Musholla Ideal (Bagian 1)

Tidak terasa Ramadhan 1438 H sudah masuk hari ke-9, betapa cepatnya waktu berlalu… apa saja yang sudah kita lakukan selama bulan suci ini. Masyaa’Allaah

Ada yang berbeda di Ramadhan tahun ini… anggota keluarga saya bertambah dengan kehadiran Fia. Di hari kedua Ramadhan, tepatnya Ahad pekan lalu istri saya melahirkan putri pertama kami (sekaligus anak keempat saya). Setelah menjalani proses persalinan normal selama hampir 12 jam, akhirnya istri harus menjalani operasi cesar. Lahirlah Shofia Zahra Ramadhani, 3 kg 47 cm dengan bantuan dokter Dewi di RS. GPI. Alhamdulillaah … cerita terkait saya tuliskan di sini.

Sepekan terakhir rencana padat saya mengisi Ramadhan dengan berbagai amaliyah sedikit tergeser dengan “agenda dadakan” atas kelahiran Fia. Agak tertinggal memang, tetapi bukan saatnya untuk mengeluh sekarang karena Ramadhan terlalu sayang untuk dilewatkan tanpa perjuangan kan. Saatnya menata kembali agenda meraih Ramadhan Terbaik. Eh … saya jadi lupa mo nulis apa he he he gagal fokus.

Seperti tahun-tahun lalu, menjelang dan selama bulan puasa selalu ada keseruan terkait pengurusan musholla kami, Nurul Iman. Tahun ini lebih seru lagi karena kami… lebih tepatnya saya kurang memerhatikan waktu persiapan Ramadhan, jadilah pengurus belum ada persiapan bahkan ketika hadirnya tinggal beberapa hari. Untung saja hal yang bisa dilakukan dadakan seperti kerja bakti membersihkan musholla tetap berjalan sehingga tidak seperti tahun lalu yang minim peserta. Padahal kami bahkan telah melakukan pengecatan ulang dinding musholla dan kusen di dua pekan sebelum Ramadhan. Di sinilah kemudian muncul sedikit permasalahan, sebagian jama’ah musholla mempertanyakan dari mana dana pengecatan itu mengingat kas musholla yang “biasa” minim. Duh … yang begini ini kadang bikin emosi, tapi memang mesti disikapi secara positif. Mengapa? Karena itu hak jama’ah mengetahui aliran dana musholla, dan kewajiban pengurus untuk menyampaikan secara akuntabel dan transparan. Inilah azas yang perlu dipahami oleh Musholla Ideal.

Setiap organisasi masyarakat mempunyai kewajiban menyampaikan kepada masyarakat secara akuntabel dan transparan terkait pengelolaan dana dari masyarakat, tidak terkecuali musholla.

Nah … akhirnya dengan usaha maksimal, kami menyusun laporan keuangan peningkatan sarana prasarana musholla lalu menyampaikannya di malam pembukaan sholat Tarawih. Semoga seluruh jama’ah memahami dan memakluminya. Pengurus juga manusia…

Cerita musholla ideal berikutnya ada di sini. Marilah kita optimalkan interaksi kita dengan masjid/musholla di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Salam Ramadhan Terbaik

Membuat SIM A di Pasar Segar (Percobaan #1)

