Tentang Pemilu (2)

[09:53, 7/9/2014] abu fida – faqih – faisal: Microblog:
“Saatnya Menentukan Pilihan”
[09:54, 7/9/2014] abu fida – faqih – faisal: Awali dengan doa dan munajat…

image

[09:55, 7/9/2014] abu fida – faqih – faisal: Datang dan perhatikan pilihan…

image

[09:55, 7/9/2014] abu fida – faqih – faisal: Daftarkan diri, jangan lupa sapa dan salam…

image

[09:56, 7/9/2014] abu fida – faqih – faisal: Ambil surat suara, pastikan tidak cacat…

image

[09:58, 7/9/2014] abu fida – faqih – faisal: Pilihanku…
Bismillah #mestirahasiakatanya

image

[09:59, 7/9/2014] abu fida – faqih – faisal: Masukkan surat suara…

image

[10:00, 7/9/2014] abu fida – faqih – faisal: Celupkan jari ke tinta jangan lupa

image

[10:01, 7/9/2014] abu fida – faqih – faisal: Alhamdulillah… Saatnya kembali bekerja

image

Depok, 9 Juli 2014 (copied by Whatsapp)

Iklan

Tentang Pemilu… (Bag. 1)

Alhamdulillah… meski masih ada beberapa daerah yang mesti melakukan pencoblosan ulang, Pemilu anggota legislatif tanggal 9 April kemarin berjalan lancar. Tugas saya sebagai anggota KPPS pun berakhir saat menyerahkan kotak-kotak berisi surat-surat suara beserta berita acara perhitungannya ke PPS dan sudah menerima honor sebagai kompensasi dari pelaksanaan pencoblosan di TPS hingga tengah malam. Tapi sebenarnya masih ada pekerjaan yang mesti dilakukan, memastikan suara para pemilih dihitung secara tepat tanpa perubahan hingga di tingkat nasional.

Tahapan Pemilu selanjutnya yang mungkin tidak diketahui semua orang adalah perhitungan suara di PPS (Kelurahan), PPK (Kecamatan), KPUD (Kabupaten/Kota dan Provinsi), hingga KPU Pusat. Bahan perhitungan di semua tahap itu adalah berita acara perhitungan dari seluruh TPS berjenjang hingga provinsi bentuk plano (besar). Data dukungnya berita acara ukuran folio dan surat suara. Semestinya jumlah suara dari ketiga jenis berkas itu tidak berbeda. Saat perhitungan suara plano yang dipakai, bila ada selisih maka dilihat bentuk folionya tapi bila masih selisih juga barulah surat suara dihitung ulang.

Masalah yang sering muncul adalah:
1. Berita acara plano dari TPS tidak memberikan data yang valid.
Seringkali saat perhitungan suara di PPS ditemui selisih suara akibat kekeliruan KPPS memahami aturan main atau sekedar ketidakcermatan. Misal ketika jumlah surat suara sah, tidak sah, rusak dan tidak terpakai tidak sama dengan jumlah surat suara yang diterima KPPS. Atau ketika rekap suara tidak sama dengan rinciannya, mengingat ada 2 jenis suara: untuk caleg dan untuk partai. Hal ini sering jadi perdebatan sengit di tingkat PPS, terlebih karena KPPS tidak bisa dikonfirmasi karena tidak hadir saat perhitungan.

image
Perhitungan suara di TPS

2. Data dukung berita acara plano tidak ditempatkan sesuai petunjuk KPU.
Seharusnya surat suara sah DPR RI digabung dengan surat suara sah DPD RI dalam kotak suara DPD sedangkan kotak suara DPR RI hanya berisi berita acara plano. Ini sebenarnya untuk memudahkan PPS melakukan perhitungan dengan cukup membuka 1 kotak suara saja (DPR RI), sehingga kotak-kotak lain dan surat suara sah tidak perlu diotak-atik PPS. Sayangnya seringkali ketentuan ini tidak diindahkan KPPS sehingga menambah beban kerja PPS yang mesti memindahkan isi sesuai kotaknya selain menghambat proses perhitungan manual.

