukan perjalanan dengan perahu melintasi samudera luas. Terkadang laut tenang dan menyenangkan, tapi tidak jarang berubah menjadi badai yang mematikan. Bila kurang persiapan maka tidak mustahil perahu karam meskipun pantai masih tampak oleh mata. Perlu ilmu dan ketrampilan yang cukup dari awak perahu untuk melakukan perjalanan hingga sampai di pantai impian. Kalo buat pengantin baru, pernikahan itu indah karena perahu masih ada di pantai. Tapi bagi pasangan suami istri yang sudah beberapa waktu bersama, pernikahan bisa jadi bagai siksaan waktu karena perahu terombang-ambing tanpa kepastian sampai di pantai impian.
Karenanya baik bagi adik2 yang belum menikah dan juga bapak ibu yang putra-putrinya hampir menikah, saya berpesan mohon jangan lupakan program KB untuk Persiapan Menikah ini: menjadi pribadi yang baik, miliki niat yang kuat dan persiapkan bekal yang cukup.
Saudara2 yang saya cintai karena Allah SWT. Tahapan yang kedua, Membina Keluarga. Saya berkali-kali mendengarkan nasihat pernikahan saat mengikuti akad nikah teman2 atau saudara2. Ada satu nasihat pernikahan yang menurut saya pas untuk saya ulas terkait tahap kedua ini. Ustadz asal Salatiga tersebut menyampaikan bahwa baik pasangan muda maupun pasangan tua, perlu melakukan 3 hal setelah menikah.
  1. Pengenalan Mendalam. Bapak ibu dan saudara2 di sini adakah yang tidak pacaran? Ada, tapi sedikit ya. Kalo saya tanya apa tujuan pacaran? Mengenal, ya mungkin dilakukan tapi cuma kulitnya saja. Kebanyakan yang baik2 saja yang muncul saat pacaran, karena memang ada hal lain yang dominan saat pacaran yaitu bersenang2. Nah, baik yang dulu pacaran maupun tidak perlu melakukan pengenalan mendalam terhadap pasangannya, meliputi pribadi maupun keluarganya. Karena menikah itu sesungguhnya menyatukan tidak hanya 2 orang melainkan juga menyatukan 2 keluarga besar. Kalo pacaran dulu, ketemu penampilan rapi, cantik, sikap juga lemah lembut. Sesudah menikah, melihat kenyataan kondisi pasangan dari tidurnya, bangun tidur sampai tidur lagi. Pengenalan mendalam ini penting, karena dari sinilah akan muncul kasih sayang di antara suami istri (mawaddah warohmah). Suami istri saling menerima pasangan apa adanya bukan ada apanya lagi, berbeda dengan saat masih pacaran.
  2. Penyesuaian. Pasangan suami istri yang sudah melakukan pengenalan mendalam terhadap masing2 sebaiknya melakukan penyesuaian. Di sini ada prinsip asah, asih, asuh. Suami menempatkan diri sebagai imam dalam keluarga sedangkan istri menjadi makmum. Kalo dulu masing2 bisa melakukan aktifitas sendiri2 sesuai keinginannya ketika berkeluarga semua harus disinkronkan dengan pasangan. Suami misal mungkin dulunya pulang kerja bisa mampir2, main ke rumah teman atau nongkrong2 di warung dsb. Nah kalo sudah punya istri tentu tidak lagi selalu seperti itu, kalo tidak perlu sekali ya langsung pulang. Atau kalo mendesak juga mengabari istri dulu. Demikian pula istri, dulunya bisa belanja kebutuhannya dengan bebas mo beli baju tiap bulan atau beli make-up dsb. Sesudah menikah tentu mesti ijin ke suami, beli baju menyesuaikan kondisi keuangan keluarga, modelnya juga mensinkronkan selera suami dll. Dan lebih jauh lagi, penyesuaian dengan kondisi keluarga besar masing2, karena menjadi menantu tidak lain berarti menjadi anak dari mertua kita.
  3. Pemeliharaan kondisi. Berkeluarga itu tidak akan datar begitu saja, pasti ada gelombang2. Mulai dari masalah internal sampai masalah eksternal. Mulai dari hal kecil misal selera makan atau cara mandi sampai hal yang besar seperti pendidikan anak atau memilih prioritas keluarga. Akan muncul perbedaan2 di antara pasangan suami istri dalam menyikapi suatu permasalahan. Kondisi yang baik setelah proses pengenalan mendalam dan penyesuaian akan diuji, apakah masing2 bisa menghadapinya dengan baik dan benar. Di sini butuh komitmen yang kuat dari anggota keluarga baik suami, istri maupun nantinya anak2. Tujuannya jelas, untuk menjaga keutuhan keluarga tetap dalam koridor menuju sakinah mawaddah warohmah. Bila pemeliharaan kondisi ini berhasil maka akan muncul ketentraman (sakinah) dalam keluarga. Dan ini mesti dilakukan terus-menerus dalam keluarga hingga akhir hayat.
Saudara2 yang dirahmati Allah. Menjadi pribadi muslim yang kaffah dan membina keluarga sakinah mawaddah warohmah adalah 2 hal utama dalam program Keluarga Berencana dalam pemahaman Islam. Insya-Allah ketika pribadi kita baik, keluarga kita juga baik maka masyarakat dan negara ini menjadi baik pula. Baldatun thoyyibatun warobbun ghofur. Semoga bani Singosenjoyo kelak akan dikumpulkan di surga Allah SWT. Aamiin aamiin ya Rabbal ‘aalamiin. Dari saya kurang lebihnya mohon maaf.
Wal ‘afwu minkum, billahit taufiq walhidayah wassalamu ‘alaikum wr. wb.
Iklan