Ramadhan Karim …

08.20 – Sampe pasar segar, parkir motor 2.000 trus masuk ke dalam. Fotokopi KTP 2 lembar 2000 (mahalnya…), sempat bingung nyari tempat fotokopi ternyata di dalam banyak.
08.25 – Masuk ke lokasi pembuatan SIM, bingung karena gak nemu prosedur urusnya langsung ke loket pendaftaran. Ternyata mesti bawa formulir lengkap, diminta periksa kesehatan dulu.
08.30 – Periksa kesehatan di klinik belakang bayar 22.500, tensi kelar. Diarahkan ke loket asuransi, bawa surat keterangan sehat.
08.35 – Bayar asuransi 30.000, dapat kartu asuransi untuk SIM A/B dan diarahkan ke loket pembayaran.
08.33 – Bayar biaya buat SIM A 120.000, mendapatkan formulir isian.
08.35 – Mengisi formulir dan menyerahkan ke loket pendaftaran. Diminta menunggu panggilan di ruang tunggu.
08.45 – Duduk menunggu panggilan sambil nonton tivi kabel (lumayan).
09.30 – Akhirnya dipanggil ke loket pengambilan SIM (hah… sudah jadi?). Ternyata diarahkan ke ruang foto.
09.35 – Antre berdiri, masuk ruang foto.
09.58 – Foto, cap jari dan tanda tangan digital. Diarahkan ke ruang uji teori.
10.05 – Masuk ruang uji teori, diminta ke komputer yang tersedia (CAT nih ye…). Soal pelayanan 7, soal uji 30. Waktu 15 menit (banyak soal besaran-besaran tertentu yang pasti gak inget). Alhamdulillah minimal 23 soal benar, lulus (makan-makan… eh lagi puasa ya).
10.22 – Selesai dan diarahkan ke uji praktik (eng ing eng…). Mulai panik, sempat diberi contoh sama instruktur. Buru-buru ke musholla (do’a yang khusyuk biar lulus).
10.50 – Mulai ujian praktik, gagal… duh. Ngulang praktik 2 pekan lagi. Dari 5 orang yang uji praktik cuma 2 orang yang lulus, sisanya gatot (hu hu hu…).
11.00 – Meninggalkan pasar segar dengan perasaan galau. Sudahlah… besok dicoba lagi.

image

Generasi Cyber

Ramadhan Karim…

Tahun ini liburan sekolah berhimpit dengan bulan Ramadhan, sehingga anak-anak menjalani hari-hari puasanya di rumah. Meski sepertinya ini lebih nyaman buat mereka tapi ada hal-hal yang merisaukan saya sebagai orangtua.

Waktu Luang Tidak Terstruktur
Anak-anak yang liburan saat puasa Ramadhan bisa puas menghabiskan waktu untuk melakukan aktifitas yang mereka sukai seharian. Saya juga ingat waktu saya seusia mereka dulu, libur Ramadhan adalah hari-hari membaca buku dan menonton tivi. Sejak Subuh sampe hampir Dzuhur membaca komik dan novel petualangan, menjelang Maghrib asyik menonton sinetron religi di tivi.

Dulu anak-anak suka memulai hari puasa mereka dengan berjalan-jalan keliling kampung. Siangnya tidur seharian dan sorenya bersiap berbuka dengan ngabuburit. Nah, yang berbeda adalah sekarang ini masa ketika anak-anak sudah akrab dengan gadget dan internet. Tidak bisa dipungkiri, ini mengubah cara anak-anak menjalani puasa mereka.

Akses anak-anak ke gadget dan internet yang tidak dibatasi membuat waktu luang mereka dihabiskan untuk bermain game dan lain-lain hampir sepanjang hari. Saking asyik dengannya, waktu luang saat liburan menjadi tidak terstruktur. Kadang-kadang ada aktifitas positif tapi lebih banyak lagi aktifitas yang kurang bermanfaat.

Generasi Gadget
Anak-anak sekarang tumbuh ketika gadget telah menjadi kebutuhan primer hampir semua orang. Tentu orang tua mereka sendiri yang punya peran mengenalkan gadget ke anak-anaknya bahkan di usia yang terlalu belia. Begitu besar pengaruh gadget sedemikian hingga balita saja sudah bisa mengakses Youtube sendiri dari hape orangtuanya.

Berkenalan dengan teknologi sebenarnya baik, buat orang dewasa ataupun anak-anak. Tapi hal ini tentu perlu memerhatikan dampaknya bagi masing-masing. Terlebih bagi anak-anak yang bahkan ketika sudah beranjak remaja tetap perlu mendapat bimbingan dan pengawasan orang tua. Tidak semua teknologi berdampak positif bagi kita, tidak terkecuali gadget. Ada efek adiktif yang potensial muncul ketika kita menggunakannya, terlebih jika gadget kita terhubung dengan internet.

Begitu banyak varian hiburan yang bisa didapat dari gadget, mulai dari kemudahan berkomunikasi hingga permainan (games). Saat ini bahkan dengan perkembangan teknologi yang begitu cepat gadget telah mengadopsi fungsi komputer. Tentu ini memberikan banyak manfaat untuk pengguna, karena gadget bisa digunakan sebagai pengolah data. Tapi ini juga berarti efek adiktif gadget canggih menjadi semakin besar.

