And Fia Is Her Name

Saya tergagap dibangunkan istri jam 2.30-an pagi ini. Di hari kedua sahur, saya berharap bangun jam 3-an karena biasa sahur di akhir waktu. Ternyata istri bilang kalo dari jam 2-an sudah mules terus dan sudah keluar flag (saya tidak tau istilah yang benar, yang saya tulis lebih dekat dengan istilah komputer). MasyaaAllaah … berarti sudah waktunya istri saya melahirkan. Saya bergegas ke kamar mandi untuk bersiap-siap ke Poned. Sesudahnya saya membangunkan adik dan biyung lalu mengeluarkan motor dari halaman rumah. Istri sudah menyiapkan tas berisi perlengkapan yang mesti dibawa, kami membawa sedikit bekal lalu berangkat ke Puskesmas.

Istri saya berjalan kaki dari rumah ke Poned sementara saya naik motor di sebelahnya. Beberapa kali orang berlalu di dekat kami, pandangan mereka sedikit aneh, entah apa yang mereka pikirkan karena saya fokua pada kondisi istri. Tidak sampe 15 menit kami tiba di gerbang Poned, satpam membuka pintu pagar dan kami masuk ke dalam. Petugas yang piket sudah bangun untuk makan sahur, mempersilakan istri saya masuk ke ruang periksa sementara saya mengisi formulir di meja administrasi.

Baru bukaan satu…, begitulah kira-kira yang disampaikan petugas setelah memeriksa dalam kandungan istri saya. Istri keluar dari ruang periksa, kami pun duduk menunggu di kursi tunggu. Beberapa saat berlalu petugas memanggil kami ke meja administrasi. Mereka menyampaikan kondisi dan rencana aksinya. Istri dipersilakan menunggu di ruang perawatan Poned, saya pamit mencari makan sahur dan sholat Shubuh karena waktu sudah menunjukkan jam 4.15.

Setelah menyantap sahur di menit-menit akhir Imsak, saya pun menuju masjid untuk sholat Shubuh. Saya berdo’a semoga istri dan anak kami diberikan keselamatan dan kesehatan oleh Allah. Saya pun beranjak kembali ke Poned, menunggui istri saya. Kami berinisiatif menghitung frekuensi dan durasi kontraksi istri dengan aplikasi yang saya unduh di Playstore. Jam 6 istri saya diperiksa dalam lagi, baru bukaan dua. Jam 8 istri saya diperiksa lagi, baru mendekati bukaan 3. Istilah “bukaan”, bagi yang awam, silakan googling ya.

Sesuai prosedur yang disampaikan di awal oleh petugas, lewat jam 8 petugas piket berkonsultasi dengan penanggung jawab Poned melalui telpon (karena hari ini hari libur) untuk menyampaikan kondisi dan mengambil tindakan. Saya pun diminta mencari RS yang diinginkan sebagai rujukan mengingat risiko kelahiran istri. Saya bergegas menuju RS. GPI untuk mencari informasi, dan Alhamdulillah diterima setelah proses pengecekan yang lumayan panjang. Hampir jam 11, istri saya diantar dengan ambulance puskesmas ke UGD RS. GPI tanpa biaya. Kami menggunakan BPJS Kesehatan, fasilitas dari kantor saya.

Di UGD, istri saya langsung menjalani pemeriksaan rekam jantung bayi dan dirinya sendiri. Saya tidak tau hasilnya, bidan yang memeriksa bilang hasilnya akan disampaikan oleh dokter kandungan. Perawat kemudian memasang infus, sementara bidan berkonsultasi dengan dokter melalui telpon. Walhasil, dokter memutuskan istri saya harus menjalani operasi cesar untuk melahirkan bayi kami. Terjadwal jam 13 hari ini. Subhaanallaah

Istri lalu dipindahkan ke ruang tindakan kebidanan sementara saya mengurus administrasi pendaftarannya. Sesudahnya saya bergantian dengan biyung menunggui istri di ruang tindakan karena anak-anak saya ikut semua ke RS kecuali Fida yang sedang ada kegiatan di sekolah. Mereka ingin menunggui Mama mereka melahirkan adik kecil yang sudah lama mereka tunggu-tunggu. Tim dokter datang agak terlambat, hampir jam 14 baru lengkap sehingga jam 14.30 istri baru masuk ke ruang operasi. Selama menunggu istri digantikan baju, diberi penjelasan tetang bius lokal dan diganti infusnya. Dag dig dug

