Ramadhan dan 3 Tipe Manusia

image

Ramadhan Karim…

Ada 3 tipe manusia menghadapi Ramadhan, bulan yang mulia. Demikian disampaikan Prof. Dr. Kalamullah Ramli dalam Kultum Tarawih beliau di masjid Ukhuwwah Islamiyyah malam ini. Beliau membuka tausiyahnya dengan membacakan nasihat Rasulullah kepada para sahabat menyambut datangnya Ramadhan.

Ketiga tipe manusia tersebut diuraikan beliau sbb.:
1. Manusia yang tidak terpengaruh.
Ramadhan yang hadir tidak mengubah perilakunya sama sekali. Mereka tidak senang kedatangan bulan suci ini dan bahkan tetap bermaksiat kepada Allah. Mereka ini adalah golongan orang yang merugi seperti yang disebut oleh Rasulullah, yang tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.
2. Manusia yang biasa-biasa saja.
Mereka menyambut Ramadhan dengan ibadah, tapi kadarnya sama saja dengan hari-hari biasa. Tidak ada peningkatan dalam ibadahnya sehingga yang membedakan hanya mereka berpuasa dan tarawih saja.
3. Manusia yang berusaha keras.
Ramadhan dianggap sebagai momentum langka yang mungkin tidak akan berulang. Mereka bergembira dan bersemangat mengisinya dengan ibadah yang jauh lebih baik dibanding bulan-bulan sebelumnya. Bulan puasa diisi tidak hanya dengan puasa dan tarawih tetapi juga dengan tilawah, shodaqoh, ta’lim dan banyak ibadah lainnya. Mereka inilah golongan manusia yang beruntung, sebagaimana sabda Rasulullah yang menyebutkan bahwa barangsiapa yang puasa/tarawih di Ramadhan dengan iman dan bersungguh-sungguh maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Di akhir kultumnya, Pak Muli mengajak jama’ah tarawih malam itu untuk menentukan target ibadah Ramadhan lalu mengejarnya dengan sungguh-sungguh meski capek dan mengantuk. Beliau mengingatkan bahwa boleh jadi ini Ramadhan terakhir kita, dan di akhir hayat hanya 2 hal yang kita inginkan yaitu surga Allah dan pembebasan dari api neraka. Semoga kita termasuk dalam golongan manusia yang beruntung.

Ramadhan Karim

Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar. Allahumma sholli wasallim wabarik ‘ala Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

Tiada terkira bahagianya saya bisa berjumpa lagi dengan penghulu bulan, Ramadhan Karim. Nikmat kesempatan ini tidak semua orang mendapatkannya, tidak istri saya (almarhumah) dan tidak pula guru saya (almarhum). Dan bahkan banyak orang sholih yang dipanggil Allah sebelum Ramadhan datang menghampiri.

Tapi bukan manusia jika sekedar menyadari hal itu lalu tidak berbuat apa-apa. Saya boleh saja merasa sedih tahun ini tidak menjalani Ramadhan bersama sang kekasih yang lebih dari satu dekade terakhir menemani hari-hari saya. Cuma, apa yang akan saya dapatkan jika hanya bersedih? Boleh jadi lagi-lagi saya akan melewatkan Ramadhan tahun ini dengan sia-sia. Karenanya saya harus move on … titik.

Agak berbeda memang semangat saya menyambut Ramadhan tahun ini jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini saya tidak merumuskan target … lebih tepatnya belum he he he. Sedangkan tahun-tahun kemarin saya sepertinya mempunyai target, sebagaimana tips dan trik Ramadhan di sini. Mungkin ini karena saya sedang penyesuaian dengan kondisi keluarga saya yang baru.

Baiklah, apapun kondisi kita saat ini … mari kita optimalkan pendekatan kita kepada Allah mulai dari sekarang. Karena Allah mencintai orang-orang yang berusaha mencintai-Nya. Dan kebahagiaan sejati sesungguhnya adalah mendapatkan kasih sayang dari sang Kekasih.