Puasa Ramadhan #2

Hari ini saya buka puasa tidak bersama #antimainstream dikit lah. Bukan berarti saya buka puasa duluan, tapi tidak bareng-bareng aja. Pasalnya istri bukber di rumah temannya, semua anak dibawa. Jadilah saya buka puasa sendiri di rumah, tapi ta’jil berbuka dan makan malam sudah disiapkan istri.

Menunya kolang-kaling, ditemani ikan-ikan di akuarium. Lumayan juga, anggap saja ini kurma lokal.

Makan malamnya pakai soto ayam nikmat, ditemani nasi anget dan martabak gosong buatan sendiri.

Alhamdulillah hari ini anak-anak masih puasa normal, termasuk anak ketiga kami puasa setengah hari. Bagaimana puasa Anda hari ini?

Puasa Ramadhan #1

Hari ini anak-anak saya mulai puasa, termasuk yang baru mo masuk TK. Meskipun baru puasa bedug (1/2 hari) tapi lumayan untuk anak balita. Sempat ngambek minta makan-minum jam 9 pagi, saat bangun tidur. Untungnya bisa dialihperhatiankan ke hal lain, meskipun untuk lanjut sesudah buka siang mesti dijanjikan berbuka dengan es duren.

Alhamdulillah, hari pertama puasa Ramadhan tahun ini lumayan lancar dengan kesepakatan baru. Tidak ada gadget sebelum tilawah 1 dan 1/2 juz. Sahur sambil mendengarkan kultum dan berbuka diawali tilawah bareng. Semoga hari-hari berikutnya tetap istiqomah dengan semangatnya ya, Gaes…

Ramadhan itu bulan kebersamaan.

Membimbing itu Tidak Gampang

Seiring bertambahnya usia, seseorang akan dihadapkan pada berbagai persoalan dalam kehidupannya. Di usia yang lebih muda kita pada umumnya berpikir menjadi orang yang lebih tua daripada kita adalah sesuatu yang menyenangkan. Saat masih sekolah kita melihat mahasiswa begitu asyik kuliah, bebas dengan baju tak seragamnya. Saat kuliah kita melihat orang bekerja begitu menikmati hasil pekerjaannya, membeli mobil, menikah atau punya anak. Saat sudah bekerja kita melihat bos-bos kita begitu asyik menikmati masa menjelang pensiunnya, bersiap untuk libur panjang, momong cucu dan seterusnya. Kenyataannya menjadi lebih tua bukan perkara gampang. Ada hal yang belum terpikir saat kita lebih muda, apa ya?

