Memunculkan Ide dalam Sepuluh Menit

M3-I4.2-T2-W1-2S2-Z4.2-A4

Pernahkah Anda butuh ide cemerlang ketika mendekati deadline? Saya jadi ingat waktu saya masih SD dulu pas pelajaran seni rupa. Kami diberi waktu 30 menit di luar kelas untuk membuat gambar bebas. Sekolah saya waktu itu di kampung, dekat dengan persawahan, bukit Tidar yang masih rimbun, juga bisa melihat Merapi dan Merbabu menjulang di kejauhan. Lama benar saya mencari ide gambar yang menarik tapi tidak ketemu, hingga waktu telah berlalu 20 menit.

Teman-teman saya sudah asyik menggambar dengan gaya masing-masing tak terkecuali si jago lukis Nugroho, yang entah kini sedang apa dan di mana. Tiba-tiba saya seperti mendapatkan sudut yang tepat untuk mengambil obyek gambar. Bukit Tidar itu tiba-tiba menjadi gambar semi-abstrak di kertas gambar saya. Memang bukan seketika seperti sebuah magic atau sulap melainkan sebuah proses cepat yang seolah bagai sebuah slow-motion. Dan dalam sepuluh menit ide cemerlang itu menguasai otak saya, mengalir ke tangan dan mata saya. Meski saya yakin gambar itu bukan gambar terbaik di kelas tapi setidaknya saya merasa bahwa itulah gambar terbaik yang pernah saya buat. Sayang gambar itu tidak pernah saya abadikan, secara jangankan hape berkamera macam sekarang bahkan kamera digital sekalipun belum pernah saya lihat, tentu bukan berarti no picture hoax bukan?

Continue reading “Memunculkan Ide dalam Sepuluh Menit”

Bonus Akhir Tahun | Antara Terompet dan Kinerja

M3.2-I4.2-S2-Z4.2-A4

Hari ini mungkin menjadi salah satu hari yang paling membahagiakan buat pegawai Lemsaneg. Bagaimana tidak? Sore tadi tunjangan kinerja (remunerasi) yang ditunggu-tunggu setelah hampir 3 tahun Reformasi Birokrasi (RB) bergulir di Lemsaneg akhirnya diberikan kepada seluruh pegawainya. Memang RB bukan hanya remunerasi tetapi menjadi penambah semangat bagi pegawai untuk bersungguh-sungguh melakukan reformasi dan mendorong terwujudnya RB di tempat kerjanya. Harapannya pemberian remunerasi berbanding lurus dengan peningkatan kinerja pegawai yang akhirnya berimbas pada peningkatan tugas dan fungsi instansi.

Kalo boleh jujur, tidak semua orang setuju dengan pemberian remunerasi bagi pegawai negeri. Sebagian yang tidak setuju itu memandang hak yang diberikan terlalu baik dibandingkan kinerja pegawai yang terkenal tidak jelas kerjanya. Meski tidak sepenuhnya keliru, pandangan itu terlalu menggeneralisir. Masih banyak pegawai negeri yang menjalankan tugasnya bahkan lebih dari kewajibannya, sedangkan pegawai yang malas hanyalah oknum tidak bertanggung jawab. Memang harus diakui belum ada standar kinerja pegawai negeri kecuali yang bertugas di bidang pelayanan umum seperti pendidikan atau kesehatan. Tidak heran bila kemudian kinerja pegawai negeri dinilai rendah. Terlepas dari oknum yang tidak melaksanakan kewajiban itu, semoga pegawai Lemsaneg bisa meningkatkan kinerja mereka ke depan.

image

Di tahun 2012 ini Lemsaneg dan beberapa instansi pemerintah lain mendapatkan remunerasi terhitung sejak Januari 2012 sehingga pegawainya akan menerima rapelan remunerasi selama 13 bulan. Ini menjadi semacam bonus akhir karena jumlah yang diterima mencapai hingga lebih 6 kali lipat gaji yang diterima setiap bulannya. Meski terkesan menguntungkan pegawai negeri, remunerasi lebih produktif dibanding THR. Mengapa begitu? Karena bagi pegawai negeri semestinya THR tidak diberikan karena telah mendapatkan gaji ke-13 dan remunerasi mengarah pada kinerja dibanding THR yang cenderung mendorong penerimanya menjadi lebih konsumtif terutama di hari raya. Jadi saya pernah berharap remunerasi di akhir tahun ini bisa diberikan sebelum 25 Desember sehingga THR yang tidak perlu itu tidak harus dikeluarkan bagi pegawai negeri.

