Obrolan tentang Korupsi

Hari ini kantor saya kedatangan seorang tokoh yang cukup menjadi sentral pemberitaan media beberapa waktu yang lalu terkait dengan kriminalisasi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi, Wakil Ketua KPK : Bibit Samad Riyanto. Beliau hadir dalam sebuah acara pembekalan/pencerahan pegawai bertemakan “pemberantasan korupsi demi pemerintahan yang bersih dan akuntabel”. Peserta kegiatan ini seluruh pejabat struktural, fungsional tertentu dan fungsional umum Golongan III/b ke atas. Beliau menjadi pembicara tunggal, menyampaikan paparan selama kurang lebih 1,5 jam.

Diawali dengan penyampaian profil beliau oleh moderator, pak Bibit memberikan materi paparan dengan dipandu dengan tampilan powerpoint. Materi yang disampaikan secara cerdas ini (serius tapi santai – red) memberikan gambaran yang komprehensif tentang pengertian, persepsi, aturan hukum, akar permasalahan, dan tindakan pemberantasan yang telah dan akan dilakukan oleh KPK, bersama pemerintah dan masyarakat tentunya. Tidak sedikit gurauan-gurauan yang ringan tapi mengena dalam paparan beliau, misal tentang rejeki yang sudah diatur oleh Tuhan yang akan diperoleh setiap manusia, yang ditanggapi berbeda oleh masing-masing orang : koruptor atau bukan, tentang kasus yang mengkaitkan dirinya dihubungkan dengan nilai yang mungkin diperoleh bila memang ada niatan korupsi dan sebagainya.

Sedikit catatan yang saya tulis yang bisa saya bagikan :

  • Persepsi Masyarakat terhadap Korupsi, terbagi menjadi 3 yaitu :
  1. Kebiasaan, karena dianggap sebagai suatu kewajaran akibat kondisi ekonomi yang kurang berpihak pada rakyat kecil. Kebiasaan korupsi akan merusak moral bangsa.
  2. Mismanagement, karena terjadi secara terstruktur dan bahkan mendapat payung hukum dari perundang-undangan kita. Hal ini akan merugikan negara.
  3. Kejahatan, karena dihubungkan dengan tindakan kriminal yang merugikan negara dan bangsa secara materiil. Persepsi yang benar dan perlu dikembangkan, mengingat kejahatan muncul disebabkan adanya 4 faktor : niat, kemampuan, kesempatan, dan sasaran.
  • Korupsi di negara ini ibarat gunung es, di mana puncaknya hanya sebagian kecil yang bisa dilihat dan dilakukan tindakan sedangkan di dalam air bagian yang jauh lebih besar (potensi dan akar permasalahan korupsi) jarang terlihat dan sulit untuk ditanggulangi.
  • Akar masalah korupsi :
  1. Sistem (politik) yang “memaksa korupsi” atau tidak berpihak pada pemberantasan korupsi
  2. Kesejahteraan (penghasilan) yang kurang memadai, terlebih arus gaya hidup dan perekonomian yang buruk
  3. Mental (moral) masyarakat yang belum mengarah pada gaya hidup anti korupsi
  4. Internal, social, self control yang masih lemah
  5. Budaya (ketaatan hukum, pelayanan prima) yang masih rendah
  • Tiga pilar pencegahan :
  1. Pemerintah, melalui reformasi birokrasi, dll
  2. Swasta, melalui etika bisnis, e-procurement, island of integrity dll
  3. Masyarakat, melalui layanan publik dll

Beberapa pertanyaan diajukan dalam sesi tanya jawab, cukup menggelitik tapi menurut saya masih sangat normatif. Mulai dari sebab penanganan korupsi yang tidak banyak pengaruh, pemiskinan koruptor, dll. Perlu langkah nyata yang benar-benar bisa membangun komitmen seluruh elemen masyarakat termasuk penyelenggara negara untuk mencegah dan menanggulangi korupsi ini, karena seperti yang pak Bibit sampaikan :

Sebagus apapun sistemnya, kalau manusianya koruptor maka sia-sia

To be continued …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s