Lewat satu jam sejak istri masuk ke ruang operasi, mas Faqih sudah tidak sabar. Berkali-kali dia menanyakan, kapan mamanya keluar dan kapan dede bayinya lahir. Entah kenapa selain excited, dia juga sangat emosional. Agak beda dengan dik Faisal yang lebih tenang, juga kak Fida. Semoga setelah adiknya lahir, mas Faqih bisa lebih tenang. Tiba-tiba box bayi lewat di depan kami, perawat lalu memanggil keluarga bayi yang dibawanya. Saya lalu menghampirinya, dan perawat langsung mengenalkan bayi itu pada ayahnya. Alhamdulillaah … ini putri saya, bahkan kami belum punya nama untuknya. Setelah adzan dan iqomah, perawat menyilakan saya memotretnya dengan kamera hape … cepret cepret !!


Lebih dari 1 jam kemudian barulah istri keluar dari ruang operasi. Menjelang Maghrib hari ini, Allah mengabulkan do’a saya di Shubuh tadi. Saya bersyukur, bayi dan mamanya diberikan keselamatan dan kesehatan. Terima kasih ya Allaah …

Beberapa hari kemudian kami berdua sepakat memberinya nama Shofia.

Iklan

Generasi Cyber

Ramadhan Karim…

Tahun ini liburan sekolah berhimpit dengan bulan Ramadhan, sehingga anak-anak menjalani hari-hari puasanya di rumah. Meski sepertinya ini lebih nyaman buat mereka tapi ada hal-hal yang merisaukan saya sebagai orangtua.

Waktu Luang Tidak Terstruktur
Anak-anak yang liburan saat puasa Ramadhan bisa puas menghabiskan waktu untuk melakukan aktifitas yang mereka sukai seharian. Saya juga ingat waktu saya seusia mereka dulu, libur Ramadhan adalah hari-hari membaca buku dan menonton tivi. Sejak Subuh sampe hampir Dzuhur membaca komik dan novel petualangan, menjelang Maghrib asyik menonton sinetron religi di tivi.

Dulu anak-anak suka memulai hari puasa mereka dengan berjalan-jalan keliling kampung. Siangnya tidur seharian dan sorenya bersiap berbuka dengan ngabuburit. Nah, yang berbeda adalah sekarang ini masa ketika anak-anak sudah akrab dengan gadget dan internet. Tidak bisa dipungkiri, ini mengubah cara anak-anak menjalani puasa mereka.

Akses anak-anak ke gadget dan internet yang tidak dibatasi membuat waktu luang mereka dihabiskan untuk bermain game dan lain-lain hampir sepanjang hari. Saking asyik dengannya, waktu luang saat liburan menjadi tidak terstruktur. Kadang-kadang ada aktifitas positif tapi lebih banyak lagi aktifitas yang kurang bermanfaat.

Generasi Gadget
Anak-anak sekarang tumbuh ketika gadget telah menjadi kebutuhan primer hampir semua orang. Tentu orang tua mereka sendiri yang punya peran mengenalkan gadget ke anak-anaknya bahkan di usia yang terlalu belia. Begitu besar pengaruh gadget sedemikian hingga balita saja sudah bisa mengakses Youtube sendiri dari hape orangtuanya.

Berkenalan dengan teknologi sebenarnya baik, buat orang dewasa ataupun anak-anak. Tapi hal ini tentu perlu memerhatikan dampaknya bagi masing-masing. Terlebih bagi anak-anak yang bahkan ketika sudah beranjak remaja tetap perlu mendapat bimbingan dan pengawasan orang tua. Tidak semua teknologi berdampak positif bagi kita, tidak terkecuali gadget. Ada efek adiktif yang potensial muncul ketika kita menggunakannya, terlebih jika gadget kita terhubung dengan internet.

Begitu banyak varian hiburan yang bisa didapat dari gadget, mulai dari kemudahan berkomunikasi hingga permainan (games). Saat ini bahkan dengan perkembangan teknologi yang begitu cepat gadget telah mengadopsi fungsi komputer. Tentu ini memberikan banyak manfaat untuk pengguna, karena gadget bisa digunakan sebagai pengolah data. Tapi ini juga berarti efek adiktif gadget canggih menjadi semakin besar.

