Info Masjid (1)

Jika Anda sedang melintasi Jalan Sawangan Raya dari atau menuju Jalan Nusantara dan saat itu waktu sholat maka Anda bisa berhenti untuk menunaikan sholat di Masjid Nurul Islam. Lokasinya di pinggir Jalan Mangga Raya sekitar 15 meter ke Barat dari persimpangan Jalan Rambutan Raya dan Jalan Mangga Raya. Insya’Allah Anda tidak akan kesulitan  menemukannya bahkan tanpa menggunakan peta sekalipun.

Fasilitas Masjid

Masjid Nurul Islam adalah masjid jami’, artinya di masjid ini diselenggarakan sholat berjama’ah 5 waktu dan di hari Jum’at diselenggarakan sholat Jum’at. Kapasitas/daya tampung masjid ini cukup besar, sekitar 600 jama’ah. Terdiri dari 2 lantai, di waktu sholat fardhu selain Jum’atan yang digunakan hanya lantai utama dengan jama’ah putri/akhwat di belakang jama’ah putra/ikhwan dibatasi dengan hijab tidak permanen.

Tempat wudhu dan toilet baik untuk ikhwan maupun akhwat terletak di sudut Barat Laut masjid. Tempat wudhu tambahan ada di bagian depan Tenggara masjid khusus untuk ikhwan.

Tempat parkir motor terletak di Utara masjid, sedangkan parkir mobil belum tersedia. Bila Anda membawa mobil maka bisa titip parkir di parkir minimarket di dekat masjid atau di pinggir jalan depan masjid.

Masjid ini dilengkapi dengan karpet tebal yang nyaman dan pendingin ruangan berupa kipas angin dan AC. Juga tersedia sarana multimedia berupa televisi LCD di dua sisi dinding Barat masjid. Sound system masjid juga cukup bagus dengan kualitas suara yang jernih.

Marilah kita ramaikan masjid dengan sholat fardhu 5 waktu secara berjama’ah.

Membuat SIM A di Pasar Segar (Percobaan #2)

Ini kali kedua saya datang ke Pasar Segar Depok untuk membuat (mengurus pembuatan -red) SIM A. Kali ini sesuai instruksi, saya langsung menuju ke tempat tes praktik. Petugas penguji praktiknya masih sama, sehingga beliau langsung mengenali saya.

Eng ing eng… saya langsung dag dig dug. Sempat ngobrol sebentar dengan mbak-mbak yang sudah ada di situ setelah mengikuti ujiam praktik dan berhasil. Dia bilang itu kali keduanya, meskipun pengakuannya sudah biasa bawa mobil sendiri. Ya ya ya… saya berharap juga bisa sukses ujian.

Bapak petugas segera menyilakan saya masuk ke dalam mobil. Saya duduk tenang lalu menyalakan mobil brem brem brem… sesuai instruksinya saya maju lalu belok kanan. Berhenti di depan cone, saya lalu mundur masuk ke area parkir seri di kanan. Sukses…!

Selanjutnya saya maju lalu belok kiri, kemudian atret (mundur -red) untuk parkir paralel di kiri. Sekali belum pas, saya disilakan petugas maju lagi untuk mengulang. Dua kali, ternyata malah belakang mobil menyentuh balok kayu. Duh… gagal maning… gagal maning...

Saya kembali mendapatkan slip biru tanda mengulang ujian praktik 2 pekan lagi. Pesan bapak petugas penguji: ” Datangnya lebih pagi besok ya, Pak Guru…”. Apa boleh buat, saya mesti balik lagi ke sini untuk ketiga kali. Uhuk…

Membuat SIM A di Pasar Segar (Percobaan #1)

