Puasa Ramadhan #6

Beberapa tahun lalu di Youtube saya menemukan tema yang tidak pernah saya pikirkan terlalu dalam/serius sebelumnya, Flat Earth alias Bumi Datar. Entah kenapa saya tertarik untuk mengikuti serialnya dari awal sampai akhir dan menjadi mulai terpengaruh. Saya juga melihat-lihat artikel terkait termasuk tulisan seorang PNS Batan yang kontra atas tema tersebut. Meski begitu saya tidak serta merta menjadi pengikut salah satu darinya, Flat atau Globe Earth.

Saya sadar ilmu dan kemampuan saya terlalu awam untuk bisa membuktikan kebenaran teori bumi dan langit ini sehingga lebih tertarik untuk mencari dalil-dalil naqli (wahyu Allah dalam Al Qur-an) yang terkait dengan hal tersebut. Beberapa rekan kerja termasuk junior saya di kantor sempat menegur saya, untuk apa memikirkan sesuatu yang tidak akan mengubah apapun. Bisa dibilang saya dianggap melakukan hal yang sia-sia. Boleh jadi begitu tapi pada akhirnya saya percaya bahwa apa yang saya lakukan tidak serendah itu, karena Allah menyebut-nyebut Ulil Albab dalam Al Qur-an di mana ia adalah manusia yang menggunakan akal pikiran untuk berbagai hal baik yang Allah wahyukan dalam kitab-kitab suci maupun alam semesta ini.

Lalu mengapa ini begitu penting? Dalam logika saya, manusia diberikan akal untuk mendukung keimanan. Meskipun semua manusia punya akal tetapi tidak semua punya iman. Ini menjadi pembeda, orang beriman dengan orang kafir/tidak beriman. Jika orang beriman menggunakan logika yang berujung pada keyakinan pada Allah, sedangkan orang tidak beriman tidak peduli apakah ujung penggunaan logikanya kecuali untuk kehidupan di dunia. Nah, ketika saya mengikuti atau membenarkan teori yang dimunculkan oleh orang kafir maka boleh jadi saya menjadi bagian dari golongannya. Saya tidak bilang pemikiran orang kafir tidak obyektif, tetapi sebagai orang beriman saya tetap harus selektif dan kritis atas motivasi di balik pemikiran tersebut. Mengutip ungkapan seorang Yahudi Amerika terkemuka, nothing personal it’s just business.

Sekarang coba kita tengok teori asal muasal alam semesta yang diyakini orang awam…

Bersambung ke Puasa Ramadhan #7

Iklan

Di Antara Para Bebek Matic

Hampir 10 tahun motor itu menemani kami sekeluarga. Sudah tua memang, tapi masih gagah lah mengantar saya setiap hari pp rumah-kantor. Tua tua keladi hi hi hi… Sejarahnya panjang dan lebar, manfaatnya luas dan berisi. Pengalaman memilih motor itu saya tuliskan di sini. Dialah salah satu warisan mendiang istri saya. Sudah seperti istri kedua, eh maksudnya istri keempat buat saya #ups

Dulu ada motor tua, lebih tua dari motor ini. Masih dari pabrikan yang sama tapi sangat senior, masih 100cc. Meski begitu motor tua itu tidak kurang hebat sejarahnya dibanding motor ini. Saat saya melepasnya, saya masih berharap motor itu bisa memberi manfaat untuk pemilik barunya. Saya ini saya tidak tau di mana motor tua itu, tapi saya masih menyimpan fotonya. Seperti istri ketiga buat saya #upslagi

Continue reading “Di Antara Para Bebek Matic”

Generasi Cyber

Ramadhan Karim…

Tahun ini liburan sekolah berhimpit dengan bulan Ramadhan, sehingga anak-anak menjalani hari-hari puasanya di rumah. Meski sepertinya ini lebih nyaman buat mereka tapi ada hal-hal yang merisaukan saya sebagai orangtua.