Generasi Cyber
Internet sudah menjadi kebutuhan primer sebagian besar orang saat ini. Begitu besar pengaruh internet dalam kehidupan manusia modern, sampai-sampai muncul istilah mending mati listrik daripada putus koneksi. He he he… luar biasa. Tapi saya sendiri ternyata juga merasakannya, entah sudah sampai tingkatan adiktif yang mana.

Kalo dulu internet hanya bisa dinikmati dengan komputer yang terhubung dengan modem kabel, sekarang internet begitu mudah diakses dari gadget di tangan kita. Termasuk anak-anak kita, adalah generasi yang begitu mudah mengakses internet. Dan mereka tau bagaimana menggunakannya… duh.

Saya ingat interaksi awal saya dengan internet adalah membuat email pribadi. Browsing dan gaming online … baru saya lakukan beberapa tahun setelah bekerja. Itu juga karena sudah ada akses internet di kantor. Kalo terpaksa barulah saya mencari warnet untuk akses internet. Sekarang, anak saya bisa menghabiskan kuota 1 GB hanya dalam waktu 2 hari saja… wow. Sungguh berbeda sekali perbedaan dua generasi ini.

Generasi anak-anak dan remaja sekarang, tidak perlu melalui fase belajar mengakses internet berdasar aspek kepentingan. Umumnya mereka mengakses internet karena “paksaan” trend… sosmed dan gaming. Siapa remaja sekarang yang tidak punya akun Facebook, Tweeter, Line, Path atau Whatsapp? Sulit dicari… Demikian pula begitu jarang anak-anak yang tidak tau di mana mencari permainan baru yang seru? Mereka seperti otomatis tau untuk mencarinya di Playstore. Dan penyedot kuota yang terfavorit untuk mereka tidak lain ya… Youtube.

Inilah mereka… generasi cyber. Generasi yang lahir dan tumbuh bersama internet di kesehariannya. Sudah muncul istilah baru untuk mereka… generasi nunduk, karena kebiasaannya menundukkan kepala saat menggunakan gadget dan internet. Generasi yang entah apa yang akan terjadi pada mereka jika internet hilang dari muka bumi. Mungkin saat itu terjadi, mereka telah bertemu teknologi supracanggih yang memungkinkan mereka menggunakan internet tanpa gadget. Wallahu a’lam…

Ramadhan dan 3 Tipe Manusia

image

Ramadhan Karim…

Ada 3 tipe manusia menghadapi Ramadhan, bulan yang mulia. Demikian disampaikan Prof. Dr. Kalamullah Ramli dalam Kultum Tarawih beliau di masjid Ukhuwwah Islamiyyah malam ini. Beliau membuka tausiyahnya dengan membacakan nasihat Rasulullah kepada para sahabat menyambut datangnya Ramadhan.

Ketiga tipe manusia tersebut diuraikan beliau sbb.:
1. Manusia yang tidak terpengaruh.
Ramadhan yang hadir tidak mengubah perilakunya sama sekali. Mereka tidak senang kedatangan bulan suci ini dan bahkan tetap bermaksiat kepada Allah. Mereka ini adalah golongan orang yang merugi seperti yang disebut oleh Rasulullah, yang tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.
2. Manusia yang biasa-biasa saja.
Mereka menyambut Ramadhan dengan ibadah, tapi kadarnya sama saja dengan hari-hari biasa. Tidak ada peningkatan dalam ibadahnya sehingga yang membedakan hanya mereka berpuasa dan tarawih saja.
3. Manusia yang berusaha keras.
Ramadhan dianggap sebagai momentum langka yang mungkin tidak akan berulang. Mereka bergembira dan bersemangat mengisinya dengan ibadah yang jauh lebih baik dibanding bulan-bulan sebelumnya. Bulan puasa diisi tidak hanya dengan puasa dan tarawih tetapi juga dengan tilawah, shodaqoh, ta’lim dan banyak ibadah lainnya. Mereka inilah golongan manusia yang beruntung, sebagaimana sabda Rasulullah yang menyebutkan bahwa barangsiapa yang puasa/tarawih di Ramadhan dengan iman dan bersungguh-sungguh maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Di akhir kultumnya, Pak Muli mengajak jama’ah tarawih malam itu untuk menentukan target ibadah Ramadhan lalu mengejarnya dengan sungguh-sungguh meski capek dan mengantuk. Beliau mengingatkan bahwa boleh jadi ini Ramadhan terakhir kita, dan di akhir hayat hanya 2 hal yang kita inginkan yaitu surga Allah dan pembebasan dari api neraka. Semoga kita termasuk dalam golongan manusia yang beruntung.