Continue reading “Membimbing itu Tidak Gampang”

Lelaki Berkalung Gendongan

Membaca judul di atas mungkin mengingatkan Anda dengan sebuah judul film nasional beberapa tahun lalu, di mana digambarkan seorang wanita di lingkungan pesantren yang mempunyai pandangan berbeda dengan lingkungannya secara umum.

Tapi saya tidak akan membahas itu lho. Sekedar analogi saja. Malah saya punya ilustrasi menarik. Berikut…

Gimana, kira-kira pas gak judul di atas? Wkwkwk. Buat seorang yang bertitel ayah, segagah apapun Anda maka jika memang jantan suatu saat pasti akan mengalaminya. Ya, Anda adalah: Lelaki Berkalung Gendongan.

Kira-kira malu gak jika Anda sesekali mesti menggendong bayi dengan kain gendongan? Buat saya tidak sama sekali, bahkan ini membanggakan. Menjadi ayah adalah kebanggaan buat saya, meskipun saya bukan ayah terbaik. Tapi setidaknya untuk anak-anak saya, yang terbaik yang akan saya usahakan. Bagaimana dengan Anda?

Sasirangan Banjarmasin vs Sasirangan Jogja

Bila Anda perhatikan, foto di atas sang model memakai batik motif warna merah. Jangan lihat posturnya yang kurus, fokus pada motif batiknya. Apakah jenis batik yang ia pakai? Biar lebih jelas saya berikan contoh motifnya sebagai pembanding.

Atau yang ini.

Nah, menurut Anda mirip tidak? Ya kalo gak mirip, dimirip-miripin lah… Trus kenapa saya tuliskan judulnya seperti itu? Ceritanya begini. Suatu saat bos saya dinas ke Kalsel, dan pulangnya kami staf seruangan dibelikanlah kain Sasirangan. Beliau bilang kita buat kain ini seragam panitia Rakor tahun depan. Kami tentu senang, tapi… seorang rekan membisiki saya sesuatu. Ssstt… Sasirangan bukannya berbahan sutera, Mas. Eng ing eng… segera saja saya cek di internet, karena sebagai muslim saya tidak boleh memakai sutera. Dari sini saya dapatkan jawaban dan kemudian saya berpikir tapi belum ada jalan keluar.

Akhir tahun itu saya berkesempatan pulang kampung sekeluarga. Malahan kami mengajak bapak-ibu dan mertua jalan-jalan ke pantai Depok, Jogja. Saat pulang kami sempatkan mampir di Malioboro. Dan tentu ke pasar Beringharjo. Nah, di sanalah ide saya muncul tiba-tiba. Di sinikan pusat batik, pasti ada motif Sasirangan. Tanya satu-dua penjual eh bener… saya mendapatkan satu kain dengan motif mirip dengan yang saya cari. Langsung saja saya kontak teman-teman cowok ruangan tentang ini dan spontan hampir mereka semua titip dibelikan dengan warna yang sesuai. Singkat cerita ketika kami jadi panitia rakor yang kebetulan di Jogja, bos-bos kami pakai Sasirangan Banjarmasin sedangkan staf-staf cowok pakai batik Jogja motif Sasirangan. He he he… what a wonderful life 😁

And Fia Is Her Name

Saya tergagap dibangunkan istri jam 2.30-an pagi ini. Di hari kedua sahur, saya berharap bangun jam 3-an karena biasa sahur di akhir waktu. Ternyata istri bilang kalo dari jam 2-an sudah mules terus dan sudah keluar flag (saya tidak tau istilah yang benar, yang saya tulis lebih dekat dengan istilah komputer). MasyaaAllaah … berarti sudah waktunya istri saya melahirkan. Saya bergegas ke kamar mandi untuk bersiap-siap ke Poned. Sesudahnya saya membangunkan adik dan biyung lalu mengeluarkan motor dari halaman rumah. Istri sudah menyiapkan tas berisi perlengkapan yang mesti dibawa, kami membawa sedikit bekal lalu berangkat ke Puskesmas.