33 atau 34? Reborn Time!

M3-I4.2-T2.2-2.S2-D0-Z4.4-A4

image
Sunrise menandai datangnya hari baru

Hari ini 22 Muharram 1434H, bertepatan dengan 6 Desember 2012. Dengan aplikasi kupluk yang saya unduh di Google Market dan saya install di hp, saya dapati fitur konversi kalender hijriyah-masehi. Iseng-iseng saya coba masukkan 6 Desember 1979 atau 33 tahun lalu maka konversinya 22 Muharram 1400H. Berarti 33 tahun masehi sama dengan 34 tahun hijriyah lewat 6 hari. Tanpa menghitung detilnya saya simpulkan selisih jumlah hari dari tahun hijriyah dan masehi sekitar 11 hari. Yang berarti selisih lebih setahun hijriyah untuk setiap 33 tahun masehi. Subhanallah …

Guru, Dulu dan Kini
Siang tadi sambil menyantap mie rebus spesial pake telor saya ngobrol dengan teman kantor. Dia menanyakan tentang kapan tunjangan kinerja  diberikan, maka saya jawab tinggal menunggu surat persetujuan pengalihan anggaran BUN ke DIPA kantor kita. Semoga tidak terlalu lama lagi, insya’Allah. Perbincangan berlanjut ke masalah transportasi dari rumah ke kantor pp. Dia naik KRL dengan biaya kurang lebih 26 ribu/hari sehingga total sebulan maksimal 570-an ribu atau setara dengan uang makan, kurang lebih. Adanya tunjangan kinerja sedikit banyak meringankan bebannya sehingga ada lebihan anggaran untuk kebutuhan yang lain.

Saya dan teman kantor ini ternyata punya kesamaan, sama-sama ganteng beristri pengajar. Bedanya istri saya mengajar bimbel sedangkan istrinya guru SD. Perbincangan pun mengalir ke prospek bisnis masing-masing. Guru sekarang beda dengan guru dahulu, yang jelas sekarang lebih terjamin dari sisi penghasilan. Bila sudah sertifikasi baik guru negeri maupun swasta mendapat tunjangan guru dari pemerintah yang besarnya cukup. Istilah guru Umar Bakri mestinya sekarang tidak ada kecuali dari sisi semangat pengabdian. Sayangnya ketika kesejahteraan guru sudah mulai ditingkatkan kualitas mendidiknya justru cenderung menurun, banyak orangtua yang hasil belajar anak mereka tidak maksimal dan menyalahkan guru yang tidak sungguh-sungguh mendidik. Akhirnya mereka membawa anak mereka ke bimbel agar nilai-nilai pelajaran bisa diperbaiki.

Meski saya dan istri sependapat kalo semestinya prestasi belajar anak merupakan bagian tanggung jawab sekolah termasuk guru-guru pengajar, tapi membuka bimbel adalah salah satu solusi menggenjot prestasi belajar anak yang kurang. Alasannya simpel, perhatian guru pada setiap murid sekarang cenderung kurang tidak seperti zaman kami sekolah dulu. Saya mungkin salah ketika menggeneralisasi kondisi ini pada semua sekolah mengingat ada sekolah-sekolah yang sudah atau masih berorientasi pada kebutuhan siswa model sekolah internasional dan sekolah terpadu yang biayanya sangat mahal, tapi di sekolah lain kondisi di atas memang sungguh terjadi. Semoga ada perhatian dari pemerintah khususnya Kemdikbud terkait masalah ini, karena dari pendidikanlah kemajuan suatu bangsa berawal.

