Pengamanan, Kebutuhan atau Ancaman?

Baru-baru ini muncul polemik dalam pemberitaan di media massa terkait renovasi ruang Banggar DPR yang menghabiskan anggaran negara sekitar Rp 20 milyar. Meskipun perhitungan anggaran yang disinggung-singgung “melukai hati rakyat” adalah terkait pengadaan kursi sidang impor yang per-unit-nya dibandrol Rp 24 juta, belakangan muncul permintaan Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso untuk mencopot peralatan anti sadap yang juga dipasang di ruang tersebut. Pasalnya menurut beliau tidak perlu ada peralatan yang lebih canggih daripada ruang pimpinan termasuk ruang Banggar meskipun menurut Wakil Ketua DPR lain Promono Anung peralatan itu dipasang untuk mencegah komunikasi keluar dari dalam bukan untuk mencegah penyadapan dari luar. Artinya jammer, nama peralatan anti sadap, itu dipasang agar anggota Banggar yang sedang rapat/sidang konsentrasi penuh dengan jalannya pembahasan dan bukannya asyik telpon, SMS, atau BBM.

Sebagai PNS Lemsaneg saya turut prihatin mendengar berita ini. Mestinya DPR atau dalam hal ini setjen DPR bisa lebih bijak dalam menempatkan pembebanan anggaran yang dibutuhkan oleh wakil rakyat karena setiap yang berhubungan dengan mereka pasti mendapat perhatian dari media massa. Penempatan anggaran jammer dalam renovasi ruang banggar DPR yang nilainya selangit itu tentu akan mengundang kontroversi meskipun selalu ada alasan yang bisa disampaikan, karenanya perlu penangan yang lebih elegan untuk mengatasi permasalahan ini. Tanpa melihat ada tidaknya kepentingan “politis” terhadap wakil rakyat yang difasilitasi dengan pengamanan informasi, ada baiknya kebutuhan teknis dan anggarannya di-“konsultasikan” dengan Lemsaneg. Selain karena institusi ini adalah LPNK yang tupoksinya terkait dengan pengamanan informasi rahasia negara, Lemsaneg “bisa” menganggarkan kebutuhan unit teknis/user untuk pengadaan peralatan pendukung seperti jammer ini.

Menilik alasan yang disampaikan Pramono Anung di atas, secara politis penggunaan jammer dimaksudkan untuk “memaksa” anggota Banggar konsentrasi mengikuti rapat/sidang sehingga tidak asyik dengan aktifitas lain yang menggunakan handphone/gadget meskipun secara teknis ketika tidak bisa berkomunikasi karena di-jamming mereka tetap bisa internet atau main game. Jadi teknis pemaksaan ini tidak efektif 100%.  Selain itu sebenarnya penggunaan jammer ini dimaksudkan bukan untuk “itu” melainkan untuk mencegah berfungsinya alat penyadap yang ditempatkan di dalam ruangan mentransmisikan sinyal ke luar ruangan, termasuk penyadapan dengan handphone/gadget yang online. Namun penyadapan yang bersifat offline seperti penggunaan tape-recorder atau perekam suara digital tidak akan terganggu dengan jamming oleh alat anti sadap ini. Jadi pengamanan anti sadap dengan jammer tidak efektif 100%. Nah dua hal yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu alat bukan?

Untuk keperluan pertama, konsentrasi pada rapat/sidang. Mestinya wakil rakyat tidak perlu lagi diatur atau dipaksa, seperti anak sekolah, untuk melakukan hal ini. Cukup dengan membacakan aturan sidang maka semua mengikuti dengan seksama karena masing-masing sudah dewasa dan sadar dengan tanggun jawabnya yang besar. Metode sidang dan alat bantu sidang tentu akan mendukung tercapainya tujuan ini. Sedangkan untuk keperluan kedua, pengamanan informasi. Protokol yang ketat mesti dijalankan. Mulai dari ruang yang dipasangi jammer dan CCTV. Pintu masuk yang dilengkapi dengan metal detector dan pemeriksaan fisik oleh petugas. Hingga sterilisasi ruang rapat/sidang sesaat sebelum rapat/sidang dimulai. Terakhir, pengawasan secara real-time oleh petugas pengamanan dengan CCTV yang memastikan tidak adanya aktifitas mencurigakan yang dilakukan oleh orang-orang dalam ruangan. Itu bila ingin ruangan steril (aman) lho 🙂

Nah, kesimpulannnya bila memang menginginkan adanya pengamanan, baik kegiatan maupun informasi, maka perlu usaha dan pengorbanan yang tidak sedikit termasuk privasi. Terkadang yang ini menjadikannya sesuatu yang tidak mengenakkan atau setidaknya kurang nyaman. Sebagian orang merasakannya sebagai kebutuhan, sedangkan yang lain merasakannya sebagai acaman. Bagaimana dengan Anda?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s