Istri saya berjalan kaki dari rumah ke Poned sementara saya naik motor di sebelahnya. Beberapa kali orang berlalu di dekat kami, pandangan mereka sedikit aneh, entah apa yang mereka pikirkan karena saya fokua pada kondisi istri. Tidak sampe 15 menit kami tiba di gerbang Poned, satpam membuka pintu pagar dan kami masuk ke dalam. Petugas yang piket sudah bangun untuk makan sahur, mempersilakan istri saya masuk ke ruang periksa sementara saya mengisi formulir di meja administrasi.

Baru bukaan satu…, begitulah kira-kira yang disampaikan petugas setelah memeriksa dalam kandungan istri saya. Istri keluar dari ruang periksa, kami pun duduk menunggu di kursi tunggu. Beberapa saat berlalu petugas memanggil kami ke meja administrasi. Mereka menyampaikan kondisi dan rencana aksinya. Istri dipersilakan menunggu di ruang perawatan Poned, saya pamit mencari makan sahur dan sholat Shubuh karena waktu sudah menunjukkan jam 4.15.

Setelah menyantap sahur di menit-menit akhir Imsak, saya pun menuju masjid untuk sholat Shubuh. Saya berdo’a semoga istri dan anak kami diberikan keselamatan dan kesehatan oleh Allah. Saya pun beranjak kembali ke Poned, menunggui istri saya. Kami berinisiatif menghitung frekuensi dan durasi kontraksi istri dengan aplikasi yang saya unduh di Playstore. Jam 6 istri saya diperiksa dalam lagi, baru bukaan dua. Jam 8 istri saya diperiksa lagi, baru mendekati bukaan 3. Istilah “bukaan”, bagi yang awam, silakan googling ya.

Sesuai prosedur yang disampaikan di awal oleh petugas, lewat jam 8 petugas piket berkonsultasi dengan penanggung jawab Poned melalui telpon (karena hari ini hari libur) untuk menyampaikan kondisi dan mengambil tindakan. Saya pun diminta mencari RS yang diinginkan sebagai rujukan mengingat risiko kelahiran istri. Saya bergegas menuju RS. GPI untuk mencari informasi, dan Alhamdulillah diterima setelah proses pengecekan yang lumayan panjang. Hampir jam 11, istri saya diantar dengan ambulance puskesmas ke UGD RS. GPI tanpa biaya. Kami menggunakan BPJS Kesehatan, fasilitas dari kantor saya.

Di UGD, istri saya langsung menjalani pemeriksaan rekam jantung bayi dan dirinya sendiri. Saya tidak tau hasilnya, bidan yang memeriksa bilang hasilnya akan disampaikan oleh dokter kandungan. Perawat kemudian memasang infus, sementara bidan berkonsultasi dengan dokter melalui telpon. Walhasil, dokter memutuskan istri saya harus menjalani operasi cesar untuk melahirkan bayi kami. Terjadwal jam 13 hari ini. Subhaanallaah

Istri lalu dipindahkan ke ruang tindakan kebidanan sementara saya mengurus administrasi pendaftarannya. Sesudahnya saya bergantian dengan biyung menunggui istri di ruang tindakan karena anak-anak saya ikut semua ke RS kecuali Fida yang sedang ada kegiatan di sekolah. Mereka ingin menunggui Mama mereka melahirkan adik kecil yang sudah lama mereka tunggu-tunggu. Tim dokter datang agak terlambat, hampir jam 14 baru lengkap sehingga jam 14.30 istri baru masuk ke ruang operasi. Selama menunggu istri digantikan baju, diberi penjelasan tetang bius lokal dan diganti infusnya. Dag dig dug

Lewat satu jam sejak istri masuk ke ruang operasi, mas Faqih sudah tidak sabar. Berkali-kali dia menanyakan, kapan mamanya keluar dan kapan dede bayinya lahir. Entah kenapa selain excited, dia juga sangat emosional. Agak beda dengan dik Faisal yang lebih tenang, juga kak Fida. Semoga setelah adiknya lahir, mas Faqih bisa lebih tenang. Tiba-tiba box bayi lewat di depan kami, perawat lalu memanggil keluarga bayi yang dibawanya. Saya lalu menghampirinya, dan perawat langsung mengenalkan bayi itu pada ayahnya. Alhamdulillaah … ini putri saya, bahkan kami belum punya nama untuknya. Setelah adzan dan iqomah, perawat menyilakan saya memotretnya dengan kamera hape … cepret cepret !!