Generasi Cyber
Internet sudah menjadi kebutuhan primer sebagian besar orang saat ini. Begitu besar pengaruh internet dalam kehidupan manusia modern, sampai-sampai muncul istilah mending mati listrik daripada putus koneksi. He he he… luar biasa. Tapi saya sendiri ternyata juga merasakannya, entah sudah sampai tingkatan adiktif yang mana.

Kalo dulu internet hanya bisa dinikmati dengan komputer yang terhubung dengan modem kabel, sekarang internet begitu mudah diakses dari gadget di tangan kita. Termasuk anak-anak kita, adalah generasi yang begitu mudah mengakses internet. Dan mereka tau bagaimana menggunakannya… duh.

Saya ingat interaksi awal saya dengan internet adalah membuat email pribadi. Browsing dan gaming online … baru saya lakukan beberapa tahun setelah bekerja. Itu juga karena sudah ada akses internet di kantor. Kalo terpaksa barulah saya mencari warnet untuk akses internet. Sekarang, anak saya bisa menghabiskan kuota 1 GB hanya dalam waktu 2 hari saja… wow. Sungguh berbeda sekali perbedaan dua generasi ini.

Generasi anak-anak dan remaja sekarang, tidak perlu melalui fase belajar mengakses internet berdasar aspek kepentingan. Umumnya mereka mengakses internet karena “paksaan” trend… sosmed dan gaming. Siapa remaja sekarang yang tidak punya akun Facebook, Tweeter, Line, Path atau Whatsapp? Sulit dicari… Demikian pula begitu jarang anak-anak yang tidak tau di mana mencari permainan baru yang seru? Mereka seperti otomatis tau untuk mencarinya di Playstore. Dan penyedot kuota yang terfavorit untuk mereka tidak lain ya… Youtube.

Inilah mereka… generasi cyber. Generasi yang lahir dan tumbuh bersama internet di kesehariannya. Sudah muncul istilah baru untuk mereka… generasi nunduk, karena kebiasaannya menundukkan kepala saat menggunakan gadget dan internet. Generasi yang entah apa yang akan terjadi pada mereka jika internet hilang dari muka bumi. Mungkin saat itu terjadi, mereka telah bertemu teknologi supracanggih yang memungkinkan mereka menggunakan internet tanpa gadget. Wallahu a’lam…

Memaknai 11 Tahun Kebersamaan

image

Hari ini tepat 11 tahun saya dan istri mengikat janji setia dalam sebuah akad pernikahan. Masih hijau memang untuk niatan terikat dunia-akhirat, tapi bukan waktu yang singkat bagi kami masing-masing menemukan arti tujuan kebersamaan ini. Dan bahkan ketika sudah lewat satu dasawarsa kami membangun rumah tangga, saya dan istri masih terus mencari format terbaik mewujudkan sakinah mawaddah warahmah.

Banyak hal yang sudah kami lalui bersama, ada suka juga duka, kadang tangis juga canda tawa. Meski mungkin masih banyak hal yang belum kami alami, serta cita dan harapan yang belum kesampaian, tapi semua yang ada sekarang telah mendewasakan kami. Dan kami masih terus berproses untuk semakin dewasa setiap harinya…

Yang pasti hanya kalimat syukur sajalah yang pantas kami ucap saat ini dan seterusnya, sebagai bagian dari penghambaan kami pada Allah Rabbul ‘Izzati atas segala nikmat yang diberikan.

Alhamdulillah… Ya Allah, telah Kau limpahkan nikmat-Mu pada kami: usia, kesehatan, anak-anak, harta-benda, kesempatan, ujian, dan nikmat-nikmat yang tidak akan mampu kami sebutkan satu persatu bahkan hingga sampai ajal kami. Maka jadikan kami hamba-hamba yang selalu mensyukuri nikmat-Mu. Aamiin

.

