Obrolan tentang Korupsi (lanjutan)

Menyambung obrolan sebelumnya …

Bahasan yang terkait dengan kantor saya sebenarnya mengerucut ketika pak Bibit menyampaikan kesulitan KPK dalam penanganan aset negara yang dibawa lari ke luar negeri. Bagaimana caranya untuk men-trace keberadaan aset hasil korupsi tersebut sehingga KPK bisa menariknya kembali ke tanah air. Pak Bibit berharap, KPK bisa bekerja sama dengan Lemsaneg untuk melakukan hal tersebut, ke depan. Beliau mengatakan tentunya Lemsaneg bisa menggunakan personilnya yang dilengkapi dengan skill dan peralatan memadai. Dalam batin saya, “Insya’Allah Pak, tapi tidak dalam waktu dekat”.

Btw, hari ini KPK berulang tahun yang ke-7, saya ucapkan “Dirgahayu KPK, Semoga Selalu Membawa Kebaikan untuk Bangsa dan Negara”. Inilah screenshot website KPK hari ini :

Begitu banyak harapan bertumpu di pundak lembaga ini, tidak mudah tapi selalu memberi harapan. Karena korupsi adalah penyakit bangsa, bagaimanapun susahnya harus kita obati bersama. Sebagian bisa diobati dengan pijat atau kerokan, sebagian yang lain harus minum antibiotik, tapi sebagian sisanya harus diamputasi. Begitulah kira-kira bagaimana kita mengatasi penyakit bangsa ini, dan KPK adalah tim dokter yang bertugas mengamputasi bagian tubuh bangsa yang sudah terlanjur busuk karena terpapar penyakit ini. Tidak mengapa, bahkan harus karena bila tidak dilakukan maka efeknya akan menyebar ke bagian-bagian tubuh yang lain, tidak akan berhenti sampai tubuh bangsa ini mati dan tidak bisa bangkit lagi. Kalau SangPencipta masih memberikan rejeki-Nya, tentu akan ada bagian tubuh baru yang tumbuh atau bisa di-transplantasi supaya tubuh bangsa ini kembali pulih dan bisa bangkit menjadi sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Namanya ngobrol pasti ngalor-ngidul (ke sana-ke mari -red). Saya tergelitik dengan akar masalah yang menyebabkan korupsi menjamur bahkan mendarah daging di bangsa ini. Memakai istilah beberapa orang “Korupsi berjama’ah” dan “Dulu korupsi di bawah meja, sekarang mejanya juga dikorupsi”. Nah, menurut Anda apa akar masalahnya ya? Dari materi yang disampaikan pak Bibit, korupsi muncul tanpa kita sadari dari keseharian kita semenjak kita kecil. Sebagai ilustrasi, saat ibu kita menyuruh kita belanja di warung kemudian pulangnya kita tidak hanya membeli barang yang dipesan ibu sehingga kembaliannya kurang, bila ibu kita tidak marah dan menasihati kita maka ibu kita telah mengajarkan kita korupsi sehingga saat kita sudah menjadi pejabat yang mempunyai wewenang yang terkait dengan penggunaan anggaran, yang ada di alam bawah sadar kita adalah kalo kita mengambil sebagian untuk kita sendiri maka itu sah-sah saja, bukankah ibu kita tidak marah waktu itu? Ini mungkin lebih banyak terkait dengan moral yang memang dibentuk sejak kecil tapi bagaimana bila seseorang sudah memiliki pondasi kuat dalam diri tentang nilai baik-buruk dari pendidikan dalam keluarganya. Apakah ia tidak akan melakukan korupsi?

Banyak kasus korupsi melibatkan orang-orang dari kalangan yang paham ilmu agama bahkan dari lingkungan pesantren, seperti yang dialami oleh seorang mantan menteri agama. Apakah dirinya, keluarganya atau sistem lah yang memaksanya untuk korupsi? Kesadaran akan korupsi (corruption awareness) mestinya dimiliki oleh siapapun, karena ini termasuk nilai moral yang ditanam sejak kecil. Kesadaran ini akan mendorong seseorang untuk memahami “ilmu korupsi”, bukan untuk melakukannya tentu, tetapi untuk menghindari dan mencegahnya. Bila seseorang yang menduduki jabatan publik dituntut dengan kasus korupsi karena kebijakannya menyalahi peraturan terkait korupsi maka jelas itu menjadi tanggung jawabnya, walaupun tidak semua tindakan mirip korupsi menjadikan seseorang harus dicap dengan sebutan KORUPTOR. Menyalahi kewenangan atau kesalahan mengambil kebijakan yang menyebabkan kerugian negara, tanpa adanya motif memperkaya diri sendiri atau orang lain tentu tidak bisa disebut sebagai tindakan korupsi.

http://nasional.kompas.com/read/2010/03/04/09035742/Nazaruddin.Tak.Menyesali.Pernah.Menjabat.Ketua.KPU

Bagaimana dengan kasus yang link-nya saya pasang di atas? Kalo kita cermati di awal-awal kasus ini merebak, beberapa kondisi yang menjadi bukti penyalahgunaan wewenang yang berlanjut ke tindak pidana korupsi melibatkan struktur KPU dan bahkan pegawai KPU secara keseluruhan. Bagaimana tidak? Pejabat KPU secara hampir terstruktur meminta dana dari rekanan KPU untuk meningkatkan kesejahteraan pegawai KPU, yang kalo tidak salah akhirnya diwujudkan menjadi THR baik untuk pejabat maupun seluruh pegawai KPU selain handphone khusus untuk pejabatnya. Apakah hal seperti ini asing buat kita sekarang? Hmmm, sepertinya sudah menjadi rahasia umum bila menjelang lebaran dan atau tahun baru maka masing-masing instansi pemerintah membagikan THR dan atau bonus akhir tahun kepada pegawainya. Bagaimana dengan Anda?

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/9/29/n5.htm dan http://www.antikorupsi.org/antikorupsi/?q=node/5769 kiranya bisa menjadi referensi buat kita. Lalu bagaimana menyikapi hal tersebut? Bila merujuk kepada aturan main yang ada di negara kita semestinya bagi kita yang mengetahui atau mengalaminya melaporkan kepada yang berwenang, misal melapor ke KPK. Namun berapa banyak yang berani melapor? Hampir bisa dikatakan, tidak banyak atau sangat sedikit, tentu dengan berbagai alasan. Dari kasus di atas misalnya, pejabat KPU yang disangkakan turut menerima dan pejabat KPU yang telah mendapatkan hukuman dari kasus ini sekalipun merasa tidak bersalah dengan hal ini. Bagaimana dengan pegawai KPU yang hanya menerima THR, tanpa tahu-menahu prosesnya? Mungkinkah mereka melaporkan sesuatu yang pasti menyenangkan buat mereka, bahkan kebutuhan yang mereka harapkan? Jawabnya tentu mudah : KECIL KEMUNGKINAN.

To be continued …

One thought on “Obrolan tentang Korupsi (lanjutan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s