Ya Allah … jadikan Ramadhan kami tahun ini semakin mendekatkan diri kami kepada-Mu, hingga akhir hidup kami. Aamiin …

Memaknai 11 Tahun Kebersamaan

image

Hari ini tepat 11 tahun saya dan istri mengikat janji setia dalam sebuah akad pernikahan. Masih hijau memang untuk niatan terikat dunia-akhirat, tapi bukan waktu yang singkat bagi kami masing-masing menemukan arti tujuan kebersamaan ini. Dan bahkan ketika sudah lewat satu dasawarsa kami membangun rumah tangga, saya dan istri masih terus mencari format terbaik mewujudkan sakinah mawaddah warahmah.

Banyak hal yang sudah kami lalui bersama, ada suka juga duka, kadang tangis juga canda tawa. Meski mungkin masih banyak hal yang belum kami alami, serta cita dan harapan yang belum kesampaian, tapi semua yang ada sekarang telah mendewasakan kami. Dan kami masih terus berproses untuk semakin dewasa setiap harinya…

Yang pasti hanya kalimat syukur sajalah yang pantas kami ucap saat ini dan seterusnya, sebagai bagian dari penghambaan kami pada Allah Rabbul ‘Izzati atas segala nikmat yang diberikan.

Alhamdulillah… Ya Allah, telah Kau limpahkan nikmat-Mu pada kami: usia, kesehatan, anak-anak, harta-benda, kesempatan, ujian, dan nikmat-nikmat yang tidak akan mampu kami sebutkan satu persatu bahkan hingga sampai ajal kami. Maka jadikan kami hamba-hamba yang selalu mensyukuri nikmat-Mu. Aamiin

.

Istriku, terimakasih atas cinta, kasih sayang, pengertian, kesetiaan, kesabaran dan semua yang telah kau berikan padaku. Dan karenanya sudah sepantasnya aku menempatkan dirimu sebagai wanita kedua di hatiku. Semoga kelak kau akan menjadi permaisuriku di surga, insya’Allah…

Depok, 21 September 2014

Mudik-Balik-Mudik

“Mudik Lebaran…”
Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar istilah itu? Kemacetan sepanjang belasan kilometer… Ribuan pemudik bermotor memenuhi jalanan Pantura… Atau Jakarta yang sepi karena ditinggal mudik penghuninya? Ya, seribu satu gambaran terlintas di benak kita tentang istilah yang satu itu. Tapi mau tidak mau, senang tidak senang, mudik lebaran sudah menjadi bagian dari kehidupan orang Indonesia sejak beratus tahun yang lalu. Dan bukan tidak mungkin, mudik lebaran akan tetap bertahan hingga akhir dunia.

Saya termasuk bagian orang Indonesia yang melakoni “ritual” mudik lebaran. Meski tidak tiap tahun, saya dan keluarga seperti sudah sepakat bahwa kami setidaknya 2 tahun sekali harus ya… harus pulang kampung. Kenapa harus? Karena kami masih punya orang tua yang tinggal di sana. That’s all… tidak ada alasan yang lebih penting dan mendasar buat kami mudik lebaran kecuali bersilaturrahim dengan orang tua. Tidak peduli apakah kami dalam kondisi lapang atau sempit, selalu ada jalan keluarnya.

Biaya Transportasi yang Makin Mahal
Disadari betul oleh kami, para pemudik lebaran, bahwa biaya transportasi menuju kampung semakin tahun semakin mahal. Tuslag tiket transportasi baik darat, laut, maupun udara mencapai 150-300% harga normal. Tak pelak lagi, kami mesti merogoh kantong lebih dalam untuk itu, dan bila kantong kami pas-pasan maka kami mesti menabung.

Memang kondisi ini sebenarnya adalah peluang untuk pebisnis bidang transportasi, karena saat-saat lebaran menjadi waktu di mana pemasukan menjadi berlipat-lipat. Tapi sayangnya, pemerintah belum bisa menanganinya secara kompak dengan swasta sehingga permintaan akan transportasi mudik lebaran yang lebih terjangkau belum bisa didapat masyarakat. Karena itulah sebagian orang, termasuk kami, memilih untuk mengatur volume mudik lebaran menjadi 2 tahun sekali.