Ramadhan Karim …

08.20 – Sampe pasar segar, parkir motor 2.000 trus masuk ke dalam. Fotokopi KTP 2 lembar 2000 (mahalnya…), sempat bingung nyari tempat fotokopi ternyata di dalam banyak.
08.25 – Masuk ke lokasi pembuatan SIM, bingung karena gak nemu prosedur urusnya langsung ke loket pendaftaran. Ternyata mesti bawa formulir lengkap, diminta periksa kesehatan dulu.
08.30 – Periksa kesehatan di klinik belakang bayar 22.500, tensi kelar. Diarahkan ke loket asuransi, bawa surat keterangan sehat.
08.35 – Bayar asuransi 30.000, dapat kartu asuransi untuk SIM A/B dan diarahkan ke loket pembayaran.
08.33 – Bayar biaya buat SIM A 120.000, mendapatkan formulir isian.
08.35 – Mengisi formulir dan menyerahkan ke loket pendaftaran. Diminta menunggu panggilan di ruang tunggu.
08.45 – Duduk menunggu panggilan sambil nonton tivi kabel (lumayan).
09.30 – Akhirnya dipanggil ke loket pengambilan SIM (hah… sudah jadi?). Ternyata diarahkan ke ruang foto.
09.35 – Antre berdiri, masuk ruang foto.
09.58 – Foto, cap jari dan tanda tangan digital. Diarahkan ke ruang uji teori.
10.05 – Masuk ruang uji teori, diminta ke komputer yang tersedia (CAT nih ye…). Soal pelayanan 7, soal uji 30. Waktu 15 menit (banyak soal besaran-besaran tertentu yang pasti gak inget). Alhamdulillah minimal 23 soal benar, lulus (makan-makan… eh lagi puasa ya).
10.22 – Selesai dan diarahkan ke uji praktik (eng ing eng…). Mulai panik, sempat diberi contoh sama instruktur. Buru-buru ke musholla (do’a yang khusyuk biar lulus).
10.50 – Mulai ujian praktik, gagal… duh. Ngulang praktik 2 pekan lagi. Dari 5 orang yang uji praktik cuma 2 orang yang lulus, sisanya gatot (hu hu hu…).
11.00 – Meninggalkan pasar segar dengan perasaan galau. Sudahlah… besok dicoba lagi.

image

Mengurus Surat Kehilangan di Polsek Beji

Ramadhan Karim…

Hari ini saya mengurus Surat Keterangan Kehilangan di Polsek Beji. Saya baru sadar telah kehilangan Sertifikat Asuransi Tabungan Berencana ketika melengkapi berkas klaim Tabungan Berencana almarhumah istri saya. Saya bahkan tidak ingat kapan kira-kira berkas itu tidak lagi ada di tempatnya. Sungguh ceroboh…

Ini pertama kali saya masuk komplek Polsek Beji padahal hampir setiap hari saya melewatinya he he he… Setelah parkir motor, saya langsung menuju Sentra Pelayanan. Ruangannya di depan kanan, persis sebelah parkir motor sehingga mudah dijangkau. Waktu saya masuk, kursi antrean sudah hampir penuh. Sekitar 5 orang sedang menunggu giliran, saya orang terakhir. Pikir saya bakal lama nih, ternyata tidak sampai satu jam berkas yang saya butuhkan sudah di tangan.

Catatan saya untuk pelayanan Surat Keterangan Kehilangan Polsek Beji:
– syarat-syarat: KTP, berkas/data terkait (mudah jika ada)
– waktu: 5-10 menit (tidak termasuk antrean)
– pelayanan: ramah dan bersahabat
– biaya: gratis (jangan pernah beri tip)
Karenanya untuk layanan ini saya berikan penilaian: ***** (sangat memuaskan)

Terima kasih, Pak Polisi. Terus tingkatkan kualitas layanan Anda. Semoga berkah untuk Anda dan selalu bermanfaat untuk masyarakat.

Disclaimer
Penilaian saya tidak merepresentasikan kondisi berbeda untuk kasus yang sama ataupun berbeda.

BPJS oh BPJS… (bag. 1)

image
Antrean nomor di RS swasta di Depok saat Subuh

Dua bulan terakhir saya dan istri menjalani sesi pengobatan untuk keluhan nyeri di perut kanan istri. Sebenarnya keluhan sudah dirasakan istri sejak terpapar DBD kira-kira 4 tahun yang lalu tetapi karena datang-pergi sehingga istri enggan memeriksakannya ke dokter. Keluhan menjadi-jadi baru dirasakan istri hampir 2 bulan lalu, barulah istri mau diajak periksa ke dokter karena khawatir kondisinya memburuk.

Diagnosa Awal
Kami periksakan keluhan istri ke Puskesmas, fasilitas kesehatan (faskes Tk. I) asuransi kesehatan kami. Di sana dokter menanyakan riwayat kondisi tersebut lalu memberikan diagnosa setelah memeriksa fisik istri sekilas. Fatty liver, diagnosa awal yang diberikan dokter, sehingga istri dirujuk ke faskes Tk. II.

