Puasa Ramadhan #2

Hari ini saya buka puasa tidak bersama #antimainstream dikit lah. Bukan berarti saya buka puasa duluan, tapi tidak bareng-bareng aja. Pasalnya istri bukber di rumah temannya, semua anak dibawa. Jadilah saya buka puasa sendiri di rumah, tapi ta’jil berbuka dan makan malam sudah disiapkan istri.

Menunya kolang-kaling, ditemani ikan-ikan di akuarium. Lumayan juga, anggap saja ini kurma lokal.

Makan malamnya pakai soto ayam nikmat, ditemani nasi anget dan martabak gosong buatan sendiri.

Alhamdulillah hari ini anak-anak masih puasa normal, termasuk anak ketiga kami puasa setengah hari. Bagaimana puasa Anda hari ini?

Iklan

Puasa Ramadhan #1

Hari ini anak-anak saya mulai puasa, termasuk yang baru mo masuk TK. Meskipun baru puasa bedug (1/2 hari) tapi lumayan untuk anak balita. Sempat ngambek minta makan-minum jam 9 pagi, saat bangun tidur. Untungnya bisa dialihperhatiankan ke hal lain, meskipun untuk lanjut sesudah buka siang mesti dijanjikan berbuka dengan es duren.

Alhamdulillah, hari pertama puasa Ramadhan tahun ini lumayan lancar dengan kesepakatan baru. Tidak ada gadget sebelum tilawah 1 dan 1/2 juz. Sahur sambil mendengarkan kultum dan berbuka diawali tilawah bareng. Semoga hari-hari berikutnya tetap istiqomah dengan semangatnya ya, Gaes…

Ramadhan itu bulan kebersamaan.

Yang terpinggirkan…

Pagi ini jalan-jalan ke Monas, tugu kebanggaan warga Jakarta dan para pemimpin negara ini. Setiap ganti presiden dan gubernur, ada saja perubahan wajah Monumen Nasional. Seperti tahun ini, ada gedung baru menjulang di selatannya. Bukan yang ini…

Tapi yang ini…

Keren kan. Siapa dulu dong… #hushh jangan sombong ah.

Tetapi sesaat setelah mengaguminya, ada fenomena yang menusuk di hati. Seorang pria muda suku Baduy datang menawari saya madu hutan, dengan senyum tulus penuh harap saya mau membeli bawaannya itu. Saya sendiri tertegun, yang muncul spontan adalah penolakan. Kemarin baru beli madu, gumam saya. Lalu iapun berlalu meninggalkan saya, sembari terus menawarkan madu ke orang-orang lain di sekitarnya tetap dengan senyuman itu. Setelah semua orang yang ditawari menolak, ia melanjutkan langkahnya dengan kepastian. Langkah tanpa alas kaki yang khas, menjemput rizki Allah.

Memandanginya berjalan menjauh, hati saya berteriak… Kenapa tidak kamu beli madunya? Pelit sekali kamu, bahkan mengeluarkan sedikit rizki untuk sesama manusia saja mikirnya panjang banget. Dasar…

Itulah nasib kaum yang tersudut, yang tidak merasakan kemajuan negeri ini. Mereka yang selalu… terpinggirkan.

Kemarahan vs. Keramahan Berkendara

Di sebuah jalan kota besar di nusantara. Seorang ibu paruh baya berjalan tertatih menyeberangi jalan lalu berhenti di tengah karena sebuah mobil membunyikan klakson kencang-kencang tanpa mengurangi lajunya melalui ibu tadi. Tanpa diduga si pengendara mobil membuka kaca jendelanya lalu meneriakkan kalimat pendek, “Kalo nyebrang pake mata dong…!!”. Tampak raut muka ketakutan di wajah si ibu saat mobil itu berlalu menjauhinya.

Pada saat yang sama di sebuah jalan raya, di ibukota suatu negara Amerika Selatan. Seorang kakek tua berdiri di tepi jalan dengan tongkatnya, sebelum menyeberang ia menjulurkan tangannya ke depan. Sebuah mobil mewah melaju kencang mengarah ke jalan tempat si kakek menyeberang, lalu berhenti tepat di belakang zebra-cross. Si sopir tersenyun sambil memberikan isyarat kepada kakek itu untuk menyeberang di depannya.

Bagaimana menurut Anda, mana yang lebih sering Anda temui di jalanan?