Lebih dari 1 jam kemudian barulah istri keluar dari ruang operasi. Menjelang Maghrib hari ini, Allah mengabulkan do’a saya di Shubuh tadi. Saya bersyukur, bayi dan mamanya diberikan keselamatan dan kesehatan. Terima kasih ya Allaah …

Beberapa hari kemudian kami berdua sepakat memberinya nama Shofia.

Generasi Cyber

Ramadhan Karim…

Tahun ini liburan sekolah berhimpit dengan bulan Ramadhan, sehingga anak-anak menjalani hari-hari puasanya di rumah. Meski sepertinya ini lebih nyaman buat mereka tapi ada hal-hal yang merisaukan saya sebagai orangtua.

Waktu Luang Tidak Terstruktur
Anak-anak yang liburan saat puasa Ramadhan bisa puas menghabiskan waktu untuk melakukan aktifitas yang mereka sukai seharian. Saya juga ingat waktu saya seusia mereka dulu, libur Ramadhan adalah hari-hari membaca buku dan menonton tivi. Sejak Subuh sampe hampir Dzuhur membaca komik dan novel petualangan, menjelang Maghrib asyik menonton sinetron religi di tivi.

Dulu anak-anak suka memulai hari puasa mereka dengan berjalan-jalan keliling kampung. Siangnya tidur seharian dan sorenya bersiap berbuka dengan ngabuburit. Nah, yang berbeda adalah sekarang ini masa ketika anak-anak sudah akrab dengan gadget dan internet. Tidak bisa dipungkiri, ini mengubah cara anak-anak menjalani puasa mereka.

Akses anak-anak ke gadget dan internet yang tidak dibatasi membuat waktu luang mereka dihabiskan untuk bermain game dan lain-lain hampir sepanjang hari. Saking asyik dengannya, waktu luang saat liburan menjadi tidak terstruktur. Kadang-kadang ada aktifitas positif tapi lebih banyak lagi aktifitas yang kurang bermanfaat.

Generasi Gadget
Anak-anak sekarang tumbuh ketika gadget telah menjadi kebutuhan primer hampir semua orang. Tentu orang tua mereka sendiri yang punya peran mengenalkan gadget ke anak-anaknya bahkan di usia yang terlalu belia. Begitu besar pengaruh gadget sedemikian hingga balita saja sudah bisa mengakses Youtube sendiri dari hape orangtuanya.

Berkenalan dengan teknologi sebenarnya baik, buat orang dewasa ataupun anak-anak. Tapi hal ini tentu perlu memerhatikan dampaknya bagi masing-masing. Terlebih bagi anak-anak yang bahkan ketika sudah beranjak remaja tetap perlu mendapat bimbingan dan pengawasan orang tua. Tidak semua teknologi berdampak positif bagi kita, tidak terkecuali gadget. Ada efek adiktif yang potensial muncul ketika kita menggunakannya, terlebih jika gadget kita terhubung dengan internet.

Begitu banyak varian hiburan yang bisa didapat dari gadget, mulai dari kemudahan berkomunikasi hingga permainan (games). Saat ini bahkan dengan perkembangan teknologi yang begitu cepat gadget telah mengadopsi fungsi komputer. Tentu ini memberikan banyak manfaat untuk pengguna, karena gadget bisa digunakan sebagai pengolah data. Tapi ini juga berarti efek adiktif gadget canggih menjadi semakin besar.

Generasi Cyber
Internet sudah menjadi kebutuhan primer sebagian besar orang saat ini. Begitu besar pengaruh internet dalam kehidupan manusia modern, sampai-sampai muncul istilah mending mati listrik daripada putus koneksi. He he he… luar biasa. Tapi saya sendiri ternyata juga merasakannya, entah sudah sampai tingkatan adiktif yang mana.

Kalo dulu internet hanya bisa dinikmati dengan komputer yang terhubung dengan modem kabel, sekarang internet begitu mudah diakses dari gadget di tangan kita. Termasuk anak-anak kita, adalah generasi yang begitu mudah mengakses internet. Dan mereka tau bagaimana menggunakannya… duh.