Waktu Luang Tidak Terstruktur
Anak-anak yang liburan saat puasa Ramadhan bisa puas menghabiskan waktu untuk melakukan aktifitas yang mereka sukai seharian. Saya juga ingat waktu saya seusia mereka dulu, libur Ramadhan adalah hari-hari membaca buku dan menonton tivi. Sejak Subuh sampe hampir Dzuhur membaca komik dan novel petualangan, menjelang Maghrib asyik menonton sinetron religi di tivi.

Dulu anak-anak suka memulai hari puasa mereka dengan berjalan-jalan keliling kampung. Siangnya tidur seharian dan sorenya bersiap berbuka dengan ngabuburit. Nah, yang berbeda adalah sekarang ini masa ketika anak-anak sudah akrab dengan gadget dan internet. Tidak bisa dipungkiri, ini mengubah cara anak-anak menjalani puasa mereka.

Akses anak-anak ke gadget dan internet yang tidak dibatasi membuat waktu luang mereka dihabiskan untuk bermain game dan lain-lain hampir sepanjang hari. Saking asyik dengannya, waktu luang saat liburan menjadi tidak terstruktur. Kadang-kadang ada aktifitas positif tapi lebih banyak lagi aktifitas yang kurang bermanfaat.

Generasi Gadget
Anak-anak sekarang tumbuh ketika gadget telah menjadi kebutuhan primer hampir semua orang. Tentu orang tua mereka sendiri yang punya peran mengenalkan gadget ke anak-anaknya bahkan di usia yang terlalu belia. Begitu besar pengaruh gadget sedemikian hingga balita saja sudah bisa mengakses Youtube sendiri dari hape orangtuanya.

Berkenalan dengan teknologi sebenarnya baik, buat orang dewasa ataupun anak-anak. Tapi hal ini tentu perlu memerhatikan dampaknya bagi masing-masing. Terlebih bagi anak-anak yang bahkan ketika sudah beranjak remaja tetap perlu mendapat bimbingan dan pengawasan orang tua. Tidak semua teknologi berdampak positif bagi kita, tidak terkecuali gadget. Ada efek adiktif yang potensial muncul ketika kita menggunakannya, terlebih jika gadget kita terhubung dengan internet.

Begitu banyak varian hiburan yang bisa didapat dari gadget, mulai dari kemudahan berkomunikasi hingga permainan (games). Saat ini bahkan dengan perkembangan teknologi yang begitu cepat gadget telah mengadopsi fungsi komputer. Tentu ini memberikan banyak manfaat untuk pengguna, karena gadget bisa digunakan sebagai pengolah data. Tapi ini juga berarti efek adiktif gadget canggih menjadi semakin besar.

Generasi Cyber
Internet sudah menjadi kebutuhan primer sebagian besar orang saat ini. Begitu besar pengaruh internet dalam kehidupan manusia modern, sampai-sampai muncul istilah mending mati listrik daripada putus koneksi. He he he… luar biasa. Tapi saya sendiri ternyata juga merasakannya, entah sudah sampai tingkatan adiktif yang mana.

Kalo dulu internet hanya bisa dinikmati dengan komputer yang terhubung dengan modem kabel, sekarang internet begitu mudah diakses dari gadget di tangan kita. Termasuk anak-anak kita, adalah generasi yang begitu mudah mengakses internet. Dan mereka tau bagaimana menggunakannya… duh.

Saya ingat interaksi awal saya dengan internet adalah membuat email pribadi. Browsing dan gaming online … baru saya lakukan beberapa tahun setelah bekerja. Itu juga karena sudah ada akses internet di kantor. Kalo terpaksa barulah saya mencari warnet untuk akses internet. Sekarang, anak saya bisa menghabiskan kuota 1 GB hanya dalam waktu 2 hari saja… wow. Sungguh berbeda sekali perbedaan dua generasi ini.