Kami memilih RS swasta yang dekat dengan tempat tinggal kami dan menerima BPJS untuk layanan spesialis penyakit dalam. Sebenarnya kami sudah lebih dulu menyurvei RS yang menerima BPJS karena sejauh pengetahuan kami tidak semua RS sudah menerima pasien BPJS untuk semua layanannya.

Pemeriksaan Lanjutan
Istri ditangani dokter spesialias yang cukup senior, beliau juga praktik di RSUD sehingga jadwal praktiknya cukup padat. Di RS pilihan kami, beliau mulai praktik jam 10.30 hingga 14.00 karena sepertinya beliau praktik pagi di RSUD.

Istri diperiksa fisik sekilas, dokter memberikan resep obat nyeri juga rujukan laboratorium untuk periksa darah dan USG abdomen. Beliau menyarankan kami untuk menjalani tes lab di RSUD dengan alasan biaya yang cukup mahal, dengan BPJS biaya tes lab di RSUD jauh lebih murah.

Saya sore harinya langsung mendaftarkan istri untuk tes lab (USG abdomen) di RSUD, tapi ternyata mesti antre lebih dari sepekan. Meskipun tanpa BPJS, dan membayar biayanya sendiri, tetap saja antre secepatnya 3 hari. Dengan pertimbangan kondisi istri yang memburuk kami batal tes lab di RSUD. Akhirnya kami lakukan tes lab di RS swasta tempat kami periksa awal, dengan biaya yang memang lumayan mahal.

Bersambung…

Metodologi Penulisan Ilmiah

Setelah hampir 2 tahun bergelut dengan pengajaran di sekolah tinggi, akhirnya saya harus mau “dipaksa” untuk ikut mereviu tugas akhir dari mahasiswa tingkat akhir. Awalnya saya tentu nervous mengingat saya belum punya pengalaman mereviu tulisan ilmiah, tapi berbekal ke-nekad-an yang saya dapatkan sejak lulus SMA dulu tugas ini saya kerjakan juga. Nah, terkait tugas akhir berbasis penelitian dan perancangan yang sesuai dengan background pendidikan di sekolah kedinasan ini saya mendapati pertanyaan khususnya tentang metodologi penulisan ilmiah. Sebagai reviewer tentu saya harus bisa membedakan berbagai metode penulisan yang mungkin dipakai oleh mahasiswa, karenanya saya mesti belajar banyak.

Metodologi Penulisan Ilmiah
Metodologi umumnya disebutkan dalam berbagai tulisan ilmiah mulai dari essay, skripsi, tesis, atau desertasi. Metodologi menjadi bagian penting dalam penulisan ilmiah karena dengannya sebuah tulisan baik penelitian maupun perancangan bisa disebut sebagai tulisan ilmiah.

Dari berbagai sumber saya dapati bahwa metodologi penulisan umumnya membahas jenis, subyek/populasi, ruang lingkup, skema/kerangka berpikir dan proses/tahapan sebuah tulisan disusun. Bahkan sampai sebelum saya menulis ini, saya masih beranggapan metodologi penulisan ilmiah sama saja dengan metodologi penelitian. Itu artinya cuma ada dua pilihan metodologi penulisan ilmiah yaitu kuantitatif dan kualitatif. Ternyata saya keliru, karena selain penelitian sebuah penulisan ilmiah juga bisa berbasis perancangan. Ini saya baca dari tulisan Hanson E. Kusuma di laman berikut. Nah, sebelum saya masuk ke detil metodologi kira-kira apa bedanya penelitian dan perancangan?

Penelitian vs. Perancangan
Penelitian menurut saya cakupannya lebih luas dari perancangan. Perancangan sekalipun umumnya merupakan tindak lanjut dari suatu penelitian, meski tidak semua demikian. Misal, perancangan jembatan penyebarangan Suramadu. Ada banyak penelitian baik teknik maupun non teknik (umumnya disebut sosial) terkait ide ini jauh sebelum jembatan dibangun. Sesudahnya barulah muncul perancangan terkait jembatan ini. Dari sisi teknik tentu berhubungan dengan arsitektur dan sipil bangunan, sedangkan sisi sosial bisa berhubungan dengan pembiayaan, atau bahkan regulasinya.