Dua Pusing yang Berbeda

Hari ini tepat sepekan sejak saya sakit radang tenggorokan dan alhamdulillah sekarang saya sudah sehat. Cuma hari ini saya kembali merasakan pusing, meski saya berharap ini bukan sakit yang strike back. Kalo terlambat makan saya memang biasa merasakan pusing, hanya saja sepertinya pusing ini bukan cuma karena itu. Kebetulan hari ini bertumpuk 2 agenda yang mesti saya hadapi: ujian tahsin (membaca Al Qur-an) dan persiapan seminar esok hari. Sebenarnya kalo saja saya pandai mengatur waktu dan kesempatan di pekan kemarin, saya tidak perlu dikejar-kejar deadline seperti ini.

Belajar Tahsin
Sudah 13 pekan berlalu saya belajar “lagi” membaca Al Qur-an. Sepuluh atau sebelas tahun lalu saya sempat belajar tahsin ketika masih sendiri dan masih ngontrak di dekat kantor. Waktu itu saya begitu semangat belajar meskipun dilakukan di pagi hari libur. Sayang sesudah ujian saya tidak lagi ikut program lanjutannya sampe saat ini, karenanya saya putuskan untuk menyegarkan kembali ilmu yang pernah saya pelajari sekaligus membenarkan lagi bacaan saya.

Kalo dipikir-pikir buat apa belajar tahsin lagi kalo sudah lancar baca Al Qur-an, apalagi menurut kita bacaan sudah baik bahkan di atas rata-rata. Tetapi ternyata ilmu dan praktik mesti dikalibrasi setiap waktu tertentu karena bahkan memori dan indera manusiapun bisa mengalami distorsi. Benarlah bahwa ilmu semakin terasah bila sering digunakan dan diajarkan. Begitupun bila ilmu tidak digunakan atau di-refresh maka ia akan berkarat dan bukan tidak mungkin hilang tak berbekas. Karenanya disebut sebaik-baik orang yang belajar Al Qur-an dan mengajarkannya.

Setiap pembelajaran akan sampe pada masa ujian, termasuk tahsin yang saya ikuti. Meski teori yang dipelajari belum banyak tetap saja saya pusing memikirkannya. Maklum masih menganut prinsip belajar SKS sih, sistem kebut semalam jadi sepertinya jadi kurang maksimal.  Continue reading “Dua Pusing yang Berbeda”

Saat Pelayanan Kantor Kita Payah

Pernahkah Anda merasakan layanan publik yang tidak memuaskan? Bila ya, apa yang Anda lakukan? Menggerutu, hal yang paling umum dilakukan. Marah atau bahkan mengamuk, mungkin saja ketika layanan yang Anda butuhkan berhubungan dengan keselamatan. Nah sekarang pertanyaan saya, bagaimana jika layanan yang payah itu dari kantor kita sendiri?

Paradigma Pelayanan Publik
Istilah pelayanan publik mungkin baru dekade terakhir mulai marak digunakan, dulu istilah yang paling umum digunakan adalah birokrasi. Memang pelayanan publik kini bukan lagi menjadi monopoli pemerintah melainkan sudah menjadi fungsi sektor swasta. Meski begitu fungsi pelayanan publik memang masih tetap tanggung jawab pemerintah meski pelaksanaannya berbagi di antara dua sektor itu. Bahkan sekarang sektor pemerintah yang melayani publik bersaing secara bisnis dengan sektor swasta, jadi orientasi profit sudah menjadi hal yang tidak asing lagi.

Bagaimana dengan instansi pemerintah yang tidak menghasilkan layanan publik, apakah berbeda? Tentu ada perbedaan, satu sisi berhubungan langsung dengan hajat orang banyak sedang yang terakhir tidak berhubungan langsung meskipun boleh jadi tetap berpengaruh pada kepentingan masyarakat. Sebagai contoh yang pertama adalah Ditjen Pajak. Instansi di bawah Kementerian Keuangan ini melaksanakan pelayanan publik bidang perpajakan baik untuk pribadi maupun badan. Sedangkan contoh keduanya yang juga di lingkup Kemkeu adalah Ditjen Anggaran. Instansi ini hanya melakukan pelayanan untuk pemerintah, meski begitu banyak instansi lain yang bergerak di bidang layanan publik bergantung pada ditjen ini.