image
Kotak-kotak suara di TPS

3. Lemahnya pengawasan atas pelaksanaan penghitungan, penyerahan dan rekapitulasi suara yang mestinya dilakukan oleh PPL/Bawaslu.
Seperti saat saya bertugas kemarin, tidak ada PPL yang menyambangi TPS saya dari awal sampai akhir dan tidak ada petugas Bawaslu memantau penyerahan kotak/surat suara dari KPPS kepada PPS. Memang ada pengamanan dan pengawalan oleh petugas Kepolisian tapi fungsinya minim. Akibatnya tidak ada pihak selain KPPS dan saksi yang bisa mengkoreksi saat terjadi kekeliruan atau bahkan kecurangan.

image
Pengamanan TPS oleh pamsung

4. Sistem pengamanan suara yang terkesan seadanya sehingga rawan dimanfaatkan pihak-pihak berkepentingan.
Saya agak menyayangkan bahwa kotak suara Pemilu tahun ini dibuat dari kardus bukan seng. Bahkan ketika kotaknya seng pun kecurangan masih bisa dilakukan, bagaimana dengan kotak suara kardus. Selain itu prosedur pengamanan surat suara dengan sampul bersegel dan kotak dengan gembok bersegel juga sangat berisiko. Selain kotak yang sangat mudah dijebol, segel dan kunci tidak digunakan sebagaimana mestinya. Untuk apa kotak dikunci dan disegel jika kunci bisa diakses mudah oleh siapapun dan segel dimiliki oleh banyak pihak?

image
Kotak suara dan kuncinya

Nah, mungkin masih ada banyak masalah lain dalam proses pelaksanaan dan perhitungan tapi sementara itu dulu. Mari kita berdiskusi…

Black Wednesday | Syahadah on Egypt

M3.2-I4-S2-D2-

Sejak kemarin siang, ponsel saya berulang kali menerima notifikasi. Ada pesan-pesan di Whatsapp, juga berita-berita dari situs yang saya ikuti. Informasi memilukan dan memalukan dari negeri para Fir’aun … Mesir. Pemerintah kudeta alias juncta militer Mesir pimpinan Al Sisi melakukan pembersihan atau lebih tepatnya pembantaian terhadap ratusan (versi state news) atau ribuan (versi IM) demonstran pro Mursi (presiden Mesir yang dikudeta) yang bertahan di Nahda Square dan Rab’ah al Adawiyah.

Polisi dan tentara merangsek dengan buldozer, menembakkan gas air mata dan peluru karet ke arah demonstran bahkan pada wanita dan anak-anak. Kejadian selanjutnya sungguh di luar peri kemanusiaan. Polisi dan militer dengan dalih menemukan senjata api dan amunisi di tempat demonstrasi (bukti yang dimanipulasi) melakukan penembakan dengan peluru tajam kepada demonstran sipil yang tidak bersenjata kecuali batu dan kayu. Maka tragedi kemanusiaan terburuk sepanjang sejarah Mesir pun terjadi (tentu akan dihapus secara licik oleh juncta penguasa), ribuan pendemo pro Mursi (presiden sah Mesir) yang lebih dari 6 pekan melakukan aksi damai menjadi korban kebiadaban penguasa pro kudeta Mesir.

Ya Allah … ribuan laki-laki, perempuan, bahkan anak-anak Mesir hari Rabu kemarin telah menjadi tumbal tergulingnya demokrasi atas rezim militer. Sebagaimana niat masing-masing mereka, maka berkorban di jalan Allah adalah jalan terbaik yang mereka pilih. Menyuarakan kebenaran di hadapan penguasa zholim adalah jihad fi sabilillah. Maka gugur dalam jihad adalah syahid di sisi Allah. Maka mereka tidak mati (seperti yang orang-orang kafir sangkakan), melainkan hidup di sisi Allah sebagaimana janjinya dalam Al Qur-an.
image

image

Lanjutkan membaca “Black Wednesday | Syahadah on Egypt”

Eksistensi Bangsa (Vote for Palestine)

Beberapa hari terakhir media internasional diramaikan dengan perdebatan tentang rencana Presiden Palestina berpidato di depan Sidang Majelis Umum PBB. Meski akhirnya pidato ini berjalan lancar, dengan selingan aksi walk-out, tetapi pidato PM Israel membuat jalan perdamaian antara Palestina-Israel sepertinya masih cukup panjang. Harapan bangsa Palestina untuk mendapatkan pengakuan internasional dengan mengajukan proposal keanggotaannya di PBB, mungkin akan menemui jalan menanjak yang terjal. Bukan rahasia, AS dan Israel tentu akan memberikan perlawanan sengit untuk menentang proposal ini.