Generasi anak-anak dan remaja sekarang, tidak perlu melalui fase belajar mengakses internet berdasar aspek kepentingan. Umumnya mereka mengakses internet karena “paksaan” trend… sosmed dan gaming. Siapa remaja sekarang yang tidak punya akun Facebook, Tweeter, Line, Path atau Whatsapp? Sulit dicari… Demikian pula begitu jarang anak-anak yang tidak tau di mana mencari permainan baru yang seru? Mereka seperti otomatis tau untuk mencarinya di Playstore. Dan penyedot kuota yang terfavorit untuk mereka tidak lain ya… Youtube.

Inilah mereka… generasi cyber. Generasi yang lahir dan tumbuh bersama internet di kesehariannya. Sudah muncul istilah baru untuk mereka… generasi nunduk, karena kebiasaannya menundukkan kepala saat menggunakan gadget dan internet. Generasi yang entah apa yang akan terjadi pada mereka jika internet hilang dari muka bumi. Mungkin saat itu terjadi, mereka telah bertemu teknologi supracanggih yang memungkinkan mereka menggunakan internet tanpa gadget. Wallahu a’lam…

Jalan Rusak | Cuaca atau Teknik?

Akhir tahun hingga awal tahun berikutnya menjadi waktu paling krusial bagi warga Jakarta akhir-akhir ini. Bagaimana tidak? Hampir pasti akhir dan awal tahun menjadi saat mereka mengalami luapan air akibat volume hujan yang sangat tinggi bahkan ekstrim. Berdasarkan data dari BMKG berikut hingga April hujan masih akan mengguyur sebagian besar wilayah Indonesia. Sungguh miris melihat ibukota Jakarta dikepung banjir, rumah-rumah terendam & akses jalan umum tertutup genangan.

Sebagai komuter Depok-Jakarta yang sehari-hari melintas jalan antarkota antarprovinsi (AKAP) meskipun tidak sampai terkena dampak signifikan dari curah hujan yang tinggi itu, saya tetap saja merasakan sebagian akibat darinya yaitu jalanan yang rusak. Entah disadari atau tidak jalanan yang rusak sudah menjadi konsumsi sehari-hari para pengguna jalan seperti saya. Misal jalan M. Kahfi I di depan Puskesmas Kecamatan Jagakarsa (Paso), sempat rusak cukup parah sehingga setiap kendaraan yang melintas di situ mesti jalan pelan-pelan di situ.

Saya sebenarnya cukup surprise waktu pada suatu hari saya melintasi jalan rusak itu dan kondisinya sudah diperbaiki. Dalam hati saya mengacungkan dua jempol untuk kinerja dinas PU Pemprov DKI. Cuma sayang sekali, belum genap satu bulan jalan yang diperbaiki itu sudah mulai berlubang lagi. Huff… ini karena faktor cuaca atau teknis ya? Memang bulan-bulan ini vokume hujan sedang tinggi jadi mesti dipahami siapapun termasuk pihak berwenang untuk mengantisipasinya, termasuk Dinas PU yang menangani kerusakan jalan. Saya pikir mestinya faktor teknis yang menyesuaikan faktor cuaca, karena itulah keunggulan engineering digunakan.

Saya belum belajar tentang ini memang, bahkan proses membuat jalan aspal saja saya tidak tau detil. Jadi menurut Anda, kerusakan jalan itu faktor cuaca atau teknis?

image
Jalan rusak di depan Puskesmas Paso

Serial Super-Dad: Bercerita di Kelas

Pernahkah Anda bercerita saat mengantar anak tidur di malam hari (ngelonin-Jawa-red)? Saya rasa hampir semua ayah pernah melakukannya. Bagaimana dengan halnya bercerita di depan kelas, di hadapan anak-anak TK teman anak Anda? Nah, berikut saya tuliskan pengalaman saya dalam program sekolah Faqih: “Ayah Bercerita” …

Hari ini tidak seperti biasa, saya mendapat tugas kesempatan dari pihak sekolah Faqih, TK Islam Bina Shaliha, untuk bercerita di depan kelasnya. Pemberitahuan terkait kegiatan ini sudah sejak rapat ortu pertama atau hampir 5 bulan lalu, bahkan pengingatan oleh guru diberikan via SMS H-2. Tapi hingga malam hari H, saya masih bingung mo bercerita apa hari ini.

