Depok Go Green …

Lebih dari setahun saya tinggal di Depok, Jawa Barat. Daerah pinggiran kota Jakarta ini, satu dari sekian banyak kota yang mendapat imbas dari kehidupan metropolitan. Tidak bisa dipungkiri dan dihindari, Depok yang sedang berkembang menjadi penopang bagi kota Jakarta. Tidak hanya menyediakan tempat tinggal bagi pekerja-pekerja yang mencari penghasilan di Jakarta, Depok juga berperan secara langsung bagi kelestarian lingkungan Jakarta. Berapa banyak situ di Depok yang menampung air untuk mencegah Jakarta banjir, selain berapa luas jalur hijau yang Depok miliki berperan dalam menjaga stabilitas udara Jakarta. Sungai-sungai yang mengalir di Jakarta pun, sebagian besar terlebih dahulu melalui Depok sehingga kontrol aliran air sungai dan kebersihannya tentu dipengaruhi oleh kondisi sungai dan situ di kota ini.

Sebagai warga Depok, walaupun belum pernah menjelajahi keseluruhan wilayahnya, saya menemukan beberapa kondisi yang mengganggu. Kondisi-kondisi ini sangat terkait dengan aliran sungai, situ dan jalur hijau. Bila dicermati Depok terdiri atas wilayah yang memiliki contour tanah tidak merata. Kondisi ini menimbulkan berbagai masalah lingkungan terutama terkait dengan air dan alirannya. Beberapa wilayah sangat dekat dengan aliran air karena contour-nya yang rendah sedangkan sebagian yang lain jauh. Beberapa wilayah yang belum padat mungkin tidak bermasalah dengan hal ini, namun untuk wilayah-wilayah yang padat penduduk aliran air cukup menimbulkan masalah terutama bila tidak ditangani dengan baik dan dengan perencanaan yang matang. Beberapa wilayah Depok juga cukup dikenal sebagai daerah pengembangan permukiman penduduk, hal ini tentu perlu mendapat perhatian terutama karena terkait dengan keberadaan jalur hijau dan situ.

1. Sungai, Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Sistem Pemurnian Limbah

Sungai di Depok umumnya mengalir juga ke Jakarta dan bermuara di lepas pantai utara Jakarta. Sungai-sungai ini membawa air dari hulunya, di Bogor dan sekitarnya, menampung limbah pabrik dan limbah masyarakat untuk kemudian membawanya melintasi DAS hingga muara. Tidak bisa dipungkiri, masyarakat Jakarta membutuhkan sungai-sungai ini untuk berbagai keperluan hidupnya mulai dari MCK hingga bisnis/usahanya. Semestinya ada kontrol ketat yang disepakati oleh setiap pemda yang wilayahnya dilalui oleh sungai-sungai ini untuk menjaga kelestarian dan kebersihan aliran sungai, namun sungguh disayangkan hal ini belum diterapkan dengan sebaik-baiknya oleh setiap pemda termasuk Pemkot Depok. Kita ambil contoh Sungai Ciliwung, sungai yang mengalir di sisi Timur kota Depok melalui beberapa kecamatan yang dikenal sebagai kawasan industri. Tidak sedikit pula kawasan permukiman yang berada di sepanjang DAS Ciliwung. Keduanya tentu menyumbang polusi atas aliran sungai ini. Bila perda terkait dengan hal ini, misal Perda Nomor 14 Tahun 2001 tentang Ketertiban Umum, ditaati maka tidak ada lagi orang perorangan maupun badan usaha yang membuang sampah/limbahnya ke sungai Ciliwung. Setiap pelanggaran atas perda ini dikenai sanksi.