Dari berbagai sumber saya dapati pengertian dan ruang lingkup penelitian dan perancangan sebagai berikut. Penelitian merupakan upaya yang dilakukan untuk menemukan suatu permasalahan, merumuskannya dalam formula ilmiah dan mensintesa solusi atas permasalahan tersebut. Hasil penelitian bervariasi tingkatannya mulai dari yang bisa diimplementasikan sampai dengan yang baru tataran wacana bahkan pengetahuan. Sedangkan perancangan adalah upaya untuk menemukan solusi atas suatu permasalah yang diwujudkan dalam bentuk konsep atau rancangan yang bisa diwujudkan secara riil. Hasil perancangan umumnya berupa purwarupa (prototype), renstra, atau rencana umum (blueprint).

Dari penjelasan di atas dapatlah saya simpulkan bahwa penelitian berbeda dari perancangan baik dari sisi latar belakang, tujuan, maupun tentu metodologi. Berikut ini metodologi penulisan ilmiah, yang dibedakan atas penelitian dan perancangan, yang saya rangkum dari berbagai sumber.

Metodologi Penelitian
Secara garis besar penelitian bisa ditempuh dengan dua pendekatan (metode) yaitu metode kualitatif dan metode kuantitatif. Metode kualitatif adalah pendekatan dalam sebuah penelitian yang menekankan pada pembentukan konsep atau teori, di mana penelitian berawal dari kondisi riil di lapangan yang dibandingkan dengan landasan teori yang ada. Metode ini lebih banyak menggunakan deskripsi yang menguatkan hipotesa untuk dijadikan kesimpulan dibandingkan data-data statistik dan matematis. Sedangkan metode kuantitatif adalah pendekatan penelitian di mana teori menjadi landasan berpijak untuk mendapatkan data-data statistik dan matematis yang penting dalam pengambilan kesimpulan. Metode ini menekankan pada hubungan data-data dengan hipotesa, mengukur kedekatan atau faktor pengaruh atas suatu kondisi.

Metodologi Perancangan
Menurut Hanson E. Kusuma, metodologi perancangan meliputi: …

Bersambung

Salut dan Terima Kasih untuk TM Bookstore

Ahad kemarin saya dan keluarga meluangkan waktu jalan-jalan ke Detos. Memang ada yang mau kami cari, selain juga memenuhi janji istri saya kepada Mufida untuk membelikannya buku sesudah ujian kenaikan kelas. Salah satu tempat favorit kami belanja buku adalah di TM Bookstore (TMB) Detos, sekalian kami mencari baterai untuk kamera digital yang telah lama soak.

Hampir jam 12 siang, batas waktu diskon di TMB, kami masih di Samsung Service Center menanyakan baterai baru di bagian spare part. Saya yang tiba-tiba ingat langsung mengajak Mufida bergegas menuju TMB, waktu kurang dari 10 menit. Tiba di TMB jam 12 kurang 3 menit, Mufida langsung memilih buku yang dia suka. Jam di hape saya menunjuk waktu 11.59 saat kami menuju kasir dan syukurlah kami masih kebagian diskon. Lumayan… orang Indonesia kan paling demen yang beginian.

Sesampai di rumah kami beristirahat, Mufida baru membuka plastik buku-buku barunya sore menjelang malam. Sayangnya setelah membaca salah satu buku dia menemukan beberapa halaman kosong, maka dia komplen pada umminya. Sesudah Maghrib saya dilapori istri terkait buku yang bermasalah tadi. Saya minta bon pembelian buku itu pada istri, untungnya masih ada. Selepas Isya’ saya bergegas menuju Detos untuk mengajukan komplen ke TMB.

Sampai di TMB saya temui petugas yang berjaga di area pintu masuk toko, iapun menyambut saya dengan senyum lalu menanyakan apa keperluan saya. Sengaja di jalan menuju TMB saya siapkan buku dengan halaman kosong itu dan bon pembeliannya. Segera saja saya sampaikan komplen atas buku itu. Di luar dugaan, tanpa menanyakan hal terkait pembelian si petugas langsung memanggil seorang staf yang berjaga di deretan rak buku lalu memberikan buku itu padanya. Ia meminta staf itu mengambil buku yang sama sebagai pengganti, si staf langsung bergegas menuju rak tempat buku yang sama dipajang. Petugas dan staf itu lalu membuka plastik buku di depan saya, setelah tidak ditemukan halaman kosong petugas TMB memberikannya pada saya.