Mudik Lebaran adalah Kemacetan di Seluruh Titik
Sudah menjadi kemakluman semua pihak, masa mudik lebaran adalah masa ketika kemacetan panjang berpindah atau tepatnya menyebar dari Jabodetabek ke seluruh penjuru Indonesia khususnya Jawa. Akibatnya tidak hanya antrean panjang berpuluh-puluh jam di sepanjang jalur tetapi juga kerusakan ratusan kilometer jalanan yang dilalui jutaan kendaraan bermotor yang hendak mudik.

Masalah kemacetan akibat mudik ini muncul setiap tahun, sayang sekali pemerintah pusat dan pemerintah daerah termasuk badan dan dinas terkait belum punya formula yang tepat untuk mengatasinya. Mobilisasi jutaan orang dan kendaraan dari Jabodetabek ke daerah pada kurub waktu tertentu telah menyebabkan penumpukan volume pengguna jalan di hampir seluruh titik yang dilalui. Kereta dan pesawat terbang dan kereta sebagai alternatif angkutan massa paling efektif seharusnya menjadi pilihan utama pemerintah.

Berhari-hari di Perjalanan
Waktu saya masih kuliah di Bogor, setiap kali menjelang lebaran saya tidak punya pilihan selain naik bis antarkota (bis malam). Anda tentu paham bagaimana kondisi angkutan yang satu ini saat menjelang lebaran: bis terbatas, penumpang berjubel, harga tiket mahal, dan waktu perjalanan yang tidak menentu.

Pernah suatu kali karena saya gagal mendapatkan tiket bis di terminal Lebak Bulus, saya memutuskan untuk mencari tiket di terminal Kampung Rambutan. Setelah menunggu berjam-jam, kira-kira jam 9 malam saya dapat tiket bis yang dicari. Ternyata saya dapat bis tua dan tanpa AC, pun tempat duduknya di samping sopir tanpa sandaran. Dan syukurnya saya selamat sampai di rumah jam 9 malam hari berikutnya, artinya saya menempuh perjalanan Jakarta-Magelang selama 24 jam.

Mungkin waktu itu saya merasa inilah perjalanan pulang kampung terburuk sepanjang hidup. Oo… saya salah. Setelahnya bahkan belasan tahun sesudahnya saya harus merasakan pengalaman yang tidak kalah pahit, 27 jam dalam perjalanan mudik. Lebih miris lagi saya bersama istri dan ketiga anak kami sedangkan Faqih sedang sakit. Alhamdulillah, selama perjalanan kami baik-baik saja termasuk Faqih.

Mudik-Balik-Mudik dalam Sepekan
Pernahkah Anda bolak-balik Jakarta – kampung halaman 2 kali dalam sepekan? Kecuali Anda businessman, pilot, masinis atau sopir angkutan maka saya maklum, selain itu rasanya berlebihan bolak balik gitu. Tapi ternyata saya malah sudah 2 kali mengalaminya, terakhir tahun ini. Sekali mudik mengantar istri dan anak-anak, balik karena mesti kerja lagi, trus mudik kedua yang benar-benar mudik. Mudik yang pertama 27 jam, baliknya 10 jam. Nah, gimana dengan mudik kedua? We’ll see… sekarang mo istirahat dulu di Pring Sewu.

Menulis Tema Ramadhan

Tahun ini buat saya beda dengan Ramadhan 3 tahun terakhir karena sekarang saya akan lebih fokus pada diri dan keluarga. Bahkan untuk menulis di sini pun saya seperti tidak sempat he he he… (#alasan.com). Tapi itulah kenyataannya, aktifitas yang lebih banyak saya kerjakan di Ramadhan tahun ini selain kerja adalah membaca dan membantu mengurus urusan rumah tangga.

Tahun ini Faqih belajar puasa
Faqih, putra kedua kami beberapa bulan lalu dikhitan. Saya sudah menuliskannya di sini belum ya? Hi hi hi… lupa ;P Karena itu kami mulai mengajarkan padanya kewajiban sebagai muslim baligh (masih lama kali… #rapopo).