Ramadhan Karim

Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar. Allahumma sholli wasallim wabarik ‘ala Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

Tiada terkira bahagianya saya bisa berjumpa lagi dengan penghulu bulan, Ramadhan Karim. Nikmat kesempatan ini tidak semua orang mendapatkannya, tidak istri saya (almarhumah) dan tidak pula guru saya (almarhum). Dan bahkan banyak orang sholih yang dipanggil Allah sebelum Ramadhan datang menghampiri.

Tapi bukan manusia jika sekedar menyadari hal itu lalu tidak berbuat apa-apa. Saya boleh saja merasa sedih tahun ini tidak menjalani Ramadhan bersama sang kekasih yang lebih dari satu dekade terakhir menemani hari-hari saya. Cuma, apa yang akan saya dapatkan jika hanya bersedih? Boleh jadi lagi-lagi saya akan melewatkan Ramadhan tahun ini dengan sia-sia. Karenanya saya harus move on … titik.

Agak berbeda memang semangat saya menyambut Ramadhan tahun ini jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini saya tidak merumuskan target … lebih tepatnya belum he he he. Sedangkan tahun-tahun kemarin saya sepertinya mempunyai target, sebagaimana tips dan trik Ramadhan di sini. Mungkin ini karena saya sedang penyesuaian dengan kondisi keluarga saya yang baru.

Baiklah, apapun kondisi kita saat ini … mari kita optimalkan pendekatan kita kepada Allah mulai dari sekarang. Karena Allah mencintai orang-orang yang berusaha mencintai-Nya. Dan kebahagiaan sejati sesungguhnya adalah mendapatkan kasih sayang dari sang Kekasih.

Ya Allah … jadikan Ramadhan kami tahun ini semakin mendekatkan diri kami kepada-Mu, hingga akhir hidup kami. Aamiin …

Menulis Tema Ramadhan

Tahun ini buat saya beda dengan Ramadhan 3 tahun terakhir karena sekarang saya akan lebih fokus pada diri dan keluarga. Bahkan untuk menulis di sini pun saya seperti tidak sempat he he he… (#alasan.com). Tapi itulah kenyataannya, aktifitas yang lebih banyak saya kerjakan di Ramadhan tahun ini selain kerja adalah membaca dan membantu mengurus urusan rumah tangga.

Tahun ini Faqih belajar puasa
Faqih, putra kedua kami beberapa bulan lalu dikhitan. Saya sudah menuliskannya di sini belum ya? Hi hi hi… lupa ;P Karena itu kami mulai mengajarkan padanya kewajiban sebagai muslim baligh (masih lama kali… #rapopo).

Meski baru 5 tahun tahun ini Faqih belajar berpuasa. Seperti saya waktu kecil dulu, Faqih puasa bedug alias puasa setengah hari. Faqih mulai berlatih bangun lebih pagi untuk sahur, shalat Subuh berjama’ah di masjid, lalu tidak makan dan minum sampai Dzuhur. Jam 12-13 Faqih boleh berbuka, sesudahnya lanjut lagi berpuasa sampai Maghrib. Malamnya Faqih ikut shalat tarawih semampunya. Setengah bulan jalan, sepertinya dia mulai terbiasa meski sesekali merengek menangis minta jajan atau minum. Sabar ya, Nak…

Istri libur selama Ramadhan
Tahun ini kalender akademik agak kacau, karena Ramadhan hampir berbarengan dengan akhir tahun ajaran sehingga liburan sekolah 2-3 pekan di awal Ramadhan. Sisa 1-2 pekan masuk sekolah lanjut liburan Lebaran kurang efektif untuk bimbel istri yang pakai sistem pembayaran bulanan. Akhirnya istri saya memutuskan untuk meliburkan bimbel selama Ramadhan.