Mantap, tidak sampai 5 menit saya berada di TMB untuk komplen dan saya langsung mendapatkan hak saya. Salut dan terima kasih untuk TM Bookstore untuk pelayanannya.

image
TM Bookstore Detos

Tentang Pemilu… (Bag. 1)

Alhamdulillah… meski masih ada beberapa daerah yang mesti melakukan pencoblosan ulang, Pemilu anggota legislatif tanggal 9 April kemarin berjalan lancar. Tugas saya sebagai anggota KPPS pun berakhir saat menyerahkan kotak-kotak berisi surat-surat suara beserta berita acara perhitungannya ke PPS dan sudah menerima honor sebagai kompensasi dari pelaksanaan pencoblosan di TPS hingga tengah malam. Tapi sebenarnya masih ada pekerjaan yang mesti dilakukan, memastikan suara para pemilih dihitung secara tepat tanpa perubahan hingga di tingkat nasional.

Tahapan Pemilu selanjutnya yang mungkin tidak diketahui semua orang adalah perhitungan suara di PPS (Kelurahan), PPK (Kecamatan), KPUD (Kabupaten/Kota dan Provinsi), hingga KPU Pusat. Bahan perhitungan di semua tahap itu adalah berita acara perhitungan dari seluruh TPS berjenjang hingga provinsi bentuk plano (besar). Data dukungnya berita acara ukuran folio dan surat suara. Semestinya jumlah suara dari ketiga jenis berkas itu tidak berbeda. Saat perhitungan suara plano yang dipakai, bila ada selisih maka dilihat bentuk folionya tapi bila masih selisih juga barulah surat suara dihitung ulang.

Masalah yang sering muncul adalah:
1. Berita acara plano dari TPS tidak memberikan data yang valid.
Seringkali saat perhitungan suara di PPS ditemui selisih suara akibat kekeliruan KPPS memahami aturan main atau sekedar ketidakcermatan. Misal ketika jumlah surat suara sah, tidak sah, rusak dan tidak terpakai tidak sama dengan jumlah surat suara yang diterima KPPS. Atau ketika rekap suara tidak sama dengan rinciannya, mengingat ada 2 jenis suara: untuk caleg dan untuk partai. Hal ini sering jadi perdebatan sengit di tingkat PPS, terlebih karena KPPS tidak bisa dikonfirmasi karena tidak hadir saat perhitungan.

image
Perhitungan suara di TPS

2. Data dukung berita acara plano tidak ditempatkan sesuai petunjuk KPU.
Seharusnya surat suara sah DPR RI digabung dengan surat suara sah DPD RI dalam kotak suara DPD sedangkan kotak suara DPR RI hanya berisi berita acara plano. Ini sebenarnya untuk memudahkan PPS melakukan perhitungan dengan cukup membuka 1 kotak suara saja (DPR RI), sehingga kotak-kotak lain dan surat suara sah tidak perlu diotak-atik PPS. Sayangnya seringkali ketentuan ini tidak diindahkan KPPS sehingga menambah beban kerja PPS yang mesti memindahkan isi sesuai kotaknya selain menghambat proses perhitungan manual.

image
Kotak-kotak suara di TPS

3. Lemahnya pengawasan atas pelaksanaan penghitungan, penyerahan dan rekapitulasi suara yang mestinya dilakukan oleh PPL/Bawaslu.
Seperti saat saya bertugas kemarin, tidak ada PPL yang menyambangi TPS saya dari awal sampai akhir dan tidak ada petugas Bawaslu memantau penyerahan kotak/surat suara dari KPPS kepada PPS. Memang ada pengamanan dan pengawalan oleh petugas Kepolisian tapi fungsinya minim. Akibatnya tidak ada pihak selain KPPS dan saksi yang bisa mengkoreksi saat terjadi kekeliruan atau bahkan kecurangan.

image
Pengamanan TPS oleh pamsung

4. Sistem pengamanan suara yang terkesan seadanya sehingga rawan dimanfaatkan pihak-pihak berkepentingan.
Saya agak menyayangkan bahwa kotak suara Pemilu tahun ini dibuat dari kardus bukan seng. Bahkan ketika kotaknya seng pun kecurangan masih bisa dilakukan, bagaimana dengan kotak suara kardus. Selain itu prosedur pengamanan surat suara dengan sampul bersegel dan kotak dengan gembok bersegel juga sangat berisiko. Selain kotak yang sangat mudah dijebol, segel dan kunci tidak digunakan sebagaimana mestinya. Untuk apa kotak dikunci dan disegel jika kunci bisa diakses mudah oleh siapapun dan segel dimiliki oleh banyak pihak?