Ini konsep posting saya tertanggal 24 September 2011 lalu dan tidak terselesaikan hingga hari ini, entah kenapa. Saya coba googling untuk menjejaki arsip tentang itu dan tidak berhasil menemukannya di sini. Hari ini adalah hari ke-8 serangan militer Israel ke Gaza, Palestina. Berita terakhir di sini menyebutkan telah tercapai kesepakatan damai gencatan senjata antara Israel dan Palestina. Sepekan terakhir lebih dari 100 korban jiwa jatuh di pihak Palestina, sedangkan dari pihak Israel yang terkabarkan kurang dari sepuluh jiwa. Meski begitu nilai jiwa korban dalam perang yang “tak ksatria” ini jelas tidak bisa diabaikan, berbeda dengan nilai jiwa para pejuang yang mati (atau syahid) di medan perang terbuka. Puluhan korban jiwa jatuh dari orang-orang sipil juga wanita dan anak-anak, sungguh perang yang tidak beradab.

Setiap bangsa yang hidup di dunia ini semestinya mempunyai hak atas jiwa mereka dan kekayaan alam yang ada sebagai nikmat dari Allah, Sangpemilik alam semesta. Tetapi kenyataannya sungguh memilukan, di tengah-tengah kemajuan teknologi dan tingginya peradaban manusia saat ini masih ada bangsa-bangsa yang tidak mendapatkan hak-hak itu. Sebut saja bangsa Rohingya di Myanmar, yang baru-baru ini mendapat sorotan dari berbagai media akibat kekerasan rasial yang mereka alami; bangsa Kurdi di Irak, yang mendapat perlakuan istimewa ketika AS menginvasi Irak; dan bangsa Palestina di Israel. Sepertinya masih ada bangsa-bangsa lain di dunia yang masih terjajah di negerinya sendiri, meski demikian sedikit sekali pengetahuan saya tentang hal ini dan saya prihatin atas nasib mereka. Saya melanjutkan posting ini selain karena pilu melihat berita di media atas serangan Israel ke Palestina, juga karena istri saya bertanya (retoris), “Mengapa Allah swt. tidak mengazab Israel atas kekejaman mereka?”

Hari ini saya sempatkan membaca berbagai referensi terkait konflik antara kedua bangsa ini dan saya semakin yakin kalau ketetapan Allah swt. atas bangsa Palestina dan Israel telah pasti berlaku atas mereka meski kita tidak suka, sedih, marah atau apapun itu. Walaupun begitu reaksi yang kita berikan atas kondisi ini menjadi catatan amal baik-buruk kita kelak, seperti halnya penyikapan kita terhadap hal-hal lain dalam kehidupan ini. Sebagian tulisan menarik akan saya tampilkan di sini, contohnya tulisan sdr. Hatta Syamsuddin, Lc. bertajuk Fakta Qur’an tentang Konflik Palestina yang saya cuplik berikut. Lanjutkan membaca “Eksistensi Bangsa (Vote for Palestine)”

Apakah Kita Seorang Pancasilais?

Pagi ini entah ada seseorang yang nyeletuk bahwa 1 Juni adalah hari lahir Pancasila atau dengar reporter berita menyebutkan tentang itu saya jadi keingetan. Meski saya bukan penggemar sejarah nasional Indonesia tetapi pastinya pernah dapat materi pelajaran sejarah waktu sekolah dulu. Walhasil saya putuskan untuk menulis tentang hal ini, bukan tentang hari lahir Pancasila tetapi tentang menjadi seorang Pancasilais atau bukan.

Lahir ketika Pancasila Berjaya

Saya dan sebagian besar kita, generasi muda di usia pertengahan (20-40) tentu mengenal Pancasila. Karena selain menjadi materi belajar sewaktu sekolah dulu, sampai saat ini Pancasila masih menjadi dasar negara terbukti lambang Garuda Pancasila masih dipasang di tengah-tengah foto Presiden dan Wakil Presiden di kantor-kantor pemerintah termasuk di sekolah-sekolah. Meski hanya TVRI yang masih menampilkan klip lagu “Garuda Pancasila” karya Sudharnoto, tetapi dalam upacara-upacara resmi negara dan event-event olahraga lagu itu selalu diputar atau dinyanyikan.