Untuk menutupi kekosongan waktu itu istri mencoba usaha sampingan, menjual coklat untuk lebaran. Walhasil mau tidak mau saya ikut turun tangan membantunya karena secara tidak terduga dapat pesanan hampir 200 toples. Sabar…

ODOJ, Tahfizh dan MTQ
Sejak bergabung dengan program membaca Al Quran satu juz sehari (ODOJ) 3 bulan lalu saya yang mestinya sudah 3 kali khatam ternyata baru 1 atau 2 kali khatam. Hadeuh… Karena itulah Ramadhan ini seharusnya saya lebih disiplin dalam tilawah Al Quran, sayangnya saya masih lebih sibuk dengan pekerjaan lain. Semoga di 10 hari terakhir ini saya punya lebih banyak kesempatan untuk mengakrabinya.

Hampir 2 tahun lalu saya belajar tahsin (membaguskan bacaan) di Rumah Tajwid Depok. Alhamdulillah bacaan saya sekarang jauh lebih baik dari sebelum saya belajar. Dan sesuai program saya mulai menghafal Juz 30, mulai dari depan. Saya merasa agak kesulitan, sehingga sudah hampir setahun saya baru bisa menghafal 3 surat saja. Meski begitu saya akan tetap berusaha, terutama di bulan suci ini.

Ramadhan tinggal 6 hari dan hampir saja saya tidak menulis tentang tema Ramadhan…

H29 Ramadhan | Catatan Akhir Bulan Seribu Bulan

M3.2-I4.2-T11-2.S2-D4-2.Z4.2-A4-T

Allahu akbar allahu akbar! …

Adzan Maghrib berkumandang di seantero negeri dan berakhirlah Ramadhanku. Kurasa bukan akhir terindah, bukan pula Ramadhan terbaik … tapi selalu ada hikmah di setiap fase waktu. Begitu juga dengan Ramadhan tahun ini.

Diawali dengan persiapan yang kurang matang meski pemanasan telah dilakukan. Amal jama’i pun terkesan agak mendadak disiapkan, mungkin karena kesibukan. Bahkan target-target pribadi dan jama’i tak sempat dirinci hingga terlewat beberapa hari. Kini saatnya untuk menyesali, bukan (hanya) untuk ditangisi tapi untuk mawas diri agar tidak terulangi.

Ramadhan tahun ini untuk saya permulaannya cukup terjaga, target-target rutin terpenuhi meski tetap (saja) ada yang terlewatkan. Sholat berjama’ah, tarawih, juga tilawah masih dalam kategori wajar. Meski di akhir permulaan beberapa tantangan muncul dan mulai membuyarkan konsentrasi.

Pertengahan Ramadhan ada kegiatan ekstra yang tidak bisa dihindari memangkas kewajiban puasa beberapa hari. Meski dibolehkan berbuka saat shafar, tetap saja ada rasa “sayang” yang mengganjal di hati. Apa boleh buat mesti dijalani meski saya “setengah yakin” akan ada target lain yang terlewatkan. Selain target sholat berjama’ah di masjid yang jeblok, tilawah saya keteter hingga sepuluh juz lebih. Astaghfirullah … pengorbanan yang terlalu besar untuk sebuah perjalanan jauh.

Ada cerita, ada hikmah, ada nikmat yang bisa dibagi … tapi ada juga aib yang tak pantas dibagi bahkan ketika ingin memberi peringatan untuk orang lain. Sudah sepantasnya saya bersyukur dengan hal yang di atas dan bertobat untuk hal yang di bawahnya.

Sepuluh hari terakhir … atau lebih tepatnya sembilan hari terakhir Ramadhan ini boleh jadi adalah yang terbaik sepanjang hidup saya. Mengapa? Karena hampir-hampir saya mengisi seluruh malam ganjilnya untuk beri’tikaf bersama keluarga. Alhamdulillah … Kalo di tahun-tahun sebelumnya saya puas dengan (hanya) beri’tikaf sendiri saja, maka ketika bisa melakukannya dengan orang-orang tercinta saya rasa ini adalah hal yang lebih indah. Semoga di tahun-tahun ke depan saya kembali bisa mendapatkan kesempatan dan kenikmatan yang sama.