Meski baru 5 tahun tahun ini Faqih belajar berpuasa. Seperti saya waktu kecil dulu, Faqih puasa bedug alias puasa setengah hari. Faqih mulai berlatih bangun lebih pagi untuk sahur, shalat Subuh berjama’ah di masjid, lalu tidak makan dan minum sampai Dzuhur. Jam 12-13 Faqih boleh berbuka, sesudahnya lanjut lagi berpuasa sampai Maghrib. Malamnya Faqih ikut shalat tarawih semampunya. Setengah bulan jalan, sepertinya dia mulai terbiasa meski sesekali merengek menangis minta jajan atau minum. Sabar ya, Nak…

Istri libur selama Ramadhan
Tahun ini kalender akademik agak kacau, karena Ramadhan hampir berbarengan dengan akhir tahun ajaran sehingga liburan sekolah 2-3 pekan di awal Ramadhan. Sisa 1-2 pekan masuk sekolah lanjut liburan Lebaran kurang efektif untuk bimbel istri yang pakai sistem pembayaran bulanan. Akhirnya istri saya memutuskan untuk meliburkan bimbel selama Ramadhan.

Untuk menutupi kekosongan waktu itu istri mencoba usaha sampingan, menjual coklat untuk lebaran. Walhasil mau tidak mau saya ikut turun tangan membantunya karena secara tidak terduga dapat pesanan hampir 200 toples. Sabar…

ODOJ, Tahfizh dan MTQ
Sejak bergabung dengan program membaca Al Quran satu juz sehari (ODOJ) 3 bulan lalu saya yang mestinya sudah 3 kali khatam ternyata baru 1 atau 2 kali khatam. Hadeuh… Karena itulah Ramadhan ini seharusnya saya lebih disiplin dalam tilawah Al Quran, sayangnya saya masih lebih sibuk dengan pekerjaan lain. Semoga di 10 hari terakhir ini saya punya lebih banyak kesempatan untuk mengakrabinya.

Hampir 2 tahun lalu saya belajar tahsin (membaguskan bacaan) di Rumah Tajwid Depok. Alhamdulillah bacaan saya sekarang jauh lebih baik dari sebelum saya belajar. Dan sesuai program saya mulai menghafal Juz 30, mulai dari depan. Saya merasa agak kesulitan, sehingga sudah hampir setahun saya baru bisa menghafal 3 surat saja. Meski begitu saya akan tetap berusaha, terutama di bulan suci ini.

Ramadhan tinggal 6 hari dan hampir saja saya tidak menulis tentang tema Ramadhan…

Tentang Pemilu (2)

[09:53, 7/9/2014] abu fida – faqih – faisal: Microblog:
“Saatnya Menentukan Pilihan”
[09:54, 7/9/2014] abu fida – faqih – faisal: Awali dengan doa dan munajat…

image

[09:55, 7/9/2014] abu fida – faqih – faisal: Datang dan perhatikan pilihan…

image

[09:55, 7/9/2014] abu fida – faqih – faisal: Daftarkan diri, jangan lupa sapa dan salam…

image

[09:56, 7/9/2014] abu fida – faqih – faisal: Ambil surat suara, pastikan tidak cacat…

image

[09:58, 7/9/2014] abu fida – faqih – faisal: Pilihanku…
Bismillah #mestirahasiakatanya

image

[09:59, 7/9/2014] abu fida – faqih – faisal: Masukkan surat suara…

image

[10:00, 7/9/2014] abu fida – faqih – faisal: Celupkan jari ke tinta jangan lupa

image

[10:01, 7/9/2014] abu fida – faqih – faisal: Alhamdulillah… Saatnya kembali bekerja

image

Depok, 9 Juli 2014 (copied by Whatsapp)

Tentang Pemilu… (Bag. 1)

Alhamdulillah… meski masih ada beberapa daerah yang mesti melakukan pencoblosan ulang, Pemilu anggota legislatif tanggal 9 April kemarin berjalan lancar. Tugas saya sebagai anggota KPPS pun berakhir saat menyerahkan kotak-kotak berisi surat-surat suara beserta berita acara perhitungannya ke PPS dan sudah menerima honor sebagai kompensasi dari pelaksanaan pencoblosan di TPS hingga tengah malam. Tapi sebenarnya masih ada pekerjaan yang mesti dilakukan, memastikan suara para pemilih dihitung secara tepat tanpa perubahan hingga di tingkat nasional.