Istriku, terimakasih atas cinta, kasih sayang, pengertian, kesetiaan, kesabaran dan semua yang telah kau berikan padaku. Dan karenanya sudah sepantasnya aku menempatkan dirimu sebagai wanita kedua di hatiku. Semoga kelak kau akan menjadi permaisuriku di surga, insya’Allah…

Depok, 21 September 2014

Cita-cita, Harapan dan Angan-angan

Sewaktu kecil setiap orang pasti punya cita-cita. Waktu SD dulu cita-cita saya adalah dokter. Saya tidak tahu dari mana munculnya cita-cita itu karena tidak ada satupun di lingkungan keluarga besar saya yang menjadi dokter. Mungkin cita-cita itu muncul dari harapan orangtua saya, mereka mungkin punya keinginan salah satu anaknya bisa menjadi dokter. Dokter adalah profesi yang terhormat di lingkungan masyarakat pada umumnya sehingga tidak heran bila banyak orangtua yang berharap anaknya menjadi dokter kelak ketika dewasa.

Semasa SMP ketika ada formulir dari guru BP, saya mengisi cita-cita saya: Ulama dan Pengusaha. Ini jelas berbeda dengan cita-cita saya waktu SD. Tapi dari mana datangnya cita-cita itu? Saya yakin ini bukan dari orangtua saya karena bahkan ketika SMP saya ditawari untuk melanjutkan sekolah di pesantren tapi saya menolak. Saya merasa tidak akan betah dengan kehidupan pesantren apalagi selama  ini saya tidak pernah tinggal jauh dari orangtua. Di SMP saya mulai bergaul dengan teman-teman secara intens dan mereka adalah anak-anak yang orangtua mereka paham terhadap agama. Teman-teman saya ini mendapatkan pembinaan agama dari orangtuanya dan diberi fasilitas untuk belajar agama lebih banyak dari keluarga lain. Karena itulah mungkin muncul di benak saya cita-cita untuk menjadi ulama itu karena sering berinteraksi dengan orangtua teman-teman. Pengusaha? Nah yang itu belum jelas. Mungkin karena ayah dan ibu saya berwirausaha.

Sebagian dari kita punya cita-cita yang statis, sejak SD sampai kuliah cita-cita sama sehingga akhirnya betul-betul terwujud. Tapi sebagian yang lain tidak, seperti saya yang cita-cita SD hingga kuliah tidak sama. Kalo ditanya sekarang cita-cita saya apa, maka saya akan bilang: tukang sampah dan marbot masjid. Padahal saya kuliah di kampus sains, fakultas teknik, jurusan dan peminatannya pun engineering. Kenapa bisa begitu? Entahlah saya pikir karena ketika muda kita idealis, tapi semakin dewasa kita makin realistis. Idealis menuntut orang menunju pada hal yang detil, pasti dan khusus. Sedangkan realistis menempatkan cita-cita pada tempatnya dan harapan pada tempatnya, sesuai situasi dan kondisi yang ada sehingga boleh jadi lebih umum dan tidak pasti.

Waktu kecil bercita-cita menjadi dokter tentu menyenangkan karena bisa mengobati orang sakit. Orangtua juga berharap anaknya menjalani profesi yang menjamin kemakmuran anaknya. Keduanya berujung pada kebahagiaan. Menjadi ulama adalah cita-cita yang muncul dari contoh di keluarga lain di mana anak-anaknya menjadi anak yang tidak hanya cerdas tapi juga berakhlak baik. Sedangkan pengusaha lagi-lagi contoh dari orangtua di mana kesejahteraan menjadi terjamin. Keduanya berujung pada kebahagiaan. Bagaimana dengan tukang sampah dan marbot masjid? Menurut Anda sekarang saya sedang bercita-cita, berharap, atau berangan-angan?

Wallahu a’lam…

Mudik-Balik-Mudik

“Mudik Lebaran…”
Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar istilah itu? Kemacetan sepanjang belasan kilometer… Ribuan pemudik bermotor memenuhi jalanan Pantura… Atau Jakarta yang sepi karena ditinggal mudik penghuninya? Ya, seribu satu gambaran terlintas di benak kita tentang istilah yang satu itu. Tapi mau tidak mau, senang tidak senang, mudik lebaran sudah menjadi bagian dari kehidupan orang Indonesia sejak beratus tahun yang lalu. Dan bukan tidak mungkin, mudik lebaran akan tetap bertahan hingga akhir dunia.

Saya termasuk bagian orang Indonesia yang melakoni “ritual” mudik lebaran. Meski tidak tiap tahun, saya dan keluarga seperti sudah sepakat bahwa kami setidaknya 2 tahun sekali harus ya… harus pulang kampung. Kenapa harus? Karena kami masih punya orang tua yang tinggal di sana. That’s all… tidak ada alasan yang lebih penting dan mendasar buat kami mudik lebaran kecuali bersilaturrahim dengan orang tua. Tidak peduli apakah kami dalam kondisi lapang atau sempit, selalu ada jalan keluarnya.