Saya ingat interaksi awal saya dengan internet adalah membuat email pribadi. Browsing dan gaming online … baru saya lakukan beberapa tahun setelah bekerja. Itu juga karena sudah ada akses internet di kantor. Kalo terpaksa barulah saya mencari warnet untuk akses internet. Sekarang, anak saya bisa menghabiskan kuota 1 GB hanya dalam waktu 2 hari saja… wow. Sungguh berbeda sekali perbedaan dua generasi ini.

Generasi anak-anak dan remaja sekarang, tidak perlu melalui fase belajar mengakses internet berdasar aspek kepentingan. Umumnya mereka mengakses internet karena “paksaan” trend… sosmed dan gaming. Siapa remaja sekarang yang tidak punya akun Facebook, Tweeter, Line, Path atau Whatsapp? Sulit dicari… Demikian pula begitu jarang anak-anak yang tidak tau di mana mencari permainan baru yang seru? Mereka seperti otomatis tau untuk mencarinya di Playstore. Dan penyedot kuota yang terfavorit untuk mereka tidak lain ya… Youtube.

Inilah mereka… generasi cyber. Generasi yang lahir dan tumbuh bersama internet di kesehariannya. Sudah muncul istilah baru untuk mereka… generasi nunduk, karena kebiasaannya menundukkan kepala saat menggunakan gadget dan internet. Generasi yang entah apa yang akan terjadi pada mereka jika internet hilang dari muka bumi. Mungkin saat itu terjadi, mereka telah bertemu teknologi supracanggih yang memungkinkan mereka menggunakan internet tanpa gadget. Wallahu a’lam…

Memaknai 11 Tahun Kebersamaan

image

Hari ini tepat 11 tahun saya dan istri mengikat janji setia dalam sebuah akad pernikahan. Masih hijau memang untuk niatan terikat dunia-akhirat, tapi bukan waktu yang singkat bagi kami masing-masing menemukan arti tujuan kebersamaan ini. Dan bahkan ketika sudah lewat satu dasawarsa kami membangun rumah tangga, saya dan istri masih terus mencari format terbaik mewujudkan sakinah mawaddah warahmah.

Banyak hal yang sudah kami lalui bersama, ada suka juga duka, kadang tangis juga canda tawa. Meski mungkin masih banyak hal yang belum kami alami, serta cita dan harapan yang belum kesampaian, tapi semua yang ada sekarang telah mendewasakan kami. Dan kami masih terus berproses untuk semakin dewasa setiap harinya…

Yang pasti hanya kalimat syukur sajalah yang pantas kami ucap saat ini dan seterusnya, sebagai bagian dari penghambaan kami pada Allah Rabbul ‘Izzati atas segala nikmat yang diberikan.

Alhamdulillah… Ya Allah, telah Kau limpahkan nikmat-Mu pada kami: usia, kesehatan, anak-anak, harta-benda, kesempatan, ujian, dan nikmat-nikmat yang tidak akan mampu kami sebutkan satu persatu bahkan hingga sampai ajal kami. Maka jadikan kami hamba-hamba yang selalu mensyukuri nikmat-Mu. Aamiin

.

Istriku, terimakasih atas cinta, kasih sayang, pengertian, kesetiaan, kesabaran dan semua yang telah kau berikan padaku. Dan karenanya sudah sepantasnya aku menempatkan dirimu sebagai wanita kedua di hatiku. Semoga kelak kau akan menjadi permaisuriku di surga, insya’Allah…

Depok, 21 September 2014

Cita-cita, Harapan dan Angan-angan

Sewaktu kecil setiap orang pasti punya cita-cita. Waktu SD dulu cita-cita saya adalah dokter. Saya tidak tahu dari mana munculnya cita-cita itu karena tidak ada satupun di lingkungan keluarga besar saya yang menjadi dokter. Mungkin cita-cita itu muncul dari harapan orangtua saya, mereka mungkin punya keinginan salah satu anaknya bisa menjadi dokter. Dokter adalah profesi yang terhormat di lingkungan masyarakat pada umumnya sehingga tidak heran bila banyak orangtua yang berharap anaknya menjadi dokter kelak ketika dewasa.