image
Kotak suara dan kuncinya

Nah, mungkin masih ada banyak masalah lain dalam proses pelaksanaan dan perhitungan tapi sementara itu dulu. Mari kita berdiskusi…

Coblos Siapa? | Panduan Memilih Wakil Rakyat

Saya abdi masyarakat (PNS) tapi saya juga bagian dari masyarakat, karenanya saya masih punya hak untuk memilih wakil saya di legislatif (hak pilih). Tahun ini (2014), negara kita kembali menggelar perhelatan akbar: Pemilu dan Pilpres. Sesuai UUD 1945, hak pilih adalah salah satu hak bagi seluruh warga negara (anggota TNI dan Polri belum…). Tapi tahukah Anda siapa yang akan Anda pilih sebagai wakil rakyat?

Berpuluh kali saya melihat belasan stiker, poster dan spanduk Caleg juga Capres karena mereka memasangnya di hampir setiap ruang kosong mulai dari pagar tembok hingga tiang telepon. Iklan caleg sudah tidak ada bedanya dengan iklan produk dan jasa, lihat saja foto berikut.

image
Tiang-tiang telepon dekat rumah

Nah, tapi dari beratus informasi di atas tidak satu pun membantu saya menentukan pilihan wakil rakyat. Ya sebenarnya kalo kita memilih berdasar kriteria umum saja sih bisa, misal memilih berdasarkan faktor kecantikan/kegantengan, atau dari asal partainya. Cuma sayang ya momen demokrasi 5 tahun sekali kita sia-siakan apalagi dengan tidak memilih (golput), seperti menyerahkan kekuasaan pada penjahat saja. Mengapa begitu? Karena caleg dan capres itu punya niat masing-masing dan bila kita golput maka boleh jadi yang punya niat jelek (misal untuk korupsi) terpilih menjadi wakil kita untuk 5 tahun. Terkait golput mungkin saya akan menulis di posting berikutnya.

Trus, buat kita yang ingin benar-benar punya wakil di legislatif bagaimana cara memilihnya? Ini sangat bergantung pada seberapa akses Anda atas infomasi caleg-caleg itu. Begini, bayangkan Anda sebagai ibu rumah tangga yang sehari-hari full mengurusi urusan rumah. Anda yang terpelajar masih bisa cari info lewat internet atau jejaring sosial, tapi untuk tipe ibu-ibu yang lowtech (gaptek terlalu kejam) gimana? Sebenarnya Anda bisa memanfaatkan lingkungan sekitar Anda untuk mencari info, misal saat arisan PKK atau saat silaturrahim dengan tetangga. Anda juga bisa menanyakan pada orang-orang yang tau atau mengenal caleg-caleg di sekitar tempat tinggal Anda.

Buat Anda yang bisa mengakses info melalui internet bisa leluasa memilih sumber informasi caleg. Misal Anda buka kpu.go.id, Anda bisa melihat daftar caleg DPR RI di 77 dapil di seluruh Indonesia dari 15 parpol peserta pemilu. Sayangnya Anda harus hafal dapil tempat Anda tinggal (misal Dapil Jabar VI untuk Kota Bekasi dan Kota Depok), datanya juga mesti diunduh dalam format pdf. Datanya lengkap untuk setiap caleg meski KPU baru menyediakan data untuk DPR RI dan DPD RI. Sebagai alternatif Anda bisa melihat di news.detik.com/pemilu2014 tanpa harus mengunduhnya. Memang sih hanya ada nama dan foto, tapi setidaknya Anda tidak akan salah saat menyoblos kertas suara yang hanya menampilkan daftar nama saja kecuali untuk DPD RI.

image
Ketua KPU dan contoh surat suara

Untuk Anda yang tinggal di luar DKI maka akan ada 4 kertas suara yang Anda coblos: untuk DPD RI, untuk DPR RI, untuk DPRD Provinsi, dan untuk DPRD Kabupaten/Kota. Maka setidaknya ada empat orang yang mesti Anda kenali sebelum Anda memilihnya sebagai wakil rakyat. Hadeuh… satu saja belum. Makanya, masih ada waktu koq untuk mengenali calon kita. Pastikan wakil Anda adalah orang-orang yang berintegritas tinggi, jujur, dan amanah… Selamat mengenal dan memilih!