Biaya Transportasi yang Makin Mahal
Disadari betul oleh kami, para pemudik lebaran, bahwa biaya transportasi menuju kampung semakin tahun semakin mahal. Tuslag tiket transportasi baik darat, laut, maupun udara mencapai 150-300% harga normal. Tak pelak lagi, kami mesti merogoh kantong lebih dalam untuk itu, dan bila kantong kami pas-pasan maka kami mesti menabung.

Memang kondisi ini sebenarnya adalah peluang untuk pebisnis bidang transportasi, karena saat-saat lebaran menjadi waktu di mana pemasukan menjadi berlipat-lipat. Tapi sayangnya, pemerintah belum bisa menanganinya secara kompak dengan swasta sehingga permintaan akan transportasi mudik lebaran yang lebih terjangkau belum bisa didapat masyarakat. Karena itulah sebagian orang, termasuk kami, memilih untuk mengatur volume mudik lebaran menjadi 2 tahun sekali.

Mudik Lebaran adalah Kemacetan di Seluruh Titik
Sudah menjadi kemakluman semua pihak, masa mudik lebaran adalah masa ketika kemacetan panjang berpindah atau tepatnya menyebar dari Jabodetabek ke seluruh penjuru Indonesia khususnya Jawa. Akibatnya tidak hanya antrean panjang berpuluh-puluh jam di sepanjang jalur tetapi juga kerusakan ratusan kilometer jalanan yang dilalui jutaan kendaraan bermotor yang hendak mudik.

Masalah kemacetan akibat mudik ini muncul setiap tahun, sayang sekali pemerintah pusat dan pemerintah daerah termasuk badan dan dinas terkait belum punya formula yang tepat untuk mengatasinya. Mobilisasi jutaan orang dan kendaraan dari Jabodetabek ke daerah pada kurub waktu tertentu telah menyebabkan penumpukan volume pengguna jalan di hampir seluruh titik yang dilalui. Kereta dan pesawat terbang dan kereta sebagai alternatif angkutan massa paling efektif seharusnya menjadi pilihan utama pemerintah.

Berhari-hari di Perjalanan
Waktu saya masih kuliah di Bogor, setiap kali menjelang lebaran saya tidak punya pilihan selain naik bis antarkota (bis malam). Anda tentu paham bagaimana kondisi angkutan yang satu ini saat menjelang lebaran: bis terbatas, penumpang berjubel, harga tiket mahal, dan waktu perjalanan yang tidak menentu.

Pernah suatu kali karena saya gagal mendapatkan tiket bis di terminal Lebak Bulus, saya memutuskan untuk mencari tiket di terminal Kampung Rambutan. Setelah menunggu berjam-jam, kira-kira jam 9 malam saya dapat tiket bis yang dicari. Ternyata saya dapat bis tua dan tanpa AC, pun tempat duduknya di samping sopir tanpa sandaran. Dan syukurnya saya selamat sampai di rumah jam 9 malam hari berikutnya, artinya saya menempuh perjalanan Jakarta-Magelang selama 24 jam.

Mungkin waktu itu saya merasa inilah perjalanan pulang kampung terburuk sepanjang hidup. Oo… saya salah. Setelahnya bahkan belasan tahun sesudahnya saya harus merasakan pengalaman yang tidak kalah pahit, 27 jam dalam perjalanan mudik. Lebih miris lagi saya bersama istri dan ketiga anak kami sedangkan Faqih sedang sakit. Alhamdulillah, selama perjalanan kami baik-baik saja termasuk Faqih.

Mudik-Balik-Mudik dalam Sepekan
Pernahkah Anda bolak-balik Jakarta – kampung halaman 2 kali dalam sepekan? Kecuali Anda businessman, pilot, masinis atau sopir angkutan maka saya maklum, selain itu rasanya berlebihan bolak balik gitu. Tapi ternyata saya malah sudah 2 kali mengalaminya, terakhir tahun ini. Sekali mudik mengantar istri dan anak-anak, balik karena mesti kerja lagi, trus mudik kedua yang benar-benar mudik. Mudik yang pertama 27 jam, baliknya 10 jam. Nah, gimana dengan mudik kedua? We’ll see… sekarang mo istirahat dulu di Pring Sewu.