Memang, selain itu Pemkot Depok juga telah menurunkan petugas untuk membersihkan DAS dari sampah seperti bisa dibaca di sini,  tetapi sudah sewajarnya dengan visi teknologi ke depan pemkot perlu mewacanakan usaha pemeliharaan dan kontrol atas DAS ini dengan metode yang lebih efisien dan efektif. Misal dengan sistem pemurnian limbah seperti yang sudah diterapkan oleh Pemda Bali dan diresmikan Presiden beberapa waktu yang lalu. Konsepnya adalah menampung terlebih dahulu limbah-limbah baik pabrik maupun rumah tangga ke suatu plan yang berfungsi khusus untuk memurnikan limbah sebelum dialirkan ke sungai. Memang dibutuhkan investasi yang tidak sedikit untuk mewujudkan sistem ini, namun manfaatnya akan dirasakan betul baik bagi masyarakat di sekitar DAS tempat sistem ini diterapkan maupun untuk DAS di Ibukota sebagai muaranya. Bila sistem ini benar-benar bisa diterapkan oleh semua pemda yang mempunyai DAS, bukan tidak mungkin DAS Ciliwung dan sungai-sungai lain beberapa tahun ke depan akan seindah dan sejernih kondisi sungai di hulunya.

Sistem pemurnian limbah ini juga cocok diterapkan di wilayah-wilayah permukiman padat di mana drainase menjadi hal yang sering bermasalah. Wilayah yang rendah, sering menjadi sasaran genangan air terutama di musim penghujan. Saluran-saluran pembuangan airnya juga tidak berfungsi baik sehingga lebih banyak difungsikan sebagai penampung sampah. Alirannya yang tidak lancar, kotor dan dipenuhi sampah membuat kondisi DAS-nya menjadi tidak sehat dan berpotensi menjadi sarang penyakit seperti demam berdarah, malaria dan disentri. Sistem ini akan menjamin air buangan permukiman telah dimurnikan dari limbah dan sampah sehingga tidak mengganggu kesehatan saat dibuang ke saluran pembuangan air.

2. Jalur Hijau, Situ dan Tata Permukiman

Jakarta mulai dikenal sebagai kota dengan tingkat polusi udara yang cukup memprihatinkan, pasalnya terlalu banyak jalur hijau yang berubah fungsi menjadi permukiman, pertokoan/mall dan perkantoran. Bahkan BKT pun menjadi penyumbang hilangnya jalur hijau di Jakarta. Karenanya menjadi penting peran dari kota-kota di sekitarnya, menjadi penopang untuk suplai udara segar bagi penduduk Jakarta. Depok termasuk satu di antaranya, meskipun jumlah jalur hijau di kota ini semakin lama nyata semakin berkurang tetapi masih bisa dicegah. Tantangannya adalah Depok sekarang beralih menjadi kota pengembangan permukiman bagi penduduk Jakarta. Beberapa wilayah yang dulu dikenal sebagai perkampungan yang hijau dengan kebun dan sawah seperti Sawangan dan Cimanggis, kini mulai berubah menjadi wilayah pengembangan perumahan. Perkembangan begitu pesat, sampai-sampai bila kita tidak melakukan antisipasi maka tanpa disadari jumlah jalur hijau bahkan situ di Depok akan semakin menyusut. Kondisi ini mungkin merata hampir di seluruh wilayah Jawa Barat seperti tertulis dalam arsip Ecotas akhir 2009 lalu.

Diperlukan perhatian dan pengawasan khususnya dari Pemkot Depok tentang masalah ini. Masalah permukiman memang penting, namun perhatian terhadap kelestarian lingkungan hendaknya tetap menjadi prioritas dalam pengambilan kebijakan. Kita tentu menyayangkan bila suatu saat nanti Depok menjadi kota modern yang padat namun kehilangan keseimbangan lingkungannya. Depok sebenarnya masih memiliki potensi keasrian Bogor karena dulunya memang menjadi bagian administratif kabupaten Bogor selain karena secara geografis berbatasan langsung dengan Bogor dan Jakarta Selatan yang keduanya masih sejuk. Depok menjadi kota transit bagi orang dan komoditas antara Bogor atau Jawa Barat pada umumnya dengan Jakarta khususnya Jakarta Selatan dan Jakarta Timur, karenanya perkembangan pembangunan kota ini juga terbilang sangat pesat. Potensi kemajuan bagi penduduk asli dan pendatang sudah semestinya dikombinasi dengan pelestarian keasrian lingkungan hidup yang terjamin oleh keberadaan jalur hijau dan situ di seluruh wilayah Kota Depok. Kita tentu berharap usaha pemerintah Kota Depok dalam menjaga keasrian bisa maksimal sehingga terjadi hal-hal semacam berita ini.