Tahapan Pemilu selanjutnya yang mungkin tidak diketahui semua orang adalah perhitungan suara di PPS (Kelurahan), PPK (Kecamatan), KPUD (Kabupaten/Kota dan Provinsi), hingga KPU Pusat. Bahan perhitungan di semua tahap itu adalah berita acara perhitungan dari seluruh TPS berjenjang hingga provinsi bentuk plano (besar). Data dukungnya berita acara ukuran folio dan surat suara. Semestinya jumlah suara dari ketiga jenis berkas itu tidak berbeda. Saat perhitungan suara plano yang dipakai, bila ada selisih maka dilihat bentuk folionya tapi bila masih selisih juga barulah surat suara dihitung ulang.

Masalah yang sering muncul adalah:
1. Berita acara plano dari TPS tidak memberikan data yang valid.
Seringkali saat perhitungan suara di PPS ditemui selisih suara akibat kekeliruan KPPS memahami aturan main atau sekedar ketidakcermatan. Misal ketika jumlah surat suara sah, tidak sah, rusak dan tidak terpakai tidak sama dengan jumlah surat suara yang diterima KPPS. Atau ketika rekap suara tidak sama dengan rinciannya, mengingat ada 2 jenis suara: untuk caleg dan untuk partai. Hal ini sering jadi perdebatan sengit di tingkat PPS, terlebih karena KPPS tidak bisa dikonfirmasi karena tidak hadir saat perhitungan.

image
Perhitungan suara di TPS

2. Data dukung berita acara plano tidak ditempatkan sesuai petunjuk KPU.
Seharusnya surat suara sah DPR RI digabung dengan surat suara sah DPD RI dalam kotak suara DPD sedangkan kotak suara DPR RI hanya berisi berita acara plano. Ini sebenarnya untuk memudahkan PPS melakukan perhitungan dengan cukup membuka 1 kotak suara saja (DPR RI), sehingga kotak-kotak lain dan surat suara sah tidak perlu diotak-atik PPS. Sayangnya seringkali ketentuan ini tidak diindahkan KPPS sehingga menambah beban kerja PPS yang mesti memindahkan isi sesuai kotaknya selain menghambat proses perhitungan manual.

image
Kotak-kotak suara di TPS

3. Lemahnya pengawasan atas pelaksanaan penghitungan, penyerahan dan rekapitulasi suara yang mestinya dilakukan oleh PPL/Bawaslu.
Seperti saat saya bertugas kemarin, tidak ada PPL yang menyambangi TPS saya dari awal sampai akhir dan tidak ada petugas Bawaslu memantau penyerahan kotak/surat suara dari KPPS kepada PPS. Memang ada pengamanan dan pengawalan oleh petugas Kepolisian tapi fungsinya minim. Akibatnya tidak ada pihak selain KPPS dan saksi yang bisa mengkoreksi saat terjadi kekeliruan atau bahkan kecurangan.

image
Pengamanan TPS oleh pamsung

4. Sistem pengamanan suara yang terkesan seadanya sehingga rawan dimanfaatkan pihak-pihak berkepentingan.
Saya agak menyayangkan bahwa kotak suara Pemilu tahun ini dibuat dari kardus bukan seng. Bahkan ketika kotaknya seng pun kecurangan masih bisa dilakukan, bagaimana dengan kotak suara kardus. Selain itu prosedur pengamanan surat suara dengan sampul bersegel dan kotak dengan gembok bersegel juga sangat berisiko. Selain kotak yang sangat mudah dijebol, segel dan kunci tidak digunakan sebagaimana mestinya. Untuk apa kotak dikunci dan disegel jika kunci bisa diakses mudah oleh siapapun dan segel dimiliki oleh banyak pihak?