Hampir tengah malam saat saya menyelesaikan tulisan ini. Takbir dan tahmid masih bergema di langit kota, sesekali diselingi riuh rendah suara petasan dan kembang api. Tahun ini satu hal lagi yang mesti disyukuri oleh saya dan umat Islam pada umumnya. Sebagian besar kaum muslimin di Indonesia akan merayakan Idul Fitri secara bersama-sama meski startnya berbeda.

Allahu akbar allahu akbar walillahilhamd!

H23 Ramadhan | Mengejar Lailatul Qadr

M3.2-I4.2-T19-2.S2-D4-2.Z4.2-A4-T

Sesungguhnya Kami turunkan Al Qur-an di malam kemuliaan (lailatul Qadr)
(QS. Al Qadr: 1)

Mengapa mesti mengejar Lailatul Qadr?
Karena lailatul qadr merupakan waktu teristimewa dalam bulan Ramadhan. Ia adalah saat di mana amal kebaikan (ibadah) diberikan pahala berlipat, bahkan hingga lebih dari kelipatan seribu bulan (83 tahun).

Kapan Lailatul Qadr datang?
Wallahu a’lam … hanya Allah Yang Tau. Tapi Rasulullah SAW mengisyaratkan bahwa Lailatul Qadr hadir di sepuluh hari terakhir Ramadhan dan beliau selalu mengejarnya di akhir Ramadhan.

Amalan apa untuk mengejar Lailatul Qadr?
Rasulullah SAW mencontohkan i’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan untuk mengejar Lailatul Qadr. Ibadah sesungguhnya yang dilakukan adalah mendekatkan diri pada Sangkholik (taqarrub ilallah). Adapun amalannya bisa sholat, infak-shodaqoh, umroh, membaca (tilawah) Al Qur-an, zikir, dan sebagainya.

Apa yang mesti dilakukan saat Lailatul Qadr?
Rasul SAW menyuruh kita,memperbanyak bersyahadat, beristighfar, memohon diberikan surga dan dijauhkan dari neraka serta memohon diampuni Allah atas segala dosa dan kesalahan.

Apakah ciri-ciri Lailatul Qadr sudah datang?
Sebagian cirinya sebagaimana digambarkan Rasulullah adalah malam yang hening serta tenang, cerah tidak berangin kencang, pagi harinya matahari teduh dan tidak panas. Wallahu a’lam …

Ciri-ciri orang yang mendapat Lailatul Qadr?
Tidak ada dalil tentang itu. Tapi sebagaimana hasil puasa Ramadhan yaitu menjadikan orang-orang yang beriman bertaqwa maka orang yang mendapatkan Lailatul Qadr diasumsikan menjadi pribadi yang lebih taat selepas Ramadhan. Wallahu a’lam …

Selamat mengejar Lailatul Qadr …

image
Jama'ah i'tikaf mengejar Lailatul Qadr

H22 Ramadhan | I’tikaf di Kantor

M3.2-I4.2-T13-2.S2-D4-2.Z4.2-A4-T

image
Jama'ah i'tikaf mengikuti kajian

Ini tahun kedua masjid kantor saya mengadakan kegiatan i’tikaf jama’i. Meski hanya 3 malam saja tapi ternyata peminatnya dari tahun ke tahun semakin meningkat. Di tahun pertamanya i’tikaf diikuti hingga belasan jama’ah, sedangkan tahun ini pesertanya hingga dua puluhan. Subhanallah …

Sebenarnya i’tikaf memang bukan kegiatan unggulan masjid kantor saya. Beberapa kegiatan yang sudah biasa dijalankan setiap Ramadhan menjadi andalan seperti kajian Dzuhur dan syiar Nuzulul Qur-an. Tapi i’tikaf adalah sunnah Rasulullah SAW. dan merupakan amal utama di akhir Ramadhan. Karenanya perlahan tapi pasti masjid mulai mengenalkannya pada karyawan muslim sebagai jama’ahnya. Bisa dibilang ini menjadi pembelajaran baik untuk jama’ah sekaligus juga buat panitia Ramadhan.