Program Lingkungan Kota Depok

Agaknya saya dan penduduk Kota Depok lainnya sedikit banyak bisa bernafas lega. Pasalnya dengan permasalahan-permasalahan yang tergambar di atas beberapa sudah ditangani oleh Pemerintah Kota Depok. Semoga program-program pro lingkungan hidup tidak hanya menjadi slogan tetapi benar-benar diwujudkan dalam kegiatan-kegiatan nyata. Bila kita melihat ke situs resmi Pemerintah Kota Depok, setidaknya kita dapati di tahun 2010 lalu telah dilaksanakan beberapa kegiatan Go Green di antaranya:

  • Peringatan Hari Bumi 22 April 2010. Dalam kegiatan tersebut, pemerintah bekerjasama dengan berbagai elemen masyarakat untuk sadar, peduli dan melakukan tindakan nyata sebagai apresiasi terhadap kelestarian lingkungan.
  • Pembangunan Sanitasi Sehat. Dalam kegiatan ini, dengan teknik MCK++ dan IPAL, pemerintah merencanakan, membangun dan merawat fasilitas sanitasi bagi masyarakat di lingkungan-lingkungan yang masih kumuh sehingga bisa berubah menjadi lingkungan yang bersih dan sehat.
  • Pentaaan Cagar Alam sebagai Ekowisata. Dalam kegiatan dimaksud, pemerintah Kota Depok memberikan dukungan terhadap Cagar Alam Pancoranmas seluas 7 hektar menjadi tempat wisata alam (ekowisata) sehingga keberadaannya lebih terjamin dibanding sebelumnya.
  • Workshop Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dalam kegiatan ini, pemerintah mensosialisasikan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No.13 tahun 2010, tentang Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) dengan harapan dapat diterapkan secara efektif di wilayah Kota Depok.
Semoga kegiatan-kegiatan di atas menjadi proses bagi pemerintah khususnya dan masyarakat Depok umumnya untuk meningkatkan usaha melestarikan keasrian lingkungan di tengah-tengah kemajuan pembangunan di Kota Depok, kini dan seterusnya. Akhir kata sebagai semangat awal bagi kita mewujudkan harapan ini diringi do’a untuk kebaikan kota tercinta, marilah kita serukan dengan lantang dan ikhlas:
Depok Go Green …!
—————– oOo —————–

Referensi:

  1. http://bataviase.co.id/node/211897
  2. http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberita&kid=2&id=33254
  3. http://ecotas.org/archives/641
  4. http://www.tempointeraktif.com/hg/jakarta/2007/08/31/brk,20070831-106693,id.html
  5. http://www.depok.go.id

9 thoughts on “Depok Go Green …

    1. Iya nih, brainstorming-nya mentok … masih ada 5 hari ke depan kan. Semangat ayo semangat!
      Btw, trims kunjungan dan komen-nya. Sukses ya …

    1. Sebenarnya malu karena tulisan cetek gini dan belum rampung lagi, karenanya saya berusaha menyelesaikan hari ini. Siapa tau pasca network gathering besok banyak yg cekidot ke sini, supaya tidak pada kecewa sekaligus untuk menjaga kredibilitas panitia (terutama juri) tentunya. Insya’Allah ya, Mbak.

    1. Betul, Margonda sebagai pusat kota masih terkesan (atau memang kenyataannya) panas 😦
      Semoga ada program terbaik untuk menghijaukan pusat kota 🙂
      Sudah saya kunjungi, makasih kunjungannya. Links updated!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s