Semasa SMP ketika ada formulir dari guru BP, saya mengisi cita-cita saya: Ulama dan Pengusaha. Ini jelas berbeda dengan cita-cita saya waktu SD. Tapi dari mana datangnya cita-cita itu? Saya yakin ini bukan dari orangtua saya karena bahkan ketika SMP saya ditawari untuk melanjutkan sekolah di pesantren tapi saya menolak. Saya merasa tidak akan betah dengan kehidupan pesantren apalagi selama  ini saya tidak pernah tinggal jauh dari orangtua. Di SMP saya mulai bergaul dengan teman-teman secara intens dan mereka adalah anak-anak yang orangtua mereka paham terhadap agama. Teman-teman saya ini mendapatkan pembinaan agama dari orangtuanya dan diberi fasilitas untuk belajar agama lebih banyak dari keluarga lain. Karena itulah mungkin muncul di benak saya cita-cita untuk menjadi ulama itu karena sering berinteraksi dengan orangtua teman-teman. Pengusaha? Nah yang itu belum jelas. Mungkin karena ayah dan ibu saya berwirausaha.

Sebagian dari kita punya cita-cita yang statis, sejak SD sampai kuliah cita-cita sama sehingga akhirnya betul-betul terwujud. Tapi sebagian yang lain tidak, seperti saya yang cita-cita SD hingga kuliah tidak sama. Kalo ditanya sekarang cita-cita saya apa, maka saya akan bilang: tukang sampah dan marbot masjid. Padahal saya kuliah di kampus sains, fakultas teknik, jurusan dan peminatannya pun engineering. Kenapa bisa begitu? Entahlah saya pikir karena ketika muda kita idealis, tapi semakin dewasa kita makin realistis. Idealis menuntut orang menunju pada hal yang detil, pasti dan khusus. Sedangkan realistis menempatkan cita-cita pada tempatnya dan harapan pada tempatnya, sesuai situasi dan kondisi yang ada sehingga boleh jadi lebih umum dan tidak pasti.

Waktu kecil bercita-cita menjadi dokter tentu menyenangkan karena bisa mengobati orang sakit. Orangtua juga berharap anaknya menjalani profesi yang menjamin kemakmuran anaknya. Keduanya berujung pada kebahagiaan. Menjadi ulama adalah cita-cita yang muncul dari contoh di keluarga lain di mana anak-anaknya menjadi anak yang tidak hanya cerdas tapi juga berakhlak baik. Sedangkan pengusaha lagi-lagi contoh dari orangtua di mana kesejahteraan menjadi terjamin. Keduanya berujung pada kebahagiaan. Bagaimana dengan tukang sampah dan marbot masjid? Menurut Anda sekarang saya sedang bercita-cita, berharap, atau berangan-angan?

Wallahu a’lam…

Mudik-Balik-Mudik

“Mudik Lebaran…”
Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar istilah itu? Kemacetan sepanjang belasan kilometer… Ribuan pemudik bermotor memenuhi jalanan Pantura… Atau Jakarta yang sepi karena ditinggal mudik penghuninya? Ya, seribu satu gambaran terlintas di benak kita tentang istilah yang satu itu. Tapi mau tidak mau, senang tidak senang, mudik lebaran sudah menjadi bagian dari kehidupan orang Indonesia sejak beratus tahun yang lalu. Dan bukan tidak mungkin, mudik lebaran akan tetap bertahan hingga akhir dunia.

Saya termasuk bagian orang Indonesia yang melakoni “ritual” mudik lebaran. Meski tidak tiap tahun, saya dan keluarga seperti sudah sepakat bahwa kami setidaknya 2 tahun sekali harus ya… harus pulang kampung. Kenapa harus? Karena kami masih punya orang tua yang tinggal di sana. That’s all… tidak ada alasan yang lebih penting dan mendasar buat kami mudik lebaran kecuali bersilaturrahim dengan orang tua. Tidak peduli apakah kami dalam kondisi lapang atau sempit, selalu ada jalan keluarnya.