Menulis Tema Ramadhan

Tahun ini buat saya beda dengan Ramadhan 3 tahun terakhir karena sekarang saya akan lebih fokus pada diri dan keluarga. Bahkan untuk menulis di sini pun saya seperti tidak sempat he he he… (#alasan.com). Tapi itulah kenyataannya, aktifitas yang lebih banyak saya kerjakan di Ramadhan tahun ini selain kerja adalah membaca dan membantu mengurus urusan rumah tangga.

Tahun ini Faqih belajar puasa
Faqih, putra kedua kami beberapa bulan lalu dikhitan. Saya sudah menuliskannya di sini belum ya? Hi hi hi… lupa ;P Karena itu kami mulai mengajarkan padanya kewajiban sebagai muslim baligh (masih lama kali… #rapopo).

Meski baru 5 tahun tahun ini Faqih belajar berpuasa. Seperti saya waktu kecil dulu, Faqih puasa bedug alias puasa setengah hari. Faqih mulai berlatih bangun lebih pagi untuk sahur, shalat Subuh berjama’ah di masjid, lalu tidak makan dan minum sampai Dzuhur. Jam 12-13 Faqih boleh berbuka, sesudahnya lanjut lagi berpuasa sampai Maghrib. Malamnya Faqih ikut shalat tarawih semampunya. Setengah bulan jalan, sepertinya dia mulai terbiasa meski sesekali merengek menangis minta jajan atau minum. Sabar ya, Nak…

Istri libur selama Ramadhan
Tahun ini kalender akademik agak kacau, karena Ramadhan hampir berbarengan dengan akhir tahun ajaran sehingga liburan sekolah 2-3 pekan di awal Ramadhan. Sisa 1-2 pekan masuk sekolah lanjut liburan Lebaran kurang efektif untuk bimbel istri yang pakai sistem pembayaran bulanan. Akhirnya istri saya memutuskan untuk meliburkan bimbel selama Ramadhan.

Untuk menutupi kekosongan waktu itu istri mencoba usaha sampingan, menjual coklat untuk lebaran. Walhasil mau tidak mau saya ikut turun tangan membantunya karena secara tidak terduga dapat pesanan hampir 200 toples. Sabar…

ODOJ, Tahfizh dan MTQ
Sejak bergabung dengan program membaca Al Quran satu juz sehari (ODOJ) 3 bulan lalu saya yang mestinya sudah 3 kali khatam ternyata baru 1 atau 2 kali khatam. Hadeuh… Karena itulah Ramadhan ini seharusnya saya lebih disiplin dalam tilawah Al Quran, sayangnya saya masih lebih sibuk dengan pekerjaan lain. Semoga di 10 hari terakhir ini saya punya lebih banyak kesempatan untuk mengakrabinya.

Hampir 2 tahun lalu saya belajar tahsin (membaguskan bacaan) di Rumah Tajwid Depok. Alhamdulillah bacaan saya sekarang jauh lebih baik dari sebelum saya belajar. Dan sesuai program saya mulai menghafal Juz 30, mulai dari depan. Saya merasa agak kesulitan, sehingga sudah hampir setahun saya baru bisa menghafal 3 surat saja. Meski begitu saya akan tetap berusaha, terutama di bulan suci ini.

Ramadhan tinggal 6 hari dan hampir saja saya tidak menulis tentang tema Ramadhan…

Perjalanan ke Setu

Sabtu kemarin saya, istri dan Mufida menengok keponakan kami yang baru sembuh dari sakit. Memang kami belum pernah silaturrahim ke rumah adik kami (ayah ibu Adnan) jadi sekalian main biar tau di mana rumahnya. Kami berangkat jam 14-an dari Depok naik motor karena infonya lokasi jauh dari kereta atau bis kota. Beruntung hari cerah berawan jadi kami tidak kehujanan juga tidak kepanasan.