Adapun kegiatan yang dilakukan dalam i’tikaf ini meliputi:
1. Buka puasa bersama
2. Sholat Maghrib, Isya’ dan tarawih berjama’ah
3. Kajian Islam tematik
4. Sholat tahajjud berjama’ah (qiyamullail)
5. Sahur bersama
6. Sholat Subuh berjama’ah
Kalo dibandingkan dengan kegiatan i’tikaf di masjid-masjid lain yang sudah terbiasa mengadakannya memang belum seberapa, ada beberapa kegiatan yang dilewatkan. Tapi inilah pembelajaran, mengingat jama’ahnya 100% masih bekerja dan tidak ada yang full-timer beri’tikaf, jadi kekurangannya akan dilengkapi beberapa tahun ke depan.

Bila dicermati masyarakat kita belum semua paham tentang i’tikaf ini sehingga banyak yang ingin meningkatkan ibadah di akhir Ramadhan tapi tidak beri’tikaf di masjid-masjid. Bahkan ada sebagian mubaligh yang memberikan opini bahwa i’tikaf bisa dilakukan di rumah dan itu lebih utama dari masjid. Karenanya perlu dilakukan syiar secara bertahap untuk membentuk pemahaman di masyarakat tentang keutamaan dan tata cara (kaifiat) i’tikaf. Itulah kira-kira yang sedang dikerjakan oleh rekan-rekan panitia Super Ramadhan di kantor saya. Barokallahu fikum!

Saya melihat pesertanya cukup antusias meski masih didominasi anak-anak muda. Semoga tahun-tahun ke depan makin banyak karyawan muslim yang ikut serta dalam kegiatan ini sehingga masjid kantor saya bisa jadi pilihan di sepuluh malam terakhir Ramadhan seperti masjid At Tin, Istiqlal, Al Azhar, dan masjid-masjid jami’ lainnya. Aamiin …

Bagaimana dengan Anda, sudahkan Anda beri’tikaf di akhir Ramadhan?

H21 Ramadhan | Saatnya Geber Ibadah

M3.2-I4.2-T11-2.S2-D4-2.Z4.2-A4-T

image

Malam ini sudah malam ke-22 Ramadhan, atau berarti tinggal menyisakan 7-8 hari Ramadhan. Sudahkah kita mencapai target amaliyah harian? Kalo sudah, bagus. Kalo belum? Masih ada waktu untuk kita mengejarnya. Saatnya geber ibadah di sisa Ramadhan ini, sekaligus kita berburu Lailatul Qadr.

Ibadah yang dicontohkan Rasulullah SAW. di fase akhir Ramadhan adalah i’tikaf atau berdiam diri di masjid. Sebenarnya tidak tepat dibilang berdiam diri, karena i’tikaf adalah amaliyah mendekatkan diri pada Illahi (taqarrub illallah) sehingga tentu bukan cuma diam melainkan memperbanyak dzikir (ingat) kepada Allah SWT. Aktifitasnya meliputi sholat, tilawah (membaca) Al Qur-an, wirid, atau ibadah yang lain.

Fase akhir Ramadhan memang krusial. Begitu banyak godaan datang menyambut lebaran. Mulai dari pasar dan swalayan yang mulai all-sales hingga tuntutan mudik yang sudah menjadi tradisi. Suasana ibadah pun menjadi hambar, ketika tarawih mulai ditinggalkan jama’ah dan tadarus sepi peminat. Entah sejak kapan hal ini jamak di masyarakat, atau mungkin hanya terjadi di sini.

Sayang sekali, jika benar hal ini juga terjadi pada kita. Mengapa? Karena di fase akhir Ramadhan inilah kesempatan ummat Muhammad SAW. mengejar level ibadah ummat-ummat nabi terdahulu. Ummat terdahulu hidup ratusan tahun, ibadahnya juga tidak tanggung-tanggung. Bandingkan dengan ummat ini yang hidup tak lebih dari 100 tahun, ibadahnya juga tak lebih dari 1 jam/hari.

Lailatul qadr adalah wildcard. Kartu bonus untuk ummat ini bersaing kualitas ibadah dengan ummat terdahulu. Nilai ibadah di lailatul qadr lebih baik dari 1000 bulan, atau lebih dari 83 tahun. Saat ummat ini meraih lailatul qadr, maka nilai ibadahnya berlipat ganda menyaingi nilai ibadah ummat terdahulu. Maka, apakah kita tidak tertarik dengan fasilitas Allah ini?