Biaya Transportasi yang Makin Mahal
Disadari betul oleh kami, para pemudik lebaran, bahwa biaya transportasi menuju kampung semakin tahun semakin mahal. Tuslag tiket transportasi baik darat, laut, maupun udara mencapai 150-300% harga normal. Tak pelak lagi, kami mesti merogoh kantong lebih dalam untuk itu, dan bila kantong kami pas-pasan maka kami mesti menabung.

Memang kondisi ini sebenarnya adalah peluang untuk pebisnis bidang transportasi, karena saat-saat lebaran menjadi waktu di mana pemasukan menjadi berlipat-lipat. Tapi sayangnya, pemerintah belum bisa menanganinya secara kompak dengan swasta sehingga permintaan akan transportasi mudik lebaran yang lebih terjangkau belum bisa didapat masyarakat. Karena itulah sebagian orang, termasuk kami, memilih untuk mengatur volume mudik lebaran menjadi 2 tahun sekali.

Mudik Lebaran adalah Kemacetan di Seluruh Titik
Sudah menjadi kemakluman semua pihak, masa mudik lebaran adalah masa ketika kemacetan panjang berpindah atau tepatnya menyebar dari Jabodetabek ke seluruh penjuru Indonesia khususnya Jawa. Akibatnya tidak hanya antrean panjang berpuluh-puluh jam di sepanjang jalur tetapi juga kerusakan ratusan kilometer jalanan yang dilalui jutaan kendaraan bermotor yang hendak mudik.

Masalah kemacetan akibat mudik ini muncul setiap tahun, sayang sekali pemerintah pusat dan pemerintah daerah termasuk badan dan dinas terkait belum punya formula yang tepat untuk mengatasinya. Mobilisasi jutaan orang dan kendaraan dari Jabodetabek ke daerah pada kurub waktu tertentu telah menyebabkan penumpukan volume pengguna jalan di hampir seluruh titik yang dilalui. Kereta dan pesawat terbang dan kereta sebagai alternatif angkutan massa paling efektif seharusnya menjadi pilihan utama pemerintah.

Berhari-hari di Perjalanan
Waktu saya masih kuliah di Bogor, setiap kali menjelang lebaran saya tidak punya pilihan selain naik bis antarkota (bis malam). Anda tentu paham bagaimana kondisi angkutan yang satu ini saat menjelang lebaran: bis terbatas, penumpang berjubel, harga tiket mahal, dan waktu perjalanan yang tidak menentu.

Pernah suatu kali karena saya gagal mendapatkan tiket bis di terminal Lebak Bulus, saya memutuskan untuk mencari tiket di terminal Kampung Rambutan. Setelah menunggu berjam-jam, kira-kira jam 9 malam saya dapat tiket bis yang dicari. Ternyata saya dapat bis tua dan tanpa AC, pun tempat duduknya di samping sopir tanpa sandaran. Dan syukurnya saya selamat sampai di rumah jam 9 malam hari berikutnya, artinya saya menempuh perjalanan Jakarta-Magelang selama 24 jam.

Mungkin waktu itu saya merasa inilah perjalanan pulang kampung terburuk sepanjang hidup. Oo… saya salah. Setelahnya bahkan belasan tahun sesudahnya saya harus merasakan pengalaman yang tidak kalah pahit, 27 jam dalam perjalanan mudik. Lebih miris lagi saya bersama istri dan ketiga anak kami sedangkan Faqih sedang sakit. Alhamdulillah, selama perjalanan kami baik-baik saja termasuk Faqih.

Mudik-Balik-Mudik dalam Sepekan
Pernahkah Anda bolak-balik Jakarta – kampung halaman 2 kali dalam sepekan? Kecuali Anda businessman, pilot, masinis atau sopir angkutan maka saya maklum, selain itu rasanya berlebihan bolak balik gitu. Tapi ternyata saya malah sudah 2 kali mengalaminya, terakhir tahun ini. Sekali mudik mengantar istri dan anak-anak, balik karena mesti kerja lagi, trus mudik kedua yang benar-benar mudik. Mudik yang pertama 27 jam, baliknya 10 jam. Nah, gimana dengan mudik kedua? We’ll see… sekarang mo istirahat dulu di Pring Sewu.