image
Kotak suara dan kuncinya

Nah, mungkin masih ada banyak masalah lain dalam proses pelaksanaan dan perhitungan tapi sementara itu dulu. Mari kita berdiskusi…

Coblos Siapa? | Panduan Memilih Wakil Rakyat

Saya abdi masyarakat (PNS) tapi saya juga bagian dari masyarakat, karenanya saya masih punya hak untuk memilih wakil saya di legislatif (hak pilih). Tahun ini (2014), negara kita kembali menggelar perhelatan akbar: Pemilu dan Pilpres. Sesuai UUD 1945, hak pilih adalah salah satu hak bagi seluruh warga negara (anggota TNI dan Polri belum…). Tapi tahukah Anda siapa yang akan Anda pilih sebagai wakil rakyat?

Berpuluh kali saya melihat belasan stiker, poster dan spanduk Caleg juga Capres karena mereka memasangnya di hampir setiap ruang kosong mulai dari pagar tembok hingga tiang telepon. Iklan caleg sudah tidak ada bedanya dengan iklan produk dan jasa, lihat saja foto berikut.

image
Tiang-tiang telepon dekat rumah

Nah, tapi dari beratus informasi di atas tidak satu pun membantu saya menentukan pilihan wakil rakyat. Ya sebenarnya kalo kita memilih berdasar kriteria umum saja sih bisa, misal memilih berdasarkan faktor kecantikan/kegantengan, atau dari asal partainya. Cuma sayang ya momen demokrasi 5 tahun sekali kita sia-siakan apalagi dengan tidak memilih (golput), seperti menyerahkan kekuasaan pada penjahat saja. Mengapa begitu? Karena caleg dan capres itu punya niat masing-masing dan bila kita golput maka boleh jadi yang punya niat jelek (misal untuk korupsi) terpilih menjadi wakil kita untuk 5 tahun. Terkait golput mungkin saya akan menulis di posting berikutnya.

Trus, buat kita yang ingin benar-benar punya wakil di legislatif bagaimana cara memilihnya? Ini sangat bergantung pada seberapa akses Anda atas infomasi caleg-caleg itu. Begini, bayangkan Anda sebagai ibu rumah tangga yang sehari-hari full mengurusi urusan rumah. Anda yang terpelajar masih bisa cari info lewat internet atau jejaring sosial, tapi untuk tipe ibu-ibu yang lowtech (gaptek terlalu kejam) gimana? Sebenarnya Anda bisa memanfaatkan lingkungan sekitar Anda untuk mencari info, misal saat arisan PKK atau saat silaturrahim dengan tetangga. Anda juga bisa menanyakan pada orang-orang yang tau atau mengenal caleg-caleg di sekitar tempat tinggal Anda.

Buat Anda yang bisa mengakses info melalui internet bisa leluasa memilih sumber informasi caleg. Misal Anda buka kpu.go.id, Anda bisa melihat daftar caleg DPR RI di 77 dapil di seluruh Indonesia dari 15 parpol peserta pemilu. Sayangnya Anda harus hafal dapil tempat Anda tinggal (misal Dapil Jabar VI untuk Kota Bekasi dan Kota Depok), datanya juga mesti diunduh dalam format pdf. Datanya lengkap untuk setiap caleg meski KPU baru menyediakan data untuk DPR RI dan DPD RI. Sebagai alternatif Anda bisa melihat di news.detik.com/pemilu2014 tanpa harus mengunduhnya. Memang sih hanya ada nama dan foto, tapi setidaknya Anda tidak akan salah saat menyoblos kertas suara yang hanya menampilkan daftar nama saja kecuali untuk DPD RI.

image
Ketua KPU dan contoh surat suara

Untuk Anda yang tinggal di luar DKI maka akan ada 4 kertas suara yang Anda coblos: untuk DPD RI, untuk DPR RI, untuk DPRD Provinsi, dan untuk DPRD Kabupaten/Kota. Maka setidaknya ada empat orang yang mesti Anda kenali sebelum Anda memilihnya sebagai wakil rakyat. Hadeuh… satu saja belum. Makanya, masih ada waktu koq untuk mengenali calon kita. Pastikan wakil Anda adalah orang-orang yang berintegritas tinggi, jujur, dan amanah… Selamat mengenal dan memilih!

