Kisah Seorang Dosen (Bag. 1)

Alkisah, tersebutlah saya di sebuah PT K/L (bukan singkatan PT Kaki Lima) di daerah Jawa Barat…

Bukan mimpi pingin jadi dosen di kampus tempat saya belajar dan lulus sebagai , A.Md. (bukan saingan Intel) tapi memang takdir yang sudah digariskan Illahi semenjak di masa ruh entah sampe kapan. Saya back to campus di 2015, dan mungkin by accident. Kenapa gitu? Ya itu, karena jadi dosen bukan impian saya. Ya sebenarnya masuk kampus ini juga bukan impian saya, tetiba aja muncul di realita dan harus ditanggapi dengan dewasa (meskipun saat itu saya masih kanak-kanak secara pemikiran). Toh walaupun bukan impian ini tetap jadi kenyataan.

April 2015 jadilah saya mendapatkan sebutan dosen, dan menjalaninya dengan niatan baru: belajar. Nah lho, koq belajar… bukannya jadi dosen itu mestinya ngajar? Ya ya ya, karena semenjak masuk kampus ini prinsip hidup saya (dan mungkin 22 orang teman saya lainnya) berubah total menjadi learning by doing. Kalo frasanya dibalik maka didapatkan, doing is learning… makanya jadi dosen (ngajar dll itu) adalah belajar buat saya. Saya trauma setiap kali membaca dan mengingat proses saya menulis Tesis (di kampus ternama di pinggiran ibukota) sedemikian hingga saya pingin memperbaikinya dengan belajar jadi mahasiswa beneran itu gimana.

Ternyata niat belajar saya mesti diperkuat dengan takdir saya kehilangan belahan jiwa (yang ada ceritanya di Blog ini), menjadi asisten pelayan dosen di akhir 2015 dan mendapatkan pengobat jiwa (belum ada ceritanya di Blog ini) di awal 2016 hingga sekarang. Akhir tahun kedua pandemi Covid-19 (supaya bisa dijadikan tagline) adalah tahun kelima saya menjadi kepala pelayan dosen. Banyak cerita, berdarah-darah malah, tapi ibarat sebuah kisah heroik ini baru awal kisah karena inti cerita, tokoh utama sebagai dosen, belum muncul. So, sementara saya masih harus bersabar untuk melanjutkan kisah ini supaya bisa lanjut ke Kisah Seorang Dosen (Bag. 2)

Nah, ada kurun waktu di 2015 itu sebelum saya jadi asisten pelayan dosen di saat saya benar-benar full-time dosen. Sayangnya saya masih dosen muda, ehm… umur saya waktu itu masih kepala 3. Jadi saya masih naif, menghabiskan waktu di luar kelas bukan untuk belajar jadi dosen tapi malah menghibur diri dengan nonton TV kabel (kebetulan Jurusan masih sewa TV kabel) atau bermain dart sama Kajur/staf Jurusan lainnya (waduh… mestinya ini off the record ya).

Kalo saya resapi, boleh jadi waktu-waktu tidak efektif itulah yang menyebabkan saya ditegur Illahi. Woi, jangan enak-enakan di comfort zone, sudah gak ngurusin anggaran dan program eh malah gak belajar jadi dosen beneran…! (kira-kira seperti itu tegurannya). Tapi saya dapat pembelajaran yang disiplin dari dosen senior saya a.k.a Kajur (satu dari 22 orang yang saya singgung di atas) dengan mengikuti PEKERTI dan beberapa kegiatan peningkatan kompetensi lainnya (ada abdimas dan pelatihan). Saya juga dilibatkan sebagai instruktur kokurikuler (dengan materi Tesis saya) sekaligus pengolah bahan laporannya.

Sebenarnya saya belum puas dengan proses pembentukan saya sebagai dosen. Saya baru menyadari sekarang kalo jadi dosen yang beneran itu akan lebih banyak kegiatan yang kudu dikerjakan ketimbang waktu yang dimiliki. Dosen punya kewajiban, sebut saja Tridharma PT (pendidikan dan pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat) dan untuk melaksanakan itu butuh pengetahuan, ketrampilan, sikap dan pembimbingan. Untuk pendidikan dan pengajaran, saya banyak belajar dan dibimbing oleh Kajur. Untuk pengabdian kepada masyarakat, saya diberikan kesempatan Kajur dan difasilitasi PPM. Nah, yang sulit, untuk penelitian saya belum pernah diawasi dan diajarin siapapun. Dan ini motivasi yang jadi PR saya sampe sekarang,

Walhasil saya belum bisa jadi dosen yang mampu meneliti meskipun sudah 5 tahun menjadi pelayan dosen. Ya sebenarnya di 2 kewajiban lainnya juga belum bener juga sih… jadi malu. Itulah pembuka Kisah Seorang Dosen, semoga berlanjut.