Sekarang sebagian besar instansi pemerintah melakukan fungsi pelayanan meski memang tidak semuanya pelayanan publik. Sebagian menyebutnya sebagai pelayanan privat, sedang yang disebut privat di sini adalah sesama instansi pemerintah. Mungkin Anda punya pendapat berbeda?  Continue reading “Saat Pelayanan Kantor Kita Payah”

3 1/4 Hari bersama ACT-ESQ 165

Lebih dari 3 hari pekan lalu saya dan rekan-rekan PMO mengikuti capacity building terkait RB yang sedang berjalan di kantor kami. Kegiatannya di-handle oleh tim motivator dari ACT Consulting yang merupakan bagian dari ESQ Corporation. Saya sendiri belum pernah mengikuti kegiatan seperti ini sehingga saya tidak punya gambaran akan mendapatkan apa di situ. Sebelum cerita detilnya saya rasa ini adalah pengalaman inspiratif yang terlalu berharga untuk tidak saya share.

Awal yang “Haru”

image

Seperti posting yang saya tulis kemarin lusa, kegiatan yang mestinya dimulai jam 10 mesti ditunda untuk memberikan do’a penghormatan untuk alm. Ojdikramus. Pemakaman di TMP Kalibata itu selesai lewat jam 12, dan perjalanan ke Pasar Baru pun ditempuh dalam waktu 2 jam. Otomatis pembukaan kegiatan dilaksanakan setelah kami sholat dan makan siang.

Saya yakin semua yang ikut kegiatan capacity building merasakan kesedihan atas kehilangan ini, tapi tentu hal ini tidak menyurutkan langkah kami karena tujuan kami sejalan dengan perjuangan almarhum. Komitmen tak pernah pudar yang dicontohkan adalah semangat bagi kami semua. Semoga kami bisa mengambil semua kebaikan yang beliau tinggalkan untuk lembaga, bangsa dan negara tercinta ini.

Agent of Change
Istilah yang konotasinya konstruktif tapi mungkin bisa menimbulkan alergi untuk beberapa orang. Meskipun sudah menjadi program nasional yang bertujuan menjadikan birokrasi kita berkelas internasional di 2025 tapi patut disadari masih ada yang tidak suka dengan perubahan. Alasannya bermacam-macam, mulai dari semakin ribetnya pola kerja dan pola karir, tunjangan yang berbanding lurus dengan kinerja atau tak selalu sebanding dengan jabatan. Penggerak RB di setiap instansi pemerintah disebut PMO atau Program Management Officer. Program yang dimenej adalah program perubahan, karenanya PMO bisa disebut sebagai agen perubahan atau agent of change.

PMO diatur dengan Peraturan Menteri Negara PAN dan RB Nomor 10 Tahun 2011. Dalam proses RB, PMO bertindak sebagai pengelola perubahan di instansinya. PMO menjadi inisiator, perancang, katalisator dan evaluator atas proses RB yang berlangsung. Tim ini tidak hanya menyentuh sisi struktur dan sistem melainkan juga karakter dan budaya kerja yang mendukung tercapainya tujuan organisasi.

Continue reading “3 1/4 Hari bersama ACT-ESQ 165”

Yang Berjasa dan Yang Berkuasa

image

66 tahun Lemsaneg berdiri memberikan kontribusi bagi negeri ini, begitu indah terukir dalam catatan sejarah. Periode awal di masa perang kemerdekaan dimantapkan hingga akhir masa revolusi, selanjutnya dikembangkan di orde baru dan reformasi saat ini. Telah berlalu kepemimpinan lembaga ini oleh 5 perwira tinggi, masing-masing memberikan warna tersendiri baginya.

Mungkin tinggal sedikit yang menjadi saksi hidup dari kepemimpinan kelima ketua/kepala lembaga ini. Sementara catatan sepak terjang pengabdian mereka mungkin tidak serapi deretan tanggal di kalender. Namun demikian saksi-saksi bisu berupa bangunan, tumpukan arsip dan peralatan menjadi tanda-tanda bagi setiap generasi betapa banyak hal yang terjadi padanya.