PNS dan Bonus Akhir Tahun

Siapa tidak mau dapat bonus akhir tahun? Sayangnya hanya pegawai swasta dan BUMN/BUMD saja yang biasa mendapatkannya. Tapi bukan tidak mungkin PNS bisa mendapatkannya …

Saat ini profesi pegawai negeri dan swasta semakin bersaing. Tidak hanya karena gengsinya, misal karena jabatan publik/birokrat diperebutkan melalui jalur demokrasi, tapi juga karena upah pegawai negeri saat ini semakin mendekati standar swasta … relatif sih. Karenanya bukan hal yang aneh bila profesi PNS menjadi alternatif bagi sarjana fresh graduate selepas kuliah.

Pemerintah memang menjamin kesejahteraan pegawai negeri dengan gaji yang semakin sesuai standar kebutuhan primer dan tunjangan yang semakin memadai untuk berbagai kebutuhan sekunder. Bahkan pemerintah telah cukup lama memikirkan kebutuhan pegawai negeri terkait kebutuhan biaya sekolah anak dengan memberikan gaji ke-13.

Sempat muncul wacana terkait tunjangan hari raya (THR) sebagaimana diatur dalam UU Tenaga Kerja yang menjadi hak pegawai swasta dan BUMN/BUMD, tapi hingga saat ini belum menjadi komponen yang masuk APBN. Beberapa pemda saja yang telah memberikan THR untuk PNSD dari APBD mereka yang berlebih, sedangkan untuk PNS pusat realisasi THR sepertinya masih sebatas wacana.

Benar atau tidak, sebagian instansi pemerintah telah berhasil secara swadaya membangun sistem non APBN untuk memberikan THR/bonus akhir tahun kepada pegawainya. Hal itu ditempuh dengan mengembangkan usaha koperasi pegawai atau badan usaha lainnya milik kolektif pegawainya. Walhasil, melalui penanaman saham pegawainya mereka bisa memberikan SHU atau deviden yang cukup kompetitif. Saya sangat ingin tau … bagaimana memulainya ya?

Masalah kesejahteraan PNS, dari sisi hak atas gaji dan tunjangan sebenarnya bukan full tanggung jawab pimpinan instansi. Cukup mengikuti mekanisme yang disediakan pemerintah maka standar penghasilan pegawai akan terpenuhi. Masalah yang kemudian muncul adalah ketika tuntutan kesejahteraan pegawai melonjak melebihi penghasilan mereka. Alasannya memang bisa bermacam-macam, mulai dari standar kebutuhan tempat domisili hingga kesenjangan sosial gaya hidup hedonis rekan kerja. Hadoh

Disadari atau tidak, ternyata pusing juga jadi pimpinan ya. Bila kesejahteraan pegawai dirasa kurang, loyalitas bisa-bisa anjlok. Saat tidak/belum ada mekanisme swadaya pegawai yang dijalankan maka risiko seolah-olah menjadi beban para bos. Pilihannya menjadi serba sulit, menyediakan tambahan penghasilan atau loyalitas kepada pimpinan menurun.

Memang PNS ini beda sama TNI/POLRI, loyalitas anggota TNI/POLRI dibentuk melalui pembinaan fisik dan mental sedangkan PNS kadang keduanya tidak tersentuh. Nah, menjadi PR bagi para bos PNS untuk mencari formula loyalitas PNS. Yang pasti kalo kesejahteraan berarti pemenuhan kebutuhan, maka tidak peduli PNS atau TNI/POLRI semua pasti menuntut dengan gigih. Dari sini berarti semestinya kesejahteraan bukan satu-satunya kunci loyalitas.

Nah … jadi setelah muter-muter ngalor ngidul gak nyambung gini, bagaimana pendapat Anda?

image

Disclaimer: Mohon maaf bila ada kesamaan peristiwa atau kejadian. Lebih mohon maaf lagi bila ternyata pernyataan dalam tulisan ini tidak benar.