Saya belum tau alamat rumah adik kami ini tapi istri saya sudah di-SMS ancer-ancernya: setelah RS Mary Cileungsi belok kanan sampai setu. Kami ambil jalan Margonda, Juanda lalu akses ke Cibubur Junction meski agak padat merayap tapi cukup lancar. Sesampainya di Trans Yogi saya mulai bisa memacu motor agak cepat hingga flyover Cileungsi. Di sini kami ambil arah Bekasi dan kondisi jalanan yang kami lalui rusak parah. Sampai di RS. Mary saya putuskan berhenti untuk menelpon adik kami dan diberi petunjuk yang sama dengan isi SMS-nya. Kami pun melanjutkan perjalanan.

Setelah mengambil jalan ke kanan dari jalan utama Cileungsi-Bekasi hampir sepanjang jalan kondisinya memprihatinkan. Selain tidak rata, berlubang-lubang besar, sebagian bahkan tergenang air. Perjalanan jadi sangat terhambat, apalagi ternyata lalu lintas di situ cukup padat. Beberapa kali kami menemui kemacetan entah apa penyebabnya. Dan ternyata Setu yang kami cari perasaan saya jauuuuuh sekali. Mungkin karena baru sekali saya lewat jalan itu, terlebih karena kondisinya tidak bisa disebut nyaman untuk pengendara.

Akhirnya kami sampai di Pasar Setu, dan beberapa menit kemudian (hampir 1/2 jam) baru kami sampai di alamat rumah yang adik SMS belakangan. Alhamdulillah… ternyata lokasi rumahnya cukup jauh dan berliku. Hampir jam 17 waktu kami sampai, sekali lagi beruntung selama perjalanan tidak kehujanan meski pengakuan adik di sekitar rumahnya hujan waktu kami telpon tadi. Syukur keponakan kami sudah sehat. Adnan sempat dirawat 2 malam di RS karena diare dan demam tinggi. Di sana kami diceritai tentang kondisi rumah adik yang kebanjiran saat Jakarta dan sekitarnya terkena banjir beberapa waktu lalu. Mereka bahkan sampai harus mengungsi ke rumah orangtua di Bogor.

Hampir Maghrib kami berpamitan. Sepanjang perjalanan pulang istri tidak habis-habis berucap syukur karena mendapatkan rumah di Depok meski kondisinya pas-pasan. Ya semua memang mesti disyukuri dan disabari (kata saya dalam hati).

Berenang atau Main Air

image

Ini kesekian kalinya saya bersama anak-anak mengisi waktu libur akhir pekan ke obyek wisata air. Hari ini kami piknik ke Taman Angsa, sukabumi. Awalnya saya pikir obyek wisata yang terletak di Kabupaten Sukabumi ini seperti Taman Melati yang menyediakan berbagai macam hiburan seperti outbond, berkuda dan lain-lain. Ternyata memang agak jauh dari asumsi itu, taman ini hanya menyediakan hiburan tunggal: kolam renang. Memang ada permainan anak seperti ayunan, prosotan, panjatan maupun odong-odong statis tapi sepertinya hanya sebagai pelengkap saja. Sisanya hamparan tanah luas berumput dan berbunga dihiasi aneka patung unik.

image

Untuk saya yang sudah mengunjungi berbagai tempat wisata aktifitas mungkin Taman Angsa bukan tempat yang terlalu menarik, tapi anak-anak akan berkata lain. Ya, mereka sangat menyukai taman ini bahkan karena hanya satu hal: kolam renang. Anak-anak memang selalu suka bermain air, mulai dari mandi sambil semprot-semprotan shower, hujan-hujanan di lapangan, sampai bermain ombak di tepi pantai yang landai. Seperti hari ini, tidak peduli meski tempat mereka bermain tidak sebagus Waterboom atau seindah pantai Kuta mereka tetap menikmati momen bermain di kolam renang.

image

Sesaat saya berfikir, anak-anak suka berlama-lama di kolam renang meski mereka tidak benar-benar berenang. Ya, mereka hanya bermain air. Bermain cipratan air, kejar-kejaran, lempar-lemparan bola, meloncat dari tepi kolam, atau mengapung dengan ban atau balon. He he he… saya baru sadar bahkan orang dewasa melakukannya, meskipun mereka sudah mahir berenang. Saya sendiri makin yakin kalo obyek-obyek wisata air tidak dibuat untuk berenang. Kolam renang dibuat untuk berenang, tapi obyek wisata air tidak. Mereka semua dibuat untuk memuaskan kesenangan kita bermain air. Lihat saja, mereka dilengkapi dengan segala macam peranti yang mendukung aktifitas bermain air, mulai dari arus dan gelombang, prosotan berbagai ukuran, air mancur dan air terjun, juga ban berbagai bentuk dan ukuran.

image

Ayo… saatnya saya berenang eh main air sama anak-anak. Hups… #byur

Serial Super-Dad: Memandikan Bayi

Umumnya balita suka saat bermain air, mungkin karena 9 bulan lebih sebelum lahir ia telah terbiasa dengan cairan di sekeliling tubuhnya. Bayi dalam rahim ibu yang telah bernyawa, melakukan semua aktifitasnya di dalam selubung (plasenta atau ari-ari) berisi air ketuban.