Saya adalah generasi yang lahir di masa kepemimpinan B.O. Hutagalung, di saat lembaga belum sebesar dan mungkin belum dikenal seperti sekarang. Masa di mana kemandirian peralatan memudar berganti penggunaan peralatan asing, meski bekas-bekas ketatnya pengamanan internal masih terlihat jelas. Identitas Lemsaneg saat itu sangat kental, sebagian besar pejabat dan pegawainya masih memegang prinsip berani tidak dikenal. Bahkan ada pejabat yang pada tetangganya pun mengaku bekerja sebagai satpam, bukan pegawai lembaga, meski secara maknawi tidak menipu.

Seiring berjalannya waktu, pergantian pimpinan telah mengubah wajah dan isi lembaga hampir secara keseluruhan. Lembaga ini sekarang besar, meski kontribusinya belum signifikan. Siapa saja yang menjadikan lembaga ini besar telah berjasa, sudah pantas bila generasi penerus memberikan apresiasi yang tulus pada mereka baik yang masih ada maupub yang telah tiada. Tinggallah sekarang yang menerima amanah tongkat estafet kepemimpinan lembaga melanjutkan perjuangan para pendahulunya, tidak hanya berkuasa di suatu tapi lebih pada berjasa di sepanjang masa. Semoga …

Flek Paru-paru dan Liburan Mendadak

Flek Paru-paru

Kemarin saya tidak berangkat ke kantor, lebih tepatnya saya ijin untuk datang terlambat karena ada urusan penting: membawa Faqih kontrol ke RS. Setelah pada Jum’at pekan sebelumnya kami juga ke RS untuk hal yang sama, hari ini kami membawanya untuk mendapatkan hasil rontgen ke dua setelah 9 bulan terapi (pencegahan dan pengobatan) atas vonis Flek Paru-paru yang diderita Faqih. Saya pernah menuliskan tentang hal ini sebelumnya, masih ingat?

Sampai saat ini saya dan istri belum benar-benar clear, apa sebenarnya penyebab penyakit ini. Bagaimana bisa putra kami, Faqih, menderita penyakit ini. Apakah karena operasi cesar saat ia dilahirkan? Atau karena kipas angin dan sirkulasi udara yang kurang baik di rumah kami? Atau karena tertular penyakit serupa dari orang-orang di sekitarnya? Belum satupun menjadi alasan utamanya, dan mungkin kami tidak akan sampai pada kesimpulan terakhir.

Seingat istri saya, 3 bulan sejak ultah Faqih yang pertama, kami membawanya ke RS untuk memeriksakan kondisi batuk-pileknya yang sering sekali datang. Kami diarahkan agar Faqih menjalani tes mantouk, penguapan (inhalasi), dan rontgen paru-paru. Setelah tes mantouk pertama karena tanda-tandanya tidak terlalu jelas Faqih di-rontgen pertama kali, dokter menyatakan ada indikasi flek dan mesti menjalani terapi pencegahan selama 3 bulan. Mulai saat itu Faqih mesti minum obat setiap hari tanpa terputus.

Continue reading “Flek Paru-paru dan Liburan Mendadak”

Mengambil Hikmah dari Semua Kejadian

Pekan kemarin saya berkesempatan mengikuti pelatihan Kriptografi Modern. Menarik, karena selain bisa melihat kembali almamater tercinta juga menyegarkan kembali pengetahuan yang dulu pernah dipelajari. Sayangnya, tidak banyak pengetahuan baru yang saya dapat dari pelatihan itu meskipun bukan berarti tidak ada yang sama sekali baru. Tulisan tentang kursus itu insya’Allah akan saya buat di page tersendiri yang lebih sesuai.

Ilmu itu Nilainya Tak Terhingga

Boleh dibaca: Investasi SDM itu mahal tetapi tanpa SDM tidak ada sistem yang akan bertahan. Untuk sementara sih, karena pertentangan ide tentang siapa yang akan memimpin dunia ini apakah manusia atau mesin masih hangat, setidaknya dari film-film fiksi ilmiah macam Matrix, game-game interaktif dan novel-novel teknologi. Satu sisi manusia dengan modal kecerdasan, kemauan, dan perasaannya mampu membuat mesin untuk meringakan beban manusia hingga ke hal-hal yang detil dan rumit (di mana manusia sudah tidak mampu melakukannnya sendiri), sementara di sisi lain mesin yang diciptakan manusia semakin hari semakin cerdas karena dilengkapi dengan artificial intelligent (AI) sehingga bisa menggantikan beberapa fungsi manusia termasuk sebagian pengambilan keputusan.