Awalnya saya mo membawakan cerita tentang seruling ajaib; kisah tentang seorang tukang cukur istana yang pandai menyimpan rahasia. Sedikit banyak ide awal ini didapat dari latar belakang profesi saya he he he …. Belakangan saya berubah pikiran, saya mencari cerita yang lebih bermakna. Karena tujuan Ayah Bercerita tentu bukan hanya pelibatan ortu dalam kegiatan kelas tetapi juga menyampaikan nilai-nilai positif untuk anak-anak semua.

H-1 sampe siang hari saya putuskan cerita “Gabah yang Sombong” yang saya pilih karena menasihatkan nilai rendah hati pada anak-anak. Cuma ada satu masalah, saya sulit menemukan gabah di zaman modern seperti sekarang ini padahal cerita saja tanpa ilustrasi tentu agak membosankan buat mereka. Akhirnya setelah duduk makan malam terlintas ide untuk menggunakan boneka-boneka milik Fida dan Faqih sebagai tokoh dalam cerita saya.

Taraaaaa … ide itu lalu mengalir begitu saja. Agar tidak lupa saya ketikkan sinopsisnya di laptop Intinya cerita tentang kewajiban anak yaitu belajar, kepatuhan pada ortu dan guru, serta indahnya persahabatan. Sinopsis bisa dilihat di sini:
Continue reading “Serial Super-Dad: Bercerita di Kelas”

Nyaman Naik KRL dari Depok ke Bekasi (Bag. 2)

M3-I4-2.S2-Z4-A4-

image
Naik KRL, murah dan nyaman

Setelah saya berkomentar tentang perubahan kondisi KRL Jabodetabek akhir-akhir ini di sini, kali ini saya akan posting tentang cara melakukan perjalanan dengan KRL. Ya memang bukan hal baru buat Anda yang sudah sering menggunakan jasa KRL, tapi saya masih sering menemui penumpang yang belum paham cara naik KRL. Selamat mengikuti!

Membeli tiket KRL
Sebelum naik KRL Anda mesti membeli tiket terlebih dahulu. Tiket KRL sekarang tidak lagi berbahan dasar karton melainkan sudah berbentuk kartu magnetik model kartu ATM atau lebih tepatnya flashcard. Istilah yang dipake e-ticket persis seperti kartu bayar jalan tol. Nah ketika di loket Anda tinggal menyebutkan stasiun tujuan dan petugas loket akan menyebutkan harga yang mesti Anda bayar. Sesudah membayar, tiket akan keluar dari mesin tiket. Ambil tiket dan kembalian jika ada, maka Anda siap masuk ke peron.

Masuk peron stasiun
Bawa tiket yang Anda dapatkan di loket menuju pintu masuk peron. Anda akan disambut oleh petugas berbaju satpam yang siap membantu bila Anda butuh bantuan. Letakkan kartu pada bagian atas panel pintu dan tunggu lampu indikator berwarna hijau menyala maka Anda bisa melalui palang putar untuk masuk ke dalam peron. Tidak perlu terburu-buru karena sensor butuh waktu untuk membaca kartu dan lampu hijau tidak akan mati sebelum palang pintu diputar oleh penumpang yang masuk.