Saya sendiri masih mengalami penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) waktu SMP dulu. Sempat menghafal 36 butir dan 45 butir Pancasila sebelum ujian PMP (Pendidikan Moral Pancasila) dan PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan). Malahan waktu SD sempat itu lomba cepat-tepat P4 dan berhasil meraih juara 3 tingkat Kecamatan. Buat saya waktu itu, Pancasila dan butir-butirnya adalah materi wajib yang dinilai dengan suatu tes sumatif. Titik.

Waktu itu masih ORDE BARU (masa ketika Presiden Soeharto berkuasa) dan waktu itu adalah masa jaya-jayanya Pancasila sebagai ideologi tunggal di tanah air kita ini. Beberapa blogger generasi ini adalah Anton Punkq, Djamaluddin Husita, dan Oktavianus Ken Manungkarjono. Saya tidak menyebut mereka blogger Pancasilais lho, cuma blogger masa kini yang lahir di masa Pancasila berjaya … ya mirip-mirip dengan saya juga dan mungkin juga Anda.

Pernah saya berkomentar di beberapa posting sahabat tentang beberapa hal, meski topiknya berbeda tetapi ujung-ujungnya mengarah pada nilai sikap generasi, misal di sini yang berbicara tentang sebuh film pluralisme atau di sini yang bercerita tentang upacara bendera. Intinya, meskipun saya pribadi menganggap Pancasila hanya sebagai salah satu pelajaran yang mesti diperjuangkan nilainya karena masuk dalam rapor tetapi nilai-nilainya secara sadar atau tidak telah membentuk pola pikir dan karakter generasi di masa itu. So, kita ini adalah bagian dari generasi Pancasila.

Reformasi dan Kejayaan Pancasila

Masa ORDE BARU berlalu, lahirlah ORDE REFORMASI. Layaknya roda yang selalu berputar, ORLA (ORDE LAMA) berganti dengan ORBA, ORBA berganti dengan ORREF. Meskipun yang diusung dan diperjuang “mungkin” berbeda tetapi nafasnya sama koq, PERUBAHAN menuju PERBAIKAN. Pasti ada yang berubah ketika rezim berganti, minimal pemimpin tertingginya … “Presiden Seumur Hidup” itu dijatuhkan oleh rakyat yang mengangkatnya. Hal lain adalah ideologi bangsa.

Ketika kita berbicara tentang ideologi negara (NKRI) maka tidak ada yang lain kecuali Pancasila. Dasar hukumnya, Pembukaan UUD 45 (yang batang tubuh UUD-nya telah diamandemen) masih eksplisit menjadikan Pancasila sebagai dasar. Uraian tentang ideologi, Pancasila dan konstitusi tertulis rapi oleh mantan Ketua MK Jimly Asshiddiqie. Silakan yang suka baca-baca bisa unduh di sini atau di sini. Tetapi berbicara tentang ideologi bangsa (bedakan bangsa dan negara), saya pribadi tidak bisa mengatakan Pancasila sebagai ideologi tunggal. Pasalnya bahkan untuk pendirian partai politik sekalipun ideologi selain Pancasila bisa dijadikan dasar, kecuali ideologi komunis tentunya karena masih diatur dengan TAP MPRS No. XXV Tahun 1966.

Nah, lalu apakah seseorang atau badan hukum yang tidak berideologi Pancasila (bukan pula komunis) menjadi kehilangan hak-haknya? Tentu tidak. Lalu pula, apakah artinya tidak Pancasilais? Belum tentu. Dulu waktu saya mengikuti lomba cepat-tepat P4 saya sempat protes karena jawaban saya disalahkan oleh juri padahal jawaban saya benar. Ketika saya ceritakan itu kepada ayah saya langsung saja beliau berkata jurinya komunis. Wah kalo dulu saya merasa terdukung dengan jawaban itu, tapi sekarang saya merasa kurang nyaman saja. Tidak Pancasilais <> Komunis (baca: tidak Pancasilais tidak sama dengan Komunis), apalagi cuma salah menilai jawaban karena khilaf. Bisa berabe kalo setiap orang yang tidak berideologi Pancasila disebut sebagai komunis, saya pikir Anda juga setuju.

Saya tidak berkata Pancasila sekarang tidak berjaya, realita berkata Pancasila tidak lagi menjadi ideologi tunggal bangsa ini.

Lanjutkan membaca “Apakah Kita Seorang Pancasilais?”