Aktifitas di pagi hari dimulai dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan kebutuhan pribadi. Mulai dari mandi, BAK/BAB, hingga sarapan. Tidak hanya kita yang sudah dewasa, balita pun melakukan aktifitas yang sama. Bedanya kita melakukannya sendiri, sedangkan balita masih membutuhkan orang lain. Nah, pada kesempatan ini saya akan berbagi pengalaman aktifitas sehari-hari ortu yang punya bayi kecil (kurang dari 6 bulan): memandikan bayi.

Persiapan
Sebelum mulai memandikan bayi, ada beberapa hal yang mesti kita siapkan yaitu:
1. Air mandi. Umumnya ortu Indonesia memandikan bayi mereka dengan air hangat, begitupun kami. Siapkan air hangat di ember mandi/bak secukupnya. Air hangat ini biasanya campuran air panas dan air biasa, 1:10 atau suam-suam kuku.

2. Sampo dan sabun. Agar rambut dan kulit bayi selalu segar, gunakan sampo dan sabun yang sesuai untuk bayi. Produk perlengkapan bayi umumnya sudah memuat sampo dan sabun. Sampo dan sabun orang dewasa sebaiknya tidak digunakan untuk bayi mengingat kandungan bahannya lebih kuat.

3. Handuk. Handuk digunakan untuk mengeringkan rambut dan badan bayi sesudah mandi. Handuk bayi biasanya lebih lembut tekstur kainnya. Handuk yang kasar bisa menyebabkan iritasi pada kulit bayi.

4. Baju ganti. Baju ganti terdiri dari baju dalam (popok dan kaos) dan baju luar. Baju luar sebaiknya menyesuaikan kondisi cuaca agar bayi merasa nyaman, tidak kedinginan saat cuaca dingin atau kegerahan saat cuaca panas.

5. Minyak telon dan bedak. Kebiasaan lain ortu Indonesia adalah membaluri bayi dengan minyak telon agar bayi merasa hangat dan menaburkan bedak merata di seluruh badan bayi untuk mencegah iritasi (keringat buntet).

Pelaksanaan
Bila semua perlengkapan siap, saatnya mulai memandikan bayi. Eh … tunggu! Ada hal penting yang kadang terjadi saat kita memandikan bayi … apa itu? Ya, bayi kadang pipis spontan saat badannya merasakan kesejukan air. Bila bayi biasa pipis saat bangun pagi, maka menunggu sesaat sampai ia pipis sebelum mandi mungkin bisa jadi pilihan. Karena air mandi yang tercampur air pipis tentu najis bukan.
Continue reading “Serial Super-Dad: Memandikan Bayi”

2 Jam Bersama Keluarga

Kapankah Anda meluangkan waktu bersama keluarga? Kapan terakhir kita menemani anak-anak belajar? Kapan kita mengaji bersama istri dan anak-anak? Setiap akhir pekan, saat liburan nasional, atau tidak pernah?

Sungguh sangat disayangkan bila kita menghabiskan waktu hanya untuk bekerja, meski itu adalah salah satu kewajiban kita. Nafkah yang kita berikan pada keluarga tidak hanya berupa materi, yang didapat dari bekerja sepanjang tahun, siang malam. Melainkan semestinya juga perhatian dan kasih sayang. Kita seringkali melupakan satu hal yang menjadi hak untuk anak-anak: kebersamaan. Dalam terminologi (PKK) Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga, keluarga sejahtera tidak hanya diukur dari kondisi rumah yang sudah beralas lantai keras/keramik melainkan juga dari jumlah pertemuan keluarga dalam sehari: minimal 2 kali makan bersama. Lalu, mengapakah kebersamaan menjadi hal yang penting?
Continue reading “2 Jam Bersama Keluarga”