Perhatikan lajur tujuan
Pastikan Anda menuju lajur KRL yang sesuai dengan tujuan Anda. Stasiun Jabodetabek umumnya menempatkan KRL jurusan Bogor di lajur sisi Barat, arah Jakarta Kota di sisi Timur, sedangkan untuk KRL arah Bekasi di lajur Barat. Petugas stasiun secara berkala akan menyampaikan informasi kedatangan KRL, tujuan dan lajur yang dilalui. Di beberapa stasiun lajur yang digunakan tidak cuma dua sehingga Anda perlu memerhatikan di lajur mana KRL yang akan Anda naiki berhenti.
Continue reading “Nyaman Naik KRL dari Depok ke Bekasi (Bag. 2)”

Nyaman Naik KRL dari Depok ke Bekasi (Bag. 1)

M3.2-I4.2-2.S2-D2-Z4.2-A4-T

image

Anda pernah melakukan perjalanan dari Depok ke Bekasi, enaknya naik apa ya? Apakah dengan bus AKAP? Ataukah dengan KRL Commuterline? Buat Anda yang masih bingung memilih moda transportasi apa silakan teruskan membaca posting ini. Sebelumnya saya juga pernah menulis tentang hal itu di sini. Semoga bisa jadi pembanding buat Anda yang biasa berhitung efisiensi dan kenyamanan.

Beberapa waktu belakangan PT. KAI yang mengoperasikan KRL untuk wilayah Jabodetabek mengubah sistemnya. Selain itu juga dilakukan revitalisasi stasiun-stasiun serta penambahan jumlah armada KRL yang dioperasionalkan. Peningkatan kualitas layanan dan kapasitas KRL Jabodetabek ini tampak pada hal-hal berikut ini:

1. Stasiun yang steril dari selain penumpang dan petugas KRL. Dulu stasiun sangat terbuka, sehingga non penumpang bisa dengan leluasa keluar masuk peron. Pedagang asongan, PKL, pengemis, dan pengamen menjadi komponen yang biasa mewarnai stasiun, peron, bahkan gerbong KRL. Sekarang sebagian besar stasiun sudah dibenahi mulai dari pagarnya, lokal parkirnya, juga pintu keluar-masuk stasiun.

2. Seluruh penumpang yang masuk ke peron membeli tiket dengan harga terjangkau. Sudah menjadi pemandangan biasa KRL dipadati penumpang hingga di atapnya. Petugas tiket juga sering menemui penumpang yang tidak membeli tiket, tentu termasuk penumpang yang duduk di atap. Kini dengan sistem akses terkontrol dan tarif progresif, KRL hanya dinaiki oleh penumpang yang memegang tiket elektronik (e-ticket) saja dan harga tiket sangat murah/terjangkau.

3. KRL semakin tepat waktu dan jumlahnya mendekati kebutuhan. Waktu awal-awal kali saya naik KRL lebih dari sepuluh tahun lalu, KRL ekonomi hampir tidak pernah tidak terlambat dan terlambatnya pun tidak tanggung-tanggung bisa berjam-jam. Lebih parahnya ketika KRL yang ditunggu tiba, masya’Allah penuh sesak seperti tidak menyisakan ruang untuk penumpang di stasiun berikutnya. Penumpang berjubel, berhimpitan bahkan ada yang bergelantungan di pintu gerbong. Kondisi itu sekarang sudah berubah, meski KRL penuh tapi tidak sampai berhimpitan dan bergantungan di pintu. Dan jika mau bersabar untuk kereta berikutnya maka mungkin akan dapat ruang lebih lega bahkan kursi kosong.

4. KRL seluruhnya ber-AC, bersih dan disediakan gerbong khusus wanita. Dulu masih ada kereta ekonomi dan patas. Ada harga, ada rupa. Kereta ekonomi tiketnya murah, tentu fasilitasnya terbatas: tanpa AC yang ada kipas angin, lampu lebih sering mati, pintu dan jendela tidak bisa ditutup, gerbong kotor dan dipenuhi pegadang asong dkk. Sekarang KRL commuterline semuanya adalah kereta patas, berkipas dan ber-AC, terang, bersih, dan nyaman tanpa pedagang asongan, pengamen, atau pengemis.

Itulah catatan saya atas perubahan kondisi KRL Jabodetabek belakangan. Anda punya pandangan lain? Baca tips naik KRL Jabodetabek di sini.