Saya sudah hampir 20 tahun tinggal di Jabodetabek dan lebih sering menemui kejadian pertama dibanding yang kedua. Saya begitu takjub ketika berkesempatan mengunjungi Brazil dan menemui kejadian kedua. Entah dari mana munculnya istilah yang tenar itu, Indonesia terkenal karena keramahan penduduknya. Pada contoh kasus ini, jelas tidak ada keramahan di kejadian pertama. Somehow, keramahan itu ada di sisi lain dunia.

Mungkin ini konsekuensi menjadi penduduk dari negara berkembang khususnya di kota besar, orang lebih mudah marah bahkan untuk berbagai hal termasuk berkendara. Huh dasar… #sambilmarahmarah

Zaman-old vs. Zaman-now

Sopir angkot, dan sopir-sopir moda transportasi sejenis, kini semakin terdesak oleh para pesaing usaha jasa transportasi. Ya, transportasi online kini menjadi moda transportasi yang makin dominan. Tak pelak lagi, banyak sopir angkot akhirnya banting setir menjadi driver ojek atau taksi online. Hal ini tentu dipandang sebagai hal yang lumrah di dunia usaha, tetapi bisa menjadi petaka bagi orang-orang yang karena kondisinya gagal move on untuk mengikuti perkembangan zaman.

Bisnis berbasis online memang mulai merajai pasar dunia, tidak terkecuali di tanah air. Tidak sedikit toko, mall, dan supermall konvensional mesti mencari 1.001 cara untuk bertahan melawan gelombang besar berpindahnya pelanggan mereka ke toko, mall dan supermall online. Bahkan beberapa sudah mengibarkan bendera putih, sedang sebagian beralih ke basis online mengikuti pesaingnya. Lagi-lagi inilah keniscayaan dalam dunia usaha.

Saat saya kecil dulu bermain game mesti punya gamewatch atau konsol game macam Nintendo atau Sega. Atau kalo tidak punya cukup tabungan untuk membeli alat game tadi saya biasa pergi ke game station untuk bermain ding-dong. Saat itu harga mainan game puluhan sampe ratusan ribu sedangkan main ding-dong hanya seratus hingga 5 ratus perak per game. Sebagai pembanding, harga semangkuk mi ayam waktu itu 3 ratus perak saja. Kebayang kan usia saya berapa 😁

Sekarang anak-anak kita dimanjakan dengan berbagai game online yang tentu membutuhkan koneksi internet berbayar. Dan jika membutuhkan mereka bisa menambah fitur game yang dimainkan dengan membelinya langsung dengan pulsa yang dimiliki. Saat ini saja saya sudah kewalahan dengan kebutuhan anak laki-laki paling kecil saya terhadap Youtube. Kalo dituruti bisa habis belasan atau puluhan ribu sehari. Weleh-weleh 😌

Di Antara Para Bebek Matic

Hampir 10 tahun motor itu menemani kami sekeluarga. Sudah tua memang, tapi masih gagah lah mengantar saya setiap hari pp rumah-kantor. Tua tua keladi hi hi hi… Sejarahnya panjang dan lebar, manfaatnya luas dan berisi. Pengalaman memilih motor itu saya tuliskan di sini. Dialah salah satu warisan mendiang istri saya. Sudah seperti istri kedua, eh maksudnya istri keempat buat saya #ups

Dulu ada motor tua, lebih tua dari motor ini. Masih dari pabrikan yang sama tapi sangat senior, masih 100cc. Meski begitu motor tua itu tidak kurang hebat sejarahnya dibanding motor ini. Saat saya melepasnya, saya masih berharap motor itu bisa memberi manfaat untuk pemilik barunya. Saya ini saya tidak tau di mana motor tua itu, tapi saya masih menyimpan fotonya. Seperti istri ketiga buat saya #upslagi

Continue reading “Di Antara Para Bebek Matic”

Gerhana Bulan dan Sholat Khusuf

Tahun ini Indonesia secara umum kebagian peristiwa alam yang konon sangat jarang (150 tahun sekali, wow). Kalo mo baca referensinya silakan di sini. Tapi saya bukan ingin membahas tentang itu. Kebetulan momentum itu dimanfaatkan sebagian netizen dan komunitas (khususnya WAG) untuk mengajak kaum muslimin mengamalkan sunnah Rasul terkait peristiwa ini. Ya, kaum muslimin kemudian berbondong-bondong ke masjid untuk melaksanakan sholat sunnah Khusuf. Referensinya bisa dibaca di sini.