Nah lho, koq jadi ke sana-sana ya? Begitulah kalo punya pikiran yang gak dilatih berpikir teratur jadinya random mind. Back to the topic, saya sempat berbincang ringan dan santai dengan sesama peserta pelatihan di sela-sela waktu rehat. Tentang biaya untuk mendidik satu orang A**i S***i Tk.3 (D3), karena di antara mereka ada yang pernah mendapat tugas untuk mencari indeks per orangnya. Singkat cerita didapatlah angka lebih kurang 125 juta, jumlah yang tidak sedikit bukan. Itu pun belum  termasuk biaya yang dikonsumsi secara bersama-sama seperti akomodasi asrama dan lain-lain. Secara bodoh saya mencoba mengkalkulasi andai yang bersangkutan melanjutkan S1 dan S2 dengan beasiswa kantor, maka indeksnya bisa mencapai angka 250 juta. Sambil berkelakar saya bilang, bisa disebut The Half Billion Rupiahs Man dong …

Yah itu cuma hitung-hitungan matematis bodoh saja, yang lebih penting lagi adalah apakah setelah menghabiskan biaya sebesar itu yang bersangkutan akan memberikan tanggung jawab moralnya yang seimbang? Saya bilang moral di sini, karena bila yang diminta tanggung jawab material maka boleh jadi tidak akan lunas meskipun yang bersangkutan sudah pensiun. Meskipun sering kita mendengar tuntutan kerugian immaterial (moral) biasanya lebih besar nilainya dibanding kerugian materialnya. Apapun itu, sudah sewajarnya bagi setiap orang yang mendapatkan dukungan biaya dari institusinya untuk menuntut ilmu sampai mencapai gelar apapun, mendarma-baktikan ilmu dan pengalaman yang dimiliki untuk institusinya. Tentu juga untuk negara dan bangsa ini.

Saya sering mendengar bagaimana seseorang karena mendapat kesempatan menuntut ilmu bisa melancong ke luar negeri, bahkan menempuh S1, S2 dan S3 di luar negeri dengan beasiswa dinas. Selebihnya, saya tidak banyak mendengar orang-orang yang mendapat kesempatan seperti itu kemudian mengambil porsi yang penting di negeri ini memberikan sumbangsih yang besar bagi kemakmuran masyarakat luas. Kalo Anda ada cerita seperti itu mungkin bisa di-share di sini.

Continue reading “Mengambil Hikmah dari Semua Kejadian”

Belajar dari Pengalaman, Tragedi Ini Tidak Boleh Terulang

Kita tentu masih ingat (atau sudah lupa???) tentang tragedi ini: Mahasiswa STSN Tewas, (Kompas.com). Kejadiannya sendiri sudah berlalu 8 bulan yang lalu, namun putusan hukum terhadap terdakwa kasus ini baru diputus beberapa pekan lalu. Wisnu (alm), calon mahasiswa STSN yang sedang menjalani orientasi (PPMB) meninggal dunia sebelum dilantik menjadi mahasiswa. Kasus ini tentu saja tidak bisa disembunyikan dan akhirnya menjadi headline di berbagai media informasi. Kasus ini sebenarnya baru pertama kali dialami oleh STSN namun menjadi penting karena kasus-kasus serupa juga terjadi di berbagai sekolah kedinasan lain seperti STPDN dll.

Pada sidang putusan sebelum jatuhnya vonis, Hakim menyebutkan bahwa tidak cukup bukti tersangka menyebabkan kematian korban walaupun hal itu mengarahkannya pada tindakan penganiayaan yang menyebabkan tersangka divonis 5 bulan penjara dan denda Rp 2 juta (Solopos.com). Di sidang itu saksi ahli menyebutkan bahwa korban mengalami memar dan lecet pada punggung serta tangan selain ditemukan darah pada paru-paru yang disebabkan benturan benda tumpul. Namun hal ini dipatahkan oleh kesaksian pembanding dari FKUI bahwa kematian korban disebabkan karena dehidrasi.

Continue reading “Belajar dari Pengalaman, Tragedi Ini Tidak Boleh Terulang”