Berikut ini beberapa foto dokumentasi dan khutbah sholat Khusuf yang sempat saya simpan. Silakan menyimak, semoga bermanfaat untuk Anda.

Continue reading “Gerhana Bulan dan Sholat Khusuf”

Membimbing itu Tidak Gampang

Seiring bertambahnya usia, seseorang akan dihadapkan pada berbagai persoalan dalam kehidupannya. Di usia yang lebih muda kita pada umumnya berpikir menjadi orang yang lebih tua daripada kita adalah sesuatu yang menyenangkan. Saat masih sekolah kita melihat mahasiswa begitu asyik kuliah, bebas dengan baju tak seragamnya. Saat kuliah kita melihat orang bekerja begitu menikmati hasil pekerjaannya, membeli mobil, menikah atau punya anak. Saat sudah bekerja kita melihat bos-bos kita begitu asyik menikmati masa menjelang pensiunnya, bersiap untuk libur panjang, momong cucu dan seterusnya. Kenyataannya menjadi lebih tua bukan perkara gampang. Ada hal yang belum terpikir saat kita lebih muda, apa ya?

Continue reading “Membimbing itu Tidak Gampang”

Ikutan Full Kumpul FTUI 2018

Berawal dari kiriman email Iluni kemarin lusa, saya memberanikan diri untuk ikut event ini.

Nah, niatnya pingin bisa ketemu temen-temen alumni yang dikenal dulu tapi sepertinya gak pada datang. Jadi saya putuskan ikut yang ini saja.

Sudah lama gak ikutan lari marathon, sambil jajal kebugaran. Saya ajak anak-anak cowok, biar mereka juga mulai mengenal jenis olah raga murmer ini 😊

Berangkat jam 5.30 hanya bersama babang Faqih (sebutan baru mas), karena mas Faisal gak mau dibangunin padahal dia semangat banget pas diajak kemarin, efek begadang semalam kayanya. Sampe kampus pas jam 5.45-an, langsung registrasi. Dapat gelang FTUI runner ini.

Kami mengambil paket 5 km saja sebagai pemula. Meskipun babang semangat banget pingin ikut yang 14 km, saya khawatir nanti dia kecapekan he he he… biasa semangat pemula. Jam 6.30-an Dekan FTUI mengibarkan bendera Start di depan kampus dan kami pun mulai berlari.

Sekilo awal babang masih semangat, sengaja saya tahan supaya tidak terlalu cepat. Biasanya dia sprint kalo lari, tapi saya yakin kalo langsung cepat bakalan gak sampe finish ntar. Dua kilo berlalu, babang mulai kecapekan. Sesekali jalan dan mulai nanya kapan sampenya hi hi hi. Kami mulai melambat, dan tertinggal rombongan.

Sampe di depan tulisan UI ada pembagian air minum, kami berhenti sejenak. Babang mulai keringetan banyak, ngos-ngosan sambil bilang masih jauh ya… dia jalan dari situ. UI mulai rame saat kami melintasi pintu utama, semakin banyak orang-orang yang jogging di jalan utama UI menuju FT. Kami mulai dilewati rombongan bapak-ibu sepuh yang tadi jauh di belakang.

Saya mulai goda babang, mosok kalah sama ibu-ibu. Dia terpancing, kami lari lagi saat melintasi FEUI. Saya mulai sprint menuju garis Finish sementara babang mengejar saya sambil teriak-teriak di belakang. Jam 7.15-an kami sampe FTUI dengan selamat. Stand-stand Iluni sudah siap menyambut kami, mulai dari Kopi pak Dekan sampe Duren Ilusin.

Kami menjajal beberapa butir duren, segelas kopi, dan sebungkus lopis. Kenyang… baru kali ini ikut lari marathon tapi pulang dengan perut penuh. Untung stand Bakso Atom belum dibuka, coba kalo sudah wah bisa-bisa kami pingsan karena perut kekenyangan wkwkwkwk.

Ok deh, memang target untuk membuat jaring saya belum terwujud tapi setidaknya saya sudah berani menghadiri event yang masih asing itu. See you next time, Campus … 😁 Berikut hasil lari pagi ini.